
Ketika akhir pekan tiba, rupanya Tama benar-benar mengajak Anaya untuk ke supermarket. Tidak tanggung-tanggung, Tama pun menjemput Anaya ke rumahnya dan meminta izin langsung kepada Dokter Tendean. Untuk membeli bahan-bahan MPASI, Tama memang merasa harus mengajak serta Anaya.
"Permisi," sapa Tama sembari mengetuk pintu rumah Anaya.
"Ya, sebentar," sahutan suara dari dalam rumah.
Tidak menunggu lama, ada Dokter Tendean sendiri yang membukakan pintu bagi Tama. Dengan cepat, Tama pun menjabat tangan pria paruh baya itu.
"Sehat Dokter?" sapa Tama dengan menundukkan sedikit badannya sebagai bentuk sikap hormat.
"Sehat, kamu apa kabar?" tanya Dokter Tendean.
"Saya juga sehat, Dokter," balas Tama dengan sedikit tersenyum kali ini.
"Citra sehat juga kan? Aya sering nyeritain Citra kalau di rumah," balas Dokter Tendean.
"Citra juga sehat, Dokter ... makin gemoy," balas Tama.
"Syukurlah, ikut senang ... mau ketemu Aya?" tanya Dokter Tendean lagi.
"Iya, Dokter ... sama saya meminta izin untuk mengajak Aya ke supermarket untuk membeli bahan-bahan MPASI," pamit Tama kali ini.
Mendengar Tama yang meminta pamit dengan sopan, Dokter Tendean pun menganggukkan kepalanya, "Iya, Aya juga sudah cerita ... kamu boleh mengajak Aya. Jika kamu yang mengajaknya, saya percaya," balas Dokter Tendean.
Biasanya para Ayah memang akan protektif kepada anak perempuannya, tetapi kali ini Dokter Tendean justru mengatakan bahwa dia percaya dengan Tama. Jika Tama yang mengajak Anaya pergi, si Ayah merasa percaya. Jadi, mungkinkah ada orang yang tidak dipercaya oleh Dokter Tendean?
"Terima kasih, Dokter ... saya akan menjaga Aya," balas Tama.
Baru beberapa saat keduanya berbicara, rupanya Anaya sudah turun dari kamarnya. Wanita yang lagi-lagi mengenakan pakaian berwarna hitam itu tampak mengurai rambutnya yang biasanya dia kuncir model ponny tail. Bahkan Anaya sudah menunjukkan wajah yang cerah siang itu.
"Tam, sudah datang yah?" tanyanya.
"Iya," jawab Tama dengan singkat.
"Ya sudah, sana buruan berangkat. Kalau bisa pulangnya jangan terlalu malam yah," balas Dokter Tendean.
"Iya, Ayah," sahut Anaya.
"Baik, Dokter ... euhm, sekarang saya mohon pamit dan saya mengajak serta Anaya ya Dokter," pamit Tama lagi.
Tampak Dokter Tendean mengantar Tama dan Anaya sampai di depan rumah. Bahkan pria paruh baya itu turut melambaikan tangan kepada putrinya.
Begitu mobil Tama melaju, tampak Tama melirik ke arah Anaya.
"Makasih sebelumnya, Ay," ucap Tama dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Iya, lagian udah izin sama Ayah juga," sahutnya.
"Berarti semisal aku ingin mengajak kamu belanja ke supermarket harus minta izin kepada Dokter Tendean yah?" tanya Tama.
"Iya dong, Ayah pasti khawatir kalau aku kemana-mana sendirian. Apalagi sejak Dokter memvonis aku terserang depresi ringan, untuk membawa mobil pun tidak diperbolehkan Ayah," balas Anaya.
Menceritakan vonis Dokter terkait depresinya membuat Anaya menghela nafas. Nafas yang berat yang seolah masih saja membuat kinerja paru-parunya belum maksimal. Hingga Ayah Tendean yang rela untuk mengantar jemput Anaya ke rumah Tama.
"Ya sudah, aku akan pamit kepada Ayah kamu," jawab Tama pada akhirnya.
Tama melirik sekilas kepada Anaya yang duduk di samping kursi kemudi. Rasanya duka masih hinggap di dalam hati Anaya. Sungguh, rasanya Tama ingin menghapus duka itu. Namun, tidak terasa mobil yang dikemudikan oleh Tama sudah tiba di salah satu supermarket yang berada di pusat Ibukota. Keduanya berjalan berdampingan menuju supermarket, Tama pun segera mengambil troli untuk menaruh barang belanjaan mereka.
"Sudah buat list-nya?" tanya Anaya kemudian.
"Sudah, aku minta tolong sama Mbak Kanaya sih. Di kasih ini ... ini bahan untuk satu minggu," balas Tama.
Anaya sedikit melihat list bahan apa saja yang perlu dibeli untuk MPASI Citra. Rupanya memang begitu banyak yang harus Tama beli mulai dari beras organik, alpukat, salmon, butter, wortel, pisang, apel, dan berbagai bahan lainnya.
"Yuk, kita cari dan beli pelan-pelan yah," ucap Anaya.
Terlihat Anaya yang berjalan di depan Tama, sementara tidak jauh di belakangnya Tama mengikuti sembari mendorong troli belanjaan. Kini, Anaya berhenti di beras organik. Wanita itu melihat berbagai merek dan kemasan untuk beras organik.
