Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Si Papa Kurang Tidur


__ADS_3

Praktis sepanjang malam, Tama benar-benar terjaga. Pria itu menyadari sepenuhnya bahwa Mamanya juga membutuhkan waktu untuk beristirahat, juga Papanya yang keesokan harinya harus bekerja. Sehingga, Tama memilih untuk mengurus Citra sepanjang malam.


"Cup, sayang anaknya Papa ... pasti kaki kamu sakit ya Sayang? Bertumbuh itu memang sakit, Sayang ... cuma Papa yakin dengan divaksin kamu akan sehat," gumam si Papa muda dengan lirih.


Ada kalanya Tama menimang Citra, ada kalanya Tama menidurkan Citra sesaat di atas ranjangnya, ada kalanya pula Tama mengajak bicara putri kecilnya itu. Segala daya Tama kerahkan untuk mengasuh Citra di malam hari.


Sebelumnya Tama memang pernah membaca sebuah artikel bahwa bekas suntikan bisa mengakibatkan nyeri dan pegal. Selain itu, Si Kecil bisa merasakan trauma dengan jarum suntik walaupun rasa sakit akibat jarum suntik sudah tidak dia rasakan lagi. Rasa trauma itulah yang membuat para bayi masih saja menangis meskipun sudah tidak lagi disuntik.


"Sini, digendong Papa yah ... digendong koala, sambil minum ASIP dari Onty Aya nih," ucap Tama.


Tama menggendong Citra di depan, menempel di dadanya. Sekalipun dia bukan Ibu, dia hanyalah Ayah, tetapi setidaknya Citra bisa merasa tenang karena bisa skin to skin dengan Papanya. Mungkin gendongan dan pelukannya tak sehangat pelukan seorang Ibu, tetapi Tama ingin membuktikan bahwa dia sangat serius untuk mengasuh dan merawat Citra.


"Maaf ya Citra, tadi disuntik sama Paman Dokter yah. Disuntik itu sakitnya sekali, sehatnya untuk selamanya. Jadi, biar Citra sehat," gumam Tama dengan lirih.


Sebisa mungkin Tama menciptakan suasana yang kondusif supaya Citra juga merasa nyaman. Menggendongnya, memberikan ASIP, memeluknya, semuanya dilakukan Tama dalam upaya untuk menenangkan Citra.


Rembulan yang kian meninggi, pekatnya malam, dan gumaman lirih Tama menjadi teman di malam itu untuk menenangkan Citra. Bahkan Tama juga menenangkan dirinya sendiri, supaya Citra juga bisa tenang.


Tangan Papa muda itu bergerak dan memberikan usapan yang lembut di kening Citra. Beberapa kali juga, Tama melabuhkan kecupan hangat di kening putrinya. Jujur saja, di saat seperti ini, Tama merasa sangat membutuhkan Cellia. Andai Mamanya Citra masih ada, sudah pasti ada pelukan yang penuh kasih sayang dari seorang Ibu untuk Citra, ada ASI yang bisa Citra minum dan memberikan efek aman serta nyaman bagi bayi yang sedang rewel. Namun, Citra tidak memiliki sosok seorang Ibu. Sehingga, Tama lah yang harus melakukan semua itu untuk Citra.


Tidak terasa, sudah lewat tengah malam, Citra pun perlahan tertidur. Dengan pelan-pelan, Tama menidurkan Citra di dalam box bayi yang ada di dalam kamarnya, kemudian Tama juga berusaha tidur. Membiarkan malam membuai keduanya dalam lelapnya mimpi indah.


"Met bobo putrinya Papa ... Papa akan menjagamu sepanjang malam ini. I Love U Always!"

__ADS_1


***


Keesokan paginya, Tama bangun. Pria itu menilik box bayi milik Citra. Senyuman mengembangkan di sudut bibir Tama.


