Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Nuansa Sore


__ADS_3

Kini Tama bukan mendaratkan kecupan di bibir Anaya, melainkan di lehernya. Satu kecuapan yang membuat seluruh tubuh Anaya merasa begitu tegang. Wanita itu merasakan bagai sesak nafas saat bibir pria yang sudah halal baginya itu mendaratkan sebuah kecupan di lehernyanya.


Tak ingin berlama-lama, Tama memajukan kepalanya, kemudian satu tangannya berusaha untuk memiringkan kepala Anaya, Tama tersenyum dan dengan segera dia melabuhkan bibirnya di atas bibir Anaya. Ini adalah ciuman bibir mereka untuk kali pertama. Dulu, saat masih sama-sama berpacaran pun, keduanya tidak pernah melakukan kontak fisik. Namun, sekarang sudah berbeda, Tama pun siap untuk menapaki anak tangga menuju puncak asmara bersama dengan Anaya.


Dengan lembut, Tama menyapa bibir nan ranum, lembut, dan hangat itu. Merasai manis dan hangatnya bibir istrinya untuk kali pertama. Tama membuka sedikit bibirnya dan kemudian menjulurkan lidahnya, menyapa dengan usapan lidahnya yang hangat dan basah di dua belah lipatan bibir Anaya. Tama memejamkan mata, ingin benar-benar merasa bibir Anaya yang benar-benar manis itu. Ciuman saja tidak cukup, Tama memberikan hisapan, bahkan usapan dengan ujung lidahnya yang seolah mengeksplorasi bibir dan rongga mulut Anaya. Cukup lama kedua bibir bertemu dan menyatu, tetapi Tama bisa merasakan bahwa Anaya masih begitu tegang. Pria itu kemudian menarik sejenak wajahnya dan kemudian tersenyum menatap wajah Anaya.


"Manis," ucapnya dengan ibu jarinya memberikan usapan kecil di lipatan bibir Anaya hingga ke dagunya.


Anaya memilih menunduk, bahkan sekarang wanita itu tak berani menatap kedua bola mata Tama yang hanya berjarak kurang dari sejengkal saja dari wajahnya.


Sungguh, melihat Anaya yang berada di depannya membuat Tama begitu gemas rasanya. Pelabuhan cinta yang siap menyatu di dalam samudra. Hanya menunggu waktu dan keduanya akan berpadu mengarungi samudra itu.


Tama kian mendekat, dia meraih dagu Anaya di sana, dan kembali memagut bibir itu. Kali ini dengan nafas yang memburu, dengan hasrat yang bergejolak di dalam dada. Sungguh indah. Sensasi manis, hangat, dan basah seketika bisa Tama rasakan mana kala mengecup, memagut, dan memberikan usapan demi usapan di rongga mulut Anaya. Rasanya, Tama begitu musafir yang usai menyusuri padang pasir. Dia menemukan oase yang penuh dengan air yang segar untuk menyegarkan dahaganya.


"Mas Tama," pekik Anaya sembari mengambil nafas karena dia merasakan dadanya yang begitu sesak.


"Hmm, ya Sayang. Cium aku," pinta Tama yang kini justru meminta kepada Anaya untuk menciumnya, membalasnya, dan juga memuaskan dahaganya.


Mendengar apa yang diucapkan suaminya membuat Anaya mengurai bibirnya. Dia bingung bagaimana caranya untuk memulai. Akan tetapi, Anaya menguatkan hatinya, dan berusaha untuk bisa mencium suaminya. Dengan selembut mungkin, sehalus mungkin, Anaya memangkas jarak bibirnya yang tidak seberapa. Kelopak mata yang perlahan-lahan menutup, dan Anaya mengecup bibir suaminya, mengusapnya perlahan dengan ujung lidahnya.


Sembari Anaya mengingat-ingat bagaimana cara suaminya untuk menciumnya tadi. Dia menahan nafas mana kala menggerakkan bibirnya dan mengecupi permukaan kulit yang kenyal itu. Walau sebenarnya malu, tetapi Anaya akan berusaha untuk menyapa suami dengan cara yang diminta oleh suaminya. Membebaskan dirinya dan melakukan apa yang diminta oleh Tama, suaminya.


