
Akhir pekan pun tiba, kali ini Ayah Tendean benar-benar datang ke rumah Anaya lebih pagi. Pria paruh baya itu ingin mengajak Citra untuk jalan-jalan bersamanya. Sehingga, Ayah Tendean sudah bersiap untuk menjemput Citra.
"Anaya ... Tama," panggil Ayah Tendean sembari mengetuk pintu rumah Anaya dan juga Tama.
Mendengar ada suara dari Ayah Tendean, Tama pun bergegas menuruni anak tangga dan membukakan pintu untuk Ayahnya itu.
"Pagi Ayah ... silakan masuk," ucap Tama.
Ayah Tendean pun memasuki rumah itu dengan tersenyum, dia merasa lucu saja melihat Tama yang masih menyampirkan handuk bayi di bahunya. Terlihat jelas bagaimana keduanya berkolaborasi untuk bisa mengasuh dan mengurus kedua bayi kembarnya.
"Baru sibuk yah?" tanya Ayah Tendean.
"Tidak sih Ayah ... baru mandiin Si Kembar. Ayah duduk dulu, nanti Tama nyusul yah. Kasihan Anaya, jadi Tama bantuin dulu," balasnya.
"Santai saja ... tidak usah terburu-buru," balas Ayah Tendean.
Dalam hatinya Ayah Tendean tersenyum karena menantunya itu dapat diandalkan, bahkan mau membantu Anaya untuk bersibuk ria memandikan kedua bayinya di pagi hari. Melihat Tama, seolah Ayah Tendean bercermin tentang dirinya sendiri puluhan tahun yang lalu. Dia juga mengasuh Anaya, pagi-pagi memakai kalung handuk bayi adalah hal yang biasa untuk Ayah Tendean.
Kurang lebih sepuluh menit berlalu, kini Tama turun dari kamarnya dengan menggendong kedua bayinya, dan juga Citra yang berjalan di belakang Papanya. Citra yang melihat ada Opanya, tampak begitu senang.
"Opa ... Opa Dokter," sapanya dengan berlari ke arah Opanya.
"Hei, cucunya Opa ... sudah mandi belum?" tanya Ayah Tendean sambil memangku Citra di sana.
"Sudah mandi dong, Opa ... dimandiin Papa. Mama mandiin Twins," balasnya.
"Wah, rajin ya cucunya Opa, pagi-pagi begini sudah mandi, dan juga sudah wangi," balas Opa Tendean.
"Kata Mama, kalau pagi itu harus mandi, Opa ... bersih-bersih badan," balas Citra dengan begitu pintarnya.
Sebenarnya itu hanya pelajaran yang selalu Anaya sampaikan dengan menyanyikan lagu yang berjudul Bangun Tidur. Membangun kebiasaan baik kepada anak bisa dilakukan dengan menyanyikan lagu anak-anak. Perlahan-lahan, Citra juga semakin mengerti bahwa ketika bangun pagi, maka lebih baik adalah mandi terlebih dahulu.
__ADS_1
"Rajin yah ... dibiasakan yah ... hari ini, Opa ajak jalan-jalan mau enggak?" tanya Ayah Tendean.
"Kemana Opa?" tanya Citra dengan begitu girang.
"Ke Ragunan, Kebun Binatang, lihat satwa di sana. Mau tidak?" tanya Ayah Tendean lagi.
"Mau," balas Citra.
Tidak berselang lama, Anaya dengan hati-hati turun dari kamarnya menapaki anak tangga. Terlihat Ayah Tendean yang masih memangku Citra di ruang tamu.
"Jadi ya Yah?" tanya Anaya.
"Iya, jadi ... Ayah juga ingin nostalgia seolah ngasuh kamu waktu kecil dulu," balas Ayah Tendean.
"Sarapan dulu ya Ayah ... Anaya tadi sudah membuat Nasi Goreng. Kita sarapan dulu ya Yah," ajak Anaya.
