Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Pindah ke Rumah Baru


__ADS_3

Tidak terasa sudah tiga pekan berlalu sejak pernikahan Tama dan Anaya. Kali ini Tama akan memboyong keluarga kecilnya untuk tinggal di rumah baru yang sudah Tama beli dari hasil menjual rumahnya sebelumnya yang dia tempati bersama mendiang Cellia.


Rumah dua lantai yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman Ayah Tendean sengaja dipilih Tama. Mengingat Ayah Tendean yang hidup sendiri tanpa ada pasangan tentu akan jauh lebih baik jika Ayah Tendean bisa dekat dengan Anaya. Mungkin jika membutuhkan sesuatu, Anaya bisa segera datang.


"Papa dan Mama, Tama pamit mohon izin untuk membawa istri dan anak ke rumah kami yang baru. Terima kasih dalam bulan-bulan tersulit Tama ada Mama dan Papa yang selalu mendukung dan menghibur Tama. Bahkan Mama sampai menutup fisioterapi milik Mama untuk mengasuh Citra. Kini, saatnya Tama akan melanjutkan hidup. Membina keluarga kecil bersama Anaya dan Citra. Mohon doakan Tama, semoga perjalanan kami lancar dan banyak berkah yang Allah karuniakan untuk kami," pamit Tama.


Sebenarnya Mama Rina keberatan. Sudah terbiasa setahun lebih dengan Citra, dan kemudian akan dibawa Tama tinggal di rumahnya tentu sangat berat. Terlebih Mama Rina turut membesarkan Citra sejak cucunya itu menjadi piatu sejak lahir. Sudah pasti kasih sayang yang tumbuh pun begitu besar.


"Sebenarnya Mama keberatan. Mama sudah terbiasa sehari-hari dengan Citra. Pagi, siang, sore, dan malam dengan Citra. Mama yang mengasuhnya sejak dia masih merah, dan kini Citra harus ikut Mama dan Papanya. Cuma tidak apa-apa. Masih dalam satu kota, nanti Mama akan sering-sering ke sana. Kalian juga sering-sering tengokin Papa dan Mama," balas Mama Rina.


"Pasti Ma, kami akan sering main ke sini. Nanti kalau Anaya jadi kuliah S2, nitip Citra waktu Anaya kuliah ya Ma," balas Anaya.


"Tentu, pasti … Mama selalu siap untuk jagain kamu. Mama kamu mau kuliah lagi Citra, nanti Citra kalau besar kuliah yang tinggi seperti Mama yah. Walau hanya menjadi Ibu Rumah Tangga nanti tidak ada salahnya wanita kuliah tinggi. Ilmu bermanfaat untuk mengasuh anak-anaknya," balas Mama Rina.


Anaya pun tersenyum. Ya, walaupun pada akhirnya dia hanya menjadi Ibu Rumah Tangga, tetapi Anaya yakin ilmu yang dia dapatkan bermanfaat untuk mengasuh Citra. Cara memandang masalah dan membuat problem solving (pemecahan masalah) tentu juga akan berbeda.

__ADS_1


"Iya Eyang, nanti kalau Mama kuliah, nitip Citra di sini yah," balas Anaya lagi.


Usai berpamitan, Tama memboyong istri dan anaknya pindah ke rumah baru mereka. Ada air mata dari Mama Rina dan Anaya. Selama satu tahun, rumah Tama ini juga menjadi rumah kedua bagi Anaya. Tempat dia datang di pagi hari dan pulang kala malam untuk menjadi Ibu Susu bagi Citra.


Bahkan sepanjang perjalanan pun, Anaya masih terisak. Semua kenangan yang terjadi di rumah Tama selalu dia ingat. Rumah mertuanya yang nyaman dan banyak kenangannya bersama Citra di sana. Tama tampak menatap istrinya itu.


"Mellow gini sih? Keluar dari rumah Ayah saja enggak menangis loh, keluar dari rumah Mama dan Papa malahan nangis," ucap Tama.


"Kan keluar dari rumah Ayah itu dari hotel langsung ke rumah kamu, jadi biasa saja. Nah, ini kan langsung pamitan itu rasanya berat banget di hati. Mana tadi Mama Rina menangis. Aduh, gak tahan deh jadi ikutan nangis," balas Anaya.


Tama tersenyum di sana, "Kan rumah kita juga dekat. Hanya setengah jam saja dari rumah Mama, dan bisa bolak-balik nanti. Kamu lembut banget Sayang ... cepat terharu sampai menangis kayak gini," balas Tama.


"Selamat datang ... ini rumah baru kita Mama Anaya dan Citra," ucap Tama begitu membuka pintu rumahnya.


"Wah, bagus banget," balas Anaya.

__ADS_1


Tampak Anaya begitu kagum dengan rumah dua lantai dengan desain interior yang begitu bagus itu. Tama pun dengan bangga mempersembahkan rumah itu untuk Anaya dan Citra.


"Rumah ini aku beli dan desain sedemikian rupa untuk kalian berdua. Untuk Mama Anaya yang kini menjadi kekasih hatiku, dan untuk Citra buah hatiku. Semoga kalian berdua betah tinggal di rumah baru ini. Semoga kalian bisa mengisi hari, membingkai setiap momen dengan penuh cinta, dan aku akan bahagia dengan tinggal bersama kalian berdua seumur hidupku, rumah ini untuk kalian berdua. Hartaku yang paling berharga, keluargaku, dan untuk calon buah hati kita kelak," ucap Tama.


Sungguh mendengar perkataan Tama membuat Anaya menangis di sana. Tidak menyangka bahwa suaminya itu akan dengan mudahnya membuatnya menangis seperti ini. Tanpa banyak bicara, Anaya segera memeluk suaminya itu.


"Kamu pinter banget bikin aku nangis kayak gini sih," ucapnya.


Tama tersenyum di sana dan memeluk Anaya yang kala itu juga tengah menggendong Citra.


"Suka enggak dengan rumahnya? Bahkan sertifikat ini atas nama kamu Sayang," ucap Tama dengan serius.


Astaga, Anaya semakin tidak menyangka jika nama sertifikat ini pun atas namanya. Tidak mengira bahwa Tama melakukan semuanya ini. Baginya terlalu berlebihan.


"Sebegitunya sih Mas," balas Anaya.

__ADS_1


"Iya ... bukan hanya untuk aku dan Citra, tetapi untuk kamu dan anak-anak kita yang akan lahir nanti. Jadi, biarkanlah aku hidup denganmu, dampingi aku dan jangan pernah bosan yah Sayang. Perjalanan kita masih panjang, satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun, bahkan sampai akhir hayatku nanti, dampingilah aku," ucapnya.


Tangis Anaya kian pecah. Tidak menyangka Tuhan begitu baik mengirimkan suami sebaik Tama. Setelah badai dan mendung gelap yang menerpanya, kini Tuhan gantikan dengan memberikan pasangan hidup sebaik Tama.


__ADS_2