Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Healing Terbaik


__ADS_3

Anaya tersenyum, dia merasa memang sosok pria yang begitu bertanggung jawab. Bahkan, pria hebat di hadapannya itu hanya meminta supaya Anaya mendoakannya agar dia selalu sehat supaya bisa bekerja untuk membahagiakan dia dan Citra. Rasanya, Anaya begitu terharu mendengar ucapan Tama itu.


"Pasti, pasti aku selalu berdoa untuk kamu Mas Suami," balas Anaya.


"Makasih My Love … kamu bukan hanya lembut, cantik, dan indah, tapi pengertian juga. I Love U My Love," balas Tama dengan tiba-tiba.


Lagi, Anaya tertawa karena perkataan suaminya itu. "Ini jadi kita Mall cuma ngobrol aja, atau kamu mau sesuatu Mas? Yuk, aku beliin," ucap Anaya.


"Udah, gini aja juga sudah seneng sama kamu My Love. Makasih ya, bisa ngobrol kayak gini udah lega Sayang," sahut Tama.


Setidaknya apa yang bisa dia bagikan dan juga ada kelegaan di dalam hatinya karena bisa berbagi dengan istrinya. Sebatas bercerita dan membagi perasaan. Ada juga rasa lega karena mendapatkan banyak masukan dari istrinya itu.


***


Malam harinya ….


Sampai akhirnya, hingga malam Tama menemani Citra bermain. Anaya dan Tama pun menikmati makan malam mereka sembari bergantian untuk mengasuh Citra. Namun, kurang lebih jam 19.30an, Citra sudah mengantuk. Sehingga Anaya pun segera menidurkan putrinya itu.


Tidak berselang lama, Anaya kembali masuk ke dalam kamar. Merebahkan punggung dan pinggangnya sebentar, karena usai menjemput Citra dari rumah Mama Rina dan seharian bermain-main dengan Citra, cukup membuat pinggang terasa pegal.


“Sudah tidur, Citra nya My Love?” tanya Tama kepada istrinya itu.


“Sudah Papa … dia aktif banget. Maunya berdiri terus berjalan ke sana ke mari. Aku yang kecapekan. Capeknya, Mas” jawab Anaya.


“Mau aku pijit?” tawar Tama.

__ADS_1


Anaya pun menggelengkan kepalanya, “Enggak … maunya dipeluk Papa aja,” sahutnya dengan suara yang manja.


Mendengar permintaan dari Anaya, Tama pun menganggukkan kepalanya. Pria itu segera menaiki ranjang, dan memeluk istrinya itu. Mendekapnya dengan begitu erat. Ada tangan Tama yang bergerak dan memberikan usapan yang begitu lembut di puncak kepala Anaya.


Tak ada suara, karena saat dipeluk suaminya, Anaya memilih untuk memejamkan matanya sembari menghirupi aroma woody favoritnya di tubuh Tama.


“Kenapa diam aja?” tanya Tama.


“Kangen,” balas Anaya dengan singkat.


Pelukan Tama di tubuh Anaya kian erat, hingga Tama mulai mengecupi puncak kepala Anaya. Sepenuhnya Tama tahu bahwa, makna kangen untuk istrinya itu bermakna banyak. Oleh karena itu, Tama kian mendekap erat Anaya dan berusaha untuk menyentuh istrinya.


“Aku juga kangen kamu,” balas Tama yang kini menundukkan wajahnya dan segera memberikan pagutan yang begitu lembut di bibir Anaya.


Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sama-sama terseret dalam gelombang. Pertemuan bibir, lidah yang sama-sama mengusap, menghadirkan berbagai gelenyar di dalam tubuh, hingga Anaya menghela nafas sepenuh dada, saat merasakan telapak tangan suaminya yang menyusup ke dalam kaos yang dia kenakan.


Bibir yang kian bergerak dan menghisap lipatan bibir bawah milik Anaya dengan tekanan yang serupa, sampai Tama merasakan cengkeraman tangan Anaya yang kian erat di bahunya.


Perlahan, tapi pasti, Tama melepaskan pengait besi yang berada di dalam balik kaos itu, sehingga tangannya bisa membelai punggung yang begitu halus itu. Dari tengkuk hingga pinggang, semuanya ditelusuri Tama dengan tangannya. Hingga tangan itu akhirnya menarik kaos yang dikenakan Anaya ke atas, membuat istrinya dengan tubuh bagian atas yang polos di hadapannya.


