
Usai mengelilingi sekolah dan melihat sekilas bagaimana pembelajaran di sekolah itu. Ketika hendak pulang, tanpa sengaja kini bertemu dengan orang yang sudah pasti mereka kenal. Siapa lagi kalau bukan Khaira yang kala itu hanya datang bersama Arshaka, putranya.
"Eh, halo ... Citra ke sini ngapain?" sapa Khaira yang tampak senang melihat Citra bersama kedua orang tuanya bersama di PAUD itu.
"Loh ... Tante Khaira?"
Terlihat Anaya yang bingung juga melihat Khaira ada di sana. Biasanya Dosennya itu segera kemana-mana dengan suaminya. Akan tetapi, sekarang Khaira hanya seorang diri dan mengajak Ashaka.
"Radit mana Khai?" tanya Tama.
"Oh, Mas Radit bekerja ... ini kan hari kerja. Jadi, aku sendirian sama Arshaka. Arsyilla juga masih sekolah," balas Khaira.
"Kak Khaira ke sini untuk apa?" tanya Anaya.
"Mau survei sekolah. Ngajakin Shaka lihat sekolahnya dulu, kalau Shaka cocok kan nanti tinggal menunggu Tahun Ajaran Baru," balas Khaira.
Tama kemudian menganggukkan kepalanya, "Tuh Kak Citra, nanti Citra sudah punya teman. Sama Arshaka. Bisa satu sekolah dan berteman nanti," balas Tama.
"Bener banget ... bisa temenan tuh sama Shaka. Sudah kenal kan?" tanya Anaya kepada Citra.
Tampak Citra menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya, itu Shaka, anaknya Tante Khaira dan Om Radit," balas Citra.
Merasa masih ada tamu yang hendak bertanya perihal sekolah, Miss Debby pun memberikan penjelasan lagi. Selain itu, kali ini giliran Shaka yang aiajak tour sekolah. Namun, rupanya Citra masih ingin ikut, sementara giliran para orang tua yang menunggu sekarang.
__ADS_1
"Kok milih sekolah ini Kak?" tanya Anaya kepada Khaira.
"Dulu tuh Arsyilla sekolah di sini juga. Jadinya sudah tahu lah yah bagaimana sekolah ini, kurikulumnya, dan guru-gurunya. Jadi yah, melanjutkan tradisi kali," balas Khaira.
Ah, rupanya Arshaka didaftarkan di sekolah itu karena dulu Arsyilla sekolah di sana. Sehingga, Khaira sudah tahu bagaimana sistem pembelajaran di sana. Selain itu, juga dengan beberapa guru di sana sudah kenal dengan Khaira, tinggal melanjutkan saja.
"Oalah ... emangnya Arshaka mau yah sekolah dengan dulu sekolahnya Kakaknya?" tany Anaya lagi.
Tampak Khaira tertawa dan menganggukkan kepalanya. "Justru Shaka sendiri sih yang minta. Jadi, ya aku dan Mas Radit mengiyakan saja. Toh, di sini juga bagus kok," balas Khaira.
Memang ada kalanya seorang adik ingin mendapatkan hal yang sama dengan Kakaknya. Begitu juga Arshaka yang justru ingin sekolah di tempat dulu Kakaknya bersekolah. Arshaka pun juga seakan mengcopy paste apa yang Arsyilla lakukan di rumah.
"Kalau ada yang sudah dikenal, mungkin nanti agak tenang. Enggak serta-merta kenalan dengan teman yang baru. Minimal ada satu yang dikenal lebih dulu itu sudah bagus," ucap Anaya.
"Iya, memang begitu sih. Jadi, kalian fixed nih kalau Citra sekolah di sini?" tanya Khaira.
"Kalau sesuai perhitungan. Thesis kamu selesai, nunggu satu bulan wisuda, terus Citra sekolah, Anaya," ucap Khaira.
