
Usai mengarungi siang panas, Tama dan Anaya yang masih bergelung di bawah selimut pun tertawa bersama. Sungguh, tidak mengira bahwa keduanya bisa memanfaatkan waktu di siang hari begini untuk menikmati samudra cinta. Yang mereka lakukan sekarang adalah tertawa sembari menggelengkan kepalanya.
Hahahaha ....
"Kita kok bisa-bisanya kayak gini sih Mas?" tanya Anaya kepada suaminya.
"Bisa Sayang ... sesekali," balas Tama yang mendekap erat tubuh Anaya.
Mungkin jika berpikir dengan akal sehat yang mereka lakukan sekarang itu sedikit gila. Akan tetapi, dalam berumahtangga sendiri terkadang ada hal-hal yang bisa terjadi dan tidak terkira. Sama seperti keduanya yang sekarang tengah berusaha menyelami makna terdalam dari menjadi tangki air cinta dan mengisinya setiap saat dengan air yang akan penuh dan melimpah.
"Habis ini mandi dan jemput anak-anak ya Mas," ajak Anaya kepada suaminya itu.
"Iya ... jangan keramas loh, Sayang. Nanti ketahuan dong kita dari mana," balas Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya. "Kamu bisa saja. Emangnya Ayah dan Bunda sejeli itu?" tanyanya,
"Orang tua itu justru lebih jeli Sayang ... jadi, cari aman dulu. Udah bersyukur bisa memanfaatkan waktu satu jam bercinta sama kamu," balas Tama.
"Seriusan satu jam?" tanya Anaya dengan bingung.
"Iya, satu jam lima belas menit malahan," jawab Anaya.
Ya Tuhan, Anaya tidak menyangka. Rupanya waktu yang mereka habiskan berdua benar-benar panjang. Mungkin karena terlalu menikmati, waktu bergulir pun tidak terasa. Sama-sama kehilangan kendali atas diri mereka, hingga rasanya memang waktu yang lama pun terasa begitu cepat.
Hingga akhirnya, keduanya memilih untuk mandi bersama, tanpa melakukan keramas. Setidaknya hanya untuk menjaga diri dan juga bermain aman. Daripada nanti ditanyain yang tidak-tidak dan membuat keduanya malu, jadi memang lebih baik untuk menjaga diri.
Lima belas menit setelahnya, keduanya selesai mandi dan kali ini harus mengenakan kembali pakaian yang mereka kenakan. Sebatas kemeja dan celana jeans yang masih dikenakan. Sementara yang bagian dalam tentulah berganti. Setelahnya, Anaya masih tertawa dan memukul lengan suaminya itu.
__ADS_1
"Baru kali ini kita berdua segila ini," ucapnya.
"Sesekali, Sayang ... biar jadi kenangan yang indah untuk kita berdua bahwa kita pernah menggebu-gebu seperti pengantin baru," ucapnya.
"Sama seperti yang kamu katakan, anak kita sudah tiga, Mas," balasnya.
"Curi-curi waktu Sayang ... merasakan siang yang menggelora," balasnya.
Anaya hanya terkekeh geli. Namun, dalam hatinya siang yang bergelora ini benar-benar membuatnya gila. Ya, Anaya mengakui kehilangan kesadarannya tiap kali suaminya itu menyentuhnya. Namun, pesona sang suami sama sekali tidak bisa dia tolak.
"Ya sudah ... yuk, jemput Kiddos. Takutnya ada yang menangis, Mas," ajak Anaya kemudian kepada suaminya.
Keduanya pun memasuki mobil, dan kemudian menuju rumah orang tuanya yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumahnya. Begitu turun dari mobil, keduanya masih tertawa. Bagaimana pun yang terjadi adalah hal yang lucu. Akan tetapi, biarlah keduanya sekarang menikmatinya.
