Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Api Unggun


__ADS_3

Menjelang malam tiba, rupanya di dekat pantai, dua pasangan muda yaitu Tama dan Anaya, serta Radit dan Khaira kini menikmati waktu dengan membuat api unggun. Sementara, anak-anak yang masih kecil memilih bermain dengan para Eyang dan Oma serta Opa. Lagipula, memang keluarga Mama Rina dan Ayah Tendean bukan keluarga yang kaku, tetapi mereka ada kalanya memberi waktu kepada yang lebih muda untuk menikmati liburan.


"Seru yah, baru kali ini membuat api unggun di pantai," ucap Tama dengan membuat nyala api sedikit lebih besar.


Angin malam di pesisir pantai, seolah memang menjadi panorama yang baru.


"Kalian pernah api unggunan sebelumnya?" tanya Tama kepada Radit dan Khaira.


"Belum pernah sih ... kalau buat barbekue-an sih pernah. Cuma kan memakai bara yah. Bukan memakai kayu bakar seperti ini," balas Radit.


Kemudian Anaya pun bertanya kepada pasangan yang duduk di hadapannya itu. "Kak Khaira dan suami, menikah sudah berapa lama?" tanya Anaya.


"Berapa lama Mas?" tanya Khaira kepada suaminya itu.


Tampak keduanya tersenyum dan kemudian ada Radit yang memberikan jawaban kepada Anaya. "Hampir sembilan tahun. Sekarang Arsyilla saja hampir tujuh tahun, jadi pernikahan kami sudah sembilan tahun," jawab Radit.


Anaya tampak mengernyitkan keningnya. Benarkah pasangan itu sudah menikah sembilan tahun lamanya? Itu berarti memang mereka akan menginjak satu dekade pertama dari pernikahannya.


"Nikah muda?" tanya Anaya lagi.


"Iya, aku masih 22 tahun waktu itu ... sudah menikah," balas Khaira.


Tama yang tentunya tahu bagaimana Khaira dulu, turut menyahut. "Semester terakhir waktu kuliah S1 ya Khai, kalau tidak salah?" tanya Tama.


"Iya, benar ... semester terakhir waktu skripsi menikah," balas Khaira.


Mungkin jika mengingat masa lalu, rasanya begitu konyol. Akan tetapi, Khaira pun tidak kecewa dengan keputusannya untuk menikah muda. Asalkan bisa mendapatkan cinta seutuhnya dari suaminya itu.


"Masih muda banget ... pantas Arsyilla sudah besar, Mamanya masih muda," balas Anaya lagi.

__ADS_1


Khaira pun tertawa. "Aku sudah menua, Anaya ... sudah berkepala tiga," jawabnya dengan terkekeh.


"Belum lah Kak, seusia Mas Tama kan? Masih muda itu," balas Anaya kemudian.


"Sudah merasa tua," balas Radit dengan melirik istrinya itu.


"Kan fakta, Mas ... pertambahan usia itu kan pasti. Jadinya ya, memang aku sudah tua. Sudah 9 tahun, aku habiskan bersamamu," balas Khaira.


"Sweet sih kalian ... pernah berantem enggak?" tanya Anaya lagi.


Kali ini sebelum menjawab Radit dan Khaira saling pandang, kemudian Radit yang akan menjawabnya. "Pernahlah ... bumbu rumah tangga itu kan banyak. Tidak hanya yang manis-manis. Akan tetapi, Tuhan terkadang memberikan rasa asin, pedas, bahkan pahit. Yang penting kalau berantem atau marah juga tidak perlu terlalu lama. Cepat-cepat melakukan rekonsiliasi," balas Radit.


"Iya, kalau marah sehari saja. Gak betah kalau terlalu lama diem, sudah kangen," balas Khaira.


Anaya yang mendengarkannya pun tertawa. "Harusnya gitu yah ... cuma kadang kan masih sebel dan masih jengkel," balasnya.


"Emangnya kalian sering berantem?" tanya Khaira kemudian.


"Mungkin karena Tama lebih dewasa dari kamu, Anaya ... biasanya begitu. Soalnya Mas Radit juga ngemong banget," balas Khaira.


"Mungkin ya Kak," balas Anaya.


Tama pun tersenyum di sana. "Sebenarnya sih enggak juga ... aku juga banyak ademnya karena Anaya kok. Jadi, sama-sama saling melengkapi. Saling menghargai satu sama lain, memberi waktu untuk satu sama lain, dan ketika anak-anak sudah tidur, waktunya untuk quality time berdua," balas Tama.


"Sama kayak kita ya Sayang," balas Radit.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya Mas ... sejak dulu yah, kalau Syilla dan Shaka sudah bobok, giliran me time Mama dan Papanya," balas Khaira.


Angin malam di tepi pantai kian sepoi-sepoi. Namun, api unggun yang menyala di tengah-tengah dua pasangan itu justru merasa hangat, dan juga obrolan hangat yang terus mengalir tanpa hambatan.

__ADS_1


"Cinta pertamanya Kak Khaira siapa?" tanya Anaya dengan spontanitas kepada Khaira.


"Mas Radit," balas Khaira dengan cepat.


"Seriusan?" tanya Anaya yang merasa terkejut.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Benar ... sejak aku berusia kecil, kami dulu sama-sama tinggal di Jogja. Teman bermain, akhirnya dijodohkan Ayah dan Bunda. Ya sudah, akhirnya menikah sekian puluh tahun setelahnya. Jatuh cinta lagi," balas Khaira.


Itu adalah kisahnya yang jujur. Bahwa dia suka dengan Radit, sejak dia masih kecil. Ya, dulu dia terbiasa memanggil suaminya itu dengan nama Mas Adit. Sementara Radit kecil akan suka memanggilnya Aira.


"Gemes banget yah ... kok bisa," balas Anaya.


"Ya, bisa ... mungkin memang sudah jodohnya, jadinya ya seperti ini adanya," balas Khaira.


Anaya kemudian melirik ke suaminya. "Kalau cinta pertamanya Mas Tama sih gak usah dibahas yah ... daripada nanti ada perang dingin," balas Anaya dengan tertawa.


Radit dan Tama sama-sama tertawa aneh dan menganggukkan kepalanya. "Emangnya kamu tahu?" tanya Radit kepada Anaya.


"Iya, tahu ... Mas Tama sudah cerita semuanya," balas Anaya dengan terkekeh geli.


"Masa lalu, Yang ... cinta pertama bukan berarti cinta yang terakhir. Yang pasti kamulah pendamping hidupku dan penyempurna diriku," balas Tama.


Radit pun mengangkat telapak tangannya ke udara dan kemudian mengajak Tama untuk tos bersama. "Tos lah!"


Akhirnya dua pria itu melakukan tos dengan telapak tangannya. Rasanya lucu. Namun, Radit setuju dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Tama.


"Cinta pertama dan berakhir menjadi cinta terakhir itu anugerah. Namun, cinta terakhir itu lebih bernilai karena dialah sosok yang tepat dan mendampingi hidup kita sampai akhir masa," balas Radit.


"Setuju!"

__ADS_1


Anaya, Tama, dan Khaira pun sepakat setuju untuk apa yang baru saja diucapkan oleh Radit. Mungkin orang pertama yang membuat hati kita berbunga-bunga bukan yang tepat, hingga satu masa sang Khalik akan mempertemukan kita dengan pasangan yang sempurna, separuh diri kita, itulah cinta terakhir kita.


__ADS_2