Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Ujian Thesis


__ADS_3

Waktu terus berjalan dan sekarang kira-kira sudah berjalan dua pekan dari konsultasi yang dilakukan Anaya dengan Khaira. Sekarang, Anaya bangun lebih pagi karena hari ini dia akan mengikuti Ujian Thesis. Untuk urusan anak-anak, Anaya tidak perlu bingung karena Mama Rina kali ini berada di rumah untuk mengasuh ketiga buah hatinya.


"Semuanya sudah dipersiapkan belum Sayang?" tanya Tama kepada istrinya.


"Filenya sudah aku fotocopy rangkap empat, terus alat tulis, laptop, dan kemarin presentasinya juga sudah aku buat. Udah semuanya deh, Mas," balas Anaya.


Tama pun menganggukkan kepalanya. Papa muda itu turut membantu istrinya untuk bisa bersiap dengan lebih baik lagi. Bahkan tanpa sepengetahuan Anaya, Tama menyiapkan copy file di dalam flashdisk untuk berjaga-jaga.


"Di flashdisk ini ada semua file penelitian kamu, Sayang ... Thesis versi lengkap, pengolahan data, sampai kemarin file presentasi. Untuk cadangan," balas Tama.


Anaya pun tersenyum dan memeluk suaminya itu. "Makasih Mas Suami ... udah dibuatin back-up nya. Doakan aku hari ini ya Mas," ucapnya.


"Pasti ... sudah pasti aku akan mendoakan kamu," balas Tama.


Hingga akhirnya, kini Anaya bersiap dengan rok berwarna hitam, kemeja putih, dan ada blazer berwarna hitam yang dia kenakan. Supaya lebih terlihat rapi, Anaya pun menyanggul sendiri rambutnya yang panjang. Untuk urusan make up, Anaya hanya memoles tipis wajahnya. Tidak perlu berlebihan.


"Sudah siap? Berangkat sekarang?" ajak Tama kepada istrinya.


"Hmm, iya," balasnya.


Anaya kemudian turun ke bawah dan berpamitan dengan Mama Rina terlebih dahulu. Tidak lupa, Anaya meminta doa supaya dilancarkan untuk ujian hari ini.


"Mama, Anaya berangkat ujian dulu ya Ma ... titip anak-anak di rumah, dan juga doakan Anaya ya Ma," ucapnya dengan memeluk Mama Rina.


"Pasti Anaya ... fokus untuk ujian dulu yah. Anak-anak pasti aman, Mama juga mendoakan kamu lulus, mendapatkan nilai terbaik," ucap Mama Rina.


"Amin. Terima kasih banyak, Ma," balasnya.

__ADS_1


Setelahnya, Tama pun mengantar istrinya itu menuju ke kampusnya. Sepanjang perjalanan, tampak Anaya masih mempelajari beberapa materinya. Berharap memang Anaya bisa menjawab pertanyaan yang datang dari penguji. Selain itu, juga Anaya berusaha untuk mengkaji ulang penelitiannya.


Di sampingnya, Tama beberapa kali melirik istrinya yang tampak serius itu. Namun, di dalam hatinya Tama juga begitu bangga karena Anaya terlihat bersungguh-sungguh. Menjadi ibu rumah dan tiga anak di rumah tidak menyurutkan semangatnya untuk belejar.


"Sudah sampai Sayangku," ucap Tama yang menghentikan mobilnya di gedung pasca sarjana.


"Eh, sudah sampai yah? Cepet banget," balas Anaya.


"Kamu terlalu serius belajar," balasnya.


Anaya pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Benar Mas, harus semangat dan bisa menjawab pertanyaan dari Penguji nanti," jawabnya.


Setelahnya Anaya memasukkan catatannya ke dalam tasnya. Kemudian dia melakukan salim jabat tangan dengan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya itu. "Doakan aku ya Mas ... aku sangat yakin bahwa semua yang aku lakukan juga karena doa dan dukungan darimu. Semoga kali ini, aku bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Bisa lulus," ucapnya.


Tama pun menganggukkan kepalanya. "Tentu Sayang ... sukses ya My Love. Aku, Citra, Charel, dan Charla selalu mendoakan yang terbaik untuk Mama Anaya. I Love U," ucapnya.


"Makasih Mas Tama," balas Anaya kemudian.


