
Sepeninggal Reyhan, jujur saja Anaya merasa lega. Kendati demikian, Anaya pun juga meneteskan air matanya. Bukan karena bersedih, tetapi karena dia lega karena akhirnya terbebas dari jerat pernikahan dengan Reyhan. Tentu itu bukan air mata kesedihan, tetapi air mata kebahagiaan. Setelah setahun lebih bertahan dalam pernikahan di bawah tangan yang sama sekali tidak memberikan kebahagiaan, dan sekarang tali yang menjerat diri Anaya telah terputus, rasanya tentu sangat luar biasa.
"Kenapa kamu menangis Aya?" tanya Ayah Tendean.
Anaya tampak menggelengkan kepala perlahan, "Anaya hanya merasa lega, Ayah ... semua ini berakhir. Tidak ada lagi hubungan antara Anaya dan Reyhan. Sebenarnya setelah enam bulan sejak dia pergi begitu saja tidak ada kabar, pernikahan itu sudah luruh dengan sendirinya. Hanya saja, Anaya menginginkan talak hanya sebagai cindera mata saja. Cindera mata bahwa sekarang Anaya sudah bebas," balasnya.
Ayah Tendean pun merangkul bahu putrinya itu, "Sudah, jangan menangis lagi. Makan dulu yah, dan bersiap ... nanti sore Ayah akan mengantarmu ke bandara," ucap Ayah Tendean.
"Ayah, sore ini ada Tama yang akan mengantarkan Anaya," balas Anaya.
Mendengar bahwa Tama yang berinisiatif untuk mengantarkan Anaya, Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya. Sama sekali tidak keberatan karena sebenarnya Ayah Tendean pun percaya kepada Tama. Berkali-kali Ayah Tendean berusaha mencobai apakah Tama pria yang baik, dan rupanya Tama sudah lulus uji itu dari Ayah Tendean. Ketika menjaga Anaya di Rumah Sakit, ketika setiap hari Anaya justru merasa lebih baik dan bahagia, dan juga Anaya yang tidak disentuh oleh Tama. Sebagai seorang Ayah, tentu Ayah Tendean percaya kepada Tama. Di matanya, Tama bukan seorang me-sum dan haus belaian. Tama bisa menahan diri, menahan hasratnya, walau pun dalam hati juga siapa yang tahu. Hanya saja, di mata Ayah Tendean, Tama sudah berhasil membuktikan dirinya sebagai lelaki yang bisa dipercaya.
"Bolehkah Ayah ikut satu mobil dengan Tama?" tanya Ayah Tendean kemudian.
"Tentu boleh, Ayah ... Tama kan juga dekat dengan Ayah dan menghormati Ayah," balas Anaya.
"Baiklah ... nanti Ayah akan ikut mobilnya Tama," jawabnya.
__ADS_1
Setelah itu, Anaya pun berkemas. Beberapa koper berukuran besar dia siapkan. Selain pakaian, buku, dan sepatu, rupanya ada foto Citra yang dia bawa di dalam koper dan sling bagnya. Di dalam kamarnya, Anaya terdiam dan memandangi foto-foto Citra.
"Maafkan Onty ya Cit ... kali ini Onty akan pergi terlebih dahulu. Dua tahun tidak akan lama. Nanti, kita akan bertemu lagi. Jika dihitung, dua tahun lagi Citra akan berusia 2 tahun 10 bulan. Itu berarti sudah hampir 3 tahun. Di saat itu tiba, apakah Citra masih ingat Onty atau hanya Onty yang ingat Citra?"
Anaya berbicara sendiri dengan memandangi foto-foto Citra di handphonenya. Ya, dua tahun itu terhitung lama. Terlebih bagi seorang bayi yang memiliki memori ingatan parsial (sementara). Dalam kurun waktu dua tahun yang akan datang, mungkinkah Citra akan masih bisa mengingat Anaya, atau hanya Anaya saja yang mengingat Citra. Juga, yang terbersit dalam benak Anaya sekarang, dalam kurun waktu dua tahun mungkinkah Tama sudah mengakhiri masa dudanya?
