Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Sesuatu yang Harus Dipertaruhkan


__ADS_3

“Pikirkan baik-baik, Ana … Ayahmu atau bayi itu. Pilihan yang akan kamu ambil akan menentukan konsekuensinya,” balas Reyhan lagi.


Anaya sudah berkaca-kaca. Dia menangis bukan karena Reyhan, tetapi kali ini harus ada yang harus dia pertahankan dan dia lepaskan. Sungguh, Reyhan membuat semuanya terasa menjadi lebih sulit. Untuk orang yang pernah menggoreskan luka teramat dalam di dalam hidup Anaya, kini Reyhan justru kembali datang dan memberikan ancaman yang teramat mengerikan.


“Pertimbangkanl;ah dalam satu pekan ini … dalam sepekan aku akan ke rumahmu dan meminta jawaban darimu. Kini, aku memiliki cara untuk bisa menjadikanku milikku, Ana,” lanjut Reyhan dengan senyuman menyeringai.


Usai mengatakan semua itu, Reyhan pun pergi meninggalkan Ayah Tendean dan juga Anaya. Acaranya sebenarnya masih berlanjut, tetapi Anaya sendiri sudah tidak bisa berpikir apa-apa. Hatinya terlalu gundah dengan semua yang terjadi.


“Ayah, apakah tidak sebaiknya kita pergi saja?” tanya Anaya kepada Ayahnya.


“Iya, baiklah, Aya ….”


Akhirnya di acara itu, Anaya dan Ayah Tendean memutuskan untuk pulang. Di dalam perjalanan, sama sekali tidak ada yang mereka berdua bicarakan. Hatinya terlalu kalut dengan ancaman Reyhan. Ancaman yang merugikan Anaya dan juga Ayah Tendean. Ancaman yang jikalau harus dipilih oleh Anaya salah satunya akan membuatnya sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Hingga tidak terasa mobil yang dikemudikan oleh Dokter Tendean sudah tiba di kediaman mereka lagi.


“Aya, Ayah perlu berbicara kepadamu,” ucap Ayah Tendean.

__ADS_1


Anaya yang sudah berjalan gontai, dengan berbagai pikiran yang memenuhi kepalanya pun menghentikan langkah kakinya dan melihat kepada Ayahnya. “Ya, Ayah … ada apa?” tanya Anaya.


"Kali ini kamu boleh untuk memikirkan dirimu sendiri. Jangan memikirkan orang lain. Sungguh, Ayah tidak apa-apa. Bahkan besok pun Ayah bisa pensiun dini kalau kamu mau," ucap Ayah Tendean.


Menjadi Dokter dan melayani masyarakat adalah cita-cita Dokter Tendean, dan saat seorang Dokter harus melepas profesinya Anaya sangat tahu bahwa dia seakan dipaksa untuk berhenti beraktivitas dari profesinya yang mulai padahal Ayah Tendean masih bisa bekerja dan memberikan yang terbaik. Sesuatu yang sangat dilematis pun dirasakan Anaya.


"Ayah tahu ... kamu menyayangi Citra. Bahkan karena Citralah, kamu bisa bangkit. Kamu bisa bangkit dari keterpurukan, menemukan sedikit kebahagiaan, dan juga mulai memiliki mimpi lagi. Walaupun mimpimu itu kecil dan hanya untuk esok hari saja. Itu sudah peningkatan yang sangat baik untuk Ayah, Ay ... sudah lama aku hidup untuk Ayah, kali ini hiduplah untuk dirimu sendiri, menggapai apa yang kamu sayangi kali ini," balas Ayah Tendean.


Ini adalah murni permintaan seorang Ayah yang menginginkan anaknya untuk bisa menggapai apa yang dia mau. Sebab, Ayah Tendean yakin meminta Anaya untuk melepaskan Citra, sama saja memaksa Anaya untuk melepaskan semangat hidupnya lagi. Walau hanya Ibu Susu saja, tetapi Anaya sudah sangat menyayangi Citra. Anaya sangat mengasihi Citra, kasih yang tulus dan tanpa batas. Benar, tidak ada hubungan darah di antara Anaya dan Citra, tetapi ada hubungan yang jauh lebih penting melebihi hubungan darah, yaitu jalinan yang terikat karena hati.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Ayahnya membuat Anaya menangis. Sungguh, ini adalah keputusan yang teramat berat bagi Anaya. Benar, dia sangat menyayangi Citra, tetapi juga Anaya tidak bisa mengorbankan Ayahnya begitu saja. Terlebih, di dalam hidup ini hanya Ayahnya saja yang dia miliki. Tanpa Ayahnya, tidak mungkin Anaya bisa hidup, tumbuh, dan menjadi seperti sekarang ini. Anaya pun sadar, sebagi anak belum ada yang bisa dia lakukan untuk membahagiakan Ayah Tendean. Yang ada justru Anaya telah mencoreng muka dan nama baik Ayahnya.


