Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Cesarean Section


__ADS_3

Usai pemeriksaan dan menunggu untuk mendapatkan kamar rawat inap, Tama meminta izin kepada Anaya untuk memberitahu kabar kepada orang tua di rumah supaya tidak khawatir terhadap kondisi Anaya. Selain itu, para orang tua juga harus diberitahu bahwa Anaya akan melakukan Cesarean Section atau operasi caesar segera, malam ini juga.


“Aku beritahu kepada orang tua kita dulu ya Sayang,” ucap Tama kepada Anaya.


“Hmm, iya Mas,” balas Anaya dengan terlihat cemas. Senyuman di wajah Anaya hanya senyuman formalitas saja. Tama pun tahu bahwa suasana hati istrinya itu sedang tidak baik-baik saja. "Tolong telepon Ayah dulu, Mas," pinta Anaya kemudian.


Tama pun menganggukkan kepalanya dan mulai menghubungi Ayah Tendean dengan handphonenya.


Ayah Tendean


Berdering


"Halo Ayah," sapa Tama begitu teleponnya tersambung dengan Ayah Tendean.


"Ya, halo Tama … ada apa malam-malam menghubungi Ayah?" tanya Ayah Tendean. Tentu Ayah Tendean bertanya demikian karena Tama tidak pernah menghubunginya di malam hari.


“Iya Ayah … ini Tama mau memberikan kabar bahwa Anaya akan melakukan operasi Caesar malam ini,” ucap Tama pada akhirnya.


Ayah Tendean yang mendengarkan kabar dari Tama merasa kaget dan juga bingung. Terlebih ketika Tama mengatakan bahwa Anaya harus segera melakukan operasi caesar, sontak saja hati Ayah Tendean merasa tidak tenang.


“Ayah jangan khawatir, Yah … Tama akan selalu menjaga Anaya,” balasnya.


"Di rumah sakit mana Tam? Ayah akan ke sana sekarang juga. Tidak apa-apa, Ayah nanti bisa menunggu di luar, dan kamu akan temenin Anaya ketika operasi. Ayah harus menemani Anaya juga, Tam," balas Ayah Tendean.


"Baik Ayah ... Tama infokan alamat dan kamar rawat inap Anaya," balas Tama.


"Naikan ke kelas VIP Tama, punya kalian di kelas 1 kan?" tanya Ayah Tendean lagi mengenai fasilitas kesehatan yang dimiliki Tama dan Anaya.


"Sudah Ayah ... sudah Tama naikkan ke kelas VIP. Baik Ayah, hati-hati saja menyetirnya, tidak usah terburu-buru," balas Tama.


Hingga akhirnya, Tama dan Anaya dipersilakan untuk menempati kamar rawat inap dan menunggu waktu untuk dilangsungkannya operasi caesar. Di dalam kamarnya, barulah Anaya menangis di sekarang.


"Mas ... aku takut," ucapnya dengan berlinangan air mata dan bibir yang begitu bergetar.


"Aku tahu, My Love ... aku tahu. Pasti kamu kaget dan shock juga kan? Tidak apa-apa. Kita melewati ini bersama-sama," balas Tama.


Kali ini Tama tidak ingin menunjukkan kecemasannya dan juga hatinya yang tidak baik-baik saja. Untuk Anaya, Tama harus menekan semua rasa cemas dan khawatir di dalam hatinya. Dia harus menguatkan Anaya sekarang.

__ADS_1


"Kalau kenapa-napa bagaimana Mas?" tanya Anaya dengan menangis sesegukan.


Tama menggelengkan kepalanya, bayang-bayang menyakitkan kala persalinan mendiang Cellia dulu kembali terulang. Kala itu, mantan istrinya juga mengucapkan hal yang sama.


"Ssttss, tidak akan terjadi apa-apa. Aku, kamu, dan Twin akan baik-baik saja. Jangan berpikiran negatif dulu Sayang," balas Tama.


Jujur saja, hati Tama juga hancur, tetapi dia berusaha keras untuk menekan perasaannya. Hingga setengah jam berlalu dan ada Ayah Tendean yang menemui Anaya dan Tama di sana.


"Aya, bagaimana?" tanya Ayah Tendean dengan cemas.


"Aya takut Yah," balasnya dengan menghambur ke dalam pelukan Ayahnya.


Kali ini Tama menceritakan bahwa tekanan darah Anaya terbilang tinggi, sehingga Dokter Indri menyarankan untuk operasi Caesar. Sebab, jika dibiarkan tekanan darah tinggi pada Ibu hamil tua bisa membuat plasenta terlepas dari uterus dan risiko bisa besar.


"Berdoa ya Aya ... Ayah juga akan menemani kamu di luar. Jangan takut, sekarang kamu memiliki Tama," balas Ayah Tendean.


"Iya Ayah, doakan Anaya," balasnya.


"Pasti Aya ... Ayah akan selalu berdoa untuk kamu, satu-satunya keluarga Ayah," balas Ayah Tendean.


Ayah Tendean menganggukkan kepalanya, "Tentu Tama ... Ayah akan mendoakan kalian semua. Temani Anaya ya, Tam ... kuatkan dia. Ayah tahu semua ini tidak mudah untuk Anaya. Mungkin trauma dengan kejadian di masa lalu membuat tekanan darah menjadi naik. Tolong jaga Anaya," balas Ayah Tendean lagi.


