
Setelah beberapa waktu berlalu, Anaya pun memulai babak baru dalam hidupnya. Jika sebelumnya Anaya sudah memulai babak baru sebagai seorang istri dan Ibu sambung untuk Citra. Kini, Anaya akan memulai babak baru dalam hidupnya sebagai mahasiswa. Ya, Anaya memutuskan untuk kuliah lagi dan mengambil Pendidikan Anak Usia Dini. Sebenarnya, kuliah ini sangat berbeda dengan S1 Anaya sebelumnya yang ada seorang Desainer Grafis, dan sekarang dirinya mengambil Pendidikan Anak.
“Mama hari ini kuliah?” tanya Tama pagi itu yang menggendong Citra. Sebagai suami, Tama pun bertanya benarkah hari ini akan menjadi hari pertama bagi Anaya untuk kuliah.
“Iya Pa … cuma masih siang nanti kok. Papa bisa enggak anterin?” tanyanya.
“Bisa dong Sayangku … nanti aku anterin sekalian. Ini hari Sabtu kan, biar Citra di rumah sama Papa yah,” balasnya.
“Makasih Mas Tama,” balas Anaya kemudian.
Menjelang siang, Anaya tengah memantaskan dirinya. Sekadar memakai kemeja biasa saja dan mengenakan celana jeans. Sebenarnya juga kuliah hanya menjadi kesempatan bagi Anaya untuk mengembangkan dirinya. Kiranya dengan pendidikan anak usia dini yang dia ambil bisa menjadi bekal baginya untuk mengasuh Citra dengan lebih baik lagi.
“Gak usah terlalu cantik Sayang … nanti banyak yang naksir loh,” balas Tama.
“Siapa yang naksir sama Ibu beranak satu,” balas Anaya dengan cepat.
“Kamu kayak gitu tidak terlihat seperti seorang Ibu. Masih pantas jadi mahasiswa S1 malahan,” balasnya.
Anaya lantas tersenyum di sana, “Bisa saja sih … tetep aja aku sudah menjadi seorang Mama untuk Citra. Nak cantiknya Mama,” jawabnya dengan penuh kepastian.
“Hari ini kuliah apa Sayang?” tanya Tama lagi.
__ADS_1
“Masih semester 1 jadi ya masih mata kuliah dasar sih Mas … Psikologi Perkembangan Anak,” balasnya.
“Ya sudah, kuliah yang rajin yah. Kalau sudah mau selesai, kabarin aku nanti biar aku jemput lagi,” balas Tama.
Setelahnya, Tama menitipkan Citra terlebih dahulu ke rumah Mama Rina, kemudian Tama mengantarkan istri tercinta untuk kuliah. Sungguh, Tama pun merasa senang karena Anaya mau belajar lagi. Walaupun Anaya bilang biar bisa mengasuh Citra dengan lebih baik, tetapi siapa yang tahu jika suatu saat nanti ilmu yang dipelajari Anaya bisa berguna.
Begitu tiba di salah satu universitas negeri terbaik di Jakarta itu, Tama kemudian menghentikan mobilnya di Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan. Tama lantas tersenyum menatap istrinya itu, “Sekolah keguruan bisa jadi Bu Guru atau Bu Dosen,” balasnya.
“Jadi Istri kamu dan Mama untuk Citra saja aku sudah seneng banget,” balasnya.
“Ya sudah, kuliah yang rajin Sayangku … kalau bisa kabar-kabar yah. Nanti aku jemput. Oh, iya … abis ini aku ke rumah Mama Rina dan Papa Budi yah. Aku mengasuh Citra di sana saja, katanya Eyangnya sudah kangen sama Citra,” ucapnya.
Anaya pun segera menganggukkan kepalanya. Setelahnya dia berpamitan dengan mencium punggung tangan suaminya itu. "Pamit ya Mas ... aku kembali jadi mahasiswa lagi setelah sekian tahun berlalu," pamitnya.
Anaya turun dari mobil dengan memanyunkan bibirnya. Sejujurnya Anaya begitu risih ketika suaminya itu memanggilnya My Love. Mungkin kata itu layaknya panggilan cinta, panggilan sayang. Akan tetapi, ketika mendengar nama itu yang terbersit di pikiran Anaya adalah merek salah satu sprei.
Anaya pun bertanya di mana kuliah hari ini akan berlangsung, dan rupanya segera di jawab bahwa jadwal kuliah S2 berlangsung di Gedung D Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Jujur saja Anaya merasa grogi menjadi mahasiswa lagi setelah bertahun-tahun tidak kuliah. Selain itu, perihal pendidikan anak, Anaya juga tidak tahu banyak. Anaya sejauh ini hanya merasa memiliki passion di dunia anak setelah memiliki Citra dalam hidupnya. Wanita itu pun memasuki Gedung D, dan beberapa mahasiswa S2 lainnya sudah datang dan duduk di ruangan itu.
Ada mahasiswa yang sedang berkenalan di sana, dan Anaya pun juga berkenalan dengan beberapa mahasiswa yang duduk di sampingnya.
"Halo, ambil S2 juga ya Kak?" sapa seorang mahasiswi yang bisa Anaya prediksi usianya lebih muda darinya.
__ADS_1
"Iya. Kenalin Anaya," ucapnya.
"Halo Kak ... aku Ira," balasnya.
"Fresh graduate atau gimana? Kelihatannya masih muda banget?" tanya Anaya kepada mahasiswi baru yang bernama Ira itu.
"Iya Kak ... baru saja wisuda bulan lalu dan langsung lanjut ke S2," balas Ira.
"Wah, keren dong ... ilmunya masih fresh, masih ingat banyak," balas Anaya lagi.
“Tidak juga Kak … masih perlu banyak belajar kok. Kayak sendiri lulusan tahun berapa?” tanya Ira.
“Oh, aku sudah lulus lama. Mungkin 5 tahunan yang lalu sudah lulus S1, makanya grogi juga bagaimana kuliah sekarang. Takut tidak bisa mengikuti,” jawab Anaya.
Tidak berselang lama seorang Dosen yang usianya terbilang masih muda memasuki ruangan itu. Dosen perempuan yang cantik itu tampak membawa buku dan laptop di tangannya dan kemudian tersenyum, menunjukkan wajah yang ramah kepada mahasiswa S2 yang jumlahnya sekitaran 25 orang itu.
"Selamat siang semuanya," sapa Dosen itu dengan begitu ramah.
Akan tetapi, Anaya melihat kenapa wajah Dosen itu sangat familiar baginya. Bahkan wajah wanita itu sangat tidak asing. Sehingga siang itu, Anaya justru berpikir dan berusaha menemukan kembali ingatannya perihal sosok Dosen wanita berparas cantik yang kini sedang memberikan mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak itu.
"Kenapa aku pernah melihatnya yah? Di mana yah? Wajahnya sangat tidak asing?"
__ADS_1
Anaya sampai menggaruk kepalanya perlahan walaupun kepalanya sedang tidak gatal dan mencoba mengingat-ingat siapa wanita itu. Siapakah wanita itu?