
Kabar pernikahan Tama dan Anaya rupanya dengan cepatnya terdengar oleh mantan mertua Tama yaitu Bunda Rini dan Ayah Harja. Tidak mengira hanya berselang satu hari dari pernikahan itu, kini Bunda Rini dan Ayah Harja yang adalah orang tua mendiang Cellia datang ke rumah Tama. Ya, hanya berselang kurang lebih dua jam usai kepulangan Tama dan Anaya dari hotel.
"Permisi," sapa pasangan paruh baya itu kala menyambangi kediaman orang tua Tama.
"Ya, silakan masuk," balas Mama Rina yang membukakan pintu untuk tamunya, sekaligus besannya itu. "Mari masuk Bu Rini dan Bapak Harja," ucap Mama Rina dengan begitu ramah.
Keduanya lantas masuk dan duduk di ruang tamu. Pandangan Bu Rini kini tertuju pada foto pernikahan Tama dan Anaya yang memang baru saja dipasang oleh Papa Budi di salah satu tembok yang berada di ruang tamu itu.
"Tumben Bu Rini dan Bapak. Apakah mau menjenguk Citra?" tanya Mama Rina dengan baik-baik.
"Iya Bu, sekalian mau bertemu dengan Tama," balas Pak Harja.
Mama Rina pun segera memanggilkan Tama yang berada di dalam kamarnya bersama Anaya dan Citra. Mama Rina juga menyampaikan kepada Tama bahwa orang tua mendiang Cellia datang ke rumah. Tama yang memang tidak memiliki firasat apa-apa akhirnya pun turun dengan menggendong Citra, sementara Anaya mengekori Tama untuk turun dan menyapa tamu yang datang.
Sama seperti Tama, Anaya juga tidak berfirasat buruk. Justru Anaya akan berusaha mengenal baik keluarga yang pernah menjadi mertua bagi suaminya itu.
Begitu melihat Tama, Anaya, dan Citra yang menuruni anak tangga, Bunda Rini dan Ayah Harja tampak mengamati ketiganya dengan sorot mata yang tidak bisa didefinisikan. Tama yang sudah sampai di ruang tamu tentu segera memberikan salam kepada mantan mertuanya itu.
"Bagaimana kabarnya Ayah dan Bunda," sapa Tama dengan bersalaman, menjabat tangan kedua orang tua mendiang istri pertamanya.
"Baik, Tam," balas Bunda Rini.
__ADS_1
Anaya yang semula duduk di samping Tama, akhirnya memilih ke dapur. Pikirnya bila ada tamu yang datang, lebih baik untuk menyajikan minuman terlebih dahulu.
"Tumben Ayah dan Bunda. Apakah ingin menjenguk Citra?"
Sampai sejauh ini Tama masih bertanya dengan baik-baik. Namun, belum ada jawaban yang diberikan Mama Rina dan Papa Budi pun bergabung di ruang tamu. Keduanya juga memberikan salam dengan ramah kepada Bu Rini dan Pak Harja.
Pun Anaya yang datang dari dapur, wanita itu menyajikan dua cangkir Teh hangat untuk Bu Rini dan Pak Harja di sana. Anaya pun bersikap ramah dan menundukkan sedikit badannya sebagai bentuk menyapa dengan hormat.
"Begini Tama, benarkah kamu telah menikah?" tanya Ayah Harja kali ini.
Ketika kemarin Tama menikah memang Tama tidak memberikan undangan kepada mantan mertuanya itu. Sebab, Tama berpikir mantan mertuanya itu juga sudah lama tidak datang ke rumahnya dan menjenguk Citra. Komunikasi pun tidak ada sehingga Tama juga melewatkan untuk menyampaikan undangan pernikahan khusus kepada mereka.
"Benar Ayah dan Bunda, kemarin Tama menikah dengan Anaya," jawabnya.
Bagi kedua orang tua mendiang Cellia itu, satu tahun menduda setelah kepergian anaknya adalah waktu yang singkat. Mereka pun berharap Tama tidak menikah lagi dalam kurun waktu satu tahun.
"Apakah Tama bersalah jika Tama pada akhirnya memilih menikah lagi?" tanya Tama dengan sopan.
Sungguh, atas dasar apa Ayah Harja dan Bunda Rini mempertanyakan alasannya menikah lagi. Satu tahun bagi orang lain rasanya singkat, tetapi bagi Tama sendiri satu tahun rasanya lama. Dia bertahan dan berjuang mengasuh bayinya yang masih merah. Bahkan kedua mantan mertuanya itu tidak pernah mengunjungi Citra sebagai cucunya.
"Harusnya tidak secepat ini. Seharusnya kamu menunggu setelah 1000 hari kepergian Cellia barulah kamu menikah," balas Ayah Harja kali ini.
