Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Ambang Kesadaran


__ADS_3

Ketika seseorang usai dibius memang akan mendapatkan efek seperti mual, muntah, pening, dan serangkaian hal lainnya. Untuk itu, Tama pun bertanya terlebih dahulu kepada Dokter Indri, kondisi Anaya yang sekarang tertidur ini berbahaya atau tidak. Sebab, tidak dipungkiri, dulu Tama kehilangan Cellia ketika Cellia tidur. Kali ini, Tama ingin memastikan semuanya dan tidak ingin terjadi hal yang sama pada Anaya.


“Beneran aman kan Tante?” tanya Tama sekali lagi kepada Dokter Indri.


“Iya, hanya karena reaksi bius epidural yang diberikan saja. Kenapa Tama, kamu takut?” tanya Dokter Indri kepada Tama.


Hingga akhirnya Tama pun menganggukkan kepalanya, “Iya, saya takut,” balasnya.


Dokter Indri pun menepuk bahu Tama, “Kuatkan hatimu … masa kritis dan pendarahan sudah ditangani dengan baik. Sekarang, kita pindahkan Anaya dari ruangan operasi ke perawatan yah. Temani dia, Anaya adalah wanita yang kuat.”


Tama pun memejamkan matanya perlahan dan menganggukkan kepalanya, “Iya Tante … terima kasih banyak,” balasnya.


Akhirnya, brankar yang ditempati Anaya, dengan tiang infus siap dipindahkan ke kamar perawatan intensif di ruang VIP. Begitu pintu ruang operasi di buka, di sana ada Ayah Tendean yang duduk dengan lesu dan begitu khawatir.


“Masa kritis sudah berlalu, Dokter Tendean … Anaya akan dipindahkan ke kamar perawatan intensif,” ucap Dokter Indri kepada pria yang merupakan suami mendiang kembarannya, Desy.


Tama yang keluar dari ruang operasi pun langsung memeluk Ayah Tendean di sana. Air matanya kembali berlinang, “Ayah,” ucap Tama dengan dada yang begitu sesak.


Ya, dia melihat bagaimana Anaya berjuang bahkan ketika Anaya merasa tidak kuat dan pandangannya mengabur, Tama bisa melihat ketidakberdayaan di sorot matanya. Kini, begitu bertemu Ayah Tendean, yang dilakukan Tama adalah memeluknya dan menangis.


“Makasih Tama … kamu sudah menjaga Anaya. Terima kasih sudah menemani Anaya,” ucap Ayah Tendean.


Ayah Tendean menyadari membutuhkan kekuatan ekstra untuk bisa menemani Anaya, dan Tama menunjukkan bahwa dia selalu menjaga Anaya. Bahkan ketika Anaya mengalami pendarahan, Tama juga selalu menggenggam tangan Anaya, tidak pernah melepaskan genggaman tangannya.

__ADS_1


“Kita ke kamar perawatannya Anaya, Ayah,” ajak Tama kepada mertuanya itu.


Akhirnya Tama dan Ayah Tendean sama-sama turut mendorong brankar Anaya. Terlihat Anaya yang belum sadar dan wajahnya begitu pucat, Ayah Tendean yang melihat Anaya seperti ini seolah teringat dengan peristiwa tiga tahun lalu ketika Anaya usai melahirkan bayinya, ketika kondisinya belum pulih, bayinya sudah kembali diambil oleh Yang Kuasa. Begitu telah berada di kamar perawatan, Tama membasuh wajahnya terlebih dahulu. Tentu untuk menyegarkan wajahnya yang sembab dan juga dirinya tidak akan mengantuk. Sungguh, Tama walaupun sudah begadang semalaman, dia tidak akan membiarkan Anaya seorang diri. Sebelum Anaya sadar, Tama tidak akan tertidur.


“Ayah istirahat saja tidak apa-apa, biar Tama yang menjaga Anaya,” ucapnya.


“Kamu semalaman terus berjaga, Tam,” balas Ayah Tendean.


Tama pun menganggukkan kepalanya, “Tidak apa-apa, Ayah … ini janji Tama kepada Ayah untuk selalu menjaga Anaya. Sedetik pun, Tama tidak akan meninggalkan Anaya,” balasnya.