Tama membuka matanya, mengamati, kemolekan tubuh istrinya yang benar-benar indah. Tama mendekap Anaya, dengan menundukkan wajahnya, dan mulai membawa buah persik yang ranum milik istrinya untuk tenggelam di dalam kehangatan rongga mulutnya. Memberikan sapaan dengan usapan lidah yang benar-benar memabukkan, bukan hanya itu Tama pun memberikan gigitan-gigitan kecil di puncak buah persik itu. Hingga tidak membutuhkan waktu lama, puncak itu sudah menegang dan sedikit bengkak di sana. Kian kuat Tama menghisap, kian kuat Anaya meremas rambut Tama.


“Mas ... Tama,” panggilnya kepada suaminya itu dengan nafas yang terengah-engah.


Tama mengangkat wajahnya, melihat cantiknya istrinya itu dengan suara de-sahan yang menggoda telinganya. Tama kemudian melepaskan setiap pakaian yang keduanya kenakan. Membiarkan tangan nakal istrinya yang memberikan genggaman dan remasan di pusakanya yang sudah begitu tegang.

__ADS_1


“Luar biasa My Love,” lirihnya dengan mengusapi kepala Anaya.


Menikmati sentuhan demi sentuhan yang Anaya berikan, sampai akhirnya Tama menyadarkan dirinya, dan kembali menyapa lembah milik istrinya. Memberikan sapuan dengan lidahnya di sana. Tidak peduli dengan rintihan Anaya dan tubuh istrinya yang menggeliat dengan gelisah.


Merasa Anaya sudah merasakan pelepasannya, Tama kemudian membuka kedua paha istrinya itu, dan mulai menghujamkan pusakanya, gerakan seduktif dengan keluar dan masuk, menghujam dan menusuk yang membuat Tama menggeram. Wajahnya menengadah ke atas, dengan mata yang terpejam.


Tak kuasa dengan pergerakan suaminya, Anaya pun membawa kedua kakinya untuk melingkari pinggang suaminya, bahkan Anaya sedikit mengangkat wajahnya, dan menggigit punggung suaminya saat dia kembali merasakan melayang dengan sensasi yang tiada duanya.


“Hh, Mas ... Mas ....”


Kian lirih de-sahan Anaya, kian membuat Tama menggerakkan pinggulnya. Kian menghujam dan melesakkan pusakanya. Tama kemudian menarik pusakanya dan memasukkan pusakanya lagi, hingga Anaya terengah-engah dibuatnya.


“Sedikit miring Yang,” perintah Tama yang meminta istrinya untuk mengubah posisinya menjadi miring.


Tama menarik selimut untuk menyelimuti tubuh keduanya, kemudian dia kembali menghujamkan pusakanya dari belakang dengan posisi sama-sama miring. Membuka satu kaki Anaya, dan menaruhnya di pahanya. Kembali pria itu melakukan gerakan seduktif yang sensasinya sungguh luar biasa.


Tangan yang bebas mengeksplorasi area dada istrinya, dan bibir yang berkali-kali mengecupi tengkuk dan bahu istrinya. Keduanya sama-sama berbagi peluh. Tak bisa dikatakan lagi bagaimana indah dan nikmati petualangan bercinta kali ini.


Dari belakang Tama terus bergerak, seolah tidak memberikan jeda. Hingga sampai pada Tama merasa sudah tiba di batasnya. Pria itu merasakan cengkeraman cawan surgawi yang kian kuat dan seolah meremas pusakanya.


“Astaga Sayang ... Sayang,” racau Tama dengan memberikan remasan di dada istrinya.


Menuntaskan misinya. Tama kemudian melesakkan pusakanya sedalam mungkin, dan pria itu menggeram dan tubuh yang bergetar. Tama menggeram. Tangannya merengkuh tubuh Anaya dengan begitu kuat. Mempertahankan posisi istrinya itu dengan tepat, disertai dengan gerakan pinggang yang kian menggebu.


Mendesak dan terus mendesak. Tama bergerak tanpa ada jeda. Anaya memejamkan matanya, berusaha menahan terpaan gelombang yang membuatnya bak menggigil kedinginan. Keduanya sama-sama terperangkap pada rasa yang tak mampu mereka definiskan.

__ADS_1


Tama menghujam dengan begitu dalam, begitu kuat, hingga akhirnya dia pecah. Pria itu meledak dalam kenikmatan seakan berjuta warna-warni pelangi menghiasi matanya yang terpejam. Peluh yang kian menambah kesan liat dan basah, dan juga pelukan Anaya ditubuhnya adalah sensasi terindah dan ternikmat yang bisa keduanya rasakan bersama.


__ADS_2