Tama pun membuka bibirnya dengan sempurna. Godaan yang dia rasanya benar-benar memercik hasrat dalam dirinya. Pria itu balas untuk memagut bibir Anaya dengan begitu memburu, melu-matnya habis, seolah tanpa sisa. Belitan lidah yang terjadi membuat Anaya memekik dan remasan rambut suaminya. Pun dengan pergerakan yang intens, Anaya meremang di sana. Arus listrik yang amat dan sangat kuat seolah menyetrum dirinya.


Nafas Anaya kian terengah-engah, mana kala dia merasakan tangan suaminya yang mulai meraba lekuk-lekuk feminitas di tubuhnya. Usapan di belakang tengkuk, belaian di telinga, dan juga tangan yang menyusup masuk dan meraba area punggung membuat mata Anaya kian terpejam erat. Epidermis kulit yang begitu halus bisa Tama rasakan. Ketika, tangan Tama dengan sengaja meremas area dada di sana, Anaya memekik. Wanita itu menghela nafas sembari menarik rambut suaminya.

__ADS_1


"Mas Tama," panggilnya dengan suara lirih dan terdengar terengah-engah.


"Ya Sayang ... kamu cantik banget Sayang," ucap Tama dengan membuka matanya dan menelisipkan untaian rambut Anaya ke belakang telinga.


"Boleh sore ini, Sayang?" tanya Tama dengan membelai sisi wajah Anaya dengan telapak tangannya.


Dengan wajah yang bersemu merah, Anaya pun menganggukkan kepalanya. Satu anggukan yang menjadi isyarat penting bahwa dia memberikan persetujuan untuk suaminya. Tidak perlu menunggu lama, Tama pun membopong tubuh Anaya ala bridal style, pria itu menempatkan Anaya dengan begitu hati-hati di ranjang, dan kemudian Tama kembali mencium bibir istrinya, ada belitan lidah di sana, bahkan Tama seakan menghisap lidah istrinya. Nafas yang terengah-engah, dan decakan dari dua bibir yang beradu menjadi alunan yang indah di sore itu.


Sedikit mengurai pelukannya, Tama menarik ke atas kaos yang dia kenakan. Pria itu menampilkan dirinya yang shirtless dengan oto-otot liat yang tercetak di sana. Melihat suaminya yang shirtless, membuat Anaya menundukkan wajahnya di sana. Wajahnya memerah, rasanya benar-benar malu sekarang. Namun, Tama justru ingin menikmati rona merah di wajah Anaya. Pria itu segera mengungkung Anaya di bawahnya. Dengan siku tangannya sendiri, Tama menahan berat bobotnya sendiri.


Tidak perlu banyak bertama, Tama kembali menyapa bibir istrinya. Kali ini yang perlu Tama lakukan adalah mencium Anaya dengan sepenuh hati. Hidangan pembuka yang manis, akan tersaji dalam setiap ciuman, pagutan, lu-matan, dan juga cecapan di sana. Jika ciuman bisa menenangkan dan membuat seseorang merasa rileks, maka itu yang sedang Tama lakukan sekarang.


Kali ini, Anaya larut. Dia hanyut dalam permainan lidah dan bibir yang sangat memabukkan itu. Decakan yang timbul dari cumbuan yang begitu dalam. Walau nafasnya terengah-engah sekalipun, suaminya tetap melabuhkan bibirnya di sana. Yang Tama lakukan sekarang adalah membagi nafasnya dengan sang istri. Dari bibir, perlahan pergerakan Tama mulai turun. Dia memberikan jejak-jejak yang hangat dan basah dengan bibirnya di garis leher Anaya. Tama mengambil nafas dalam-dalam, dan kemudian dia membuka sedikit mulutnya dan mulai menggigit di area leher itu, menghisapnya dalam-dalam, kuat-kuat, hingga muncullah tanda merah di leher itu.


Anaya yang untuk kali pertama merasakan hisapan di leher, membuat wanita itu memekik, dia memeluk tubuh Tama dengan begitu eratnya. Kesan perih, dan nikmat dia rasakan bersamaan.


