
Sementara itu, Anaya dan Tama usai melakukan survei sekolah dengan Citra. Sekarang memilih mampir sebentar ke kedai Burger itu juga karena Citra ingin memakan Burger. Sehingga Tama pun mengiyakan permintaan Citra.
"Citra mau makan di restorannya boleh enggak Ma?" tanyanya kepada sang Mama.
Anaya tampak menatap Citra. Jujur saja, kali pertama menitipkan Charel dan Charla ke Ayah dan Bundanya, Anaya merasa sedikit khawatir. Jika yang dititipi Mama Rina. Sudah pasti Mama Rina bisa menghandle si kembar bersamaan. Akan tetapi, sekarang Bunda Dianti bisakah untuk mengasuh Charel dan Charla, Anaya belum terlalu yakin.
"Dibawa pulang saja, Kak Citra ... takutnya adik-adik nangis. Kan baru kali ini Charel dan Charla dititipkan ke rumah Oma dan Opa," balasnya.
"Ya sudah, tapi lain kali Citra mau makan Burger di sini ya Ma," balas Citra.
Anaya pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Citra. "Tentu Sayang ... lain kali yah, kita makan Burger di sini bersama-sama. Citra mau pesan Burger apa?" tanya Mama Anaya.
"Pesannya di mana Ma? Di dalam mobil yah?" tanya Citra lagi.
Kali ini Mama Anaya menganggukkan kepalanya lagi. "Iya, pakai layanan Drive Thru saja Kak Citra. Tidak usah masuk ke dalam restorannya. Nanti dilayani dari dalam mobil," jawab Mama Anaya.
Tampak Citra mengangguk-anggukkan kepalanya. Baru paham dengan penjelasan Mamanya perihal Drive Thru itu. Kemudian Papa Tama memesankan untuk Citra.
"Mau yang mana Kak Citra?"
"Chesse Burger, Pa ... yang dapat mainan itu yah. Happy," balasnya.
Tama pun memesankan sesuai request untuk Citra. Kemudian di area Fast Food itu, Tama juga memesan di outlet lainnya, memesan satu dozen donut untuk oleh-oleh mertuanya. Anaya pun tersenyum di sana.
"Menantu idaman banget loh ... pulang bawain oleh-oleh buat mertua," balasnya.
__ADS_1
"Harus dong, Sayang ... nanti kalau kita sudah tua, sapa tahu dapat oleh-oleh dari menantu. Gantian kan. Walau ya tidak berharap. Kayak gini kan tanda kasih sayang dari anak dan menantu ke orang tuanya," balas Tama.
Mendengar apa yang baru saja Tama ucapkan. Anaya pun tertawa, "Anak masih kecil-kecil, Papa. Biar sekolah dulu yang tinggi, yang pintar. Jadi anak yang membahagiakan orang tua," balasnya.
"Amin ... semoga Citra, Charel, dan Charla nanti dapat menggapai mimpi dan cita-cita mereka. Membanggakan Mama dan Papanya," balas Tama.
Merasa sudah membelikan Burger untuk Citra, dan membeli Donat untuk oleh-oleh Bunda Dianti dan Ayah Tendean. Sekarang, Tama melajukan mobilnya menuju kediamannya mertuanya. Begitu tiba di rumah, mereka pun segera keluar dari mobil dan memasuki kediaman mertuanya.
"Oma dan Opa," ucap Citra sembari memasuki rumah Oma dan Opanya.
"Wah, cucunya Opa sudah datang." Tampak Opa Tendean yang membukakan pintu untuk Citra. Sekarang Opa Tendean sedang menggendong Charla, rupanya di belakangnya menyusul Oma Dianti yang menggendong Charel. Keduanya menyambut kedatang Citra bersama kedua orang tuanya.
"Adik-adik nangis enggak Opa?" tanya Citra.
"Enggak dong ... ya, nangis sebentar itu wajar. Oma dan Opa bisa kok menenangkan Charel dan Charla," balasnya.
"Sudah dapat sekolahnya?" tanya Ayah Tendean.
