
Di luar, Tama memilih untuk duduk di dekat mesin ATM. Pria itu memang tidak ingin membuat Anaya sungkan karena harus memberikan ASI untuk Citra dan ada dirinya. Sepenuhnya, Tama tahu bahwa Anaya bukan mahramnya. Jika, Anaya yang tidak ada ikatan darah dengan Citra saja mau memberikan ASI-nya, sudah pasti Tama sangat bersyukur untuk semua itu.
Di luar Tama sesekali melihat handphonenya, sekadar melihat status teman-temannya di Whatsapp, melihat media sosial, atau sebatas melihat reel dari beberapa akun yang menarik saja. Beberapa menit sudah Tama menunggu, sampai akhirnya Anaya tampak menurunkan kaca jendelanya perlahan.
"Tama, sudah," ucapnya yang memanggil Tama yang berjarak beberapa meter dari posisi mobil yang terparkir itu.
Tama kemudian menganggukkan kepalanya, "Sudah minum ASI Citranya?" tanyanya.
"Iya sudah," balas Anaya.
Tama kemudian berjalan dan segera memasuki mobilnya, pria itu dengan tenang duduk di belakang stir kemudi, dan kemudian menjalankan mobilnya perlahan-lahan.
Mobil yang dikendarai Tama pun melaju menembus berbagai jalanan di Ibukota. Suasana malam dengan lampu-lampu kota yang menyala, dan di dalam mobil itu yang terdengar hanya deru nafas mereka bertiga saja. Sebab, baik Tama dan Anaya tidak ada yang bersuara. Pun demikian dengan Citra yang tampak tenang di dalam gendongan tangan Anaya.
"Kelihatannya jalanan macet deh," ucap Anaya tiba-tiba dengan memperhatikan begitu banyaknya mobil-mobil yang memang hanya bisa bergerak perlahan di jalan raya itu.
"Iya ... sudah malam malahan macet," balas Tama dengan melirik wajah Anaya dari kaca spion yang berada di tengah mobil.
"Namanya juga Jakarta ... macet itu sudah menjadi hal yang biasa," balas Anaya lagi.
Tama menganggukkan kepalanya, dan tersenyum samar kepada Anaya yang saat ini sedang mengamati banyaknya mobil yang memenuhi jalan raya itu. Sementara tidak berselang lama, rupanya Citra yang semula sudah diam, kini tiba-tiba kembali menangis. Sontak saja, membuat Tama menghela nafas. Baru kali ini, dirinya membawa mobil dan Citra yang menangis.
"Cup cup cup Sayang ... sabar yah, kita kena macet ini," gumam Tama dengan tetap fokus dengan stir kemudinya.
Anaya juga tampak menenangkan Citra dan memberikan usapan di kepala bayi kecil itu. "Apa efek dari imunisasinya? Jadi mungkin kakinya sakit atau gimana gitu," balas Anaya.
"Iya mungkin saja ... baru kali ini juga aku mengantar Citra imunisasi," balas Tama.
Anaya kemudian mengambil sebuah kain apron menyusui. Kain berwarna merah muda itu menutupi bagian dada saat menyusui atau memerah ASI. Alat ini juga biasanya dikenal sebagai nursing cover yang dirancang khusus untuk membuat para Ibu lebih nyaman saat menyusui bayi kala berada di luar rumah.
__ADS_1
Agaknya pergerakan Anaya yang mengenakan kain itu dilihat juga oleh Tama dari kaca spion di mobilnya. Namun, dengan segera Tama mengalihkan fokus matanya ke hal yang lain.
"Sorry ya Tama ... soalnya kalau enggak dikasih ASI, mungkin saja Citra akan terus rewel," balas Anaya.
"Hmm, iya ... sorry juga merepotkan kamu ya Ay," balas Tama.
"Enggak repot kok," balasnya.
Dengan perlahan, Anaya memberikan ASI secara langsung untuk Citra, dan begitu bibir mungil itu mendapatkan ASI, tangisan Citra pun reda. Bayi itu kembali tenang saat mendapatkan sumber makanan terbaiknya.
"Tuh, diem kan ... mungkin memang efek dari imunisasinya, jadi Citra enggak nyaman. Belum nanti kalau demam," balas Anaya lagi.
