Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Suami Super Perhatian


__ADS_3

Selang beberapa pekan berlalu kehidupan rumah tangga Tama dan Anaya berjalan dengan semestinya. Kendati demikian, dengan semakin bertambahnya usia kehamilan, membuat kegiatan yang bisa dilakukan Anaya juga terbatas. Secara khusus dengan perutnya yang kian besar, untuk duduk di lantai dan kemudian berdiri rasanya susah. Selain itu, untuk mengambilkan mainan Citra yang ada di lantai rasanya juga susah. Bukan tidak bisa, hanya saja kadang pinggangnya sudah terasa sakit.


Tama pun rupanya juga mengamati perubahan fisik istrinya itu. "Biar aku yang ambilkan Sayang ... kalau ambil di lantai, pinggang kamu sakit. Jangan duduk di lantai juga, kamu bisa kesusahan berdiri," cegah Tama kepada istrinya itu.


"Makasih Mas Suami," balasnya.


Tama kemudian mengambilkan mainan Citra dan memberitahu kepada Citra yang usianya juga kian bertambah sehingga sedikit-dikit mulai bisa diberi tahu.


"Citra, perut Mama kan semakin besar. Kalau mainan di tempat tidur atau meja saja ya menaruhnya. Kasihan Mama kalau berjongkok dan mengambil mainan di lantai nanti bisa menekan adik bayi yang ada di perut Mama," jelas Tama kepada putrinya.


Citra pun menganggukkan kepalanya, "Ya Pa," balasnya.


Anaya pun tersenyum, "Padahal ya enggak apa-apa loh Mas ... aku kalau tidak bisa berjongkok, nanti aku ambil pakai kaki," balasnya dengan terkekeh.


"Kalau enggak, biarin saja Sayang ... nanti sore kalau aku sudah pulang kerja, aku yang beresin mainannya Citra. Kamu jaga diri dan kandungan baik-baik," balas Tama.


Memang begitulah Tama dan Anaya, pekerjaan rumah tangga mereka kerjakan bersama. Tidak membedakan tugas suami dan istri, Tama pun juga tidak segan untuk menolong Anaya untuk mencuci piring, menyapu rumah, dan mengepel lantai. Semuanya justru dikerjakan bersama.


"Sama pekerjaan rumah, urusan mengepel lantai dan juga membersihkan kamar mandi itu bagianku Sayang. Jangan melakukan yang licin-licin, berbahaya untuk ibu hamil," pesan Tama lagi.


Anaya pun justru tersenyum melihat suaminya itu, "Baik banget sih Mas ... kamu selalu sebaik ini ya Mas?" tanyanya.


"Kepada kamu, aku akan selalu baik, My Love ... ingat janjiku kan bahwa aku akan selalu memperlakukanmu dengan baik. Menjaga dan membahagiakan kamu," balas Tama.


"Makasih Papa Tama ... Bumil diperhatikan kayak gini sudah pasti seneng banget, sama seperti aku yang juga sangat seneng," balas Anaya.


Tidak dipungkiri ketika dirinya hamil dengan usia kandungan yang kian bertambah dan juga kegiatannya juga kian terbatas, ada suami yang super baik dan perhatian. Rasanya Anaya sangat senang karenanya.


"Sudah, kamu bobok duluan saja ... Citra biar aku saja yang nidurin," balasnya.

__ADS_1


Akan tetapi, Anaya segera menggelengkan kepalanya, "Aku saja yang nidurin, tadi kamu bilang kan mau bekerja dulu. Jadi, biar Citra sama aku. Sana, bekerja dulu Papa."


Akhirnya Tama pun bekerja terlebih dahulu masih ada sedikit pekerjaan dan Anaya mengambil alih peran untuk menidurkan Citra. Bumil itu segera masuk ke dalam kamar Citra, dan menidurkan Citra di sana.


"Mama, adiknya uga bobok?" tanya Citra dengan rasa ingin tahunya yang begitu tinggi.


"Iya Kak Citra ... di dalam perut Mama, babynya juga bobok, sama seperti Kakak Citra," balasnya.


"Sesak Ma ... perut Mama kecil," balas Citra lagi. Dia berpikir bahwa perut Mamanya begitu kecil, mana muat untuk tinggal dan untuk bobok kedua adiknya yang kembar.


Anaya pun tersenyum, "Dia berbagi tempat di sini, Nak Cantik ... nanti kalau baby twins lahir, dia juga akan berbagi tempat," balasnya.


Citra yang mendengarkan penjelasan dari Mamanya pun perlahan menganggukkan kepalanya, "Mau temu Dedek," ucapnya yang ingin bertemu dengan adik bayinya.


"Sabar ya Kak Citra ... beberapa bulan lagi sudah ketemu Adiknya," balasnya.


Anaya pun tersenyum, hatinya benar-benar menghangat dengan Citra yang hangat dan juga perhatian. Walau Citra masih kecil dan baru menginjak tiga tahun, tetapi terlihat bahwa Citra juga sayang dengan adiknya bahkan sejak berada di dalam kandungan.


"Nyanyi Ma ... selamat tidur," pinta Citra kali ini.


Rupanya Citra mau dinyanyikan lagu anak-anak berjudul Selamat Tidur itu, sehingga Anaya pun bersenandung lirih dan menidurkan putrinya itu.


Papa tidur ...


Mama tidur ...


Selamat tidur orang tuaku ...


Citra tidur ...

__ADS_1


Semua tidur ....


Selamat tidur mimpi indah ...


Lagu itu diulang-ulang Citra beberapa kali, hingga akhirnya Citra pun terlelap. Anaya memberikan usapan di kening Citra dan mendaratkan kecupan di kening Citra.


"Selamat tidur Nak Cantiknya Mama ... nanti kalau Adik Bayi sudah lahir, main bersama yah. Mama sayang Citra dan adik bayi, tidak akan membeda-bedakan. Kalian bertiga adalah anak-anak Mama, kesayangan Mama," ucap Anaya dengan lirih.


"Mama sayang kamu, Nak Cantiknya Mama," ucap Anaya.


Setelahnya barulah Anaya turun dari tempat tidur perlahan-lahan dengan memegangi pinggangnya dan berjalan pelan-pelan untuk masuk di dalam kamarnya. Di dalam kamarnya, rupanya Tama masih bekerja dengan menggunakan laptop di sana.


"Sudah bobok Sayang?" tanyanya.


"Iya Mas ... kamu masih lama? Bobok yuk, ngantuk," balasnya.


"Iya, sudah selesai kok ... aku simpan dulu," balas Tama.


Kemudian mereka menaiki ranjang dan beristirahat malam itu, Tama pun bertukar posisi dengan Anaya karena kian besar kehamilan, seorang Ibu Hamil disarankan untuk miring ke kiri, supaya saluran pernafasan dan aliran darah lebih lancar.


"Begah Sayang?" tanya Tama lagi.


"Lumayan Mas," balas Anaya.


Tidak perlu ditanya, Tama menaruh satu bantal di kaki Anaya, "Di kasih bantal biar tidak begitu engap dan kaki kamu tidak parises, Sayang."


"Papa Tama baik banget sih, makasih Papa," balas Anaya.


"Sama-sama My Love ... I Love U," balas Tama dengan mengusapi puncak kepala istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2