
"Tunggu Ana, kita harus berbicara," ucap Reyhan sembari menghardik tangan Anaya.
Seakan memang begitu banyak yang harus diurai di antara keduanya. Kisah pelik yang membingkai dan seolah justru menjerat keduanya.
"Apa lagi yang harus dibicarakan, Rey? Tidak ada ... tidak ada lagi," ucap Anaya.
Jika Reyhan bersikeras bahwa begitu banyak yang harus dibicarakan di antara keduanya, terutama dengan kejelasan hubungan mereka. Namun, Anaya justru berpikiran yang berseberangan dengan pria itu. Anaya justru merasa tidak ada lagi yang perlu untuk dibicarakan. Bahkan, Anaya berpikir semuanya sudah selesai sejak waktu hampir setahun yang lalu.
"Kamu bilang tidak ada Ana? Apakah itu karena pria itu? Pria itu tadi. Jawab Ana!"
Reyhan yang terlihat naik darah sampai begitu geram dengan dengan Tama. Ya, ada dugaan bahwa Anaya bermain serong dengan Tama. Terbukti dari sikap Anaya yang acuh dengannya.
"Semua ini tidak ada hubungannya dengan dia," tegas Anaya.
Seakan Anaya sendiri juga tidak ingin melibatkan Tama dalam masalahnya yang memang kusut dan pelik ini. Sebab, memang Tama tidak ada sangkut-pautnya dengan semuanya ini.
"Lalu, alasan apa yang membuatmu abai padaku, Ana? Bahkan panggilanku selalu saja kamu alihkan dan juga pesan-pesan dariku tidak pernah kamu balas. Jelaskan Ana!"
Sebagai pria yang merasa berhak atas hidup Anaya, Reyhan pun meminta penjelasan dari Anaya. Sebab, memang panggilannya selalu saja dialihkan, selain itu pesan-pesan darinya juga tidak terbalas. Untuk semua perlakuan Anaya itu, Reyhan pun meminta penjelasan sekarang ini.
Keributan yang terjadi di depan pintu itu, rupanya mendapatkan atensi dari Ayah Tendean. Sang Ayah pun berjalan mendekat dan tampak berusaha untuk mendinginkan tensi keduanya yang memang sedang naik.
"Aya ... Reyhan, sebaiknya semuanya dibicarakan dengan baik-baik. Jika semuanya hanya melibatkan emosi, maka tidak ada yang bisa diurai," nasihat dari Ayah Tendean.
Melihat kedatangan dari Ayah Tendean, Reyhan pun menurunkan volume suaranya dan juga berusaha mendinginkan sendiri darahnya yang sudah begitu mendidih. Pria itu tampak menundukkan wajahnya kepada Ayah Tendean.
"Ayah," sapanya dengan masih menundukkan wajahnya.
"Untuk apa kamu datang lagi, Rey?" tanya Ayah Tendean.
Sebagai seorang Ayah yang juga memiliki hak atas putrinya, Ayah Tendean pun juga ingin mendapatkan penjelasan dari Reyhan. Sebab, menantunya itu memang sering kali datang dan pergi semaunya. Tentu, sebagai seorang Ayah, Ayah Tendean tidak suka dengan sikap Reyhan ini.
__ADS_1
"Maafkan Reyhan, Ayah ... hanya saja Reyhan perlu meminta kejelasan dari Anaya untuk kejelasan hubungan kami berdua," ucap Reyhan dengan yakin.
"Tidak sekarang," sahut Anaya dengan memalingkan wajahnya.
"Lalu, kapan Ana? Harus berlama-lama lagi kah?" tanya Reyhan.
Ayah Tendean kemudian menatap ke putrinya itu, "Benar ... perjelas semuanya," balas Ayah Tendean.
"Tidak semuanya Ayah ... Aya capek dan ingin istirahat dulu," balasnya.
Dengan menghiraukan Reyhan, Anaya memilih berlari dan menaiki anak tangga menuju ke dalam kamarnya. Dadanya bergemuruh riuh, begitu sesak rasanya. Seakan baru hari ini Anaya merasakan bahagia dan bisa tertawa bersama dengan Citra, tetapi sekarang dia kembali diperlihatkan dengan kenyataan yang berbanding terbalik dengan kebahagiaannya hari ini.
Di dalam kamarnya, Anaya segera mengunci pintu kamarnya. Sungguh dia tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Gadis itu duduk di lantai dengan memeluki lututnya sendiri dan menangis tanpa suara di sana. Teringat kembali masa lalu terpahit dalam hidupnya.
***
Satu setengah tahun yang lalu ....
"Ya Tuhan, apa yang sudah terjadi ... semua ini?"
Begitu tercekat rasanya, bahkan Anaya kian terisak. Rasanya begitu berdosa karena dia telah merusak kepercayaan dari Ayahnya. Dada Anaya rasanya begitu sesak. Firasatnya mengatakan bahwa semalam memang sudah terjadi hal yang tidak bisa dia kontrol lagi.
Ketika pria itu menggeliat, dan wajahnya terlihat betapa tercekatnya Anaya saat melihat pria yang berbaring tanpa busana itu adalah Reyhan yang tak lain adalah Bos tempatnya bekerja.
