
Tanpa sepengetahuan Tama, rupanya akhir pekan ini Mama Rina dan Papa Budi harus menghadiri pesta pernikahan dari kolega Papa Budi di Bogor, Jawa Barat. Menjelang berangkat barulah Mama Rina berpamitan kepada Tama mengenai acara di Bogor yang memang mendadak itu.
"Tama, hari ini Mama dan Papa akan ke Bogor yah. Ada temannya Papa kamu yang anaknya menikah. Jadi, Mama mendampingi Papa ke sana," ucap Mama Rina.
"Sampai jam berapa Ma?" tanya Tama.
"Tergantung jalanan macet atau tidak. Kalau tidak macet, palingan sore atau malam, Mama dan Papa sudah pulang," jawab Mama Rina.
Setelah itu, Mama Rina berjalan mendekat ke Anaya yang sedang melihat siaran televisi di ruang keluarga. Lantaran sudah dianggap sebagai keluarga sendiri, Mama Rina juga berpamitan dengan Anaya.
"An, Mama dan Papa berangkat ke Bogor dulu yah. Sudah ada sayur dan lauk di meja makan, nanti bisa kamu makan bersama Tama. Hati-hati di rumah ya Anaya, kalau butuh apa-apa bilang sama Tama saja," pamit Mama Rina.
"Oh, iya Ma … hati-hati dalam perjalanan ya Ma," balas Anaya.
Anaya segera berdiri dan mengantar Mama Rina sampai ke depan pintu. Bahkan Anaya juga melambaikan tangannya kepada Mama Rina dan Papa Budi yang mulai memasuki mobil.
Kini, di rumah itu hanya ada Tama, Anaya, dan juga si baby Citra. Anaya dengan Citra kembali ke ruang keluarga sembari melihat siaran televisi sementara Tama memilih untuk duduk di serambi rumahnya, menatap berbagai aglaonema yang ditanam Mama Rina dengan media pot ini. Sungguh, hanya dengan Anaya berada di rumah ini membuat Tama merasa canggung. Ingin keluar dari rumah atau sekadar di kamar juga canggung. Ada rasa seorang Ayah yang justru tega meninggalkan bayinya untuk tidur. Tama pun tidak sampai hati jadinya.
Sampai pada akhirnya, Tama memilih hendak ke mini market yang berada di dekat rumahnya. Jaraknya hanya kira-kira lima rumah saja dari rumahnya. Mungkin membeli camilan dan minuman segar akan baik untuknya.
"Ay, aku ke mini market depan dulu yah … beli camilan. Kamu ada yang mau nitip enggak?" tanya Tama kepada Anaya.
"Boleh, nitip es cokelat saja kalau ada. Sebentar aku ambilkan uangnya," balas Anaya.
Wanita itu berniat mengambil sling bag miliknya dan memberikan uang untuk Tama. Akan tetapi, dengan cepat Tama menolaknya.
"Enggak perlu, Ay ... ya udah, aku ke minimarket dulu yah. Nitip Citra," balas Tama.
Dengan langkah gontai, Tama pun berjalan kaki menuju minimarket yang berada tidak jauh dari rumahnya. Sekadar membeli minuman dan camilan, dan sebenarnya dia juga merasa canggung harus berduaan dengan Anaya. Seolah Tama kehilangan kata-kata untuk bisa mengajak Anaya mengobrol. Sehingga, keluar dari rumah dipikirnya lebih baik.
Setelahnya, Tama di mini market mulai membelikan minuman pesanan Anaya, kemudian dia membeli beberapa camilan, dan hasrat kebapakannya pun muncul, pria itu melihat ke bagian perlengkapan baby, dan mengecek mungkin saja harga diapers sedang promo sehingga bisa sekaligus membelikan untuk Citra.
"Wah, lumayan nih ada potongan," gumamnya dengan sedikit tersenyum melihat harga diapers yang sedang promo.
__ADS_1
Setelah membeli semua yang dia dapatkan, Tama kembali ke rumah dengan menenteng kantong plastik. "Ini Ay, minuman pesanan kamu," ucapnya menyerahkan es cokelat itu.
"Wah, makasih, Tam ... haus banget. Cuacanya terik begini," ucap Anaya dengan tangannya terulur menerima segelas es cokelat dari Tama.
"Iya, sama-sama. Nih, ada makanan ringan, bisa buat camilan," ucap Tama dengan menyodorkan kantong plastik warna putih itu kepada Anaya.
Wanita itu sedikit tersenyum, melihat ada salah satu snack favoritnya. Sehingga Anaya pun segera mengambil snack itu.
