
Dulu ….
Dengan air mata yang berderai dengan begitu derasnya, Anaya bersimpuh di hadapan Ayah Tendean. Ya, wanita yang baru saja terenggut kehormatannya itu mengakui salahnya kepada sang Ayah.
"Maafkan Anaya, Ayah ... Anaya bersalah," ucap Anaya dengan kembali terisak.
Ketika anak berbuat dan mengakui kesalahan, hati seorang Ayah pun terguncang. Tidak mengira bahwa kenyataan pahit akan dialami oleh Anaya. Luka yang dialami oleh Anaya juga menjadi luka di dalam hati Ayah Tendean. Hingga pria paruh baya itu pun turut meneteskan air matanya. Putri yang dia sayangi dengan sepenuh hati, putri yang membuatnya bertahan hidup dan komitmen untuk mengasuh dari bayi hingga dewasa, justru kini dengan tersedu-sedan mengakui kejadian buruk yang menimpanya.
"Siapa yang telah melakukannya, Aya?" tanya sang Ayah.
"Bosnya Aya di perusahaan, Yah ... Pak Reyhan," balas Anaya.
Sebenarnya Anaya juga takut mengakui dengan apa yang sudah terjadi dan siapa pelaku utama yang telah merenggut kehormatannya. Mendengar nama Bosnya disebut, ada helaan nafas kasar dari Ayah Tendean. Tidak mengira bahwa atasan dari putrinya sendiri yang merenggut kehormatannya.
"Ayah akan ikut ke kantor kamu dan membuat perhitungan dengan Bosmu itu. Ayo!"
Dengan hati yang dilingkupi amarah, Anaya dan Ayah Tendean menuju kantor perusahaan telekomunikasi terbesar itu. Begitu sampai di lobby, Ayah Tendean menyampaikan maksud dan tujuannya datang adalah untuk bertemu dengan CEO perusahaan itu yaitu Reyhan. Rupanya akses untuk menemui sang CEO tidak begitu sulit, Ayah Tendean pun dipersilakan untuk datang dan memasuki ruangan CEO di lantai 18 gedung itu.
Suara ketukan pintu terdengar dengan Ayah Tendean yang berdiri di depan pintu sang CEO, hingga suara dari dalam pun menyahut.
"Masuk."
Reyhan terperangah melihat siapa yang datang. Benar-benar tidak mengira bahwa Anaya akan datang bersama dengan Ayahnya. Kali ini Ayah Tendean datang sebagai seorang Ayah yang datang meminta pertanggungjawaban dari pria yang sudah melecehkan bahkan merenggut mahkota milik putrinya itu.
__ADS_1
"Ana," ucap Reyhan dengan suara yang terbata.
Anaya hanya diam dan tidak merespons ucapan Reyhan. Bahkan sekadar melihat wajah atasannya itu saja rasanya sudah begitu jijik rasanya.
"Saya, Ayahnya Anaya ... saya sudah mendengar semua perilaku burukmu kepada anak saya. Bagaimana bisa seorang pemimpin besar seperti ini justru berlaku bejat dan memperlakukan stafnya dengan begitu buruk. Jadi, sekarang saya akan membawa kasus ini ke meja hukum," ucap Ayah Tendean.
Itu bukan hanya sekadar ancaman, tetapi Ayah Tendean akan benar-benar membuktikan ucapannya. Dia bisa menjebloskan pria bejat itu ke dalam penjara dengan tuduhan tindakan pemerkosaan. Bahkan pria itu bisa dijerat dengan pasal berlapis.
Mendengar kata penjara, nyiutlah hati Reyhan. Pria itu segera meminta maaf kepada Ayah Tendean dan berjanji akan bertanggung jawab penuh atas Anaya. Namun, Reyhan hanya bisa menikahi Anaya di bawah tangan saja, karena sejatinya pria itu sudah memiliki tunangan yang tinggal di Singapura.
Kian hancur hati Ayah Tendean. Sayang sekali nasib buruk justru menggelayuti putri semata wayangnya. Namun, karena Reyhan menunjukkan kesungguhannya. Kali ini, Ayah Tendean memaafkan Reyhan dengan maksud supaya anak yang dikandung putrinya nanti bisa memiliki Ayah. Tercatat di dalam surat kelahirannya nama Ayah Biologisnya.
Selang beberapa hari kemudian ....
