
Malam ini menjadi malam pertama bagi Tama dan Anaya berada di rumah. Tentu ada yang berbeda kali ini karena sekarang di rumah mereka memiliki Triple C, ada Citra, Charel, dan juga Charla. Tiga kiddos di rumah, dan juga dengan Citra sendiri yang harus beradaptasi dengan adik-adik mereka di rumah.
“Papa …, Mama baru ngapain sama Baby?” tanya Citra kepada Papanya.
“Adik kamu baru minum ASI, Sayang … mau lihat Mama?” tanya Tama kepada putrinya itu.
Citra kecil pun menganggukkan kepalanya, “Boleh Pa? Citra kangen Mama,” balasnya.
Akhirnya, Tama pun menggandeng Citra melewati pintu penghubung. Kemudian Citra tampak menyata Mamanya.
“Mama,” sapanya.
“Eh, anaknya Mama … sini Sayang,” panggil Anaya yang meminta kepada suaminya untuk mendudukkan Citra di atas ranjang, di sampingnya.
Tama pun sigap dan mendudukkan Citra di ranjang, di dekat dengan Mamanya. Tampan Citra terlihat bingung melihat Mamanya meminang dua baby sekaligus.
"Gendong dua baby ya Ma?" tanya Citra. Agaknya Citra juga merasa heran karena Mamanya menggendong dua bayi. Citra belum terbiasa bahwa Mamanya menggendong kedua adik kembarnya.
"Iya Kak Citra, dulu waktu Citra kecil juga Mama timang-timang seperti ini," balas Anaya.
Itu memang benar karena dari Citra berusia 2 minggu, Anaya yang sudah mengasuh Citra dan memberikan ASI juga untuk Citra. Sehingga, Anaya bisa bercerita bahwa Citra pun juga ditimang-timang seperti itu.
"Citra udah jadi kakak ya Ma, udah besar," balasnya lagi.
__ADS_1
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya, sudah jadi kakak sekarang. Pelan-pelan menjadi kakak untuk Charel dan Charla yah," balas Anaya. Itu memang adalah harapan Anaya untuk Citra. Memang butuh waktu bagi seorang anak menjadi kakak. Terkadang anak kecil juga tidak tahu pasti kakak yang baik itu seperti apa. Akan tetapi, Anaya yakin bahwa Citra bisa menjadi kakak yang baik untuk adik kembarnya, Charel dan Charla.
Citra tampak menatap Mamanya. Hingga akhirnya Si Kembar tertidur. Tama kini menggendong dan menidurkannya di dalam box bayi.
Setelah dua bayi kembar sudah berada di dalam box bayi, terlihat Citra perlahan beringsut dan mendekat ke Mamanya. Dia menatap sang Mama, "Mama, peluk Citra dong," pintanya.
Tama kemudian kembali ke ranjang, melihat Anaya dan Citra yang sedang berpelukan. Di dalam hatinya, Tama merasa bahagia. Kasih sayang yang diberikan Anaya untuk Citra tidak pernah berkurang. Justru, terlihat keduanya sangat menyayangi satu sama lain. Memang waktunya yang dibagi-bagi, tetapi sama sekali tidak ada perubahan kasih sayang dari Anaya kepada Citra.
"Hati-hati dengan perutnya Mama ya Kak Citra … perutnya Mama masih sakit," ucap Tama yang memperingatkan Citra untuk lebih berhati-hati.
"Mama perutnya sakit yah? Sakit banget Ma?" tanya Citra.
"Iya Kak, sakit … cuma sudah dipeluk Kak Citra gini jadi sembuh kok," balas Anaya.
Anaya pun merasa ini adalah bentuk perhatian dari Citra kepada dirinya. Bentuk kasih sayang yang murni dari seorang anak kepada Mamanya. Dari setiap ucapan yang Citra sampaikan terdengar ada ketulusan di sana.
"Iya Sayang, doakan Mama sehat selalu yah," balas Anaya.