Dari leher, perlahan ciuman Tama perlahan mulai turun ke tulang belikat, hingga Anaya mulai merasakan gerakan jari-jari suaminya yang berusaha melepaskan kancing demi kancing di kemeja yang Anaya kenakan. Setiap satu kancing terlepas, Anaya menghela nafas. Matanya terpejam erat, karena jujur dia tidak mampun untuk melihat apa yang suaminya lakukan. Begitu semua kancing terbuka, Tama tersenyum tipis. Dia bisa melihat kain renda di sana, tangannya pun menyusup di balik punggung Anaya dan melepaskan pengait di sana. Membuat wadah renda itu terlepas begitu saja. Pemandangan indah bisa Tama lihat sekarang. Buah persik yang begitu ranum, dengan lingkaran cokelat muda yang indah. Tangan Tama pun memberikan sapaan di sana. Usapan, remasan, dan cubitan dia labuhkan di sana. Sampai di batas, Tama membawa satu buah persik itu ke dalam rongga mulutnya yang hangat. Membuainya dengan usapan bibir yang hangat dan basah. Bahkan Tama tak segan-segan untuk memberikan gigitan demi gigitan di puncaknya.


"Mas."


Anaya kehilangan akal. Kesadarannya seolah sirna begitu saja. Berkali-kali wanita itu mendesis, memekik, bahkan lenguhan pun tercipta hingga tenggorokan Anaya terasa begitu kering, tetapi nikmat yang dia rasakan benar-benar sebanding. Gelenyar asing yang menghantamnya membuat Anaya menelungkungkan sepuluh jari kakainya. Punggungnya menelungkung ke atas.


Anaya merasa kian gila kala merasakan usapan dari lidah suaminya yang menginvansi lembah sabana di bawah sana. Sekadar usapan yang bermakna sapaan itu membuat Anaya bergetar. Tangannya bergerak meremas rambut Tama, mencoba menjauhkan wajah Tama. Namun, upayanya sia-sia, karena Tama tidak memberikan ampun. Bahkan rengekan Anaya yang memintanya untuk berhenti tak dihiraukan oleh Tama. Justru dia merasa bangga karena berhasil untuk membawa Anaya membumbung tinggi ke angkasa. Ketika Anaya mengalami pelepasannya, Tama menarik wajahnya, dia menunggu, memberi jeda sesaat, dan akhirnya dia merapatkan dirinya. Dia memasukkan senjata Lingga dengan perlahan-lahan, menyatukan diri dengan lembut. Hingga terasa benturan di dalam sana.


"Mas Tama."

__ADS_1


"Sayangku ... Sayangku, Anaya."


Benturan yang berpadu kehangatan. Begitu erat, cengkeraman memabukkan, dan juga Tama merasakan rasa yang indah. Hingga perlahan-lahan Tama bergerak seirama. Menghujam perlahan, menghunus masuk, berpadu, menyatu, dalam tempo yang seirama.


"Anaya ...."


Suara yang begitu parau dan dalam mengalun menyapa indera pendengaran Anaya. Wanita itu menghela nafas dengan memeluk tubuh suaminya begitu erat dan rapat. Sungguh, bagi Anaya ini adalah rasa yang teramat asing. Ya, asing, tapi candu di waktu yang bersamaan. Hingga hujaman berganti dengan desakan, sampai terjadi benturan di sana.


Melesak kuat.


Membentur hancur.


"Ya Tuhan ... astaga!"


Tama memekik, ini adalah rasa yang seolah membuat dirinya terbang dan melayang. Kenikmatan yang dia rasakan membuat Tama hampir gila. Hingga di batas, Tama merasa dirinya tak mampu lagi bertahan. Guncangan hebat dia rasakan, dengan terus mempertahankan pinggang Anaya.


"Aku cinta kamu, Anaya."


Merapatkan diri, sampai di batas Tama rubuh di atas tubuh istrinya. Mata yang sama-sama terpejam, nafas yang terengah-engah dengan dada yang bergemuruh riuh. Peleburan dua raga dalam mengarungi samudra asmara. Sangat indah, sangat padu.


Butuh waktu bagi Tama untuk bisa menstabilkan nafasnya. Hingga di sisa-sisa tenaga yang dia memiliki, Tama mendaratkan kecupan untuk beberapa saat lamanya di kening Anaya.


Cup!


"Aku cinta kamu, Anaya ... terima kasih sudah menerimaku secara utuh dan penuh. Mutlak," ucap Tama.

__ADS_1


Ada anggukan samar dari kepala Anaya, wanita itu tersenyum tipis dan mulai membelai sisi wajah suaminya. "Aku juga cinta kamu, Mas Tama."


Ucapan cinta yang menyegel keduanya untuk terus berpadu bersama. Peleburan itu bukan sekadar ceremonial belaka, tetapi ini adalah bukti nyata bersatunya dua jiwa. Saling mencintai dan menunjukkannya dalam gerakan yang padu, hingga membuat keduanya kehabisan kata.


__ADS_2