Sejak awal, tetap saja Anaya lah yang dirugikan. Dari mulai kehormatannya yang direnggut paksa, dan pernikahan siri yang sekarang terjadi. Bagaimana bisa Anaya dirugikan? Ya, karena dalam pernikahan di bawah tangan istri dan anaklah yang dirugikan. Jikalau lahir anak dari pernikahan di bawah tangan ini, anak hanya memiliki hubungan perdata dengan ibu dan kerabat dari ibu. Setelahnya, anak hanya bisa dicatatkan secara resmi jika orang tua sudah mendaftarkan pernikahannya secara resmi pula di Kantor Urusan Agama. Bagi istri, mereka yang terlibat pernikahan di bawah tangan istri tidak berhak mendapatkan nafkah dan harta gono-gini dari suami. Juga, ketika suami meninggal di kemudian hari, istri juga tidak berhak atas warisannya.
Usai melakukan pernikahan di bawah tangan sore itu, Reyhan pun berpamitan untuk kembali ke apartemennya. Sementara Anaya tetap dan memilih tinggal bersama Ayahnya. Hingga dua hari kemudian, terdengar kabar jika Reyhan sudah pergi ke Singapura. Pria itu memindahkan pekerjaannya ke Singapura yang akan dia lakukan secara online (daring - dalam jaringan).
"Jadi, di mana Reyhan Aya?" tanya Ayah Tendean kala itu.
"Pergi, Ayah," jawabnya.
"Kemana? Apa tanggung jawabnya hanya sebatas menikahi kamu di bawah tangan saja?" tanya Ayah Tendean.
__ADS_1
Tekanan emosi pria paruh baya itu seolah naik begitu saja karena perlakuan tidak adil yang harus dirasakan putri semata wayangnya. Terlebih wajah Anaya yang muram dan tidak tampak ada sinar kebahagiaan di sana.
"Teman Anaya yang memberitahu jika lelaki itu pergi ke Singapura," ucap Anaya.
Ayah Tendean menghela nafas kasar tidak mengira bahwa Reyhan adalah pria yang sama sekali tidak baik. Tidak menunjukkan itikad baik dan tanggung jawabnya sebagai seorang pria.
"Maafkan Aya, Yah ... semuanya menjadi runyam. Jika hanya seperti ini, lebih baik Anaya tidak pernah menikah dengannya," ucap Anaya.
Kesedihan yang mendalam membuat Anaya benar-benar down, terlebih dengan kehamilan yang terjadi di luar prediksinya membuat wanita itu selalu murung. Beban dari semua masalah hidup yang seakan datang bertubi-tubi membuat Anaya mengalami flek karena kehamilannya yang lemah dan juga Dokter meminta supaya Anaya bedrest seminggu lamanya.
"Tidak usah dipikir lagi, Aya ... anggap saja pria itu sudah pergi. Fokus dengan kehamilanmu. Bayi dalam rahimmu tidak bersalah," ucap Ayah Tendean.
"Iya Ayah," ucap Anaya dengan berbaring lemah di atas ranjangnya.
Di masa-masa sulit, Anaya bisa bertahan karena ada sang Ayah yang selalu menguatkannya. Di kala dia tidak mampu, bahkan tidak ingin melanjutkan hidup. Namun, tiap kali teringat dengan bayinya yang ada di dalam rahimnya. Anaya berusaha untuk bertahan sekuat tenaga. Dirinya boleh gagal sebagai seorang anak, gagal sebagai seorang wanita, tetapi saat menjadi ibu, Anaya akan bertahan. Ya, Anaya tidak ingin gagal.
***
Sekarang ....
Dengan masih menangis sesegukan di dalam kamarnya yang gelap. Semua peristiwa buruk itu seakan hadir kembali. Bayang-bayang masa lalu yang kelam dengan penuh air mata membuat Anaya benar-benar hancur. Tidak terasa Anaya merasa sehancur ini sebelumnya.
Anaya merasa dirinya kian hancur, saat bayi yang dia pertahankan dengan semaksimal mungkin. Bayi yang dia pikir bisa menjadi pelipur laranya, justru juga diambil oleh Tuhan. Lagi-lagi Anaya mengalami patah hati terpahit karena semua yang dia pertahankan dalam hidup nyatanya semuanya hilang begitu saja.
__ADS_1
Kini, di saat Anaya merasa sedikit kebahagiaan. Justru pria dari masa lalunya kembali datang dan ingin mempertegas segalanya. Sungguh, garis takdir seakan mempermainkan Anaya. Untuk semua yang terjadi, Anaya sungguh tidak akan memberi kesempatan lagi kepada Reyhan.