Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Sepekan yang Berarti


__ADS_3

Keesokan harinya, Anaya kembali datang ke rumah Tama. Wanita itu memasang senyuman di wajahnya, dan kemudian menghela nafas seolah memenuhi paru-parunya dengan pasokan oksigen dan kemudian barulah mengetuk pintu rumah Tama.


"Selamat pagi," sapa Anaya dengan senyuman cerah ceria.


"Pagi Onty," balas Tama yang rupanya sedang berada di ruang tamu dan menggendong Citra.


"Lah, ada di sini to?" tanya Anaya ketika melihat ada Tama dan juga Citra yang berada di ruang tamu.


"Iya, Onty ... Citra nungguin Onty nih," balas Tama yang juga tersenyum menatap Anaya.


Anaya pun tersenyum, wanita itu segera menaruh sling bag-nya di sofa, dan kemudian mengangkat kedua tangannya hendak menggendong Citra, "Yuk Citra ... gendong Onty yuk. Baru juga sehari Onty enggak ke sini, udah kangen banget loh sama Citra," balas Anaya.


Tidak ragu, Tama pun menyerahkan Citra ke dalam gendongan Anaya. Kemudian Tama menatap Anaya, "Kemarin acaranya lancar?" tanya Tama kepada Anaya.


"Iya ... cuma memang sampai malam," balas Anaya.


"Oh, pantesan ... aku pikir hanya sampai siang atau sore. Kalau malam, ya sudah berarti kamu tidak ke sini," balas Tama.


 Kali ini mata Tama dan Anaya saling bersitatap untuk sekian detik lamanya. Mungkinkah ada salah satu dari mereka yang mengharap untuk bertemu, tetapi itu hanya sekadar ungkapan di hati dan tidak tersampaikan? Mungkinkah hanya sekadar bersitatap saja sudah bisa menjelaskan semua makna?


"Kenapa Tam? Citra nungguin yah? Dia rewel?" tanya Anaya kepada Tama.


Dengan cepat, Tama pun menggelengkan kepalanya, "Oh, enggak ... syukurlah kemarin seharian Citra enggak rewel," balas Tama.


Mendengar bahwa Citra tidak rewel, tentu saja, Anaya merasa lega. Sebab, kemarin pun Anaya juga kepikiran bagaimana jika Citra justru rewel seharian. Syukurlah jika Citra tidak tantrum seharian.


"Aku kemarin ngiranya mungkin siangan kamu nya ke sini, aku mau ajakin kamu makan Ramen lagi," balas Tama.


Entah rasanya, Tama ingin mengajak Anaya untuk makan Ramen bersama. Tentu akan sangat mengasyikkan, menikmati semangkuk Ramen dan juga mengobrol dengan Anaya. Terlebih sekarang memang Tama bisa berbicara dan bercerita banyak hal kepada Anaya.


"Boleh, kapan-kapan yah," balas Anaya.


"Iya, boleh," balas Tama.


Sepanjang hari ini benar-benar dihabiskan Anaya untuk mengurus Citra. Sepekan ini akan menjadi sepekan yang sangat berarti untuk Anaya. Ketika dia sangat menyayangi Citra, tetapi ada hal yang lain yang harus diselesaikan dalam sepekan ini. Semoga saja ada waktu yang baik dan juga tepat untuk Anaya sehingga dia bisa kembali lagi untuk bisa bertemu dan memberikan ASI kepada bayi yang kian hari kian bertambah cantik itu.

__ADS_1


***


Lusa kemudian ….


Kali ini Anaya tengah menyuapi bubur MPASI untuk Citra. Di usianya yang sudah 9 bulan dan nyaris memasuki 10 bulan, tekstur untuk bubur MPASI yang dimakan Citra pun sudah tidak berbentuk pure. Aneka sayuran, buah, dan protein hewani diberikan Tama untuk buah hatinya itu. Sehingga Citra sendiri juga makin gemoy. Berat badannya pun sudah 9 kilogram. Bagian pipi, paha, dan lengannya juga terlihat berisi. Tentu itu semua berkat ASI dan juga bubur MPASI yang dimasak bergantian oleh Tama dan Mama Rina.


"Mam mam yuk, makan yang banyak ya Cantik," ucap Anaya yang sedang menyuapi Citra.


