Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Citra yang Sedang Tantrum


__ADS_3

Beberapa hari berganti dan hari ini agaknya Citra bangun dengan perasaan yang tidak baik. Tidak seperti biasanya, Citra begitu bangun langsung menangis. Padahal, Citra sudah di fase dia jarang menangis dan bahkan bisa beradaptasi di rumah dengan kedua adiknya dengan sangat baik. Namun, sekarang Citra begitu bangun sudah menangis.


Sementara untuk Anaya, pagi adalah waktu paling hectic dengan tiga anak di rumah, di mana dua di antaranya masih bayi. Untung saja, sekarang adalah akhir pekan sehingga ada Papa Tama yang tidak buru-buru bekerja. Sehingga, Anaya mengurus Charel dan Charla, sementara Papa Tama yang mengurus Citra.


"Selamat pagi, Putrinya Papa ...."


Dengan baik dan Tama berusaha untuk memperbaiki mood Citra pagi ini. Menyapa anaknya dengan lembut dan juga segera memeluk Citra yang menangis di tempat tidurnya.


Tidak menjawabnya, nyatanya Citra masih saja menangis dengan air matanya yang terus berlinangan. Ketika sang Papa hendak memangkunya, rupanya Citra menolak.


"Kak Citra kenapa menangis?"


"Citra butuh Mama ... mau Mama," jawabnya dengan terisak-isak. Anak kecil itu menangis sampai wajahnya memerah, dan pipinya basah dengan air mata.


"Sama Papa dulu yah, Mama masih mandiin Twins. Kak Citra sama Papa dulu yuk? Ayo, kita beraktivitas di pagi hari. Citra mau ngapain sebelum mandi?" tanya Papa Tama yang memang bersikap begitu sabar kepada Citra.


"Enggak ... Citra maunya sama Mama," balasnya.


Citra kemudian turun dari tempat tidurnya dan menuju ke dalam kamar utama, melihat Mamanya yang memandikan Charel dan Charla bergantian, juga memakaikan baju kepada keduanya. Citra melihat dengan berlinangan air mata.


"Kenapa Nak Cantiknya Mama?" tanya Anaya.


"Citra mau sama Mama," balasnya.


"Sebentar yah ... Mama selesaikan untuk memakaikan kaus kaki untuk adik dulu, biar tidak terlalu dingin. Tiga menit yah," balas Anaya yang sesekali menoleh untuk melihat Citra.


Begitu sang Mama sudah menyelesaikan dengan duo C, kemudian Mama Anaya membuka tangannya dan mengisyaratkan untuk memeluk Citra. "Sini, dipeluk Mama dulu ... kenapa putrinya Mama? Kok pagi-pagi sudah menangis sih," balasnya dengan memeluk Citra begitu erat.

__ADS_1


"Kangen Mama ... Citra butuh Mama," balasnya dengan menangis di pelukan Mamanya.


Tama yang melihat saja begitu tersentuh. Di dalam hatinya, Tama yakin keduanya amat sangat menyayangi satu sama lain. Ketika Tama sendiri ingin menenangkan Citra, yang putrinya cari justru adalah Mama Anaya. Pun begitu Mama Anaya, begitu urusan dengan Duo C selesai, dia memberi waktu untuk Citra terlebih dahulu.


"Papa nitip Charel dan Charla dulu yah ... Mama mau sama Kak Citra dulu," ucap Anaya.


Tama menganggukkan kepalanya perlahan, dia tahun bahwa sekarang Anaya sedang memvalidasi perasaan dan emosi Citra. Sebab, tidak biasanya Citra bangun pagi dan menangis seperti ini. Akan tetapi, sekarang Citra justru menangis dan orang yang dia cari adalah Mamanya.


Akhirnya, Tama mengajak Duo C ke ruang bermain. Sementara Anaya dan Citra masih berada di kamarnya.


"Mama, kenapa Mama sama adik terus?" tanya Citra kemudian.


"Iya Sayang ... adik-adiknya Kak Citra masih kecil, masih butuh Mama untuk dimandiin, diminumin ASI, digendong, nanti juga adik akan mulai makan yang juga disuapin Mama. Kenapa Sayang?" tanya Anaya. Pertanyaan ini diberikan supaya Citra bisa menjawab dan mengutarakan perasaannya.


"Kan Citra kangen sama Mama ... Citra mau main sama Mama," jawabnya.


