
Memberikan lebih banyak waktu untuk Anaya dan Citra, Tama lebih memilih untuk mengasuh Si Kembar di ruang bermain. Membiarkan Charel dan Charla melakukan tummy time dan bermain-main bersama. Pikirnya Tama, asalkan bayinya tidak menangis dan meminta ASI saja, tama bisa mengurusnya sendiri.
"Coba ini Charel ... dipegang ya Rattle-nya. Bunyi kan ... untuk melatih pendengarannya Charel yah."
"Nah, Charla mau Rattle juga? Ini Papa berikan yah ... coba yuk dibunyikan. Suaranya gemerincing ya Nak ... ini namanya Ra ... ttle. Rattle."
Papa muda itu terlihat begitu menikmati waktu untuk mengasuh Charel dan Charla. Bahkan Tama pun mendadak menjadi ceriwis karena mengajak bicara Si Kembar. Mengasuh bayi bukan hanya sekadar dibiarkan saja, tetapi orang tua juga harus melakukan sounding supaya melatih indera pendengaran bayi dan juga si baby merasa ada orang yang berada di sampingnya.
"Bicara apa Nak ... lucunya kalian berdua ... Charel dan Charla," ucap Tama dengan menepuk-nepuk pantat kedua bayinya itu.
Sementara di bawah, Anaya dan Citra sedang bermain di taman berdua. Benar-benar keduanya memberikan waktu sendiri-sendiri dengan anak-anak. Memang kadang orang tua memberi waktu khusus untuk si Sulung atau si bungsu, supaya semua kebutuhan anak bisa diakomodasi oleh orang tua.
Anak-anak tidak diharuskan selalu bersama. Ada kalanya Mama menemani si Sulung, atau Papa yang menemani si Bungsu. Nanti bisa di-skip lagi sesuai dengan kebutuhan anak. Sementara untuk kali ini, Citra sendiri merasa sedang lebih butuh Mamanya, sehingga memang sekarang Citra bermain dulu dengan Mamanya.
Hingga akhirnya waktunya istirahat siang, Trio C semuanya terlelap. Barulah Tama memiliki waktu berdua dengan Anaya. Tampak keduanya sama-sama menghela nafas.
"Kita satu rumah, baru siang ini punya waktu berdua ya Sayang," ucap Tama dengan menyandarkan kepalanya di bahu istrinya itu.
"Sabar ya Mas ... Citra baru tantrum. Yang penting sekarang sudah tidur dan sekarang kita punya waktu berdua. Mau aku buatin minum?" tawar Anaya kepada suaminya itu.
Tama menggelengkan kepalanya, "Enggak usah Sayang ... aku butuh kamu, kangen kamu," ucap Tama dengan memejamkan matanya perlahan.
Lagi-lagi Anaya tersenyum di sana, "Tricky ya Mas ... untung tadi aku enggak emosi, soalnya tadi waktu hectic ngurusin Duo C. Maaf ya Mas," cerita Anaya yang merasa hampir saja emosi.
__ADS_1
"Iya Sayang ... tidak apa-apa. Tidak dipungkiri memang mengurus anak itu kadang memancing emosi. Cuma kalau bisa kitanya yang lebih sabar kan juga kasihan kalau sekecil itu dibentak-bentak apalagi sampai dipukul. Kalau bisa jangan sih Sayang," respons Tama.
"Iya Mas ... tidak akan. Untung tadi bisa sabar dan sembari menenangkan emosiku sendiri. Biasanya enggak nangis loh. Soalnya kalau anak-anak itu menangis di pagi, moodnya akan jelek sepanjang hari, Mas ... untung saja tadi Citra enggak," balasnya.
"Itu juga kamu bisa menenangkan dia, Sayang ... makasih yah, sudah terbukti walau sudah punya Duo C, kamu tetap sayang banget sama Citra. Makasih My Love," balasnya.
Tama sedikit mengangkat wajahnya dari bahu Anaya, lantas pria itu menarik sedikit sisi wajah Anaya, dan lantas memangkas jarak wajahnya yang tidak seberapa dan mulai menjatuhkan kecupan demi kecupan di bibir Anaya. Agaknya Tama sendiri merasa benar-benar rindu, sampai rasanya ketika bibirnya mengecup bibir Anaya, yang ada justru dia merasa kehausan di sana. Sangat haus, hingga dia ingin memuaskan hasratnya dari dahaga yang rasanya sudah begitu berkepanjangan.