"Ini beras organiknya, tapi kelihatannya beli yang kecil dulu aja, Tama ... soalnya MPASInya juga butuhnya sedikit-sedikit, jadi kemasan kecil tidak apa-apa," ucap Anaya.
Anaya pun tersenyum, wanita itu menganggukkan kepalanya secara samar dan memilih beras organik kemasan 3 kilogram untuk Tama.
"Sebenarnya bagus atau tidak itu relatif sih, cuma aku pilih yang ini saja," ucap Anaya.
"Iya, gak apa-apa," balas Tama.
Kemudian mereka menuju ke bagian protein hewani dan kemudian mereka memilih Salmon yang akan dibeli. Kandungan Omega 3 dalam ikan Salmon sangat bagus untuk memacu perkembangan otak anak. Sehingga Tama memasukkan ikan Salmon dalam list-nya.
"Yang kecil juga saja, Ay ... daging ikan kan kalau segar lebih baik. Jadi, yang habis dalam 2-3 hari saja," asumsi Tama.
"Iya, aku tadi juga mikirnya gitu. Apalagi variasi menu itu bagus banget kan buat bayi. Jadi, memang yang beli perintilannya banyak, cuma dikit-dikit aja," sahut Anaya.
Kali ini, Anaya pun juga memilihkan ikan Salmon untuk Tama. Hingga aneka buah dan sayuran, semuanya juga pilihan Anaya. Jika orang tidak tahu status dan hubungan keduanya, sudah pasti banyak yang mengira bahwa keduanya adalah pasangan suami istri yang masih muda.
"Dari semua list ini, ada yang ketinggalan enggak Ay?" tanya Tama lagi.
Kali ini Tama memberikan handphonenya kepada Anaya, meminta Anaya memastikan bahwa tidak ada yang ketinggalan. Sehingga semuanya dibeli sekali saja, tidak perlu bolak-balik lagi. Sebab, sebagai orang yang bekerja, Tama juga tidak memiliki banyak waktu untuk berbelanja. Hanya di akhir pekan saja, bisa Tama manfaatkan.
"Justru ada yang harus kamu beli deh, Tam," ucap Anaya.
Mendengar ucapan Anaya, Tama pun mendekat, melihat apa yang harus dia beli. Lantaran tidak fokus, sampai lengan Tama bersentuhan dengan lengan Anaya.
__ADS_1
"Apa Ay?" tanya Tama.
Merasakan gesekan dari sentuhan lengan keduanya, Anaya pun menghela nafas. Wanita itu kemudian menggeser sedikit jaraknya dengan Tama. Menyadari sikap Anaya, Tama pun kembali menjauh.
"Eh, sorry, Ay ... maaf," ucapnya.
"Iya, gak apa-apa. Uhm, ini... kamu beli Virgin Coconut Oil (VCO) bagus untuk campuran MPASI sebagai lemak nabati," jawab Anaya.
"Itu yang kayak gimana, Ay ... aku enggak tahu," balas Tama.
Jawaban yang jujur dari seorang Tama. Memang berbagai hal seperti itu, Tama tidak tahu. Para pria ketika berpikir minyak kelapa, justru teringat dengan minyak goreng saja.
"Aku carikan yah," tawar Anaya kepada Tama.
"Hmm, boleh," sahut Tama.
Akhirnya mereka menuju ke bagian minyak-minyak, mencari jika saja ada Virgin Coconut Oil. Beberapa saat menanti akhirnya Anaya berhasil menemukan minyak itu.
"Ini, ketemu ... akhirnya," ucap Anaya dengan senang. Akhirnya pencariannya berakhir untuk menemukan Virgin Coconut Oil itu.
"Berhasil, makasih, Ay ... oh, iya ini, mampir ke diapers ya Ay, sapa tahu ada yang promo biar bisa beli sekalian untuk Citra," balas Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Ketika punya baby, diapers yang ada potongan harga itu yang paling dicari yah?" tanyanya.
"Iya, lumayan bisa hemat dikit," balas Tama.
Kemudian Tama dan Anaya melihat-lihat ke bagian diapers baby. Yang dia cari pun rupanya ada potongan harga dengan syarat membeli 2 pcs. Tanpa ragu, Tama pun membeli 2 pcs diapers berisi 50 itu.
Ketika Tama dan Anaya melihat aneka diapers baby dengan beragam merek itu, rupanya ada tetangga Tama yang sedang berbelanja di Supermarket itu dan menyapa Tama.
"Eh, Mas Tama ... ketemu di sini. Beli untuk si baby yah?" tanya seorang Ibu yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Tama itu.
"Iya Bu, beli untuk Citra," balas Tama dengan ramah.
"Ini Ibu Susunya Citra kan? Wah, berbelanja sama Mas Duda ya Mbak?" tanya Ibu itu dengan terkekeh.
Akan tetapi, menyadari ada salah dalam ucapannya. Si Ibu segera menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.
"Eh, maaf ... Mas Tama maksudnya," balas tetangga itu lagi.
"Iya, Bu," sahut Anaya dengan menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, duluan ya Mas Tama dan Mbaknya," balas tetangga itu.
Baik Tama dan Anaya sama-sama menganggukkan kepalanya. Namun, Tama sepenuhnya sadar image duda yang dia sandang sering kali meresahkan. Namun, bagaimana lagi. Sebab, memang dirinya masih begitu muda dan sudah menyandang predikat seorang Duda Muda.
__ADS_1