Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Berbagi Cerita


__ADS_3

Sore harinya, tampak keduanya bisa lebih bersantai karena sudah memberikan MPASI untuk Citra. Pengalaman keduanya pun tentu sangat bahagia karena Citra sudah memasuki satu tahapan yang baru dalam tumbuh kembangnya. Bayi yang semula hanya meminum ASI, sekarang mendapatkan nutrisi tambahan dari MPASI yang dia makan.


"Tama, menu MPASI-nya Citra sudah empat bintang yah?" tanya Anaya kepada Tama sore itu.


Saat itu keduanya memang sedang berada di dalam kamar Citra, karena tugas mereka memang menjaga Citra, sementara Mama Rina dan Papa Budi sedang pergi ke Supermarket untuk berbelanja.


"Iya ... Mas Bisma bilang harus sudah menu empat bintang sih. Kenapa Ay?" tanya Tama.


"Oh, enggak ... dulu kan biasanya kali pertama MPASI, bayi diberikan satu buah atau satu sayuran saja. Sekarang emangnya sudah harus empat bintang yah?" tanya Anaya lagi.


"Nah, ini ada dua pendapat nih ... dari artikel yang pernah aku baca, WHO (World Health Organization) mengatakan kalau kali pertama MPASI sebaiknya hanya satu menu tunggal. Misalnya, hari pertama hanya pisang, hari kedua hanya alpukat, begitu. Sementara pendapat yang kedua dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang mengatakan kalau menu MPASI sebaiknya menu empat bintang yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan lemak. Sebab, jika hanya mendapatkan satu variasi dari satu makanan tunggal, asupan gizinya tidak seimbang," jawab Tama.


Anaya pun merespons dengan menganggukkan kepalanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh Tama itu. Rasanya memang sebagai sosok Ayah, terlebih Ayah tunggal, Tama pun membekali dirinya dengan berbagai informasi seputar pengasuhan anak.


"Kamu keren deh, Tama ... sampai seputar MPASI pun kamu tahu," balas Anaya.


Jujur saja, Anaya merasa benar-benar salut kepada Tama. Sebab, Tama yang notabene adalah seorang duda dan orang tua tunggal, tapi benar-benar sepenuh hati mengasuh Citra. Apa yang tidak pernah dia coba, untuk Citra dan supaya tidak kehilangan momen, Tama mau melakukannya.


"Biasa saja, Ay ... bagaimana pun aku adalah Papa yang tidak sempurna," balas Tama.


Ya, Tama sendiri merasa bahwa dirinya memang belum maksimal untuk mengurus dan mengasuh Citra. Sebab, di hari Senin sampai Jumat, Tama harus bekerja, mencari nafkah untuk kebutuhan Citra juga. Delapan setiap harinya, Tama harus bekerja dan meninggalkan bayi kecilnya itu kepada Mama Rina dan kepada Anaya.

__ADS_1


"Hidup memang seperti ini, Tama ... ada hal-hal yang membuat kita harus terus-menerus survive," balas Anaya.


Kali ini wanita itu mengucapkannya dengan menghela nafasnya. Rasanya Anaya sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Sebab, Anaya pun sedang berusaha untuk bisa terus survive dengan hidupnya yang penuh liku-liku, ada suka dan ada duka.


"Iya ... tanpa bertahan, agaknya aku gak akan bisa di titik ini," ucap Tama kemudian.


Satu-satunya hal yang Tama coba dan terapkan dalam hidupnya sendiri usai duka mendalam yang dia alami adalah dia berusaha untuk survive. Bertahan adalah satu-satunya hal yang Tama lakukan. Ada kalanya Tama mencoba bertahan bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Citra. Untuk putri kecilnya itu Tama tidak akan menyerah. Bahkan ketika dia terpuruk sekalipun, Tama akan berupaya untuk bangkit.


"Kamu hebat, Tama ... aku benar-benar salut sama kamu," balas Anaya kemudian.


Mendengar pujian dari Anaya, rasanya memang membesarkan hati Tama. Sebagai pria yang sudah enam bulan hidup sendiri, ada kalanya dia merasa sepi, membutuhkan support dari orang terdekatnya. Selama enam bulan ini, mungkin ini adalah pujian pertama yang Tama terima. Ya, Tama merasa bahagia, hatinya terasa hangat mendengar ucapan Anaya itu.


Pria itu seolah mengatakan pesan dan nasihatnya kepada Anaya. Tentu juga ini adalah cara Tama untuk mengomunikasikan maksud hatinya kepada Anaya. Sebab, Tama juga ingin bahwa Anaya bisa bertahan.


"Makasih Tama ... hanya saja, hidupku memang pelik. Begitu berat. Kamu mau tahu bagaimana kisahku dengan Reyhan dimulai Tama?" tanya Anaya dengan menghela nafas yang terasa begitu berat.


Tama diam, tidak merespons. Sebab, sepenuhnya Tama tahu untuk membuka masa lalu itu dibutuhkan kesiapan hati dan juga keberanian. Ada kalanya masa lalu adalah momok yang begitu menakutkan. Sehingga memang diperlukan keberanian untuk membukanya.


"Jika tidak ingin berbagi tidak apa-apa, Ay ... jangan dipaksa," balas Tama.


