Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Generasi Sandwich


__ADS_3

Usai penandatanganan kesepakatan di notaris, kini Tama pulang dengan membawa surat perjanjian yang sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Sudah tidak ada beban yang ditunjukkan oleh Tama. Lagipula, Tama memandang harta hanya sebuah titipan dari Allah semata. Jika sekarang dia harus melepaskan hartanya, itu berarti memang sudah waktunya apa yang dititipkan kepada manusia harus dilepaskan.


Tidak selama apa yang ada di dalam genggaman kita akan selamanya ada di dalam genggaman kita. Namun, ada saatnya kita pun harus melepaskannya.


Memasuki mobil, Anaya lantas berkata kepada suaminya itu. "Mas, ke mall sebentar yuk ... jalan-jalan sebentar," ucap Anaya.


"Mau ngapain Sayang?" tanya Tama kemudian.


"Ngajak kamu jalan-jalan. Yuk, aku traktir makan. Mumpung Citra bersama Eyangnya. Menyempatin waktu kurang lebih satu atau dua jam enggak apa-apa," balas Anaya.


Anaya melihat bahwa kali ini Anaya perlu untuk mengajak suaminya untuk bersenang-senang sesaat. Tidak usah berpikiran terlalu berat dengan semuanya. Sehingga Anaya mengajak suaminya ke mall sebentar.


"Ya sudah yuk ... aku anterin. Kamu beli apa Yang?" tanya Tama sudah mengemudikan mobilnya menuju salah satu mall yang dekat dengan tempat notaris itu.


"Ada, bentar yah ... aku pikirkan dulu mau ngapain," balas Anaya.


Kali ini Anaya mengambil handphone yang ada di sling bag miliknya, tetapi yang dia lakukan adalah untuk mengirim pesan kepada Mama Rina dan pamit bahwa Anaya akan mengajak Tama jalan-jalan sebentar ke Mall. Anaya juga mengatakan Tama mungkin saja butuh hiburan sejenak. Rupanya Mama Rina mengiyakan bahwa meminta Anaya tidak usah terburu-buru. Masalah pengasuhan Citra, Anaya bisa menyerahkannya kepada Mama Rina.


Begitu sudah tiba di mall tersebut, Anaya dan Tama pun berjalan-jalan dan melihat mall yang ramai itu.

__ADS_1


"Nonton film mau Mas?" tanya Anaya kemudian.


"Kamu ngajakin aku ngedate, Yang?" tanya Tama.


Anaya pun tersenyum di sana, "Biar kamu tidak pusing, Mas ... aku tahu kamu pasti pusing banget sekarang. Mau apa Mas? Makan, nonton film, atau apa? Kali ini jangan mengeluarkan uang, aku saja," ucap Anaya.


"Lah, enggak bisa gitu. Kalau sekedar ngedate tipis-tipis ya aku masih bisa Sayang ... masih ada, asal kamu enggak minum barang branded saja," balas Tama dengan tertawa.


Anaya kemudian tertawa pula, "Aku justru enggak suka dengan barang mewah, Mas ... punya sih. Cuma enggak harus selalu memakai barang mewah juga," balas Anaya.


"Nanti kalau aku punya banyak uang lagi, aku belikan Sayang ... sekarang dampingi aku dulu. Walau suamimu rekeningnya mendekati limit, kamu masih mau kan bersamaku?" tanya Tama.


"Tentu ... aku akan selalu bersamamu. Lagian kalau sudah menikah, uang ya digunakan bersama tidak apa-apa, Mas. Punyaku dipakai dulu juga tidak apa-apa. Boleh tanya enggak Mas?" tanya Anaya kemudian.


"Dulu, kamu sering memberi uang gitu ke mantan mertuamu ya Mas?" tanya Anaya.


Tama menganggukkan kepalanya, "Iya, ya kayak uang bulanan gitu lah, Sayang," jawab Tama.


