
Usai dari Benhil, barulah Anaya dan Tama pulang ke rumah dan menjemput Citra terlebih dahulu. Begitu sampai di rumah, Anaya juga memilih segera mandi, menyuapi Citra, dan juga setelahnya, Anaya makan lagi di rumah. Kali ini Tama semakin yakin, pasti sesuatu tengah terjadi sekarang ini. Sebab, di Benhil tadi saat memakan Soto Mie, Anaya sudah bilang jika kenyang. Akan tetapi, begitu di rumah nyatanya Anaya justru masih makan lagi.
Malam harinya, sebelum tidur, Anaya masih memakan apel. Sampai Tama geleng-geleng sendiri dengan istrinya itu.
“Kamu yakin kamu baik-baik saja, Sayang?” tanya Tama kemudian.
“Hmm, aku kenapa Mas?” tanya Anaya sembari masih mengunyah makanan di sana.
“Kamu makan banyak banget loh … kelihatannya fixed deh, ada baby kita di dalam rahim kamu,” ucap Tama dengan mengamati istrinya itu.
Anaya menghentikan mengunyah apel dan kemudian menatap suaminya, “Cuma aku enggak mual dan muntah dulu. Dulu, waktu aku hamil … aku mual dan muntah parah banget. Sampai aku teler. Ini aku sehat banget loh, Mas,” balasnya.
Tama tersenyum dan membelai sisi wajah istrinya itu, “Gejala kehamilan tidak hanya mual dan muntah, Yang … bisa juga perubahan hormon dalam tubuh yang membuat kamu jadi mood swing, selera makan bertambah, juga lebih sensian, atau badan yang sehat tiba-tiba kayak masuk angin itu,” balasnya.
Anaya ragu sebenarnya. Namun dia memilih diam, “Tes ya Sayang … aku belikan testpack,” ucap Tama kepada istrinya itu.
"Kalau negatif Mas?" tanyanya.
"Kalau negatif ya berarti aku harus lebih giat usahanya untuk menabur benih, biar bersemi dan tumbuh di dalam rahim kamu. Usaha maksimal sampai berubah menjadi positif," balas Tama.
Anaya yang mendengarkan suaminya itu hanya terkekeh geli di sana. "Besok aja yah ... mungkin memang aku baru pengen banyak makan. Gak biasanya ya Mas?" tanya Anaya lagi.
__ADS_1
Tama menganggukkan kepalanya, "Biasanya kamu itu banyak minumnya, sekarang banyak makannya. Ya, enggak apa-apa. Aku juga tidak masalah, selama kamu sehat," balas Tama kemudian.
Anaya memilih diam dan menghabiskan apel merah yang masih dia bawa di tangan, hingga kemudian Anaya menatap suaminya. "Aku tidak yakin sih Mas ... tunggu beberapa hari lagi yah," balasnya.
"Ya, sudah ... cuma aku gak akan kerja keras menjadi petani dulu, Yang ... nanti benihnya terlalu banyak kena siraman dari Papanya justru bikin benihnya pusing," balas Tama dengan terkekeh geli di sana.
Yang diucapkan Tama sepenuhnya benar, bahwa jika istri dalam fase hamil muda, terlalu sering bercinta dan menerima siraman di rahimnya justru membuat janin menjadi pusing dan lemah. Sebab dalam cairan pria terdapat hormon prostaglandin yang memicu kontraksi rahim yang membuat leher rahim terbuka lebar. Terlalu sering menjadi Petani, justru bisa membuat benih yang sedang bertumbuh menjadi gagal panen.
"Oh, begitu ya Mas," balas Anaya.
"Iya Sayang ... jadi, aku pensiun dulu jadi Petani. Mau menyemai benih, aku khawatir saja kalau kamu sudah isi," balas Tama.
"Ya kan belum pasti," sahut Anaya.
***
Selang dua hari kemudian ....
Kali ini malam ketika sudah menidurkan Citra, Anaya membaca sebuah novel tentang seorang suami yang mengantarkan istrinya sampai ke London untuk bertemu cinta pertamanya. Entah larut dalam emosi yang dibangun penulis, atau memang jalan ceritanya yang bagus, malam itu Anaya menangis sesegukan di sana.
Tama yang baru keluar dari kamar mandi tentu saja merasa kaget dengan istrinya yang menangis sesegukan. Hingga Tama segera menghampiri istrinya itu.
__ADS_1
"Yang, kamu kenapa? Kok nangis sih?" tanyanya dengan begitu bingung.
"Baca novel," jawabnya dengan bibir yang bergetar karena menangis.
"Ya ampun ... baca novel kok malahan nangis kayak gini sih. Kenapa sih, sedih banget yah?" tanyanya.
Anaya menganggukkan kepalanya, "Iya ... sedih banget. Masak iya, mereka pamitan untuk bulan madu ke mertuanya, tetapi ternyata si suami ini mengantarkan istrinya ke London untuk bertemu dengan kekasihnya. Mempertemukannya, bahkan si suami ini menggandeng tangan istrinya dan mempertemukannya secara langsung. Nyesek banget, Mas ... aku sedih," cerita Anaya pada akhirnya kepada suaminya.
"Sini peluk dulu ... baca novel ternyata, aku kira kamu sakit atau kenapa," balas Tama.
Anaya pun segera masuk dalam pelukan suaminya, terbawa suasana dengan cerita itu, "Nyesek banget tahu, Mas ... masak iya ada suami yang seperti itu. Biasanya cowok kan kalau istri macam-macam langsung cari yang baru. Kamu juga enggak Mas?" tanya Anaya kemudian.
Tama menggelengkan kepalanya, "Enggak lah ... aku cuma mau kamu saja," balas Tama.
"Serius? Janji?" tanya Anaya.
"Iya, janji ... kamu lebih banyak menangis dua hari ini loh, Yang ... dua hari baca novel, biasanya kamu gak baca novel online, dan nangis-nangis kayak gini. Nanti pagi tes kehamilan yah ... aku sudah beliin testpack," ucap Tama.
Agaknya kecurigaan Tama kian meningkat karena istrinya itu melakukan hal-hal di luar kesukaannya seperti membaca novel dan sampai menangis bombay. Jika bukan karena perubahan hormon yang drastis di dalam tubuh, karena apa lagi? Fixed, Tama semakin yakin jika istrinya itu tengah hamil, walau Anaya belum menyadarinya.
"Ya, nanti aku testpack, cuma kalau negatif enggak apa-apa yah," balas Anaya lagi.
__ADS_1
"Iya, enggak apa-apa. Santai saja. Aku juga santai Sayang ... tidak membebani kamu," balas Tama.
Hanya saja menurut Tama semakin cepat melakukan tes kehamilan lebih baik sehingga mereka juga bisa segera periksa ke Dokter dan mendapatkan vitamin untuk Anaya dan janin yang terus berkembang di dalam rahimnya.