
Dalam satu bulan terakhir, perlahan-lahan Citra mulai bisa beradaptasi dengan sekolahnya. Walau satu minggu pertama memang adaptasi yang membutuhkan ekstra kesabaran untuk Anaya juga. Namun, bagaimana pun kunci yang harus diterapkan oleh Anaya adalah bersabar. Ya, dalam satu minggu pertama menemani Citra sekolah, Mama Anaya terlihat begitu bersabar.
Sekarang tidak terasa dalam satu bulan ini sudah begitu banyak perkembangan Citra. Tentunya Citra lebih mandiri dan juga mulai berteman dengan beberapa teman. Walau memang catatan khusus dari Miss Lusi dan Miss Dina mengatakan untuk bersosialisasi dengan temannya, Citra terbilang pelan. Namun, untuk kemandirian dan kompetensi lainnya, Citra bisa mengikuti dengan baik.
Kini, giliran Mama Anaya yang akan merayakan puncak ceremony dari kelulusannya menempuh pendidikan Strata Dua yaitu dengan mengikuti Wisuda. Ya, untuk para mahasiswa, wisuda adalah puncak ceremony setelah sekian tahun menyelesaikan jenjang studi di S1 atau S2.
Tentunya untuk persiapan wisuda sendiri bagi seorang wanita memang membutuhkan waktu yang lama. Setidaknya mereka harus berhias dengan menyanggul rambutnya dan juga mengenakan make up di wajahnya. Selain itu, masih harus mengenakan kebaya dan nanti akan dipadukan dengan baju toga yang akan dikenakan. Sehingga, pagi ini pun Anaya sudah di-make-up, oleh salah seorang make up artist yang dulu meriasnya ketika menikah dulu.
Berbagai produk make-up diaplikasikan di wajahnya mulai dari Primer, Foundations, hingga pewarna kelopak mata, dan sentuhan terakhir adalah pewarna bibir.
"Sudah Mbak Anaya ... masih perlu diperbaiki tidak?" tanya MUA tersebut.
"Sudah sih Mbak ... selalu puas deh sama hasilnya. Ini minimalis kan ya Mbak? Soalnya sekarang ribet kalau harus membersihkan make-up terlalu lama, mana punya bocils juga di rumah," balas Anaya.
MUA itu pun menganggukkan kepalanya. "Mudah kok Mbak Anaya ... seperti biasa, anti ribet," ucap MUA tersebut.
Setelahnya, MUA itu juga menata rambut Anaya dan membantu Anaya untuk mengenakan kebaya berwarna hijau toska muda yang dipilihkan oleh Tama. Menurut Tama, dia masih ingat dengan salah satu warna kesukaan Anaya. Oleh karena itulah, Tama memilih warna hijau toska ini untuk Anaya.
Siap dengan semuanya, kini Tama siap mengantar Anaya ke kampus. Pria tampan itu tampak hadir dengan setelan jas berwarna hitam, sementara pilihan dasinya hijau toska supaya bisa tampil serasi dengan Anaya. Tama pun membawa kamera DSLR yang akan dia gunakan untuk mengabadikan momen wisuda istri tercinta.
"Sudah sampai Sayangku," ucap dengan memarkirkan mobilnya.
"Duh, kok aku yang deg-degan ya Mas," ucap Anaya dengan memegangi dadanya yang terasa begitu berdebar-debar sekarang.
Tama pun tersenyum perlahan. "Santai aja, kan nanti cuma salaman aja kan di depan? Ada aku, Sayang," balasnya.
__ADS_1
Keluar dari mobil, Tama pun membantu Anaya untuk mengenakan toga panjang berwarna hitam dan membawa Anaya mengenakan topi toga. Pria itu terlihat begitu perhatian dan terlihat merapikan busana Anaya.
"Kurang apa Mas?" tanya Anaya perlahan.
"Sudah, sudah cantik kok. Cantik banget malahan," balas Tama.
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Tama, membuat Anaya tersenyum cerah. Kemudian wanita itu mengapit lengan suaminya, berjalan perlahan memasuki auditorium untuk mengikuti jalannya prosesi wisuda.