"Sudah Opa ... oh, iya ... Oma, nanti Citra satu sekolah loh sama Arshaka. Tadi ketemu di sana," cerita Citra kepada Oma Dianti.
Tampak Oma Dianti pun merasa terkejut. Tidak mengira bahwa nanti Citra akan satu sekolah dengan Arshaka. Hanya saja, menurut Oma Dianti itu adalah hal yang baik karena setidaknya ada satu yang dikenal Citra sebagai teman.
"Wah, iya ... ketemu Shaka yah? Shaka juga ke sekolah?" tanya Oma Dianti.
Citra pun menganggukkan kepalanya. "Benar Oma .. tadi ketemu sama Tante Khaira," jawab Citra.
__ADS_1
"Benar Bunda, tadi ketemu Kak Khaira yang mendaftarkan Arshaka sekolah di sana. Rupanya dulu, Arsyilla juga sekolah di situ, jadi Arshaka juga dimasukkan ke sana," ucap Anaya yang bercerita kepada Bundanya.
"Bintang Bangsa yah?" tanya Bunda Dianti.
"Iya Bunda," jawab Tama sekarang.
"Oh, benar ... dulu Syilla juga sekolah di sana," jawab Bunda Dianti.
Tidak lupa Citra menyerahkan donat untuk Oma dan Opanya. "Oma dan Opa, oleh-oleh dari Papa," ucap Citra.
"Lah, kalian ini repot-repot. Padahal tidak usah membelikan kami oleh-oleh. Ayah dan Bunda itu senang bisa mengasuh cucu di rumah. Toh, kami juga tua, waktunya mengasuh cucu," balas Bunda Dianti.
Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya. "Benar. Apalagi kalau Ayah pensiun, ya menghabiskan waktu dengan istri, anak, dan cucu," balasnya.
Anaya pun tertawa. "Pensiunnya Dokter kan usia 60 tahun, Ayah ... selain itu Ayah bisa buka praktik sendiri. Masih bisa melayani masyarakat sebagaimana cerita Ayah dulu bahwa dalam hidup Ayah ada ruangan yang diberikan untuk mengabdikan diri kepada masyarakat," ucap Anaya yang masih mengingat cerita Ayahnya dulu.
"Kamu masih ingat yah Aya?" balas Ayah Tendean.
"Selalu ingat dengan semua yang Ayah ucapkan dan impian Ayah. Namun, sekarang Anaya lebih senang. Di hari-hari Ayah sudah ada Bunda. Teman yang mendampingi Ayah," balas Anaya.
"Yang disampaikan Anaya ada benarnya, Ayah ... mau membuka praktik di rumah juga boleh. Mengisi hari pensiun nanti," ucap Bunda Dianti.
Tampak Ayah Tendean tertawa. "Nanti dipikirkan nanti. Sekarang bisa mengasuh cucu-cucu Opa sudah seneng. Sekarang kamu kalau mau pergi sama Tama, bisa Anaya. Ayah dan Bunda bisa kamu percaya untuk mengasuh Anak-anak dan pastinya mereka aman kok," ucap Ayah Tendean.
"Sudah terbiasa ngasuh bayi soalnya kan Anaya ... dulu Ayah kamu yang mengasuh kamu kan?" tanya Bunda Dianti dengan terkekeh geli.
__ADS_1
Anaya pun menganggukkan kepalanya. "Benar Bunda. Dulu diasuh sendiri sama Ayah. Ya, walau ada Babysitter juga. Soalnya Ayah kan bekerja juga. Cuma, ya tidak apa-apa. Ayah ada satu di antara banyak Ayah hebat di dunia yang bisa menjalankan peran sebagai ayah dan sebagai Bunda sekaligus."
Mengatakan semua itu, Anaya rasanya sangat bangga. Ya, baginya Ayahnya adalah ayah terhebat di dunia. Ayah yang bisa menjadi bunda sekaligus untuknya. Di masa-masa terpuruknya, untunglah dia memilih Ayah Tendean. Jika tidak, sudah pasti Anaya tidak akan bisa bangkit.