
Selang dua hari, rupanya Anaya bersiap untuk melakukan prosedur dilation & curettage (Dilatasi dan Kuret) untuk membersihkan embrio yang tidak berkembang di dalam rahimnya. Tentu juga, Tama juga sudah mengambil cuti untuk bisa merawat dan menemani Anaya sampai proses selesai nanti.
"Ke Rumah Sakit sekarang?" tanya Tama kepada Anaya.
"Boleh, Mas ... cuma aku kangen sama Citra nanti," balasnya.
"Tidak apa-apa. Kan ada Mama Rina yang bisa bantuin kita. Cuma tiga hari saja kok," balas Tama kemudian.
Anaya pun akhirnya, mengikuti suaminya itu untuk masuk ke dalam mobil dan menuju ke Rumah Sakit. Sepanjang perjalanan Anaya tampak lebih banyak diam, mungkin juga karena sedang banyak pikiran dan mempersiapkan diri untuk melakukan kuretase yang akan dijalaninya. Selain itu, Anaya juga sudah berpuasa dari rumah. Sehingga ketika nanti dibius, prosedur dilatasi dan kuretase bisa segera dilakukan.
Begitu sudah sampai di Rumah Sakit, keduanya menemui Dokter Indri di sana. Sebagaimana janji seorang Dokter Indri yang akan menangani Anaya secara langsung. Anaya sudah berganti dengan pakaian pasien, sementara Tama diminta untuk menunggu di luar.
Kemudian Dokter meminta Anaya untuk berbaring telentang dengan posisi kaki ditekuk dan lutut didekatkan ke dada serta dilebarkan. Kemudian ada seorang Dokter lain yang memberikan obat bius total. Sementara ada pasien yang memberikan cairan infus dan antibiotik untuk mencegah terjadinya prosedur kuret.
Anaya yang dalam pengaruh obat bius, mulai merasa mengantuk hingga akhirnya tertidur. Lantas Kateter dipasang pada lubang urine untuk berjaga-jaga jika pasien buang urine selama proses kuret.
Lantas Spekulum akan dimasukkan untuk melebarkan inti sari tubuh Anaya agar tetap terbuka selama proses berlangsung. Kemudian melebarkan serviks (leher rahim) secara perlahan dengan menggunakan alat berbentuk batang dan berbahan dasar logam yang ketebalannya meningkat secara bertahap. Proses ini disebut dengan proses Businasi, dilakukan sampai serviks cukup terbuka untuk dimasukkan alat kuret.
Merasa serviks Anaya sudah terbuka, kemudian alat kuret akan dimasukkan. Tahap ini akan menimbulkan kram di daerah panggul. Karena itulah, pasien akan dibius supaya tidak merasakan kram saat kuret berlangsung.
__ADS_1
Beberapa saat setelah alat kuret dimasukkan, keluarlah jaringan endometrium. Kemudian Dokter melakukan Histeroskopi (alat berupa selang tipis berkamera ke dalam rahim untuk melihat kondisi rahim). Hal ini dilakukan Dokter karena tidak ingin terjadi adanya sisa jaringan di dalam rahim, semua yang tersisa di dalam rahim akan diangkat sekaligus.
Semuanya ini dilakukan bertahap hingga selama 20-30 menit. Prosedur kuret dan dilatasi telah selesai, Anaya masih belum sadar efek obat bius yang disuntikkan Dokter. Namun, Tama sudah diperbolehkan untuk menemani istrinya itu.
"Semua prosedur kuretase sudah selesai Pak Tama. Sementara jaringan endometirum dan jaringan lainnya yang tersisa di dalam rahim Anaya akan diperiksa ke laboratorium," jelas sang Dokter.
"Efek obat biusnya apa Dok?" tanya Tama.
"Seperti prosedur operasi pada umumnya, mual, muntah, pening, kram di sekitar panggul," jelas Dokter Indri lagi. "Sudah bisa ditemani, pasien masih harus diobservasi selama beberapa jam, jika kondisi sudah stabil, hari ini juga bisa pulang," balas Dokter Indri.
Tama kini duduk di sisi brankar Anaya. Pria itu menghela nafas dan merasa kasihan dengan istrinya. Akan tetapi, memang itu adalah prosedur yang dijalani. Semoga saja rahim Anaya benar-benar bersih dan tidak ada sisa-sisa jaringan yang tertinggal di sana.
"Apa pun yang terjadi, kamu adalah wanita yang hebat dan kuat Anaya. Aku yang lemah, tetapi aku berusaha untuk kuat mendampingi kamu. Aku yang lemah, tetapi aku selalu menguatkan hatiku dan diriku untuk bisa menguatkan kamu. Semoga setelah ini tidak ada lagi kehilangan dalam hidup kita ya Sayang. I Love U," ucap Tama dengan menggenggam tangan Anaya yang lepas dari jarum infus.
"Sudah sadar My Love?" tanya Tama dengan menatap istrinya yang sudah sadar itu.
"Iya," balas Anaya.
"Mana yang sakit?" tanya Tama lagi.
__ADS_1
Terlihat Anaya menggelengkan kepalanya, "Enggak ... cuma pusing banget dan panggulku kram, sakit," balasnya lagi.
Tama lantas membawa tangannya memberikan usapan di panggul Anaya, "Memang efek kuretase membuat panggul kram sayang. Kerasa mual dan muntah enggak?" tanya Tama lagi.
"Enggak Mas ... sakit saja dipanggul," keluhnya lagi.
Tama mencoba mengalihkan rasa sakit itu dengan mengajak Anaya berbicara dan tangannya memberikan usapan di punggung tangan Anaya, dan juga di dekat panggung.
"Kapan aku bisa pulang Mas?" tanya Anaya kepada Tama.
"Diobservasi dulu kondisi kamu, Sayang ... kata Dokter sih hari ini juga bisa pulang," balas Tama.
Mendengar bahwa hari ini pun bisa pulang, Anaya agaknya senang. Dia juga ingin pulang dan bisa bersama Citra. "Pulang hari ini saja, Mas," pintanya kemudian.
"Kamu masih sakit Sayang ... aku tidak keberatan kalau kamu istirahat di sini dulu," balas Tama kemudian.
"Istirahat di rumah aja, yah ... biar nanti malam bobok dipeluk kamu," balas Anaya lagi.
"Ya, nanti nunggu pemeriksaan Dokter. Aku khawatir kamu sakit," ucap Tama.
__ADS_1
Anaya lantas tersenyum sekilas dan menatap suaminya itu, "Tidak apa-apa, Mas ... aku sakit tetapi sekarang aku senang karena ada kamu yang menemani aku. Aku sakit dan tidak menanggungnya sendirian lagi. Ada tangan kamu yang selalu menggenggam tangan aku seperti ini. Makasih sudah menemani aku," ucap Anaya.
Itu adalah ucapan yang sungguh-sungguh dari Anaya. Dulu di kala sakit dan merasa kehilangan, Anaya menjalaninya sendiri, ada Ayahnya yang mensupport. Sekarang ada Tama yang akan selalu menemaninya. Sekadar ditemani oleh Tama saja rasanya Anaya merasa jauh lebih baik dan merasa tidak sendirian.