"Aku mau sedikit bercerita Tama ... mungkin saja bisa melegakan sedikit rasa sesak yang menghimpit dadaku," ucap Anaya.

__ADS_1


Sepenuhnya, Anaya tahu bahwa memang dengan membuka kotak lama yang dia simpan dan tutup dengan rapat pasti akan ada konsekuensinya. Salah satunya dengan reaksi dan respons yang akan Tama tunjukkan keapdanya. Namun, tidak ada salahnya juga untuk berbagi beban hidupnya bukan?


"Kisahku dengan Reyhan berawal karena kami bekerja satu kantor. Dia CEO perusahaan telekomunikasi ternama di Indonesia, dan aku bawahannya, staf IT sama sepertimu. Di satu hari yang sial, dia memberiku minuman yang aku yakin bahwa minuman itu sudah dicampurin dengan sebuah obat, dan akhirnya dia merenggut mahkotaku," cerita Anaya.


Sekadar menceritakan itu saja, dada Anaya sudah begitu sesak. Tidak muda untuk membuka kisah lamanya. Namun, hari ini Anaya ingin menceritakan semua itu kepada Tama.


"Pagi hari aku bangun dengan histeris. Wanita mana yang tidak histeris saat dia terbangun di ranjang dengan seorang pria dalam keadaan kehilangan. Aku pikir kehilangan mahkotaku adalah kehilangan terbesar dalam hidup, rupanya tidak ... karena 9 bulan kemudian aku kembali kehilangan yang lebih berharga dalam hidupku. Dua kali aku kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupku dalam waktu kurang dari satu," cerita Anaya lagi.


Tama memilih diam dan mendengarkan semua cerita Anaya. Tidak ingin menginterupsi apa pun. Tama berjanji bahwa dia akan menjadi pendengar setia. Adakalanya mereka yang bercerita, berbagi beban hidup denganmu hanya membutuhkan untuk didengar. Tama sedang melakukan itu, mendengarkan cerita Anaya.


"Satu bulan usai petaka satu malam itu, aku mendatangi Reyhan dan membawa bukti testpack dan memberitahukan bahwa aku hamil anaknya. Ayah pun murka kala itu, sampai akhirnya Reyhan mau tanggung jawab dengan menikahiku, tetapi hanya dengan pernikahan di bawah tangan saja. Dua hari usai pernikahan dia pergi ke Singapura dan tidak kembali. Dia kembali beberapa bulan yang lau. Kamu tahu Tama, ada satu hal yang membuatku begitu benci kepada Reyhan ... pertama adalah karena dia menyangkali keberadaan anaknya, tidak membersamai pertumbuhan anaknya selama dalam kandungan, dan terakhir tidak ada uluran tangan sang Ayah yang mengebumikan anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri ke dalam liang lahat. Ayahku yang melakukannya, menerima tubuh tanpa nyawa cucunya dan menurunkannya ke liang lahat. Itu adalah kesedihan mendalami di hidupku, Tama."


Sebuah cerita yang benar-benar pilu dari Anaya. Sampai kali ini air mata Anaya berjatuhan. Tidak kuasa untuk merasakan kepedihan yang teramat sangat. Lika-liku dalam hidupnya yang benar-benar penuh kenestapaan. Hari berduka yang begitu berat harus Anaya alami dalam waktu kurang dari satu tahun.


"Itu adalah semua jawaban kenapa aku histeris tiap kali melihat Reyhan. Aku tidak suka, aku benci padanya. Setelah sekian lama, kemudian dia datang dan mengatakan ingin serius menikahiku, mencatatkan pernikahan di bawah tangan itu secara resmi. Bagiku itu sama sekali hanya sebuah lelucon. Lagipula, untuk apa dia kembali setelah waktu bergulir dengan begitu lama. Di saat para wanita yang dinikahi secara siri mengharap pernikahan mereka akan dilegalkan, justru aku mengharapkan yang sebaliknya, aku menginginkan talak darinya. Walau secara hukum agama, enam bulan tanpa komunikasi yang jelas pernikahan bisa berakhir, tetapi aku ingin dia mengucapkan talak. Ucapkan saja talak atasku dan semua hubungan selesai."


Anaya benar-benar terbuka kali ini, dengan duduk di dekat Tama, dia mengurai semua kisah pedihnya. Ini adalah hari minggu, sehingga cerita yang disampaikan Anaya tak ayal laksana Kisah Sedih di Hari Minggu untuk Tama. Sungguh, Tama dalam hati berkata bahwa apa yang sudah Anaya alami begitu berat. Satu tahun ini berarti adalah satu tahun terberat bagi Anaya.


"Ironis memang ... hanya saja aku sudah meminta dan aku menunggu saat di mana Reyhan mengucapkan talak atasku. Sehingga memang ini harus diakhiri," cerita Anaya lagi.


Betapa leganya hati Anaya bisa berbagi cerita sedihnya kepada Tama. Entah, bagaimana respons dan reaksi Tama usai semua ini, yang pasti Anaya merasa begitu lega karena memang dia bisa bercerita dan tidak ada lagi yang dia sembunyikan dari Tama. Keterbukaan adalah awal dari pemulihan, dan sekarang Anaya sedang berusaha memulihkan dirinya dengan terbuka.

__ADS_1


__ADS_2