"Kalau bisa sih jangan demam ... aku enggak tahu harus gimana kalau baby demam. Belum berpengalaman sama sekali," aku Tama dengan jujur.
Memang itu adalah sebuah pengakuan yang jujur dari Tama. Dirinya masih tidak berpengalaman untuk merawat bayi. Lagipula, memang pengasuhan Citra sendiri lebih banyak dipegang oleh Mama Rina dan Anaya.
"Nanti diminumkan saja obatnya tadi, Tam ... sesuai dosis dari Dokter 0.2 ml saja. Nanti sebelum aku pulang, aku bantuin minumin obatnya," balas Anaya.
Sudah lebih dari setengah jam mobil Tama berada di jalan raya. Terjebak macet, tetapi Citra sudah tenang karena menghisap sumber ASI. Bahkan bayi kecil itu sudah terlelap. Beberapa saat bersabar di jalan raya, akhirnya mobil Tama bisa keluar dari kemacetan dan juga sudah tiba di rumah.
"Makasih Ay, sudah bantuin ke Dokter," ucap Tama yang turun dari mobil dan membukakan pintu mobil bagi Anaya.
"Iya ... sama-sama. Kita berikan obat dulu untuk Citra yah, jaga-jaga kalau demam," balas Anaya lagi.
Begitu sama sampai di kamar, Anaya membaca terlebih dahulu obat yang diberikan Dokter Bisma itu. Kemudian mengambil pippet dan mengukur 0.2 ml dan memberikan drops kepada Citra.
"Minum obat dulu ya Sayang ... biar Citra tidak sakit. Onty habis ini mau pulang dulu yah ... besok ketemu dan main lagi sama Onty yah," pamit Anaya kepada Citra.
Reaksi Citra saat meminum obat wajahnya menunjukkan rasa terkejut dan aneh, tetapi Anaya yakin bahwa obat itu sudah diminum oleh Citra. Kemudian Anaya memberikan usapan di puncak kepala Citra, wanita itu menundukkan badannya, dan mengecup kening Citra.
__ADS_1
Chup!
"Onty pulang dulu ya Citra ... sehat-sehat Sayang. Besok main sama Onty lagi yah ... I Love U," ucap Anaya dengan lirih. Wanita itu mengulas sedikit senyuman di sudut bibirnya dan kemudian meninggalkan kamar Citra dengan perlahan-lahan.
"Mau pulang sekarang?" tanya Tama yang berdiri di pintu.
"Iya, sudah malam soalnya," balas Anaya.
"Itu Mama sudah pulang, biar aku anterin," balas Tama.
"Ngrepotin enggak? Aku naik taksi online saja enggak apa-apa," balas Anaya.
Tampak Tama menggelengkan kepalanya, "Enggak ... yuk, aku anterin. Sekalian aku mau berterima kasih sama Dokter Tendean karena sudah mengizinkan kamu untuk menemani kami imunisasi," balas Tama.
***
Ketika tengah malam ...
Tama beberapa kali terbangun karena mendengar suara bayi dari kamar Mama Rina. Itu karena hampir setiap malam, Citra tidur di kamar Mama Rina. Namun, tangisan yang kencang membuat Tama pun terbangun.
Tama segera berdiri dan menuju ke kamar Mamanya. "Kenapa Ma?" tanya Tama yang sudah membuka pintu kamarnya.
"Agak demam, badannya ... bayi kalau habis imunisasi ya begini, Tam ... jadi rewel bayinya," jawab Mama Rina.
"Sini, biar Tama gendong saja, Ma ... Mama istirahat saja."
Tama akhirnya menggendong Citra, dan masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang ... bobok sama Papa aja yah. Kasihan Nenek dan Kakek juga butuh istirahat. Sini, gendong Papa yah. Cup cup, Sayangnya Papa," ucap Tama dengan menimang putrinya itu.
__ADS_1
Dalam hatinya, Tama berharap bahwa Citra tidak akan rewel. Selain itu, Citra juga sehat. Kalaupun demam karena imunisasi tidak akan lama, dan esok pagi Citra bisa kembali sehat lagi.