
"Makasih Sayang ... dampingilah aku yah. Bahkan sebelum kita menikah kamu sudah mendampingi aku. Hari-hari yang kulalui dengan duka, kamu tentu tahu. Hari-hari yang kulalui dengan air mata, kamu juga tahu. Walau kita belum memiliki ikatan, tetapi hampir 365 hari kita bersama. Kita berbagi pengasuhan Citra. Jujur Sayang, aku bergantung padamu," balas Tama.
Ya, dalam waktu hampir satu tahun di mana keduanya hanya sebatas berdiri sebagai partner dan posisi Anaya masih menjadi Ibu susu bagi Citra, Tama sangat yakin bahwa Anaya tahu hari-harinya yang penuh duka. Tama yakin bahwa Anaya tentu melihat kerapuhannya sebagai seorang pria. Anaya yang datang dengan kebaikannya dan pengertiannya membuat Tama secara perlahan bergantung padanya.
Anaya tersenyum di sana, wanita itu membuka tangannya dengan satu anggukan kecil. Memberikan isyarat supaya Tama memeluknya. Tak ayal, gayung pun bersambut. Tama beringsut, mendekat, pria itu kini yang masuk ke dalam pelukan Anaya. Tama membawa kepalanya bersandar di dada Anaya, pria itu memejamkan matanya sesaat, sementara ada tangan halus Anaya yang memberikan usapan di rambut hingga punggungnya.
Pelukan seorang istri yang sungguh-sungguh nyaman dan hangat. Pelukan seorang istri yang sungguh dibutuhkan Tama sekarang ini. Hingga Tama kian mencerukkan wajahnya di sana, dan tangannya melingkari pinggang istrinya.
"Kamu pengertian banget sih Sayang," ucap Tama.
"Karena aku cinta kamu, Mas. Cinta itulah yang membuatku bisa mengerti kamu. Sebenarnya, bukan hanya kamu yang merasa bergantung padaku, tetapi aku juga bergantung padamu. Sabar yah," ucap Anaya lagi.
Tama menghela nafas, sabar seperti apa lagi yang harus dia tunjukkan sekarang. Hanya saja memang Anaya benar bahwa dia harus sabar. Mengendalikan emosinya sendiri.
"Bagaimana pun kamu adalah Papa yang hebat, bahkan kamu adalah mantan menantu yang hebat juga. Aku bangga kepadamu, Mas. Marah itu wajar, emosi juga wajar karena memang selama ini mereka tidak turut andil dalam pertumbuhan Citra. Hanya saja, anggap itu sebagai sedekah, nanti Allah akan lipatgandakan semuanya. Ikhlaskan saja," ucap Anaya.
"Hmm, iya ...."
Tama kemudian mengurai pelukannya, "Ke mini market depan yuk Sayang," ucap Tama dengan tiba-tiba.
Anaya tampak mengernyitkan keningnya, "Ngapain ke mini market?" tanya Anaya kemudian.
"Aku beliin Cokelat favorit kamu. Maaf yah, kalau beliin berlian aku belum bisa sekarang, tabunganku akan terkuras hampir 90% soalnya. Cuma beliin minuman cokelat kesukaan kamu aku bisa. Yuk, sekalian malam minggu ekonomis," ajaknya.
Anaya justru tersenyum di sana, "Nggak usah saja," balasnya.
"Yuk, ah ... tidak boleh menolak pemberian dari suami sendiri. Walau hanya segelas minuman cokelat. Aku berterima kasih karena kamu adalah sosok yang begitu pengertian. Aku berterima kasih untuk nasihatmu yang baik. Jadi, ayo ... aku beliin minuman kesukaan kamu," balas Tama.
__ADS_1
Bahkan kini Tama sudah berdiri, mengulurkan tangannya kepada Anaya. "Ayo My Love ...."
Jika sudah dipanggil 'my love' dengan suara Tama yang khas, rasanya Anaya tidak bisa menolak. Wanita itu pun mengulurkannya tangannya dan menggenggam tangan suaminya itu. "Yuk, Mas Suami," balasnya.