Oh Tuhan, memikirkan semua itu yang ada justru membuat hati Anaya kian getir saja. Benar yang Ayah Tendean sampaikan kepadanya beberapa saat yang lalu bahwa bisakah dia bisa menerima jika Tama menikah dan wanita lain yang akan menjadi Ibu bagi Citra? Efek dari terlalu sayang dengan Citra memang membuat Anaya seolah mengganggap Citra adalah miliknya. Terkadang ada masa di mana Anaya benar-benar menganggap Citra sebagai putrinya. Namun, sering kali Anaya harus menyadarkan dirinya bahwa hubungannya dengan Citra hanya sebatas Ibu Susu dan Anak Susu saja.
***
Sore harinya ....
"Ini rumah Onty Anaya, Citra ... kita masuk yuk. Kita kejutkan Onty yah," ucap Tama yang turun dari mobil dengan menggendong Citra.
Papa muda berstatus duda itu pun segera membuka pintu gerbang dan mengetuk pintu rumah Anaya. "Permisi," ucapnya dengan berdiri di depan pintu.
Tidak berselang lama pun, terlihat Ayah Tendean yang membukakan pintu. Betapa terkejutnya Ayah Tendean ketika melihat Tama datang dan mengajak serta Baby Citra. Sampai Ayah Tendean pun begitu heran dibuatnya.
__ADS_1
"Loh, Tama ... ajakin Citra yah?" tanyanya.
"Iya Dokter ... soalnya Mama dan Papa ada acara, sehingga memang Citra tidak bisa ditinggal. Selain itu, Citra juga mau bertemu dulu dengan Onty Kesayangannya," balas Tama.
Hanya sekadar menjawab pertanyaan dari Ayah Tendean saja membuat Tama menghela nafas. Kali ini Tama merasakan perasaan yang aneh. Hanya saja, perasaan itu masih bisa terucapkan. Tama memilih tersenyum sambil menggendong Citra, tetapi di dalam hatinya Tama begitu resah.
"Halo Citra ... kenalin. Ini Opa," balas Ayah Tendean. Tidak menyangka ternyata Dokter Tendean pun mengenalkan dirinya sebagai Opa. Tentu saja Citra tampak bingung karena ini kali pertamanya melihat wajah Dokter Tendean. Pun, demikianlah bayi, mereka perlu mengamati wajah orang yang baru kali pertama dia lihat sehingga bisa mengenalnya. Itulah juga kenapa bayi tidak mudah bertemu dengan orang baru karena mereka tidak familiar dengan wajahnya, suaranya, bahkan aroma parfum.
Bayi ada pribadi yang peka dan mengamati seseorang. Oleh karena itu, Citra seolah tak bereaksi ketika Dokter Tendean menyapanya. Citra masih begitu lengket dalam gendongan Papanya.
"Itu Citra ... ada Opa," balas Tama dengan mendekatkan tangan kecil nan mungil milik Citra kepada tangan Dokter Tendean dengan maksud untuk bersalaman, memberikan salam.
"Uh, pinternya ... Citra sudah makan belum tadi?" tanya Dokter Tendean lagi.
"Sudah Opa Dokter ... tadi Citra sudah mam mam," balas Tama yang menyebut kata makan dengan kata yang sering diucapkan Citra saat makan.
"Mau saya panggilkan Anaya, atau santai saja?" tanya Dokter Tendean.
__ADS_1
"Santai saja kok Dokter ... mungkin Anaya masih perlu persiapan, biar tidak ada yang tertinggal," balas Tama.
Ayah Tendean pun kemudian mengamati Tama. Setidaknya benar yang Anaya sampaikan kepadanya bahwa Tama adalah seorang Papa yang sangat baik. Seorang Papa yang bisa mengurus Citra dengan tangannya sendiri. Terlihat jelas bahwa Tama mencurahkan kasih sayangnya yang begitu besar untuk Citra. Melihat Tama seolah Ayah Tendean berkaca pada masa lalunya dulu. Ya, sebagai Single Daddy, Ayah Tendean memang berusaha keras untuk mengasuh Anaya dan memberikan sentuhan tangannya walau pun tidak maksimal. Ada rasa bangga di dalam hati Ayah Tendean karena Tama memang sosok Papa yang hebat, tetapi di satu sisi Ayah Tendean pun merasa kasihan kepada Tama. Pria yang masih berusia 20an tahun sudah menduda dan menjadi Papa tunggal untuk putri semata wayangnya.