Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Step Closer!


__ADS_3

Tangan Anaya bergerak menangkup kedua wajah Tama di sana, dan lantas wanita itu berkata, "Sembuhkanlah denganku," ucapnya.


Tentu, ini bukan sebatas ungkapan yang bisa dimengerti secara langsung. Butuh akal untuk bisa mencernanya. Butuh cara lain untuk bisa mengerti bagaimana caranya untuk bisa menyembuhkan trauma itu bersamanya.


Sedikit bergerak lantas, Anaya memberanikan dirinya dan mulai melabuhkan bibirnya tepat di antara kedua belah lipatan bibir suaminya. Ya, kali ini Anaya berinisiatif lebih dahulu. Dia ingin membuang semua pikiran negatif dalam dirinya dengan mengambil kendali di awal. Jika, menyapa suaminya dengan cara yang sedemikian rupa mungkinkah Tama akan bisa menerimanya. Bukan hanya Anaya yang mendamba, tetapi juga dia ingin suaminya lepas dari post natal traumatic yang dialaminya sekarang ini.


Ketika dua bibir itu saling menempel satu sama lain, dunia yang ada di sekitarnya seakan berhenti berputar. Sapuan nafas yang hangat, kelembutan dan juga kehangatan yang disajikan oleh dua bibir yang bertemu seakan mendorong Anaya juga berani membuka sedikit bibirnya, dan dia menyapu bibir suaminya dengan ujung lidahnya yang hangat dan basah, hingga akhirnya Tama mengikuti ritme yang Anaya ciptakan dengan kedua bibir yang saling mengecup, saling memagut, dan juga saling menghisap. Hingga akhirnya, Tama tersulur. Pria itu bak mengambil alih kendali dengan menghisap dan melu-mat bibir Anaya dengan perasaan yang tidak bisa dia tahan lagi. Lidahnya memberikan usapan dalam kesan hangat dan basah yang amat memabukan. Usapan dan godaan di indera perasa dan pencecap itu. Rasa manis berpadu hangat dan basah, sukses menghadirkan decakan demi decakan saat keduanya bersatu.


Tama memiringkan kepalanya berusaha mencari posisi untuk benar-benar mencumbu dan melu-mat bibir Anaya. Lidahnya mulai menelusup dan memberikan usapan bahkan belitan di rongga mulut Anaya. Kedua tangan Anaya di bahu suaminya itu kian mencengkeramnya dan juga ada lolosan de-sah yang keluar pula dari bibir Anaya.


"Mas ... hh," de-sahnya dengan kian memejamkan matanya begitu rapat.


Tama menarik wajahnya sesaat, pria itu tersenyum melihat wajah Anaya yang memerah, "Kamu menginginkannya?" tanya Tama perlahan.


"Kamu tidak ingin?" Anaya justru balas bertanya dan menatap wajah Tama di sana. Agaknya, kali ini Anaya juga akan bersiap dengan kemungkinan terburuk jika memang Tama kembali menolaknya. Setidaknya dia harus mempersiapkan hatinya juga jika Tama menolak.


"Jika, memang tidak ingin tidak apa-apa," balas Anaya yang mulai beringsut dan tangannya yang semula mencengkram bahu suaminya luruh begitu saja.


Belum Tama memberikan jawaban, rupanya Anaya merasakan ada penolakan lagi dan lagi. Tatapan mata yang terlihat mendamba dan juga reaksi tubuh yang perlahan ingin memadamkan bara api yang semula tersulut. Hingga di satu detik, Tama menarik ke atas kaos yang dia kenakan sendiri, membuatnya tampil shirtless di depan Anaya.


"Aku menginginkanmu, My Love," ucap Tama dengan membuang kaos yang baru saja dia lepas itu secara asal.


Anaya meneguk salivanya di sana. Entah sudah berapa lama dia tidak melihat Tama yang tampil shirtless di hadapannya, atau juga suara yang parau dan dalam itu. Semuanya membuat Anaya menundukkan wajahnya.


Tama beringsut dan turun dari ranjangnya, lantas dia mengulurkan satu tangannya kepada Anaya. Tanpa kata, Anaya pun menerima uluran tangan suaminya dan mengikuti suaminya itu untuk berdiri. Ketika mereka sudah berhadap-hadapan, seakan jari-jarinya bergerak otomatis dan mengeluarkan kancing di piyama Anaya dari sarannya. Hingga tubuh bagian atas Anaya terlihat di sana.


"Biar aku yang handel yah ... kamu nikmati saja," ucap Tama dengan menatap Anaya di hadapannya.


