
Rupanya suara Tama dan Anaya yang sebenarnya lirih terdengar juga oleh Ayah Tendean, sehingga Ayah Tendean pun terbangun dari tidurnya. Pandangan matanya yang belum sepenuhnya fokus pun langsung menyorot kepada Anaya dan Tama yang tengah saling memeluk di brankarnya. Hingga Ayah Tendean pun berdehem.
"Ehem."
Terdengar deheman dari Ayah mertuanya, Tama pun mengurai pelukannya dan kembali duduk di kursi yang berada di samping brankar. Tama pun lantas menyapa Ayah mertuanya itu.
"Ayah ... Anaya sudah sadar," ucapnya.
Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya dan kemudian berjalan perlahan menuju brankar di mana Anaya berbaring di sana. "Syukurlah kamu sudah sadar, Aya ... Ayah begitu cemas menunggu kamu," ucapnya.
"Ayah ...."
Hanya itu kata yang bisa Anaya ucapkan dengan berlinangan air mata. Jika seorang anak melahirkan dan ada Ibunya yang turut menemani, tetapi Anaya tidak memiliki Ibu, sehingga yang menemaninya adalah sosok Ayahnya. Anaya pun bersyukur melihat dua pria terhebat dalam hidupnya berada di dalam kamarnya dan menungguinya.
"Sudah, jangan nangis ... yang penting kamu sudah sadar."
Ayah Tendean kemudian menepuk bahu Tama di sana, "Kayaknya Ayah bisa pulang dan mandi dulu, nanti kalau Ayah ke sini, ingin dibawakan apa?" tanya Ayah Tendean.
"Tidak usah Ayah ... Ayah istirahat saja tidak apa-apa, Tama bisa menjaga Anaya," balasnya.
"Kamu sejak semalam belum tidur Tama ... nanti kamu bisa pusing dan sakit," balas Ayah Tendean.
Dengan cepat Tama menggelengkan kepalanya, "Tidak ... Tama baik-baik saja kok. Bisa melihat Anaya yang sudah sadar, Tama baik-baik saja dan lebih tenang," balasnya.
Kemudian Ayah Tendean berpamitan dengan Tama dan Anaya. Nanti Ayah Tendean akan datang kembali untuk menemani Anaya di Rumah Sakit.
"Bobok aja Mas ... aku sudah tidak apa-apa kok," ucap Anaya yang mempersilakan Tama untuk bisa tidur terlebih dahulu.
__ADS_1
"Tidak Yang ... aku takut terjadi apa-apa," balas Tama.
"Aku baik-baik saja. Bobok dulu saja satu jam gitu, tidak apa-apa," balas Anaya.
Hari juga masih pagi dan semalaman Tama benar-benar begadang untuk menjaga Anaya. Mengikuti saran dari istrinya, Tama pun tidur sebentar. Akan tetapi, pria itu memilih untuk tidur dalam posisi duduk, dan kepalanya ditaruh di sisi brankar Anaya. Tangan Anaya yang tidak dipasangi infus pun bergerak dan mengusapi rambut suaminya.
"Terima kasih Mas Suami ... sudah menemani dan menguatkan aku. Aku masih ingat semalam aku benar-benar nyaris tidak bisa bertahan, tetapi kamu mengatakan bahwa anak-anak dan juga kamu sangat membutuhkan aku. Terima kasih sudah menjadi suami terhebat untukku," ucap Anaya dengan lirih dan telapak tangannya terus memberikan usapan di rambut Tama.
Entah berapa lama waktu berlalu, Anaya ikut tertidur untuk sejenak. Hingga akhirnya, Tama terbangun karena mendengar petugas dari Rumah Sakit yang mengetuk pintu kamar Anaya dan memberikan sarapan.
Dengan mata yang masih berat, Tama berjalan dan membukakan pintu. "Ya," balasnya kepada petugas dari Rumah Sakit itu.
"Sarapan untuk Nyonya Anaya," ucap petugas Rumah Sakit itu.
Tama pun menerima satu nampan dengan aneka sarapan sehat lengkap dengan sayur, buah, dan segelas susu di sana. "Terima kasih," balas Tama.