"Tidak usah menangis Aya ... sepenuhnya Ayah ikhlas. Sebab, yang Ayah miliki adalah kamu. Di hidup Ayah ini, satu-satunya harta Ayah yang paling berharga adalah kamu. Asalkan kamu bahagia, Ayah sanggup melepaskan apa pun. Namun, Ayah tak akan mampu membeli kebahagiaan untukmu," ucap Ayah Tendean.


Tangisan Anaya semakin keras. Inilah alasannya Anaya tak bisa melepaskan Ayahnya begitu saja. Kasih yang tanpa batas, kasih yang mau berkorban, benar-benar ditunjukkan Ayah Tendean kepadanya. Untuk semua itu, tentu Anaya akan berpikir berkali-kali lipat jika dia harus melepaskan Ayahnya.

__ADS_1


"Anaya akan memutuskan Ayah," ucapnya dengan bahu yang bergetar karena menangis.


"Apa Ay? Jangan membuat keputusan dengan gegabah," balas Ayah Tendean.


Dengan cepat Anaya menggelengkan kepalanya, "Tidak ... Anaya akan membuat keputusan dan memaksa Reyhan untuk menyetujuinya. Anaya sudah jatuh bangun dalam duka dan kerasnya hidup ini, Anaya tak akan membiarkan Reyhan begitu saja. Posisinya di atas angin hanya hari ini saja ... walau ada yang harus Anaya lepas dalam hidup ini, tetapi Anaya juga tidak akan mau menikah lagi dengan Reyhan. Semuanya sudah cukup bagi Anaya," balasnya.


Ya, Anaya akan membuat satu keputusan. Namun, dia akan berusaha bahwa apa pun yang akan dia lepas nanti yang pasti Anaya tidak akan sudi untuk kembali kepada Reyhan. Pria yang tak pernah menaruh rasa hormat dalam pernikahan. Pria yang tak pernah menaruh rasa simpati kala kehilangan bayinya sendiri. Untuk apa, Anaya memberikan kesempatan kembali kepada pria seperti itu.


"Kamu yakin Aya? Bagaimana dengan ancaman Reyhan," balas Ayah Tendean.


"Itu hanya ancaman Ayah ... Aya akan membuat Reyhan menyesali semua perbuatannya kepada Anaya. Anaya juga memiliki sesuatu yang bisa membalikkan keadaan ini," balasnya dengan memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Perlukah Ayah menghabisi Reyhan, Aya? Rasanya pria itu datang dan hanya membuat anak Ayah ini menangis, bersedih ... Ayah tidak masalah jika harus mendekam di balik jeruji besi di sisa hidup Ayah," balas Ayah Tendean.


Lagipula, Ayah mana yang tidak murka dan geram melihat seorang pria yang mempermainkan anaknya dan bahkan selalu memberikan duka untuk anaknya sendiri. Jujur saja, Ayah Tendean sampai berpikir untuk menghabisi Reyhan dengan tangannya.

__ADS_1


"Jangan Ayah ... jangan melakukan sesuatu yang akan merugikan diri Ayah sendiri. Sungguh, Anaya akan berpikir dan mencari cara untuk lepas dari jeratan Singa itu," balas Anaya.


Masih ada satu pekan. Dalam satu pekan ini, rasanya Anaya ingin mengumpulkan semua bukti dan juga menghabiskan waktu bersama Citra. Sungguh, apa pun yang akan diambil dan dipertaruhkan oleh Anaya semuanya sulit. Akan tetapi, Anaya sudah menetapkan satu pilihan dalam hatinya. Anaya cukup membuka dan memberikan keputusannya kepada Reyhan satu pekan yang akan datang.


__ADS_2