Dua pasangan bola mata yang saling memaku satu sama lain, akhirnya perlahan meredup. Kedua kelopak mata sama-sama menutup dan kemudian keduanya hanyut dalam permainan bibir yang saling beradu satu sama lain. Saling mengecup, saling menyapa dengan ujung lidahnya yang basah, dan saling melu-mat dengan nafas yang terasa semakin berat.
Kian dalam Tama melabuhkan ciumannya, semakin berat nafas Anaya. Hingga wanita itu seolah menahan nafas dan mencuri nafas manakala bibir suaminya bergerak perlahan. Buaian yang sangat memabukan. Hingga Anaya perlahan menahan dada Tama yang sudah sangat dekat dengannya, di sofa yang ada di ruang tamu itu, nyaris saja, Tama hendak menindih tubuh Anaya.
"Stop Mas," pinta Anay dengan menahan dada Tama di sana.
Tama bergerak dan kemudian menyibak rambut Anaya, pria itu menjatuhkan kecupan demi kecupan yang basah di tulang belikat hingga tulang selangka Anaya. Aroma parfum yang wangi bisa Tama cium dengan begitu memabukkan. Hingga Tama sedikit menarik ke bawah kaos yang dikenakan Anaya waktu itu. Bibirnya sudah nyaris mengenai sembulan buah persik yang begitu ranum.
"Mas," pekik Anaya dengan menghela nafas.
Sekadar kecupan demi kecupan saja sudah membuat Anaya mabuk kepayang hingga akhirnya Anaya memilih pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya itu.
Bahkan kini, Tama menarik ke atas kaos yang dikenakan Anaya, tanpa melepaskan pengait yang ada di balik punggung, Tama mengeluarkan buah persik milik Anaya dan menghisapnya perlahan, menarik puncaknya dengan kedua bibir yang mengatup, hingga Anaya mende-sah.
"Oh, Mas ...."
__ADS_1
Namun, Tama tak menghiraukan ucapan dan de-sahan Anaya. Dia justru kian menghisap, *******, dan menggigit puncaknya. Sangat nikmat sampai Anaya meremas rambut suaminya di sana, dan kemudian menenggelamkan wajah suaminya di dadanya.
Dua buah persik yang dilahap habis oleh Tama, lantas Tama kembali melu-mat bibir Anaya dengan begitu dalam. Seakan tidak ada hari esok untuk meluapkan dahaganya. Tama begitu mendamba. Di hari yang siang terik ini, nyatanya justru Tama merasa terbakar dan ingin bersatu-padu dengan istrinya.
"Please Mas ... nanti malam saja yah," pinta Anaya dengan nafasnya yang terdengar pendek-pendek.
"Sayang," panggil Tama dengan membelai rambut Anaya.
Ya Tuhan, agaknya suaminya itu benar-benar mendamba. Seakan tidak menghiraukan ucapannya. Namun, Anaya juga takut bercinta di siang hari dengan risiko yang lebih besar karena bayi-bayinya bisa saja terbangun. Selain itu, selama memiliki anak memang mereka berdua lebih memilih bercinta di bawah naungan malam.
Ketika Tama hendak menarik celana Anaya ke bawah, terdengar suara gerbang berbunyi. Degup jantung Anaya pun berpacu dengan begitu kencangnya dan mendorong dada suaminya itu, serta menahan tangannya.
"Mas, ada yang datang," ucapnya.
Tama pun menghela nafas, dan kemudian menghentikan semua aksinya. Pria itu terengah-engah dan merapikan pakaian Anaya dan juga merapikan juntai rambut istrinya itu.
"Siapa emangnya?" tanya Tama dengan menstabilkan nafasnya.
"Enggak tahu ... ada yang datang dan membuka gerbang."
Ketika mereka merapikan diri mereka sendiri-sendiri, terbuka teriakan permisi dari luar rumah.
"Permisi ...."
__ADS_1
Siapa yang datang siang-siang begini ke rumah Anaya dan Tama?