Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Mensyukuri Hari Tua


__ADS_3

Ada dorongan dalam hati Anaya untuk bisa bertanya kepada Ayahnya. Ini pun adalah pertanyaan yang begitu langka, dalam 26 tahun usianya, baru kali ini Anaya akan menanyakan hal seperti ini kepada Ayah Tendean.


“Ayah, apakah Ayah tidak ingin berumah tangga lagi?” tanya Anaya.


Mendapat pertanyaan seperti itu dari Anaya, nyatanya Ayah Tendean sedikit tersenyum di sana, “Kenapa Aya? Kamu ingin Ayahmu ini menikah lagi? Usia Ayah sudah tidak lagi muda, Ay. Beberapa tahun lagi Ayah juga akan gantung stetoskop. Ayah akan purna tugas, pensiun. Sudah 26 tahun juga Ayah menduda.”


Ya, waktu yang dijalani Ayah Tendean untuk menduda begitu panjang. Lebih dari seperempat abad yang dihabiskan Ayah Tendean untuk menduda. Mungkin karena dulu fokus dengan Anaya, sampai keinginan untuk menikah itu sirna. Usianya memang tidak lagi muda, di atas angka lima. Ayah Tendean sudah merasa dirinya begitu tua.


“Berumah tangga tidak mengenal usia, Ayah. Siapa tahu Ayah ingin menikah lagi,” balas Anaya.


Ayah Tendean pun tersenyum di sana, “Memang jika Ayah menikah lagi kamu mengizinkannya?” tanya Ayah Tendean.


Anaya kemudian tertawa, “Syarat dan ketentuan berlaku dong Ayah … kalau Ayah menikahi wanita muda seusia Anaya, ya kelihatannya Anaya tidak mengizinkan,” balasnya.


Pun dengan Ayah Tendean yang tertawa. Tidak mengira bahwa anaknya itu akan memberikan syarat ketentuan seperti itu. “Jadi, boleh kalau Ayah menikah lagi?” tanya Ayah Tendean kemudian.


Lagi-lagi Anaya tertawa, “Sebenarnya aneh … karena sejak Anaya kecil yang Anaya miliki dalam hidup ini hanya Ayah, kemudian ketika Ayah memiliki pendamping yang baru akan begitu aneh rasanya. Namun, jika memang Ayah ingin menikah, Anaya tidak keberatan,” balasnya.

__ADS_1


Satu pengakuan yang jujur dari Anaya bahwa selama ini yang dia miliki hanya sosok Ayahnya saja. Ketika Ayahnya akan menikah tentu rasanya akan menjadi aneh, tetapi Anaya sendiri tidak keberatan jika memang Ayahnya hendak menikah lagi.


“Pengalaman Ayah mengenai rumah tangga memang tidak seberapa dan tergolong singkat, Anaya … selama ini juga tidak pernah terbersit dalam pikiran Ayah untuk menikah. Waktu Ayah dulu, habis untuk bekerja dan membesarkan kamu,” balas Ayah Tendean.


“Itu kan dulu, Ayah … sekarang Anaya sudah ada yang menjaga. Apakah Ayah tidak kesepian hidup di rumah besar itu seorang diri?”


Anaya lebih melihat bahwa sekarang dirinya sudah berkeluarga, sudah ada Tama yang sudah pasti akan menjaganya. Oleh karena itu, Anaya tidak keberatan jika Ayahnya menikah lagi. Mungkin juga bisa mengisi hari-hari tua bersama. Setidaknya Ayahnya tidak merasa kesepian di hari tuanya. Memang usia Ayah Tendean sudah 53 tahun, tetapi secara fisik Ayah Tendean masih terlihat muda dan juga bugar. Rambutnya juga belum beruban.


“Ayah tidak tahu Anaya … kelamaan menduda, membuat hari-hari yang Ayah lalui menjadi biasa saja,” balasnya.


Tama kemudian tersenyum, “Dulu waktu Tama menduda, Tama pikir juga akan selamanya Tama akan menduda dan membesarkan Citra seorang diri. Namun, semua berubah sejak Tama bertemu dengan Anaya lagi, Ayah … ada hasrat untuk kembali berumah tangga, ada hasrat untuk menata hidup lagi, dan ada hasrat untuk memiliki pendamping hidup,” balasnya.


