
Tidak terasa waktu satu bulan sudah berlalu, dan sekarang kesibukan Anaya bertambah yaitu menyelesaikan Thesisnya. Kali ini Anaya bersama Tama dan juga Bunda Dianti dengan Ayah Tendean mengunjungi Panti Asuhan Kasih Bunda tujuannya adalah mengenal Metode Montessori kepada pengajar yang ada di sana, dan juga menstimulasikan metode pengajaran ini kepada anak-anak yang ada di sana.
"Yang kamu butuhkan sudah semua Sayang?" tanya Tama kepada istrinya itu.
"Sudah Mas ... sekalian memberi pelatihan ke pengajar yang ada di sana. Semoga saja bisa diterima ya Mas," balas Anaya.
Tama pun menganggukkan kepalanya, "Semangat Sayang ... aku mensupport kamu saja. Sekalian nanti aku dokumentasikan. Jadi kalau sidang Thesis, dibuktikan bukti penelitian, bisa kamu sertakan," ucap Tama.
Anaya tersenyum di sana, "Iya Mas Suami ... makasih ya sudah ditemani."
Setibanya di sana, Anaya mulai memberikan pembekalan untuk empat pengajar anak usia sekolah dini di Panti Asuhan. Itu juga didirikan PAUD di panti asuhan tersebut. Sehingga momen ini dimanfaatkan Anaya untuk sekaligus memberikan pelatihan. Untuk para pengajar di sana juga kooperatif sehingga Anaya bisa menyampaikan beberapa hal mengenai metode Montessori.
Seperti yang disinggung sebelumnya bahwa metodi ini memiliki tujuan agar anak-anak mampu meraih potensi dalam hidupnya. Pilihan pembelajaran yang anak-anak pilih sudah dirancang berdasarkan rentang usia yang sesuai. Selain itu metode Montessori bisa diterapkan di sekolah dan juga di rumah.
Ada lima prinsip dalam pembelajaran Montessori. Yang pertama adalah pembelajaran eksperial yang menekankan pada pengalaman belajar. Kedua, Guru atau orang tua menyediakan alat untuk belajar. Dalam prinsip ini dibutuhkan alat untuk belajar, sehingga pembelajaran tidak berpatok pada buku teks. Ketiga, Lingkungan yang Didesain secara khusus. Keempat adalah One on One Lesson di mana pembelajaran 1:1 agar anak memperoleh arahan secara maksimal. Kelima, Peace Education. Yaitu adanya nilai perdamaian kepada anak. Diharapkan anak akan memiliki kemampuan mengatasi masalahnya sendiri tanpa kekerasa dan dengan cara yang kreatif. Dalam proses belajar terdapat penekanan sosial yang mengajarkan rasa saling menghargai, saling menghormati, dan mencintai.
Dengan menerapkan metode ini anak-anak bisa memiliki pola pikir kritis, mampu berkolaborasi dan bekerja sama dalam tim, mengasah kemandirian anak, menstimulasi panca indera melalui aktivitas belajar, melatih kemampuan motorik, dan juga anak mamu mengatasi konflik yang terjadi tanpa menggunakan kekerasan.
"Bagaimana Kakak-kakak sudah jelas belum?" tanya Anaya kepada empat pengajar yang ada di sana.
"Iya, sudah jelas, Bu Anaya ... hanya saja untuk penerapannya perlu waktu yah. Selain itu pengadaan alat belajar menjadi salah satu hal yang agak berat. Mengingat sekolah ini berdiri karena donasi dari para donatur," jawab salah seorang pengajar di sana.
__ADS_1
Anaya menganggukkan kepalanya, sepenuhnya dia menyadari untuk pengadaan alat untuk menunjang metode pembelajaran memang membutuhkan alokasi dana tersendiri. Terlebih untuk sekolah yang berdiri dari donasi orang-orang yang mau mengulurkan tangannya sudah pasti tidak mudah untuk pengadaan alat belajar.
"Nanti secara berkala, saya akan berikan untuk alat belajar," ucap Anaya.
"Terima kasih Bu Anaya," balas pengajar di sana.
Kemudian ada salah seorang pengajar yang bertanya lagi kepada Anaya. "Metode ini paling cocok untuk anak dengan cara belajar seperti apa?" tanyanya.
"Sebenarnya metode ini cocok untuk semua anak karena setiap anak memiliki minat, bakat, dan potensinya masing-masing. Namun, secara khusus anak dengan gaya belajar visual, audiotori, dan kinestetik sangat cocok untuk metode ini," jawab Anaya.