"Iya Mama, Citra mau ditemenin Mama bobok dulu boleh?" Kali ini Citra meminta kepada Mamanya untuk menemaninya tidur. Mungkin karena efek rindu tiga malam bobok bersama Eyang Rina, sekarang Citra ingin tidur bersama Mamanya.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Boleh Sayang, sebentar Mama Minta tolong Papa untuk bantuin Mama turun dulu yah," pintanya.
Sekali lagi Tama sigap berdiri di tepian tempat tidurnya dan mengulurkan tangannya kepada istrinya. Sebelum Anaya meminta tolong, Tama sudah terlebih dahulu bersiap untuk menolong Anaya.
__ADS_1
"Yuk, My Love, hati-hati yah," ucap Tama.
Anaya pun tersenyum, "Sigap banget sih Papa," ucapnya.
"Harus dong, aku akan selalu sigap untuk kamu, My Love," balas Tama.
Anaya perlahan berdiri dan kemudian menggandeng Citra untuk masuk ke dalam kamarnya. Tama pun juga membantu sampai keduanya memasuki kamar Citra. Rasanya masih kasihan, Anaya dengan luka bekas Caesar di perutnya dan harus berjalan sendiri.
"Titip Twins ya Mas," pesan Anaya kepada suaminya.
"Tenang aja My Love, aku bisa kamu andalkan kok."
Tama kemudian kembali ke kamarnya. Di sana dia berdiri dan mengamati Si Kembar yang terlelap. Dalam hatinya, Tama begitu bersyukur rasanya.
"Lucu banget sih Charel dan Charla, kalian berdua itu kembar, tapi bisa cewek dan cowok dan wajah kalian tidak identik. Tuhan luar biasa banget sudah menumbuhkembangkan kalian berdua di dalam perut Mama. Walau harga yang dibayar begitu mahal. Ada kasih sayang dan pengorbanan yang begitu besar dari Mama Anaya saat melahirkan kalian. Bukti nyata bahwa kasih Ibu sepanjang zaman untuk kalian berdua. Tumbuh dengan sehat yah anak-anakku, bantu Mama untuk sehat dan pulih," gumam Tama dalam hati.
Tama benar-benar berharap bahwa kehadiran bayi akan bisa menghapus air mata, penawaran pedih, dan juga membawa kebahagiaan. Semoga saja dengan memiliki Charel dan Charla, istrinya bisa pulih dengan lebih cepat. Pulih secara fisik dan psikis tentunya.
Usai berkata lirih dengan hatinya sendiri, rupanya Charel terbangun. Bayi laki-laki itu terbangun, lantas Tama segera menggendong Charel dan menimangnya.
"Cup Sayang … putranya Papa. Charel terbangun yah? Padahal Charla bobok loh. Sama Papa dulu ya Nak, Mama baru sama Kak Citra. Mama dan Papa harus bekerja sama nih, berkolaborasi untuk menjadi orang tua yang baik bagi kalian bertiga," ucap Tama.
Bahkan si Papa cakep itu begitu luwes menimang Charel dan menyenandungkan lagu "Twinkle Twinkle Little Star" untuk putranya itu. Menimangnya perlahan, bersenandung lirih, dan memberikan usapan di pantatnya agar Charel bisa tenang.
__ADS_1
Jurus ampuh yang dilakukan Papa Tama. Charel pun tidak menangis. Walau memang belum mau tertidur. Setidaknya Tama sudah berpengalaman dan terampil merawat bayi karena dulu di malam hari dia lewati bersama dengan Citra seperti ini. Memori seolah terulang kembali. Kini, ada Charel yang dia tenangkan. Akan tetapi, perasaan dan kondisi hati Tama sekarang jauh lebih baik. Tidak ada kesedihan. Tidak ada air mata. Tidak ada rasa kehilangan. Walau memang dia harus meluangkan waktu untuk Anaya, karena Anaya yang sakit dan kehilangan. Untuk semua itu, Tama akan berusaha mensupport istrinya dan juga memberikan kebahagiaan bagi Anaya.