"Berapa ribu wisudawan dan wisudawati ini?" tanya Tama kepada istrinya.
"Banyak deh Mas ... kayak satu stadion," balas Anaya dengan terkekeh geli.
"Bener ... ini satu stadion sih Sayang. Banyak banget," balas Tama.
"Semoga sih, enggak begitu lama ya Mas. Bisa seharian ini," balas Anaya lagi.
"Aku duduknya barengan sama wisudawati yang lain loh Mas," ucap Anaya.
"Iya, aku tahu. Aku duduk di barisan keluarga dan tamu. Tenang aja. Di mana pun kamu duduk, mataku akan bisa mengamati kamu," balas Tama.
Mendengarkan apa yang baru saja Tama ucapkan membuat Anaya tersipu malu di sana. Hingga Tama dengan tekadnya sendiri mengantarkan Anaya hingga ke tempat duduknya. Setelahnya Tama mencari tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari tempat Anaya duduk sekarang.
Hingga akhirnya Master of Ceremony atau Pembawa Acara mulai membuka jalannya prosesi wisuda. Dimulai dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan juga Mars Universitas. Kemudian ada beberapa sambutan dari Rektor dan beberapa Guru Besar lainnya. Setelah kini tiba saatnya prosesi wisuda. Mulailah pembawa acara mulai membacakan satu per satu wisudawan atau wisudawati untuk maju ke depan. Mereka yang bersalaman, mendapatkan sertifikat atau ijazah kelulusan, dan kemudian bagian dari tali toga akan dipindahkan dari sisi kiri ke sisi kanan.
Dimulai dari mahasiswa Starta Dua dengan prodinya masing-masing. Hingga tiba giliran untuk Prodi Pendidikan. Satu per satu mereka dipanggil maju, hingga tiba giliran untuk Anaya.
__ADS_1
"Anaya Magister Pendidikan (M.Pd)."
Mendengar nama istrinya dipanggil, Tama bertepuk tangan. Sangat bangga dengan pencapaian yang baru saja diraih oleh Anaya. Pun dia memakai kameranya untuk membidik Anaya, mengabadikan momen indah ini dengan jepretan kamera.
Hampir tiga jam berlalu, dan sekarang seluruh prosesi wisuda telah berlalu. Tampak Anaya yang mencari-cari di mana sosok suaminya. Hingga ada sosok tangan yang melambai-lambai ke arahnya. Anaya sangat yakin bahwa itu adalah suaminya.
"My Love," sapa Tama begitu Anaya mendekat.
"Mas Suami," balas Anaya yang segera mengapit kembali lengan suaminya itu.
"Congratulations My Wife ... sudah resmi yah Magister Pendidikan yah," balas Tama.
"Makasih Mas, semua ini berkat support dan doa dari Mas Suami tercinta juga," balasnya.
"Aku sangat bangga padamu," ucap Tama.
"Makasih banyak Mas," sahut Anaya.
Hingga akhirnya, mereka berjalan bersama keluar dari auditorium. Merasa bisa mengikuti prosesi wisuda ini dengan sangat baik. Hingga Anaya melirik ke suaminya. "Kelihatannya cuma aku yang kuliah tinggi-tinggi dan menjadi ibu rumah tangga ya Mas," ucapnya.
"Tidak juga ... banyak wanita di luar sana yang mengorbankan karirnya dan menjadi full-time Mom kok. Justru ibu rumah tangga yang pinter itu bisa memiliki wawasan terbuka dan bisa mendorong anak-anak di zaman yang sepenuhnya berubah ini Sayang," balas Tama.
"Pendidikanku untuk anak-anakku," balas Anaya.
"Itu bagus, Sayang ... pendidikan untuk anak dimulai dari dalam rumah kan. Jadi, mari kita lakukan yang terbaik, mendidik dan mengasuh anak-anak," balas Tama.
__ADS_1
Ya, sejatinya pendidikan untuk anak dimulai dari dalam rumah. Sama seperti Ki Hajar Dewantara yang pernah berkata bahwa setiap rumah adalah sekolah untuk anak-anak. Itu juga yang akan Tama dan Anaya terapkan untuk anak-anak mereka.