Sebelum Anaya mulai berjalan, Tama menarik tangan Anaya, sedikit menyentaknya dan membuat sang wanita mendekat ke arah Tama.
"Peluk dulu ... makasih banyak My Love. Kamu bahkan bisa dengan mudahnya menenangkan aku. Makasih banget Cintaku," ucap Tama dengan mendekap erat tubuh Anaya di sana.
"Sama-sama Mas Tama ... menurutku apa yang kamu lakukan sudah benar dan tepat. Aku juga setuju kamu membuat wasiat terbuka. Setidaknya ada hitam di atas putih juga," balas Anaya.
"Benar Sayang ... I Love U," ucap Tama dengan mendaratkan kecupan hangat untuk durasi beberapa saat lamanya di kening Anaya.
"I Love U too," sahut Anaya dengan lirih.
Jujur saja, Anaya sangat suka tiap kali suaminya itu mengecup keningnya. Bagi Anaya kecupan di kening mengisyaratkan ketulusan dan kepedulian. Ciuman di kening juga menunjukkan keamanan dan kekaguman dalam hubungan. Hatinya berbunga-bunga setiap kali Tama mengecup keningnya. Sampai ada kalanya, Anaya serasa ingin menangis ketika Tama mengecupnya.
Keduanya lantas keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Di ruang tamu, Anaya dan Tama melihat Citra yang berjalan ke sana-kemari, dengan Mama Rina dan Papa Budi yang mengasuh cucunya itu.
"Mama ... Papa, Tama keluar sebentar yah," pamitnya kepada kedua orang tuanya.
"Mau kemana?" tanya Mama Rina.
"Ke mini market depan itu. Mau beli minuman cokelat. Mama dan Papa mau?" tawar Tama kepada Mama dan Papanya.
"Tidak usah, kalian saja," balas Papa Budi. "Sudah sana ... Citra biar di rumah saja," ucap Papa Budi lagi.
Lantas, keduanya memilih berjalan kaki dan tangan Tama terus menggandeng tangan Anaya. "Mas, enggak usah digandeng Mas. Malu sama tetangga," ucap Anaya.
__ADS_1
"Biarin Sayang ... aku suka gandeng tangan kamu. Makasih ya sudah menenangkan aku tadi. Bahkan emosiku bisa cepat turun. I Love U My Love," ucap Tama.
Pria itu terlihat begitu percaya diri dengan terus menggandeng tangan Anaya, bahkan kala ada tetangga yang melihat mereka berdua, Tama juga cuek dan santai saja. Toh, Anaya adalah istrinya, wanita yang sah dan halal untuknya.
"Malu ih, dilihatin orang lain," ucap Anaya.
"Enggak apa-apa. Mini marketnya juga tinggal di depan kok," balas Tama.
Tak menghiraukan ucapan Anaya, Tama terus menggandeng istrinya itu sampai ke mini market yang ada coffee shopnya juga itu.
"Pesan apa Cookies & Cream Frappe, Choco Banana, atau Avocado Coffe?" tanya Tama kepada Anaya.
"Hmm, Cookies & Cream aja," balas Anaya.
"Mau yang lain enggak?" tawa Tama lagi.
"Enggak, minum aja," balas Anaya.
Akhirnya, Tama memesankan minuman untuk istrinya itu. Mungkin hanya sekitaran lima menit dan minuman yang mereka pesan sudah jadi. "Ini minumannya Sayang ... makasih banyak yah," ucap Tama.
"Aku yang makasih soalnya udah dibeliin. Kamu enggak beli minum Mas?" tanya Anaya kemudian.
"Enggak ... minta kamu aja nanti," balas Tama. "Yuk, pulang ... atau kamu ingin jajan lainnya? Beli aja," lanjut Tama lagi.
"Udah ini saja sudah cukup dan seneng banget pastinya."
Tama tersenyum, Anaya yang pengertian dan selalu mencukupkan diri dengan segala sesuatu yang membuat Tama begitu kagum padanya. Menurut Tama, Anaya adalah wanita yang hebat. Sosok yang dengan setia mendampinginya, bahkan di saat dirinya akan kehilangan 90% tabungannya nanti.
__ADS_1