Tama masih memandangi tubuh Anaya yang hanya mengenakan braa dengan tali yang menggantung di bahunya. Pria itu meneguk salivanya sendiri melihat sembulan buah persik yang begitu menggairahkan di matanya. Lantas tangannya bergerak dan mengusap perut Anaya, sedikit di bawah pusarnya ada luka yang melintang di sana.


"Ini sayatannya waktu melahirkan Duo C yah?" tanyanya.


"Iya ... yang di atas saat melahirkan Cinta dulu, dan yang di bawah ini kala melahirkan Charel dan Charla," balasnya.


Tama sedikit menunduk, dan mengecup bekas luka di perut Anaya itu.


Teringat bahwa luka-luka Anaya dapatkan dengan perjuangan yang tidak mudah. Perjuangan dengan berlinangan air mata dan pendarahan yang hebat. Hingga Tama perlahan bangkit dan menatap wajah Anaya.

__ADS_1


"I Love U."


"I Love U, too!"


Anaya kemudian menatap Tama di hadapannya, "Di area dada jangan ya Mas ... nanti bisa keluar ASI-nya," ucap Anaya memperingatkan suaminya itu.


"Gas tipis-tipis saja ya Sayang," jawab Tama.


Tama dengan kembali melabuhkan ciumannya kali ini dengan nafas yang memburu, dengan sedikit sentakan, Tama kemudian menjatuhkan tubuh keduanya di atas ranjang hingga terjadi pantulan di ranjang itu, dan Tama mulai menindih tubuh Anaya.


Bibir yang semula merasai hangat dan manis di bibir dan rongga mulut Anaya, kini berpindah memberikan jejak-jejak basah di leher Anaya. Lama tidak disentuh suaminya selama masa palang merah pasca bersalin bahkan ini sudah berjalan pada bulan ketiga, rasanya nafas Anaya menjadi kepayahan, bahkan wanita itu mende-sah hingga mende-sis tak kuasa dengan godaan yang diberikan oleh suaminya.


“Mas,” ucapnya dengan nafas yang terengah-engah dan dada yang begitu kembang kempis.


Tak menghiraukan panggilan Anaya, tangan Tama menyusup dan kemudian melepaskan pengait di balik punggung Anaya itu. Hingga dua buah persik dengan ukuran yang lebih besar karena istrinya itu sedang meng-ASI-hi terlihat jelas di hadapan Tama. Walau Anaya sudah mengatakan bahwa jangan memberikan godaan di area dadanya. Akan tetapi, buah persik yang ranum dan justru kian besar ukurannya sungguh menggoda Tama. Hingga Tama pun mulai membawa lidahnya bermain-main di sembulannya, memberikan godaan dan meninggalkan jejak-jejak basah di sana.


“Ah, Mas … jangan digigit,” ucap Anaya dengan menahan suara saat merasakan gigi Tama yang sudah memberikan gigitan kecil di puncak buah persiknya yang sudah menegang.


“Gemes Sayang,” balas Tama yang justru mengulangi lagi hingga dua sampai tiga kali.


Tama kemudian membawa wajahnya kian turun, dia memberikan kecupan di luka bekas sayatan melintang di bawah pusar Anaya itu. Memberikan isyarat bahwa dari sayatan itulah kedua bayinya lahir, sehingga beberapa kecupan Tama jatuhkan di sana, dan kemudian Tama melepaskan segitiga yang terbuat dari kain berenda di tubuh Anaya. Pria itu bergerak turun, dan melabuhkan wajahnya di sana. Memberikan usapan dan tusukan dengan lidahnya. Membuat Anaya kian menggeliat dan meremas sprei yang berada di bawahnya.


Namun, Tama seakan tidak memberikan ampun, terus memberikan invansi, sampai Anaya merasakan tubuhnya bergetar, wanita itu menelungkungkan dadanya, dan memekik saat merasakan pelepasannya. Nafasnya terengah-engah dan matanya terpejam begitu dramatis.


Tama lantas melepaskan celana yang dia kenakan, tampil dalam kepolosan di hadapan Anaya. Kemudian Anaya sedikit duduk, dan memberikan sapaan di pusaka suaminya itu dengan lidahnya. Membenamkan pusaka itu dalam rongga mulutnya yang hangat, hingga Tama menengadahkan wajahnya dan mengusapi puncak kepala Anaya.


“Sudah Sayang … sudah, dilumasi saja,” ucapnya lirih.


Kemudian Tama membuka kedua paha Anaya, pelan-pelan dia mulai menghunuskan pusaka itu ke dalam cawan surgawi milik Anaya. Menghentakkan pinggulnya perlahan dengan gerakan seduktif keluar dan masuk, menghunus, dan juga menghujam dilakukan berganti. Tama sampai membawa miliknya keluar dan menghujamnya masuk ke dalam menerobos cawan surgawi beberapa kali, sampai akhirnya dia memejamkan matanya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Anaya. Gerakan seduktif yang dia lakukan makin kacau.