Tama menaruh nampan itu di atas nakas, dan kemudian tersenyum melihat Anaya yang kembali tertidur. Tidak ingin mengganggu Anaya yang tertidur, Tama memilih mandi untuk membersihkan dan menyegarkan dirinya. Hanya butuh lima belas menit bagi Tama, dan kemudian pria itu keluar dari kamar mandi dengan kembali duduk di dekat brankar.
"Ya My Love ... butuh sesuatu?" tanya Tama kepada istrinya.
"Minta tolong, atur brankarku agar bisa posisi setengah duduk dong ... punggung aku sudah panas," balas Anaya.
Tama pun mengatur brankar itu dengan posisi sesuai yang diinginkan Anaya, kemudian Tama berinisiatif untuk merapikan rambut Anaya yang berantakan. Pria itu dengan telaten menyisiri rambut Anaya dan kemudian menguncirnya.
"Gini, biar lebih rapi," ucap Tama.
Anaya pun tersenyum, "Makasih Mas ... baik banget sih," balasnya.
__ADS_1
"Sama-sama Sayangku ... sarapan yah, aku temenin," ucap Tama kepada istrinya itu.
Anaya menggelengkan kepalanya, "Bentar aja Mas ... aku masih takut makan usia operasi," balasnya.
Tama pun langsung menganggukkan kepalanya, "Ya sudah, nunggu dokter saja ya Sayang ... walaupun sebenarnya bisa makan setelah 2-3 jam setelah operasi Caesar jika melakukan anestesi lokal," balas Tama.
Ketika mereka sedang berbicara, rupanya ada pasian masuk dan mendorong box bayi berukuran besar dengan penyekat di sana, sehingga satu box bisa ditempati oleh dua bayi.
"Permisi ... babynya Bu Anaya," ucapnya.
Senyuman di wajah sayu Anaya pun terbit. Begitu senang akhirnya bisa melihat Baby Twin yang dipbservasi sejak semalam.
"Si kembar waktunya minum ASI Bu Anaya. Sudah pernah memberikan ASI sebelumnya?" tanya perawat itu.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya sudah," jawabnya. Itu memang karena dulu Anaya meng-ASI-hi Citra hingga Citra lepas ASI.
"Sekarang saya ajarin untuk memberikan ASI untuk Si Kembar ya Bu Anaya," ucap sang perawat.
"Nah, kebetulan Bu Anaya dalam posisi duduk, saya akan posisikan si Kembar di tangan kanan dan kiri Ibu yah. Kemudian posisikan kedua pasang kaki si Kembar bertindihan di depan badan Bu Anaya. Pastikan kepala Si Kembar sejajar dengan payu-dara dan bisa mencapai pu-ting."
Dengan hati-hati, perawat itu menempatkan si Kembar ke dalam tangan kanan dan kiri Anaya. Ini pun menjadi kali pertama bagi Anaya untuk menyusui bayi kembar secara langsung.
"Ini namanya posisi Double - Cradle Hold. Satu posisi dulu ya Bu Anaya. Nanti bisa saya ajarkan yang lain. Ada empat posisi untuk menyusui bayi kembar, nanti saya akan ajarkan pelan-pelan yah Bu Anaya. Kemejanya dibuka dulu saja, kan yang menemani suami sendiri. Si Baby juga sudah mendapatkan suntikan imunisasi pertamanya ya Bu Anaya. Jika membutuhkan bantuan silakan tekan tombol yang ada di atas brankar yah," balas perawat itu dengan ramah.
Setelahnya, perawat itu keluar dari kamar Anaya. Tama pun turut duduk di tepian brankar dan melihat bagaimana si Kembar baru saja melakukan Proses Inisiasi Menyusui Dini yang tertunda.
"Hei Twin ... baby boy dan baby girlnya Papa dan Mama," sapa Tama dengan lembut melihat dua bayi kembarnya.
__ADS_1
"Lucu Sayang ... baru kali ini memberikan ASI untuk dua baby. Ihh, geli," ucap Anaya dengan tertawa kecil.
Tangan Tama pun terulur dan mengusapi puncak kepala Anaya di sana. Begitu senang dan bahagia melihat Anaya memberikan ASI untuk si Kembar. Pun Anaya, yang walau tubuhnya masih lemah, tetapi bisa bersama si kembar untuk kali pertama merasakan begitu bahagia.