Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Ramen dan Obrolan


__ADS_3

"Kamu duduk di luar dulu saja, Tam ... aku pindahin Ramennya ke dalam mangkuk. Tunggu yah," balas Anaya yang meminta kantong plastik putih dari Tama itu.


Tama juga hanya menganggukkan kepalanya saja, sembari menyerahkan kantong plastik itu kepada Anaya. Setelahnya, Tama dengan tenang memilih duduk di kursi kayu yang memang ada di depan rumah Anaya. Pria itu memilih diam dan mengabari kepada Mama Rina dulu bahwa dia akan pulang terlambat. Kendati demikian, Tama juga berbicara jujur pada Mama Rina bahwa dirinya ingin mengajak Anaya makan dulu.


Kurang lebih hampir lima menit, Anaya keluar rumah dengan membawa nampan yang diatasnya sudah ada Ramen dan juga air jeruk yang dia buat sendiri.


"Ini ramennya," ucap Anaya.


"Masih hangat yah?" tanya Tama sembari memperhatikan uap yang masih mengepul dari mangkuk ramen itu.


"Iya, masih panas kok," balas Anaya.


"Kamu mau yang mana, Ay? Pilih dan ambil duluan saja ... lady first," ucap Tama.


"Kamu saja yang milih, Tama ... kan kamu yang beliin," balas Anaya.


Namun, Tama tetap ada keputusannya. Dia menunggu sampai Anaya memilih Ramennya. Itu karena memang Tama membeli Ramen dengan dua rasa yang berbeda, dan kali ini Tama tidak keberatan jika Anaya yang memilih lebih dulu.


"Pilih, Ay ...."


Mendengar ucapan Tama, akhirnya Anaya pun mengambil satu mangkuk dari dua mangkuk yang ada di depannya itu. "Aku pilih yang ini ya, Tam ... yang spicy," balasnya.


"Iya ... pilih saja. Kalau kurang, nanti aku beliin lagi," sahut Tama.

__ADS_1


Anaya memilih Ramen yang pedas karena memang rasa pedas bisa mengusir rasa galau dan sedih di hatinya. Sementara Ramen yang tidak pedas, sudah pasti buat Tama. Sebab, apa pun pilihan Anaya, Tama juga tidak mempermasalahkannya.


"Dimakan Ay ... mungkin masih panas. Ramen kan enaknya dimakan saat panas-panas gini," ucap Tama yang sembari mengambil mangkuk Ramen miliknya yang mulai menggunakan sumpit untuk mengambil mie.


"Iya ... beneran banget loh ini. Aku dulu, kalau sedih dan pusing banyak masalah, aku selalu makan Ramen yang spicy kayak gini," aku Anaya. "Kalau kamu makanan favorit kamu apa Tam?" tanya Anaya dengan tiba-tiba.


Rasanya lucu, jika Tama sudah tahu sejak dulu malahan kalau Anaya begitu suka dengan Ramen yang merupakan salah satu makanan khas Jepang itu. Ya, yang Anaya sukai adalah Ramen khas Jepang, bukan Ramyeon dari Korea yang biasanya memiliki cita rasa yang begitu pedas.


"Aku suka sate kambing sih ... cuma sudah lama aku enggak makan sate kambing," balas Tama.


"Lah, sama kayak Ayah ... Ayah juga suka banget olahan kambing kayak Sate Kambing dan Sate Buntel. Cuma karena faktor usia, Ayah juga sudah mengurangi banyak-banyak olahan kambing," balas Anaya.


Tama sedikit tersenyum saat Anaya bercerita. "Ya, kalau sudah berumur harus lebih menjaga makanan supaya bisa sehat dan berumur panjang. Sebab, tidak memungkiri bahwa kita bisa sehat dan berumur panjang salah satunya adalah karena makanan," balas Tama.


Itulah kenapa Anaya memang lebih cerewet pada Ayahnya karena memang hanya Ayahnya yang dia miliki. Anaya juga ingin Ayahnya bisa selalu sehat dan bisa menemaninya. Lagipula, menjaga makanan juga tidak ada salahnya.


"Benar Ay ... kalau bisa sejak muda gini harus sudah menjaga makanan," balas Tama.