Bak lupa karena semua kenikmatan yang dia rasakan dan cengkeraman cawan surgawi milik Anaya membuat Tama menggeram, pria itu menyambar kembali buah persik milik Anaya, memberikan usapan demi usapan dengan lidahnya, bahkan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana.


“Astaga Sayang … astaga,” racau Tama dengan membuang nafas dengan kasar.


Sungguh, setelah berpuasa tiga bulan lamanya, dan kini pusakanya kembali menikmati Anaya. Kenikmatan Anaya yang membuat Tama menghela nafas, dan juga mende-sah memanggil nama istrinya itu. Mungkinkah ini adalah terapi terbaik untuk menyembuhkan trauma yang dia alami. Kenikmatan seperti ini benar-benar tak bisa terdefinisikan oleh Tama. Algoritma yang dia kuasai pun rasanya tak mampu menemukan formula untuk mengelak dari kenikmatan sang istri tercinta.


Pun sama halnya dengan Anaya yang memejamkan matanya, membiarkan suaminya terus menghujam, terus melesakkan pusakanya, hingga Anaya membawa kedua kakinya melingkari pinggang Tama dan tangan yang mendekap erat tubuh suaminya yang sudah basah dengan peluh yang keluar dengan sendirinya.

__ADS_1


“Uh, Mas,” ucap Anaya dengan nafas yang kian berat.


Sungguh, bahteranya kian mendapatkan terpaan gelombang. Anaya tak mampu lagi bertahan, dia bisa merasakan sesuatu di bawah sana, merasakan godaan dan gigitan yang Tama berikan di puncak buah persiknya.


“Luar biasa Sayang,” ucap Tama dengan nafas yang memburu.


Hujaman Tama kian menjadi-jadi rasanya, sampai akhirnya pria itu menggeram dengan mata terpejam, dan tubuhnya bergetar, menahan tubuh yang liat dan basah itu dengan kedua tangannya.


“I Love U Sayang … I Love U,” ucap Tama dengan terengah-engah di kala dia merasakan benar-benar meledak saat ini.


Sensasi yang dia rasakan setelah tiga bulan berpuasa benar-benar luar biasa. Seolah kembang api dan percikannya yang indah berhamburan di depan matanya.


Di saat yang sama, Anaya pun merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tidak bisa lagi dia jelaskan dengan kata-kata, beberapa detik berlalu, sampai akhirnya kenikmatan itu berganti dengan situasi panik saat Anaya merasakan ASI-nya keluar dengan sendiri.


“Mas, tissue Mas … tissue, cepat dong,” ucap Anaya.


Bahkan ASI itu sampai mengenai sisi wajah Tama.


“Astaga Sayang,” ucap Tama dengan menyambar tissue dan memberikannya kepada Anaya.


Menggunakan tissue, Anaya menekan area payu-daranya yang mengeluarkan ASI, menahannya sesaat sampai ASI itu berhenti. Sementara Tama menenangkan diri, mendinginkan suhu tubuhnya dengan membantu Anaya membersihkan dadanya.


“Kamu sih gigit-gigit tadi … jadi keluar deh,” gerutu Anaya.


Tama justru tersenyum dan mengusapi sisi wajah Anaya, “Gemes Sayang kan gas tipis-tipis tadi … itu artinya kamu melepaskan hormon oksitosin yang membuang stress yang kami alami, dan hormon pemicu ASI menjadi bertambah, lebih produktif nanti ASInya,” jawab Tama.


“Ngeles saja … kan enggak boleh godain, ini area terlarang,” gerutu Anaya lagi.


Tama segera memeluk istrinya itu.


“Maaf … lain kali gak lagi deh. Aku janji. Maaf yah,” ucap Tama dengan lembut.


“Hmm, iya ….”


Tidak mengira bahwa di saat dia mencapai puncak di saat bersamaan justru ASI-nya keluar begitu saja. Sungguh, baru kali ini Anaya merasakan demikian. Dia pun heran karena sampai ASI-nya keluar dalam jumlah yang cukup banyak.


Info:

__ADS_1


Ibu menyusui yang berhubungan suami istri bisa mengeluarkan ASi karena tubuh memproduksi banyak hormon oksitosin. Hormon ini terlibat dalam kehamilan dan masa menyusui, dia memicu kontraksi pada sel-sel kelenjar susu dan memaksa keluarnya ASI.


Happy Reading dan Selamat Natal bagi pembaca semua yang merayakan.^^


__ADS_2