"Mama sudah pulang?" tanya Citra yang rupanya sudah membuka pintu begitu mendengar suara mobil berhenti di rumah Oma dan Opanya.
"Enggak menangis kok, Ma ... adik-adik malahan senang bermain dengan Opa dan Oma kok, Ma," balasnya.
Kemudian Anaya dan Tama memasuki rumah dengan buah tangan yang sebelumnya mereka beli. "Assalamualaikum," sapa keduanya kepada Ayah Tendean dan Bunda Dianti.
"Wa'alaikumsalam," balas Ayah Tendean dan Bunda Dianti bersamaan.
"Anak-anak nangis enggak Bunda?" tanya Anaya.
"Nangis sedikit kan wajar, Anaya ... cuma tidak apa-apa. Sudah makan juga, sudah kenyang nih Charel dan Charla," ucap Bunda Dianti.
Anaya pun segera menggendong kedua anaknya. Sangat senang karena rupanya Charel dan Charla bisa bersikap kooperatif dan juga tidak rewel. Selain itu, tentunya Anaya tenang karena Bunda Dianti dan Ayah Tendean juga bisa mengasuh kedua bayi kecilnya dengan baik. Mungkin di lain kesempatan, mereka bisa lebih sering menitipkan bayi-bayinya.
__ADS_1
"Anaya kira anak-anak menangis," balasnya.
"Tentu tidak dong ... Bunda dan Ayah sudah semakin pinter. Tadi, juga diajakin Opa untuk nonton ikan di Akuarium, seneng banget tadi," balas Bunda Dianti.
"Benar Anaya ... tadi nonton ikan di akuarium. Sering-sering aja dititipkan di sini. Kan sudah Ayah bilang sebelumnya bahwa kami kan memang mengasuh cucu-cucu dan mengisi hari tua ini bersama kalian," balas Ayah Tendean.
Anaya pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Makasih banyak Ayah ... sudah mau kami repotkan. Oh, iya ... ini ada sedikit oleh-oleh, dari menantu kesayangan Ayah," ucapnya.
"Repot-repot loh, Tam," balas Ayah Tendean.
"Tidak repot, Ayah ... kan kemarin berkat doa istri tercinta, Tama berhasil memenangkan kompetisi Hackhaton di Singapura, Ayah. Beberapa bulan ke depan kemungkinan juga Tama akan beberapa kali ke Singapura untuk bekerja di mobil listrik di sana. Sistem hybrid saja kok Ayah," ceritanya.
Ayah Tendean tampak menganggukkan kepalanya. "Anaya memperbolehkan enggak?" tanyanya.
"Boleh Ayah ... kalau benar-benar kerja sih, Anaya tidak keberatan. Kan ya bekerja untuk anak dan istri, untuk keluarga. Yang penting jangan sampai main hati saja. Sekali main hati, bakalan Anaya gugat," balasnya.
Dengan cepat Tama pun menggelengkan kepalanya. "Duh, jangan begitu, Sayang ... janji suamimu itu tidak akan main-main," balas Tama.
Di sana pun Bunda Dianti pun tertawa. Rupanya memang Anaya dan Tama terkadang kelihatan lucu ketika berdua. "Saling percaya itu kuncinya," sahut Bunda Dianti.
"Anaya percaya kepada Mas Tama kok Bunda," jawabnya.
"Tama juga sangat percaya kepada Anaya," balasnya.
"Nah, itu bagus. Saling percaya. Tanpa saling percaya, hubungan suami istri tidak akan terjalin erat dan kuat. Jadikan kepercayaan sebagai dasar kalian menjalin hubungan," ucap Bunda Dianti.
Kemudian Anaya dan Tama sama-sama menganggukkan kepalanya. Setuju dengan nasihat dari Bunda Dianti. Memang begitulah rumah tangga harus didasari dengan cinta dan juga kepercayaan. Tanpa keduanya, sudah pasti hubungan suami dan istri akan rapuh.
__ADS_1