“Terima kasih … Anaya bisa bertahan pasti juga karenamu,” balas Ayah Tendean.


Tama menggelengkan kepalanya lagi, “Itu karena Tuhan mengasihi Anaya dan memberikan kekuatan untuk Anaya bertahan dan berjuang,” balas Tama.


“Ayah istirahat dulu saja … Ayah belum tidur dan menjaga di luar juga. Biar Tama yang akan menjaga Anaya,” ucapnya.


Akhirnya Ayah Tendean memilih berbaring di sofa, dan Tama duduk di kursi yang ada di sisi brankar Anaya. Tama menghela nafas melihat istrinya itu, dan juga mengusapi kening Anaya di sana.


“Kamu wanita yang hebat, Sayangku … semoga kamu cepat pulih yah. Aku benar-benar cinta kamu,” kata Tama di dalam hati.


Hingga detik berlalu menjadi menit. Menit pun berganti menjadi jam, Tama masih setia duduk di dekat brankar dengan terus menggenggam tangan Anaya. Kali ini, air mata Tama kembali menetes dengan sendirinya ketika mengingat bahwa Anaya mengatakan menitipkan anak-anaknya dan berkata bahwa pandangannya mulai mengabur. Sungguh, itu adalah hal yang paling menyesakkan untuk Tama.


“Sudah dua jam, My Love … segera sadar yah, aku kangen kamu,” ucap Tama dengan mencium punggung tangan Anaya yang terlepas dari jarum infus itu.

__ADS_1


Berjaga sendiri, dengan Anaya yang masih belum sadar, dan Ayah Tendean yang tidur hingga mendengkur, Tama terus memanjatkan doa di dalam hatinya semoga Anaya segera sadar dan juga segera membaik.


Hampir tiga jam berlalu, akhirnya terlihat pergerakan dari kelopak mata Anaya, dan juga jari telunjuknya yang bergerak perlahan. Tama refleks dan melihat jari telunjuk istrinya yang bergerak, dan menunggu semoga saja kali ini Anaya bisa sadar.


Rupanya dari mata yang terpejam itu meneteskan air mata, dan kedua matanya perlahan-lahan terbuka. “Mas … Mas Tama, Baby Twin,” ucapnya dengan terisak.


Mungkin ada traumatik di masa lalu yang membuat Anaya mencari keberadaan bayinya. Ada rasa takut kehilangan sehingga air matanya berlinang dengan begitu saja.


Tama menggenggam tangan Anaya di sana, “Kamu sudah sadar, My Love … Baby Twin di inkubator untuk observasi selama enam jam. Nanti pasti perawat akan membawanya kepada kita,” balas Tama.


“Mereka sehat kan? Mereka … hidup dan selamat kan?” balas Anaya dengan suaranya yang lirih.


Tama turut meneteskan air matanya dan juga menganggukkan kepalanya, “Mereka sehat dan kuat sama seperti Mamanya,” balas Tama.


“Terima kasih kamu sudah begitu kuat, Sayangku,” ucap Tama.


Tama sedikit beringsut dan memeluk Anaya di sana. Hatinya benar-benar melimpah dengan syukur ketika menyadari bahwa Anaya sudah sadarkan diri. Rasanya kini Tama benar-benar bahagia, istrinya telah kembali sadar dan hanya menunggu waktu untuk kembali melihat si Kembar.


“Aku pikir … aku akan kehilangan anak-anakku lagi,” balasnya.


Tama menggelengkan kepalanya, “Tidak … mereka sehat dan kuat. Terima kasih My Love … segera pulih dan sehat yah,” balas Tama.


Anaya menggelengkan kepalanya perlahan, “Hmm, iya … makasih Mas Suami,” balasnya juga dengan berlinang air mata.

__ADS_1


Ini adalah air mata kebahagiaan. Berjam-jam Tama cemas menunggu, bahkan sampai menahan kantuknya karena jujur Tama juga merasakan trauma dalam hatinya. Akan tetapi, sekarang Anaya sudah menemukan kesadarannya. Sungguh, ketika kenangan yang buruk sudah terhapuskan, dan Tama mendapati bahwa Anaya sudah sadar, dirinya begitu lega. Dada yang semula ditimpa beban dengan begitu beratnya, kali ini beban itu telah diangkat. Begitu lega rasanya.


__ADS_2