__ADS_1
Mama Rina dan Papa Budi yang mendengarkan hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Maaf Pak Harja dan Bu Rini, tidak ada ketentuan bahwa seorang duda bisa menikah lagi setelah 1000 hari kepergian istrinya. Bahkan dalam kepercayaan kami tidak ada masa idah bagi laki-laki. Masa 'tunggu' yang Tama jalani juga berlangsung selama 365 hari penuh. Sudah patut dan layak untuk menikah lagi," balas Papa Budi.
Ya, menurut beberapa kitab Fikih memang dijelaskan seyogyanya tidak ada idah bagi laki-laki. Akan tetapi, laki-laki yang ditinggal meninggal dunia oleh istrinya bisa melakukan masa tunggu, lagipula menurut norma tidak elok juga melangsungkan akad saat berdukacita. Memberi waktu untuk berkabung, menunggu dengan menundukkan kepala, dan mendinginkan hati kepada sang Khalik.
"Cuma ini terlalu cepat, Pak. Hanya setahun usai kepergian Cellia," balas Bunda Rini.
"Dalam setahun Tama juga sudah berkabung, Bu Rini. Dia membesarkan Citra dengan bantuan Anaya. Membagi beban pengasuhan bersama. Berdiri dengan satu kaki itu tidak mudah, karenanya Tama menjatuhkan pilihan kepada Anaya," jelas Mama Rina.
Betapa jatuh bangunnya Tama, Mama Rina adalah saksinya. Wajah berduka dan berselimut mendung gelap, sepanjang malam begadang lantaran rasa kehilangan yang selalu hinggap dan menghantui, dan membesarkan anak walau Mama Rina tahu bahwa sebenarnya Tama tidak mampu, tetapi Tama selalu berusaha untuk melakukannya. Lantas atas dasar apa Bapak Harja dan Bu Rini menganggap bahwa 365 hari adalah masa menduda yang terlalu singkat.
"Kami kehilangan anak kami setiap hari, tetapi kamu semudah itu melupakan Cellia dan kembali menikah lagi. Apakah begitu Tama?" tanya Ayah Harja.
Dengan cepat Tama menggelengkan kepalanya, "Tidak Ayah, Tama selalu mengingat almarhumah Cellia. Tidak harus melupakan mereka yang telah tiada untuk memulai hubungan yang baru. Bahkan Tama mengatakan kepada Anaya bahwa di sudut hati Tama yang terdalam, selalu ada sisi untuk Cellia dan segala kenangannya," balas Tama.
"Omong kosong, tidak mungkin kamu bisa memberi bukti karena yang tersimpan di dalam hati tidak terlihat. Paling juga kamu yang tidak bisa menjaga hasratmu sebagai seorang pria tidak bisa puasa terlalu lama," sahut Bunda Rini dengan begitu judesnya.
"Astaghfirullah Bu Rini ... saya sendiri yang menjadi saksi betapa Tama selama satu tahun ini menjaga hidupnya, tidak pernah main perempuan, bahkan siapa yang begadang tiap malam untuk Citra, cucu kita? Tama sendiri, ya Tama sendiri yang melakukannya. Saya menjadi saksi bagaimana Tama yang hancur dan seolah kehilangan harapan. Kini, ketika Tama menemukan kembali harapan hidupnya dan keinginan merenda masa hidup, Anda justru berprasangka buruk dan menuduh yang bukan-bukan," balas Mama Rina.
Sebagai seorang Mama, tentu Mama Rina tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Bu Rini itu. Mama Rina melihat sendiri bagaimana Tama terpuruk, kehilangan selera makannya, hingga kelopak matanya menghitam karena terjaga beberapa malam lamanya. Kini, dengan mudahnya mantan mertua Tama itu menghakimi bahwa Tama menikah lagi karena tidak bisa menjaga hasratnya.
Tama memilih diam. Semua prasangka buruk dituduhkan kepadanya sekarang ini. Walau dia mengelak tetap saja Ayah Harja dan Bunda Rini akan menuduhnya yang bukan-bukan.
__ADS_1
Untuk apa yang sudah Tama lakukan tak perlu dia ucapkan dan gembar-gemborkan kepada orang yang hanya berprasangka buruk kepadanya. Jatuhnya dia, hancurnya harapannya, ketidakmampuannya mengasuh Citra, hingga menekan diri sendiri untuk bangkit tak perlu Tama ceritakan. Keluarganya, orang yang setiap hari bersama dengannya lah yang tahu bagaimana Tama selama 365 hari ini. Kenapa mantan mertuanya justru menuduhnya yang bukan-bukan. Seakan keputusan Tama untuk menikah kembali adalah perbuatan yang salah dan tidak dibenarkan di mata Ayah Harja dan Bunda Rini.