Mendengar isakan Anaya, rupanya Reyhan pun terbangun. Pria itu beringsut dan hanya menutupi pangkal pahanya saja, dan menatap Anaya.
"Pagi Ana," sapanya dengan suara khas orang baru bangun tidur. "Kenapa kamu menangis?" tanya Reyhan.
"Ini ... semua ini," balas Anaya dengan tangisan yang benar-benar pecah.
Melihat Anaya yang menangis dan juga terguncang, Reyhan berusaha untuk memeluh Anaya dengan tubuhnya yang bergetar itu, tetapi Anaya segera menepisnya.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku!"
Anaya berteriak dan menghindar. Sungguh, Anaya tidak ingin disentuh lagi oleh Reyhan. Justru rasanya Anaya merasa jijik dengan pria itu.
"Pada kenyataannya ... aku semalam sudah menyentuhmu. Jengkal demi jengkal ... inci demi inci," balas Reyhan dengan tersenyum culas.
Membayangkan tangan Reyhan yang menyentuh tubuhnya membuat Anaya memejamkan matanya. Sungguh sakit saat mengetahui bahwa kehormatannya diambil secara paksa dan dalam keadaan yang sama sekali tidak dia sadari.
"Sudahlah, Ana ... bagaimana pun aku sudah melihat semua, dan tubuhmu itu benar-benar wow. Walau hanya sekali, tetapi itu hanya membekas di ingatanku," ucap Reyhan lagi.
Sementara Anaya justru kian jijik dengan bosnya itu. Tega-teganya seorang pria merenggut kehormatan dari pegawainya sendiri, dan sekarang ucapan yang kotor dan seakan melecehkannya.
"Tutup mulutmu. Lelaki bejat!"
Anaya mengumpat karena memang di sampingnya sekarang yang dia dapati tak ayal dari seorang laki-laki yang menodainya ketika dia tidak sadar. Laki-laki yang bahkan sekarang justru berbicara kotor dan merendahkan diri sebagai seorang perempuan.
"Sudahlah ... tenang saja, Ana. Aku akan bertanggung jawab. Ya, walaupun hanya di bawah tangan saja. Sebab, kamu tahu sendiri reputasiku sebagai CEO perusahaan Telekomunikasi," ucap Reyhan.
Anaya menangis, bukan hanya direnggut mahkota, tetapi juga diperlakukan dengan tidak adil oleh bosnya itu. Berawal dari pesta di perusahaan yang berakhir dengan hilangnya mahkotanya di tangan bosnya sendiri. Lebih dari itu, pria bernama Reyhan itu justru bersikap dan berbicara buruk yang membuat Anaya benar-benar merutuki pria itu. Hilang sudah rasa segannya kepada Reyhan sebagai atasannya. Yang tersisa hanyalah rasa benci dan muak dengan pria itu.
Berapa lama Anaya menangis sampai matanya benar-benar perih. Begitu juga dengan hatinya yang sangat terluka. Dia merasa menjadi wanita yang sama sekali tidak berharga. Bahkan Anaya memilih menghindari Reyhan. Ya, pulang dari hotel Anaya memilih menyetir mobilnya sendiri.
Di dalam mobil, kembali Anaya menangis hingga meraung. Bahkan Anaya menjambak rambutnya sendiri. Rasanya begitu frustasi, kecewa, dan juga terluka. Namun, petaka satu malam itu benar-benar sudah menghancurkan diri. Mahkota yang dia jaga selama ini justru raib begitu saja di tangan pria bernama Reyhan itu.
***
Kini ....
Tangisan bahkan rintihan yang pilu kembali dirasakan oleh Anaya. Dia merutuki hari di mana kesuciannya terenggut. Dia bahkan menyesali hari saat memilih resign dari perusahaannya sebelumnya dan bergabung dalam perusahaan telekomunikasi yang besar itu. Dia pikir bahwa atasannya adalah seorang pria yang baik, hingga Anaya segan kepadanya. Akan tetapi, setelahnya Anaya justru ingin menghapus nama bahkan ingatannya akan sosok pria itu.
"Aku tidak ingin melihatmu lagi, Rey ... kamu datang hanya menggarami luka menganga di hatiku. Kamu datang dan mengingatkanku dengan semua sayatan tak berdarah, tapi perihnya masih terasa sampai saat ini. Untuk apa memperjelas status? Sebab, semuanya itu sudah sangat jelas bagiku! Semuanya sudah selesai, Rey … ya, sudah selesai."
__ADS_1
Ratapan Anaya kala itu. Wanita itu duduk meringkuk dan memberikan kegelapan memenuhi kamarnya. Biarlah suasana yang gelap bisa sedikit menyembunyikan rasa sakit yang melebur dalam isakan dan tangisannya. Masa lalu terpahit yang dialami Anaya nyaris membuat Anaya kehilangan harapan hidup. Masa lalu terpahit yang dialami Anaya benar-benar menekan wanita itu secara fisik dan juga psikis. Sekarang, masa lalu terpahit itu kembali terbuka dan membuat Anaya merintih sakit karena mengingat semuanya itu.