"Benar ya Kak ... cepet banget. Sudah jalan Bab 2 juga. Wah, dibimbing Kakak sih lancar jaya. Tidak ada halangan, definisi benar-benar dibimbing, tidak dilepaskan begitu saja di tengah jalan," balas Anaya.
Mendengar jawaban Anaya, bukan hanya Khaira yang tertawa, tetapi juga Tama yang turut tertawa. "Minta bayaran lebih, Khai," sahut Tama yang kini berbicara kepada Khaira.
Akan tetapi, Khaira dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Dosen kan begitu. Kerjaannya satu Dos, upahnya satu sen. Cuma senangnya itu tidak terbeli. Passion untuk mengajar itu tidak bisa dibeli," balas Khaira.
__ADS_1
Anaya pun menganggukkan kepalanya. "Tuh, benar banget. Mas Tama ih, masak nyuruh Kak Khaira untuk minta biaya bimbingan tambahan," balas Anaya.
"Biasanya itu, dosen pembimbing ada yang ngebiarin mahasiswa itu jalan sendiri. Cuma disuruh lanjut-lanjut aja. Namun, waktu ujian Thesis, si mahasiswa ini dibantai, Dosen Pembimbing gak ngebantuin," balas Tama.
"Memang ada tipe Dosbing yang kayak gitu sih. Cuma kalau sesuai profesi guru dan dosen ya ketika membimbing itu harus bertanggung jawab. Melaksanakan filsafat pendidikannya Ki Hajar Dewantara yaitu Tut Wuri Handayani, yang di belakang memberi dorongan. Kan Dosbing itu posisinya di belakang mahasiswa yang menyusun Thesis, mendorong dan mengarahkan saja," jelas Khaira.
Anaya beberapa kali menganggukkan kepalanya. Setuju dengan apa yang disampaikan oleh Khaira yang sekaligus Dosen Pembimbing Thesisnya itu. "Setuju sih Kak ... kayaknya semakin jarang yah Dosen Pembimbing yang kayak gitu."
"Semua tergantung ke orangnya sih Anaya. Kalau aku sendiri, lebih banyak tanggung jawab ke mahasiswa yang aku didik. Semua mahasiswa layak untuk mendapatkan yang terbaik. Mereka juga membayar mahal kok. Jadi, aku sebagai pembimbing pun akan berusaha maksimal, terlebih di tahun terakhirku mungkin," balas Khaira.
Anaya mendengarkan ucapan Khaira itu kemudian bertanya kepada Khaira, "Kalau Kak Khaira kuliah, terus sekolahnya Arshaka gimana? Ke Singapura kan?"
"Kuliahnya jarak jauh kok, Anaya ... hanya waktu ujian atau pertemuan penting saja yang harus ke Singapura. Kan aku masih mengajar juga, cuma berhenti untuk menjadi Dosen Pembimbing, biar lebih fokus," balas Khaira.
Setelah mengobrol bersama, kemudian mereka menyelesaikan untuk uang masuk anak-anak mereka. Tidak lupa mereka diberikan seragam yang memang harus dijahit terlebih dahulu. Kemudian Khaira pun berpamitan dengan Anaya, Tama, dan Citra. "Kami duluan yah ... besok sekolah bareng Shaka ya Citra," ucap Khaira.
"Iya Tante," balas Citra dengan menganggukkan kepalanya.
Kemudian Khaira dan Shaka berpamitan terlebih dahulu, sementara Tama dan Anaya juga segera pulang. Kepikiran dengan Charel dan Charla yang ada di rumah dengan Oma dan Opanya.
"Pulang?" tanya Papa Tama kepada istri dan putrinya.
"Iya Papa," balas Anaya dan Citra dengan begitu kompak.
__ADS_1
"Yuk, Twins sudah nungguin juga. Takut kalau Oma dan Opa kerepotan menjaga Charel dan Charla," balas Tama.
Semoga saja di rumah Oma dan Opanya, Charel dan Charla tidak rewel. Anak-anaknya aman, dan juga bisa diasuh dengan baik oleh Oma dan Opanya.