Anaya menganggukkan kepalanya. Mungkin saja dari pihak kedua mantan mertua Tama merasa ada yang hilang karena Tama tidak lagi memberikan uang bulanan untuk mantan mertuanya itu.

__ADS_1


"Itu namanya generasi Sandwich Mas," balas Anaya.


"Generasi sandwich gimana itu Yang?" tanya Tama yang seolah bingung.


"Ini aku dapat di mata kuliahnya Bu Khaira minggu lalu, jadi generasi sandwich itu generasi dewasa yang harus menanggung hidup tiga generasi yaitu orang tuanya, dirinya sendiri, dan juga anaknya. Teori ini pertama muncul tahun 1981 dulu di Amerika Serikat."


Anaya akhirnya menjelaskan mengenai generasi sandwich kepada Tama berdasarkan hasil kuliah bersama Khaira pada minggu lalu. Jadi, intinya ada satu orang yang terimpit, terapit dan merekalah yang merawat orang tuanya, dirinya sendiri, dan anak-anaknya.


Banyak faktor yang melatarbelakanginya, namun pada umumnya ini terjadi karena kegagalan finansial orang tua. Bukan maksud menyalahkan sepenuhnya, tapi orang tua yang tidak memiliki perencanaan finansial yang baik untuk masa tuanya akan berpotensi besar untuk membuat sang anak menjadi generasi sandwich berikutnya. Dan selanjutnya sang anak akan mengikuti jejak orang tuanya kelak sebagai orang tua yang tidak mandiri di masa tuanya, dan pada akhirnya berlanjut begitu seterusnya.


"Setelah Mamanya Citra tiada, kemudian berhenti memberi jatah bulanan itu yah?" tanya Anaya lagi.


Tama menganggukkan kepalanya, "Iya ... apa aku salah ya Yang?" tanya Tama kemudian.


"Ya, enggak salah. Mungkin mereka jadi tergantung dan juga mengharap biasanya dalam setiap bulannya dikasih dan kemudian enggak kamu kasih lagi. Jadi, ya begitu deh Mas," balas Anaya.


Anaya terdiam, kemudian mengajak suaminya itu untuk duduk terlebih dahulu. "Kata Bu Khaira ya Mas ... generasi sandwich ini akan membuat orang yang terhimpit ini jadi bagi berat. Ibarat kata kita hanya selembar daging dan dihimpit dengan roti yang lebih besar dari selembar daging itu di atas dan bawahnya."


Tama diam, merenungkan ucapan dari istrinya itu. Kemudian dia menghela nafas panjang di sana. "Ya, pikirku untuk membantu keluarganya, karena usai menikah mendiang Cellia fulltime menjadi ibu rumah tangga. Orang tua kan berpikiran setelah anaknya bekerja, anak akan membantu orang tua. Kalau terus jadi begini ya aku tidak tahu, Yang. Cuma memang berat sih. Aku juga tidak memberi karena pikirku aku harus mengeluarkan uang dari gajiku untuk menggaji Ibu Susu anakku, memenuhi kebutuhan Citra, dan sedikit kebutuhanku. Untuk makan sehari-hari saja aku ikut Mama loh," balas Tama.

__ADS_1


Anaya tersenyum, menggenggam tangan suaminya dan mengusapi punggung tangannya perlahan. "Semoga setelah ini mata rantai generasi roti lapis ini berakhir ya Mas. Jadi, kamu sebagai pencari nafkah tidak terbeban dan terhimpit di tengah-tengah karena menyongkong generasi di atasmu dan di bawahmu," ucap Anaya.


Tama kemudian menganggukkan kepalanya, "Ya, doakan aku sehat biar aku bisa bekerja dan kembali menabung lagi. Untuk kamu dan Citra yang juga harus aku bahagiakan. Memang uang bukan segala-galanya, tetapi jika finansial cukup saja, hidup juga lebih tenang, bisa bertahan untuk hari esok dan kebutuhan mendesak lainnya."


__ADS_2