"Aku ambil yang ini saja yah, aku suka yang ini," ucap Anaya.
"Kamu ambil semuanya juga boleh," balas Tama.
Wanita itu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya perlahan, "Satu ini saja dulu, makasih ya Tam," balasnya lagi.
"Iya, ya sudah ... Citra biar ikut aku dulu. Kamu istirahat saja," balas Tama.
Tama pun menemani Citra yang sedang berbaring dan bermain dengan mainan khusus bayi. Tama duduk di samping Citra, dan menatap wajah mungil bayinya yang cantik itu.
"Citra main apa? Main kerincingan ya Nak ... nanti kalau Papa gajian, Papa belikan mainan lagi ya buat Citra," ucap Tama.
Anaya yang duduk tidak jauh dari Tama pun turut mendengarkan ucapan Tama, diam-diam wanita itu tersenyum dalam hati.
"Pria kalau sudah menjadi Ayah itu benar-benar berubah. Kayak Tama yang dulu dingin dan cuek, sama Citra bisa berbicara banyak hal, bahkan dia mengurus anak," gumamnya.
Beberapa saat lamanya Tama menemani Citra bermain, tetapi tidak lama kemudian, si kecil Citra tampak menangis mungkin sudah mengantuk. Sehingga Tama mencoba menggendong putrinya itu dan menimangnya dengan lembut.
Melihat Citra yang tiba-tiba menangis, Anaya segera menaruh gelas es cokelat miliknya dan kemudian mencuci tangannya terlebih dahulu karena dia habis makan camilan. Setelahnya, Anaya pun mendatangi Tama dan Citra.
"Sini Citra ikut Onty yuk ... mau ***** ya Cantik? Nangisnya sampai gitu banget sih, yuk ... minum dulu Citra," ucap Anaya.
Berada di dalam gendongan Anaya, rupanya Citra pun berhenti menangis. Sehingga lagi-lagi Anaya tersenyum.
"Kamu kangen Onty yah? Onty cuma di sini Sayang ... tadi makan dan minum dulu sebentar," ucapnya.
__ADS_1
Tama yang berdiri di hadapan Anaya mendadak salah tingkah dan bingung juga karena bayinya yang semula menangis, kini sudah diam. Dalam hatinya, Tama menebak bahwa mungkinkan Citra sudah terbiasa dengan Anaya. Namun, semua tentang Anaya tidak Tama ketahui. Bahkan di rumahnya, Anaya hanya tinggal bersama Dokter Tendean, Ayahnya saja.
"Ay, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Tama tiba-tiba.
"Hmm, tanya apa?" sahut Anaya yang matanya sekilas bertatapan dengan Tama.
"Euhm, begini ... euhm."
Sungguh lidah Tama menjadi kelu, seakan untuk berbicara dengan Anaya dan bertanya sesuatu yang sudah dia susun di otaknya saja, Tama seolah kehilangan kata-kata.
"Tanya apa?" tanya Anaya lagi.
Tama menghela nafas, menatap wajah Anaya dan berusaha untuk bertanya lagi.
"Euhm, itu ...."
Lagi-lagi Tama dibuat gelagapan karenanya. Antara berani dan tidak berani. Sungguh, Tama sampai menundukkan wajahnya karena pertanyaannya selalu tertahan.
Mengamati gesture tubuh Tama, Anaya pun tertawa, "Papa kamu lucu ya Citra, mau bertanya enggak jadi-jadi. Padahal tanya ya tinggal tanya loh," sahut Anaya dengan masih menggendong Citra.
"Lain kali saja, maaf yah," balas Tama.
Kali ini memang lebih baik Tama mengurungkan niatnya. Sebab, dia belum memiliki keberanian untuk bertanya yang sifatnya lebih privasi.
"Tanya sekarang enggak apa-apa kok," sahut Anaya itu.
"Tapi boleh kamu jawab atau tidak," balas Tama. Tama menghela nafas sepenuh dada, "Begini ... di mana ...."
"Permisi!"
Belum sempat pertanyaan Tama terucap, sudah ada orang yang datang ke rumah dan meneriakkan kata permisi. Tama memejamkan matanya sesaat kemudian menatap wajah Anaya sekilas.
"Lain kali saja," balas Tama.
__ADS_1
"Permisi!"
Lagi-lagi teriakan permisi di depan rumah yang kali ini lebih keras. Sehingga membuat Tama harus segera melihat ke depan siapa yang datang bertamu ke rumahnya.