"Pasti Ayah ... Tama akan menjaga Anaya," balas Tama. Ini layaknya sebuah janji dari seorang menantu kepada mertuanya sendiri. Janji untuk selalu menjaga Anaya dan tidak akan membiarkan Anaya seorang diri.


Selang tiga jam kemudian, Dokter Indri dan Dokter Anestesi, serta Dokter Bedah, disertai beberapa perawat pun masuk, "Kita mulai operasinya Tama ... Anaya akan dipindahkan perawat ke ruang operasi yah," instruksi dari Dokter Indri.


Anaya yang sudah berganti dengan baju pasien, rambutnya juga mengenakan penutup rambut, digeledek brankarnya menuju ruang operasi. Tama dan Ayah Tendean turut mendorong brankar itu.


"Hanya satu yang bisa menemani pasien di dalam," ucap Dokter Indri.


"Masuklah Tama, jaga dan temanilah Anaya, putri Ayah," ucap Ayah Tendean.


Ayah memeluk Ayah mertuanya itu untuk sejenak. "Doakan kami ya Ayah," balasnya.


Ayah Tendean menepuki bahu menantunya itu, "Pasti Tama ... pasti Ayah akan berdoa untuk kelancaran operasi malam ini," balasnya.


Di dalam ruang operasi, Dokter Indri memimpin doa untuk kelancaran operasi menurut agama dan keyakinan masing-masing, kemudian Tama berdiri di dekat Anaya, bahkan ada kursi yang ditaruh di sana.

__ADS_1


"Aku temani Sayang," bisik Tama dengan lirih.


"Iya Mas," balas Anaya.


Mulailah kain berwarna hijau direntangkan menutupi perut Anaya, kemudian mulailah perawat memasang Kateter ke dalam kandung kemih guna mengambil urine. Jarum infus atau intravena juga dimasukkan ke dalam pembuluh darah di tangan untuk memasukkan cairan infus dan obat-obat yang akan dimasukkan melalui infus.


Mulailah Dokter Anestesi melakukan anestesi epidural (suntikan bius yang disuntikkan langsung ke sumsum tulang belakang) yang akan menimbulkan mati rasa dari bagian perut hingga kaki saja. Sementara untuk perut ke atas sampai kepala tetap dalam kondisi biasa.


Dokter Bedah pun mulai berbicara, "Kita mulai bedah caesar sekarang juga," ucapnya perlahan.


Anaya tampak berlinangan air mata di sana, tidak mengira dirinya harus melakukan operasi caesar secara dadakan sekarang. Tama pun kian menggenggam erat tangan istrinya itu.


"Tenang yah ... ada aku, kita akan menyambut bayi kembar kita tidak lama lagi," ucapnya yang tentu berusaha membesarkan hati istrinya itu.


"Hmm, iya Mas," balas Anaya.


Sementara di bawah sana, Dokter Bedah dan tim medis mulai membersihkan area perut Kanaya dan membuat sayatan vertikal mulai dari bawah pusar sampai tulang ke-maluan. Dokter bedah pun membuka rongga perut Anaya dengan membuat sayatan satu per satu pada setiap lapisan perut. Setelah rongga perut Kanaya terbuka, mulailah dibuat sayatan horizontal di bagian bawah rahim. Hingga perlahan rahim itu telah terbuka. Perlahan bagaimana bayi itu masih terbungkus dengan air ketuban dan plasentanya terlihat. Kemudian, perlahan Dokter Indri mengambil bagian tersebut dari bagian perut Anaya dan memecahkan air ketubannya di luar, setelahnya mulai terdengarlah suara tangisan bayi yang begitu kencang.


Ya, satu bayi diangkat terlebih dahulu. "Bayi pertama laki-laki yah Anaya dan Tama," ucap Dokter Indri dengan mengangkat bayi itu. Bayi laki-laki di mana badannya masih dipenuhi cairan ketuban dan sedikit darah pada bagian mulut dan hidungnya.


Anaya dan Tama sama-sama menangis di sana. Momen ketika Dokter Indri menunjukkan bayi kecilnya dan tangisan si bayi yang membuat keduanya bergetar hebat di dalam hatinya.


Bayi pertama diberikan kepada tim medis, di sana untuk dibersihkan. Kemudian Dokter Indri mengangkat bayi kedua dengan jenis kelamin perempuan, memecahkan air ketubannya di luar.


Oek .... Oek ....


Suara tangisan bayi yang lebih kencang dari bayi yang pertama.


"Bayi perempuannya ya Tama dan Anaya," ucap Dokter Indri.


Tama dan Anaya benar-benar menangis tak terhingga. Hanya dalam hitungan jam mereka bisa bertemu dengan si Kembar Fraternal.


Setelahnya, Dokter Bedan menginstruksikan untuk memasang kantong darah sebagai transfusi karena Anaya mengalami pendarahan yang hebat.


Rasa haru dan bahagia di dalam hati, digantikan dengan kecemasan karena rupanya Anaya mengalami pendarahan yang begitu hebat sekarang.


"Aku ada di sini Sayang ... sabar yah," ucap Tama yang sudah berkaca-kaca dan berlinangan air mata sekarang ketika kantong darah mulai dipasang dan ditransfusikan ke dalam pembuluh darah istrinya.

__ADS_1


__ADS_2