Kemudian Tama memeluk istrinya sejenak, setelahnya dia turun dari mobilnya dan membantu Anaya untuk mempersiapkan berbagai file dan juga tasnya.


"Sukses ya My Love," ucap Tama lagi.


"Makasih Mas Suami," balasnya.


Anaya kemudian memasuki gedung pasca sarjana dan menuju ruang sidang. Dia sungguh berharap bahwa kali ini ujiannya akan bisa dilewati dengan baik. Hari ini setidaknya akan ada empat mahasiswa yang akan mengikuti sidang Thesis, dan Anaya adalah urutan kedua. Di menunggu dan menerka apa saja yang akan ditanyakan nanti.


Hingga hampir satu jam, mahasiswa yang telah ujian keluar dengan wajah yang lega, walau keningnya penuh keringat. Beberapa manhasiswa menanyakan, rupanya mahasiswa itu lulus walau harus revisi banyak.

__ADS_1


"Silakan Saudari Anaya," panggil petugas dari dalam ruang sidang.


Anaya pun menghela nafas beberapa kali dan kemudian memasuki ruang sidang itu. Anaya memberi salam kepada Dosen Penguji dan Dosen Pembimbing yang ada di sana. Bahkan Anaya juga melihat ada Khaira di sana. Akan tetapi, Anaya sangat tahu bahwa Khaira adalah seorang yang profesional. Walau kenal baik, tapi untuk urusan akademik, Khaira tetap bersikap netral dan tidak berpihak.


"Baik, selamat pagi ... Saudari Anaya, kenapa Anda mengambil Metode Montessori dalam peneltian Anda?" tanya seorang Penguji di sana.


"Saya mengambil metode Montessori karena metode ini dapat mengembangkan potensi anak dengan cara mengeksplorasi berbagai kegiatan. Kegiatan pembelajaran pun disesuaikan dengan minat dan bakat anak. Selain itu, salah satu kelebihan dari metode ini adalah bisa diterapkan di sekolah dan di rumah, sehingga fleksibel," jawab Anaya.


"Apa saja kegiatan yang bisa dilakukan terkait dengan metode ini?" tanya Panguji yang lain.


Anaya tampak menganggukkan kepalanya dan kemudian menjawab. "Sebenarnya banyak kegiatan yang bisa dilakukan, tetapi saya akan sebutkan beberapa saja yaitu Sink or float, menyortit warna, mensortir barang dari besar ke kecil, pretend play atau bermain peran, mystery bag, origami, atau berbagai jenis kegiatan yang lain. Yang harus diingat adalah bisa menstimulasi psikomotorik dan sensorik anak-anak," jawab Anaya.


"Metode Montessori sendiri baru mulai dikenal di Indonesia. Dengan filsafat dan juga budaya pendidikan di Indonesia, apakah metode ini tepat untuk dilakukan?" Kali ini giliran Khaira yang memberikan pertanyaan kepada Anaya.


"Seharusnya tepat dan sesuai. Di Indonesia sendiri banyak budaya dan nilai-nilai yang bisa diajarkan untuk meningkatkan minat dan bakat anak. Kita bisa membuat alat peraga misalnya boneka yang mengenakan pakaian daerah, rumah daerah, atau lagu-lagu daerah. Sangat bisa dilakukan, yang dibutuhkan adalah kreativitas pengajarnya," balas Anaya.


Menit pun berganti dengan menit, hingga hampir satu jam berlalu barulah ujian untuk Anaya selesai. Dengan dibacakannya keputusan bahwa Anaya dinyatakan lulus dalam ujian ini.


Anaya benar-benar senang dan terharu. Bisa menyelesaikan kuliah di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dengan tiga anak di rumah sangat tidak mudah. Pun, waktu yang Anaya miliki pun sangat terbatas. Akan tetapi, Anaya justru bisa lulus.


"Selamat Saudari Anaya," ucap Penguji di sana.


"Terima kasih banyak," jawab Anaya.


Kemudian Khaira berdiri dan memeluk Anaya. "Selamat yah ... aku yakin kamu pasti bisa. Tinggal menunggu ujian," ucapnya.


"Makasih banyak ... sudah membimbing sampai lulus," jawab Anaya.

__ADS_1


"Sama-sama. Sekali lagi, congratulations," ucap Khaira kepada mahasiswa yang dibimbingnya itu.


__ADS_2