"Maaf yah Sayang ... kan waktunya Mama juga dibagi-bagi dulu. Mama kan tetap sayang dan bisa bermain dengan Kak Citra. Kita tumbuh bersama. Ada Papa, Mama, Kak Citra, dan Duo C, di dalam rumah ini kita tumbuh bersama," ucap Anaya yang mencoba memberikan penjelasan kepada Citra.


"Waktunya Mama ada berapa?" tanya Citra kemudian.


Anaya tersenyum di sana, dan kemudian memangku Citra, "Waktunya Mama dalam sehari cuma ada 24 jam, Sayang ... kemudian dibagi lagi waktunya untuk Citra, untuk Charel dan Charla, dan untuk Papa. Semua waktu yang Mama miliki untuk kalian semua."


Memang begitulah Anaya, semua waktu yang dia miliki dicurahkan untuk anak-anak dan suaminya. Bahkan bisa dikatakan Anaya jarang sekali memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Sebab, memang bisa melihat ketiga anaknya sehat dan tumbuh bersama, Anaya sudah merasa bahagia.


"Lalu, kapan adik besarnya?"


"Pertumbuhan bayi itu pelan-pelan Kak Citra. Dulu Kak Citra juga bayi seperti itu, Mama berikan ASI dan MPASI sampai perlahan-lahan Kak Citra bisa tumbuh sebesar ini, bahkan nanti bisa lebih besar deh dari Mama," jawab Anaya.

__ADS_1


Perlahan Citra menganggukkan kepalanya dan memeluk Mamanya, "Citra sayang Mama," ucapnya dengan membenamkan kepalanya di dada Mamanya.


Anaya tersenyum dan mencium puncak kepala Citra, "Mama juga sayang Citra ... maaf yah, bukannya Mama tidak perhatian, tapi waktunya memang dibagi-bagi dulu."


"Iya Mama ... nanti kalau adik-adik bobok temenin Citra main ya Ma ... Citra mau main sama Mama," pintanya dengan menunjukkan bola matanya yang begitu bening.


"Pasti Sayang ... setiap hari kan juga begitu. Kalau Duo C sudah tidur, pasti kan Mama langsung mengajak Citra untuk main bersama," jawabnya.


"Iya Mama," balas Citra dengan menganggukkan kepalanya.


"Sekarang Kak Citra, mau mandi? Sudah pagi, nanti sehabis ini sarapan yuk sama Mama dan Papa," ajaknya kepada Citra.


"Mau mandi, tapi dimandiin Mama," pinta Citra kali ini.


Akhirnya Anaya mulai memandikan Citra, Mama yang masih muda itu tampak telaten membersihkan tubuh Citra dengan sabun, mengeramasi rambutnya. Tak jarang keduanya tertawa-tawa di dalam kamar mandi. Usai memandikan Citra, kemudian Anaya membersihkan sisa air di badan Citra dengan menggunakan handuk dan juga memberikan minyak telon di tubuh Citra dan memakaikan baju.


"Citra sayang Mama," ucap Citra lagi begitu sang Mama sudah selesai memandikan, memakaikan baju, dan menyisiri rambutnya.


"Iya, Mama juga sayang Kak Citra. Kasih sayang Mama untuk Kak Citra dan adik-adik itu sama besarnya, cuma memang waktunya dibagi-bagi yah," balasnya.


Ya, memang waktunya harus dibagi. Ada kalanya memang harus memegang yang bayi, tetapi tetap sembari menemani Citra bermain atau membaca buku. Ada kalanya sembari mengasuh Citra, tetapi juga sembari memberikan ASI untuk Duo C.


"Iya Mama ... Citra sudah tidak menangis lagi kok," balasnya.


"Nah, bagus ... terima kasih Kak Citra sudah tidak menangis lagi. Sayangi adik-adiknya juga yah?"


"Iya, Citra sama Charel dan Charla kok Mama, tapi Citra paling sayang sama Mama," balasnya dengan memeluk Mama Anaya lagi.

__ADS_1


Memang begitulah pengasuhan dalam keluarga. Ada kalanya si Sulung merajuk, ada kalanya si bungsu yang merajuk. Penting untuk memvalidasi perasaan dan emosi anak. Menanyainya dengan baik-baik, mencoba membuat anak untuk mengutarakan perasaannya, lalu tenangan dengan kepala dingin dan tidak emosi, setelahnya minta maaf dan ucapkan sayang untuk anak-anak.


Happy Reading^^


__ADS_2