"Kamu boboknya pules Sayang? Lucu banget sih kamu kalau bobok kayak gini. Cantiknya, putrinya Papa," ucapnya lirih sembari tersenyum menatap wajah Citra.


Tama kemudian melihat jam analog yang berada di atas nakas, "05.00 pagi, masih sangat pagi. Pantesan Citra masih tidur. Mungkin karena semalam begadang, sampai jam 05.00 pagi saja Tama masih merasakan begitu mengantuk. Sehingga Tama memilih untuk tidur sesaat lagi.


Entah berapa lama Tama tertidur, yang pasti Tama bangun karena dibangunkan oleh Mama Rina. Serta, Mama Rina yang sudah menggendong Citra.


"Tama, bangun... sarapan dulu," panggil Mama Rina sembari menepuk kaki anaknya itu.


"Hmm, bentar, Ma ... Tama masih ngantuk banget," keluhnya pagi ini.


“Yuk, bangun dulu Tam … nitip Citra dulu, Mama mau ke kamar mandi.” Kembali Mama Rina membangunkan Tama.


Tama pun akhirnya mengerjap, matanya benar-benar terbuka, dan kemudian dia segera bangun dan menggendong Citra. Sepenuhnya Tama berpikir bahwa dia adalah orang tua tunggal untuk bayinya, oleh karena itu sebisa mungkin Tama juga akan bangun.


“Sini Sayang … ikut Papa sini,” ucapnya.


“Titip dulu ya, perut Mama mules soalnya,” balas Mama Rina lagi.


“Iya Ma … biar Tama yang mengajak Citra berjemur di luar. Biar sehat,” tambahnya.

__ADS_1


Dengan muka bantalnya, dan mata yang sedikit memerah karena memang kurang tidur. Sekadar untuk sekadar berjalan saja, kepala Tama rasanya begitu pening, tetapi untuk anak tercinta ya Tama akan melakukannya sepenuh hati. Komitmennya untuk mengasuh dan memprioritaskan Citra. Walau semalam begadang, tidak menjadi masalah dan tidak menjadi beban pikiran untuk Tama. Kasih sayang seorang Ayah akan benar-benar Tama berikan untuk putrinya.


"Jemur dulu ya Citra, biar kamu sehat ...."


Tama mengajak berbicara putrinya itu sembari menguap, matanya saja sampai berair. Sementara yang diajaknya berbicara tampak menatapnya dan tersenyum.


"Lucu banget sih ... hari ini Papa libur kok. Nanti digendong Papa lagi yah, cuma sekarang Papa masih ngantuk," balas Tama lagi.


Rupanya pemandangan Tama yang menjemur bayinya itu, diperhatikan oleh Anaya yang baru saja datang. Wanita itu membuka pintu gerbang rumah Tama, dan terkejut melihat Tama dengan rambut yang acak-acakan, wajah bantal, dan masih begitu lusuh sudah menjemur Citra di luar.


"Pagi," sapa Anaya kepada mereka berdua.


"Pagi, Ay," balas Tama dengan mengganggukkan kepalanya.


"Semalam rewel enggak Citranya?" tanya Anaya begitu dia tiba.


"Rewel, lebih dari tengah malam baru mau tidur," balasnya.


"Oh, makanya ... Papanya kelihatan banget kurang tidur. Citra semalam rewel yah? Uh, kasihan ... hari ini sudah Onty sudah datang. Nanti main sama Onty yah, digendong Onty," ucap Anaya yang tersenyum.


Kemudian pandangan mata Anaya beralih kepada Tama, "Sini, biar aku yang lanjutin jemur Citra. Kamu mandi dulu aja, mau tidur lagi juga enggak apa-apa," balas Anaya.


Sedikit Tama merasa termangu. Bisa berbagi pengasuhan seperti ini terasa begitu menyenangkan. Sayangnya, orang yang sekarang berbagi pengasuhan CItra bukanlah istrinya, melainkan sosok wanita yang dulu sempat singgah sementara di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2