“Menurut Tama sih tidak juga, Ayah … tetapi, seorang duda pun jika sudah bertemu dengan sosok yang tepat, rasanya akan memiliki kembali semua hasrat itu. Untuk Tama, Anaya yang sukses membangkitkan semua hasrat itu,” balasnya.


Mendengar apa yang Tama ucapkan, Ayah Tendean pun tertawa, “Coba nanti kalau hasrat itu bangkit, Ayah harus ketemu kalian lagi. Aneh yah, Opa-Opa sudah berusia kepala lima, tetapi mau menikah, cucunya juga sudah tiga,” balasnya dengan terkekeh geli.


“Ya, tidak apa-apa Ayah … asalkan jangan menikah wanita muda yang mungkin saja bisa menginginkan harta Ayah. Kalau yang dinikahi wanita muda, Ayah punya sugar baby dong,” balas Anaya.

__ADS_1


Membayangkan gandengan Ayahnya adalah wanita muda membuat Anaya tertawa. Ya, Anaya tidak bisa membayangkan bahwa Ayahnya akan memiliki sugar baby. Memang Anaya agaknya akan selektif untuk memilihkan jodoh terbaik untuk Ayahnya.


“Single Daddy menikahi Sugar Baby?” tanya Ayah Tendean.


“Bisa saja, baru zamannya Ayah. Cuma, kalau jangan menikahi wanita seusia Anaya lah. Sama saja Ayah dapat anak sendiri,” balas Anaya.


“Ayah saja tidak tahu akan menikah lagi atau tidak, Aya … selama ini sih tidak terpikirkan. Wah, tiba-tiba disuruh anak sendiri nikah, kok rasanya Ayah jadi sedih. Biasanya kamu tidak pernah menanyakan hal ini. Kamu selalu bahagia dan nyaman hidup hanya dengan Ayah saja,” balasnya.


Anaya kemudian menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya, itu karena Anaya sudah dewasa dan sudah ada yang menjaga Anaya. Terlintas dalam pikiran Anaya bahwa perlu ada sosok yang menjaga Ayah, menemani Ayah menjalani hari, berbagi kasih bersama. Walau mungkin kenangan almarhumah Bunda Desy tidak akan hilang, tetapi kita bisa memulai hari baru dengan orang yang kita kasihi, sembari mengingat mereka yang sudah terlebih dahulu meninggalkan kita,” balasnya.


“Iya Ayah … tidak apa-apa. Tama juga mendukung Anaya sih. Berbagi hidup bersama sangat menyenangkan,” imbuh Tama.


“Doakan saja, semoga nanti Ayah bertemu dengan orang yang tepat walau terlambat. Cuma rasanya aneh saja tiba-tiba mendapat lampu hijau dari Anaya untuk menikah lagi. Di saat usia Ayah tidak lagi muda dan juga Ayah sudah menjadi Opa cucu tiga. Ayah akan menunggu seperti yang Tama katakan sampai hasrat itu ada. Selama ini belum pernah Ayah memiliki hasrat seperti itu. Setelah Bunda Desy tiada, kamu satu-satunya dunia Ayah, Anaya,” balas Ayah Tendean.


“Makasih Ayah … sudah membesarkan Anaya dengan sangat baik.”


Satu kalimat yang Anaya sampaikan bahwa memang Ayahnya sudah membesarkannya dengan sangat baik. Orang tua tunggal yang berusaha supaya Anaya tidak merasa kurang, tetapi melimpahkan seluruh kasih sayang untuk Anaya.

__ADS_1


“Sama-sama Anaya. Ayah juga senang, kamu pulih dengan baik. Semua itu karena Tama juga, dia adalah pria hebat untuk kamu. Jujur saja, Ayah sangat lega Anaya … Anaya sudah berkeluarga dan memiliki suami yang hebat, Ayah juga memiliki tiga orang cucu. Ini adalah kebahagiaan untuk Ayah di hari tua Ayah,” balas Ayah Tendean lagi.


Bagi seorang Ayah tunggal, tidak ada yang membuatnya begitu lega ketika anaknya menikah dan mendapatkan pasangan yang tepat. Sama seperti Ayah Tendean yang merasa bahagia karena Anaya sudah memiliki Tama, pria yang akan selalu menjaga Anaya. Juga, dilimpahi tiga orang cucu, dengan semuanya itu rasanya hidup Ayah Tendean menjadi begitu bahagia rasanya.


__ADS_2