Akhirnya Ayah Tendean turut sarapan dulu dan juga melihat lebih dekat kehidupan rumah tangga Anaya bersama dengan Tama. Juga Citra yang bisa beradaptasi dengan baik sebagai putri sulung di rumahnya.
Anaya dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak Ayah ... tidak repot kok. Justru bahagia bisa mengurus dapur dan anak-anak. Kak Citra juga kooperatif kok, selain itu Mas Tama juga banyak bantuin. Nanti kalau Anaya benar-benar butuh pembantu, juga pasti Anaya akan minta ke Mas Tama. Iya kan Mas," balasnya.
"Iya, tentu Sayang ... bilang saja. Intinya dijalani, jangan merasa kepayahan sendiri," balas Tama.
Kurang lebih setengah jam berlalu, dan kemudian Ayah Tendean mengajak Citra untuk berangkat ke Ragunan. Di rumah Anaya dan Tama sedikit bisa bersantai dan hanya mengurus Si Kembar saja.
Sementara Ayah Tendean tampak asyik bersama dengan Citra. Outing Day dengan cucunya. Ayah Tendean benar-benar bernostalgia dengan Anaya sewaktu kecil karena Citra ini juga begitu ceriwis dan juga kritis, mirip sekali dengan Anaya.
"Kebun binatangnya pagi sudah buka ya Opa?" tanya Citra.
"Sudah ... biar tidak panas, Citra. Nanti jadinya siang sudah bisa pulang," balas Ayah Tendean. "Sebentar kita beli tiket masuk dulu yah," lanjut Ayah Tendean.
Ayah Tendean membeli dua tiket masuk, kemudian menggandeng tangan Citra dan mengajaknya melihat kebun binatang Ragunan yang belum terlalu ramai karena baru saja dibuka di jam 09.00 pagi. Justru Citra bisa puas melihat aneka satwa tanpa berdesak-desakan.
__ADS_1
"Citra pengen lihat apa?" tanya Ayah Tendean.
"Gajah dong Opa ... yang belalainya panjang dan telinganya lebar," jelas Citra yang juga sudah bisa mendeskripsikan binatang besar bernama gajah itu.
"Yuk, kita cari kandangnya gajah yah ... Citra suka gajah?" tanya Ayah Tendean.
"Pengen lihat segede apa Opa," balasnya.
Ayah Tendean pun tertawa dan terus menggandeng tangan Citra, mencari di mana tempat gajah berada. Hingga akhirnya, mereka tiba di kandang Gajah Sumatra. Terlihat Citra tampak bingung melihat hewan yang benar-benar besar.
"Tuh ... ini gajahnya. Besar kan?" tanya Ayah Tendean.
"Iya, benar ya Opa ... belalainya panjang, telinganya lebar. Di buku itu Opa, belalainya gajah bisa menyemburkan air loh," cerita Citra dengan begitu excited.
"Iya, benar Kak Citra. Usai ini mau lihat apa lagi?" tanya Ayah Tendean.
"Lihat burung Nuri ada enggak Opa?" tanyanya.
"Kita cari yah."
Mereka keduanya melihat peta taman satwa Ragunan dan mencari di bagian Unggas. Mencari burung Nuri dan mungkin aneka unggas yang lain.
"Opa, burungnya cantik banget Opa."
Citra berteriak dan berlari terlebih dahulu melihat burung yang mengepakkan sayapnya dengan begitu indah. Bulu-bulu berwarna hijau yang seolah ada matanya di sana.
"Citra ... tunggu Citra, jangan lari. Tunggu Opa," teriak Ayah Tendean.
Sampai akhirnya Citra yang terlalu bersemangat melihat burung yang cantik itu nyaris tersandung. Sebelum kaki Citra terantuk akar pohon yang besar, ada dua tangan yang memegangi tubuh Citra.
"Hati-hati Nak," suara wanita paruh baya yang lembut dan menahan tubuh Citra untuk tidak jatuh.
__ADS_1
Siapakah dia?