"Jadi, pengajar harus tahu gaya belajar anak juga ya Bu Anaya?" tanya pengajar yang lainnya.
"Wah, ini menarik sekali. Sayangnya tidak banyak sekolah Montessori ya Bu Anaya."
"Benar, itu karena sekolah dengan basis metode Montessori biasanya mahal dan tidak bisa diterapkan di sekolah umum," jawab Anaya lagi.
Usai menjelaskan panjang lebar kepada para pengajar, Anaya memberikan angket supaya guru bisa mengamati gaya belajar anak, dan memberikan pertanyaan yang bisa dijawab. Data ini nanti yang akan Anaya proses sebagai metode penelitian di Bab 4 dari Thesisnya nanti. Pemrosesan data yang akan diproses dengan SPSS atau pengukuran Statistika yang lainnya.
Setelahnya, Anaya bergabung dengan Bunda Dianti yang sedang mendongengkan untuk anak-anak di sana. Terlihat Ayah Tendean yang juga turut berbaur dengan anak-anak yang tidak beruntung di Panti Asuhan itu.
Anaya tersenyum dan berbisik kepada Tama, "Pernikahan memang menyatukan dua orang yang berbeda kepribadian dan berbeda profesi ya Mas. Lihatlah, Ayahku bisa berkolaborasi dengan Bunda. Ketika Bunda bercerita, Ayah mengajak anak-anak untuk bisa fokus dan mendengarkan cerita dari Bunda," ucapnya.
__ADS_1
"Sama seperti kita Sayang ... aku dan kamu berbeda, tapi kita menyatu dan menjembatani semua perbedaan yang ada. Itulah namanya pernikahan, dan itu adalah wujud nyata cinta. Di mana seseorang bisa dengan sukarela, tanpa paksaan dan bisa berkolaborasi dengan pasangannya," jawab Tama.
"Setidaknya di hari tuanya, Ayah memiliki kegiatan untuk menemani Bunda ke Panti Asuhan. Meluang waktu untuk melayani anak-anak di sini," ucap Anaya lagi.
"Benar Sayang ... aku pernah mencoba, ketika kita semakin tua, justru jangan berdiam diri di rumah. Akan tetapi, harus membuat banyak kegiatan positif supaya tidak terjadi Demensia, Sayang," jawab Tama.
Demensia adalah kondisi yang ditandai dengan penurunan setidaknya dua fungsi otak, seperti hilangnya memori dan kemapuan menilai. Gejala demensia termasuk mudah lupa, kemampuan sosial terbatas, dan kemampuan berpikir sangat terganggu. Dalam bahasa sederhana, demensia disebut juga dengan pikun atau kepikunan.
"Iya Mas ... kegiatan positif yang tentunya baik. Semoga Ayahku ketika memasuki usia senja nanti tidak mengalami demensia, dan bisa beraktivitas dengan baik. Selain itu, bersama dengan Bunda Dianti, semoga saja hari-hari ayahku selalu berwarna," ucap Anaya.
Ini adalah harapan Anaya untuk Ayahnya. Jujur, di dalam hatinya dia begitu senang bisa melihat Ayahnya terlibat dalam kegiatan Bunda Dianti bersama anak-anak. Ayahnya yang biasa menghabiskan waktu libur di rumah dan melihat aneka ikan hias di akuarium, kini memiliki kegiatan yang lain.
"Aku juga senang Sayang ... gimana, udah semua yang buat Thesis?" tanya Tama.
"Iya, sudah ... begini Mas. Ini hanya komitmenku saja, aku ingin membantu secara berkala untuk pengadaan alat belajar di sini. Boleh tidak?" tanya Anaya kepada suaminya. Memang itu akan dibeli dari uang Anaya, tetapi jika mendapatkan dukungan dan izin dari suaminya, Anaya akan merasa lebih lega karenanya.
"Tentu boleh Sayangku ... beri saja. Ingat ketika tangan kananmu mendiri, tidak perlu diketahui tangan kirimu. Ikhlas dan tidak menuntut balas," pesan dari Tama kepada istrinya.
Anaya pun merasa lega dan dia tersenyum manis kepada suaminya itu, "Makasih banyak Mas Tama. Tentu, tidak akan aku melakukan itu. Biar Allah yang lihat semuanya," balas Anaya.
Hari itu bukan hanya Anaya yang senang karena perlahan-lahan untuk Thesis mulai ada kemajuan. Selain itu, Anaya senang karena bisa melihat Ayahnya yang bisa berkolaborasi dengan Bunda Dianti. Banyak hal-hal yang disyukuri dalam hidup, dan Anaya bersyukur untuk semuanya itu.
__ADS_1