Bak gayung bersambut, Citra pun juga begitu lahapnya menerima suapan demi suapan Bubur MPASI dari tangan Anaya.


"Mam, aem … aem," celoteh dari Citra sembari mengunyah makanannya.


"Ya, maem Cantik. Citra suka Bubur MPASI pakai Salmon yah? Onty perhatikan kalau buburnya pakai Salmon, pasti Citra makannya lahap banget," balas Anaya.


Namun, Citra hanya merespons untuk terus mengunyah makanannya. Untuk masalah makan, Citra sendiri juga jarang melakukan GTM (Gerakan Tutup Mulut - di mana para bayi biasanya menolak untuk makan). Citra terbilang seorang bayi yang bisa makan dengan lahap, tetapi ada satu makanan yang begitu disukai oleh Citra yaitu Salmon. Setiap kali buburnya dimasak dengan menggunakan Salmon, pasti Citra akan begitu lahap makannya. Satu mangkuk bubur MPASI dengan tekstur yang lebih padat dengan mudahnya dihabiskan oleh Citra.


"Enak banget ya Sayang, lahap banget sih kamu makannya," ucap Anaya lagi yang tampak membersihkan sisa-sisa makanan di mulut Citra.


"Mam aem … aem … aem," balas Citra lagi dengan bertepuk tangan.


“Kamu selucu dan sepintar ini, mungkinkah Onty tega untuk meninggalkan kamu, Cit? Maafkan Onty … cuma mungkin untuk beberapa saat Onty akan pergi. Citra yang pasti selalu sehat-sehat yah … selalu jadi Nak Cantiknya Onty. Onty sayang banget sama kamu Citra,” gumam Anaya dengan lirih.


Hari ini dengan menyuapi Citra, nyatanya justru air mata Anaya menitik begitu saja. Hatinya resah dan gundah, tetapi memang ada yang harus dia pertaruhkan dalam waktu dekat. Citra sebagai Anak Susunya, atau Ayahnya yang sudah membesarkannya. Keduanya sama-sama pilihan yang sulit.


“Misal Onty tidak ke sini lagi, Citra sedih enggak? Citra bakalan kangen enggak sama Onty?” tanya Anaya kepada Citra dengan mengusapi kepala Citra.


“Aaa … ya … mam,” celoteh Citra lagi-lagi dengan bahasa bayinya.


Sejenak kemudian Anaya menyeka sendiri, buliran air mata yang sempat membasahi wajahnya, kemudian dia mengusahakan untuk tersenyum dan menyuapi Citra lagi. Satu sendok suapan penuh cinta Anaya berikan untuk Citra.


“Yuk … mam … mam,” ucap Anaya.


Baru beberapa saat, Anaya terus menyuapi Citra rupanya Tama sudah pulang dari kantor. Single Daddy itu sudah bersih dan segar, kemudian turut menghampiri Anaya dan Citra yang berada di kamar Citra.


“Halo … putrinya Papa baru mam mam yah?” tanya Tama yang langsung memeluk Citra.

__ADS_1


Terlihat Citra begitu menikmati untuk mengunyah makanannya. Sementara Anaya hanya tersenyum, sedikit melirik kepada Tama dan juga Citra.


“Biar aku lanjutkan, Ay,” pinta Tama yang sudah berinisiatif untuk menyuapi Citra.


“Ini boleh … disuapin Papa ya Cit,” balas Anaya.


Makanan yang tinggal seberapa itu pun akhirnya dilanjutkan oleh Tama. Sementara Anaya bersiap dengan tissue di tangannya dan siap untuk menyeka sisa-sisa makanan yang menempel di bibir Citra. Dalam hatinya, untung saja Anaya sudah menyeka air matanya, jika Tama mendapatinya menangis, sudah pasti sekarang Tama akan mengajukan berbagai pertanyaan kepadanya.


***


Dear All,


Sambil menunggu Bab selanjutnya nanti siang. Silakan mampir ke karya teman-teman aku ini yah.



Mendadak Menjadi Babysitter Anak karya Syasyi





CEO Narsis Kau Ditakdirkan Untukku karya Santi Suki





Bibit Miliarder Sang Mafia karya Febyanti


__ADS_1



__ADS_2