Mendengar apa yang disampaikan Tama, Anaya pun tertawa. "Benar banget sih ... harusnya yah. Aku yang masih muda, malahan nunggu dijatuhin talak. Ironis banget yah," balas Anaya.


"Sementara aku masih muda, sudah menjadi duda ... mana pernah aku berpikir akan menduda di usia semuda ini," balas Tama.


Ya, bagaimana garis takdir seseorang tak pernah ada yang tahu. Sama halnya dengan Tama yang tidak pernah mengira bahwa dia akan menjadi duda di usianya yang baru 28 tahun, masih terlalu muda. Mungkin pria lain baru memutuskan menikah di usia segini, merangkai kasih dan cinta dengan istri tercinta. Akan tetapi, Tama justru sudah menduda.

__ADS_1


"Apa yang terjadi di masa depan kita tidak pernah tahu, Tam ... kita hanya ciptaan-Nya dan hanya sekadar menjalani," balas Anaya.


Tama pun menganggukkan kepalanya, dan kembali menatap Tama, "Benar banget ... apa yang terjadi di masa depan kita tidak pernah tahu. Sama seperti kita yang dulu pernah bertemu, dan kemudian sekarang bisa kembali bertemu dan justru seolah berbagi peran untuk mengasuh Citra. Bukankah semua itu lucu?"


"Hmm, iya ... lucu. Mengingat dulu kita pernah berpacaran, dan aku yang menembakmu," balas Anaya.


Wanita itu pun tertawa. Ada kalanya Anaya menertawakan kebodohannya sendiri di masa lalu. Dia yang merasa begitu suka dengan Tama di masa lalu, dengan terkesan ceroboh langsung saja mengungkapkan perasaannya. Sungguh, Anaya seakan menertawakan sikap bodoh dan cerobohnya di masa lalu.


Tama hanya tersenyum dan sesekali melirik ke Anaya yang duduk tidak jauh darinya, hanya jarak dengan meja bundar yang ada di antara mereka.


"Ay, untuk masa depanmu, kamu ingin menikah lagi enggak? tanya Tama kemudian.


Mumpung sedang mengobrol dan membicarakan banyak hal. Kali ini, Tama menanyakan hal tersebut kepada Anaya. Tama hanya ingin apa yang hendak direncanakan oleh Anaya di masa yang akan datang.


"Menikah lagi masih jauh dalam hidupku, Tama ... apalagi Reyhan juga belum menjatuhkan talak atasku. Masih banyak trauma akan pernikahan, kehamilan, dan persalinan yang kualami," jawab Anaya dengan jujur.


Tampak kini Anaya yang mengaduk-aduk kuah Ramen di mangkuknya, menatap pilu pada mie dan kuah yang berwarna merah itu. "Ayah sebenarnya menginginkanku untuk move on. Hanya saja, tidak semudah itu menyembuhkan luka. Masih banyak yang harus kuselesaikan. Masih banyak yang harus kubenahi dengan mentgal dan emosiku sendiri," jawab Anaya lagi dengan jujur.


Bagi mereka yang pernah gagal dan ingin menjalani sesuatu yang sama walau dalam waktu yang berbeda memang terasa berat. Masih banyak yang harus dibenahi untuk sekarang ini. Anaya pun juga merasa bahwa hubungannya dengan Reyhan harus benar-benar berakhir terlebih dahulu. Selain itu, Anaya pun juga merasa diriku ada rasa trauma untuk hamil dan melahirkan. Hamil seorang diri, melahirkan pun juga seorang diri, dan juga ada rasa kehilangan. Membuat Anaya seakan tak mampu untuk memulai sebuah pernikahan lagi.


"Benar Ay ... bagi kita yang pernah gagal dan kehilangan, ada luka sendiri di dalam hati yang harus disembuhkan. Tidak mudah untuk memulai sesuatu yang baru," balas Tama.


Itu jugalah yang dirasakan oleh Tama. Ada luka dan mungkin trauma yang masih tersisa di hati. Sehingga tidak mudah untuk memulai sesuatu yang baru. Ada luka, ada trauma, tetapi setidaknya mendampakan ada cinta yang mungkin saja bisa membasuh semua luka dan trauma yang tersisa.

__ADS_1


__ADS_2