Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Carilah Ibu Susu yang Baru


__ADS_3

Usai menyuapi Citra, kini Tama, Anaya, dan Citra masih bermain di dalam kamar Citra. Terlihat Citra yang sedang duduk dan sedang menunjuk-nunjuk buku yang ada di depannya. Seolah memahami apa yang menjadi keinginan Citra, Tama pun segera membacakan board book  yang dibawa Citra dengan judul "Papa" itu. Buku itu memang adalah buku aktivitas antara orang tua dan anak, di mana di dalamnya hanya terdapat gambar saja, tanpa ada teks atau ceritanya. Sehingga memang dimaksudkan supaya orang tua berinisiatif dan berkreasi untuk merangkai cerita.


Tama pun memang seperti itu, yang lebih memilih membelikan buku untuk Citra, buku yang hanya ada gambarnya dan Tama akan menceritakan sendiri kepada Citra. Berkreasi dan membuat cerita sendiri untuk putrinya itu.


"Nih Sayang ... Papa ... Papa bekerja untuk membelikan diapers ya buat Citra, buat menabung yah untuk sekolahnya CItra nanti. Lalu, ini Papa pulang bekerja, mandi dulu supaya tidak ada kuman yang menempel dan setelahnya, barulah Papa main sama Citra. Coba, Citra bisa panggil Papa enggak? Pa ... Pa ... Papa," ucap Tama yang menceritakan buku itu dengan bahasanya sendiri.


"Aaa ... aaa ...," balas Citra.


Tama pun tertawa, "Bukan Aa dong Sayang ..., tapi Papa," balasnya.


Berkali-kali Tama seolah mengajari supaya Citra bisa menirukan dirinya untuk memanggilnya Papa, tetapi selalu saja gagal. Bukan marah, nyatanya Tama justru tertawa, karena terlihat Citra yang lucu bahkan ucapannya yang khas anak bayi itu kian keras saja, suara Citra seolah naik beberapa oktaf.


Anaya yang mengamati interaksi keduanya pun turut tertawa. "Kalian berdua lucu banget sih ... udah, Tama ... kasihan itu Citra sampai berteriak loh," balasnya.


Tama pun justru kian tertawa kencang, "Abis Citra lucu banget. Aku kan Papanya, bukan Aa-nya," balasnya.


Anaya sampai menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Tama, "Kamu itu bisa-bisanya. Tam, boleh aku berbicara sebentar," tanya Anaya kepada Tama.


Mungkin ini adalah saatnya bagi Anaya untuk berbicara serius dengan Tama. Ada Citra tidak masalah, toh mereka juga sering kali mengobrol sambil mengasuh dan menemani Citra bermain bersama. Kali ini, Anaya harus berbicara dengan Tama.


"Boleh ... mau bicara apa?"


Tama pun merespons dengan baik karena Tama sudah berjanji akan mendengarkan apa pun yang hendak dibicarakan oleh Anaya. Tama berjanji dan dia bersedia untuk mendengarkan cerita dari Anaya. Untuk itu, Tama pun tentu akan memberikan waktu dan menyediakan kedua telinganya untuk mendengarkan cerita dari Anaya.


"Begini Tam," ucap Anaya. Akan tetapi, Anaya terlihat untuk menahan ucapannya, dan kemudian menatap wajah Tama dan Citra bergantian.


Jujur saja, kali ini rasanya begitu berat. Namun, mau tidak mau Anaya memang harus menyampaikan semuanya ini kepada Tama.

__ADS_1


"Sebelumnya aku minta maaf kalau selama aku di sini, memberikan ASI, dan juga mengasuh Citra, aku banyak salahnya. Hmm, sebaiknya kamu segera mencari Ibu Susu yang baru, Tam," ucap Anaya pada akhirnya.


Sungguh, Tama menjadi sangat terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Anaya. Selama ini, bagi Tama sendiri Anaya mengasuh Citra dengan sangat baik. Tidak ada cela. Bahkan kasih sayang yang Anaya berikan kepada Citra itu begitu tulus, tetapi bagaimana mungkin secara mendadak Anaya memintanya untuk mencari Ibu Susu yang baru.


"Kenapa Ay? Apakah ada masalah? Kamu bisa bercerita semuanya kepadaku dan aku bisa membantumu, kita cari jalan keluarnya bersama," balas Tama.


Terlihat Anaya yang tersenyum, tetapi itu adalah senyuman yang getir di dalam hatinya. Kemudian Anaya menggelengkan kepalanya secara samar, "Aku mau kuliah lagi Tam ... ke Amerika," balasnya.


Terlihat Tama mengernyitkan keningnya, menatap wajah Anaya dan juga mencari tahu benarkan Anaya akan kuliah lagi. Kenapa Anaya baru memberitahunya sekarang? Kenapa seakan semuanya mendadak?


"Kamu tidak sedang dalam masalah kan Ay? Mungkin saja kamu memiliki masalah dengan Reyhan?" tanya Tama.


Deg!


Dada Anaya pun berdebar-debar kala Tama berbicara mengenai sosok Reyhan. Mungkinkah sebenarnya Tama juga tahu apa yang terjadi antara dirinya dengan Reyhan, tetapi sejauh ini Anaya tidak membagi masalahnya dengan Tama. Satu-satunya orang yang tahu dengan ancaman Reyhan hanyalah Ayah Tendean saja. Lalu, kenapa Tama bisa menerka bahwa dia bermasalah dengan Reyhan?


"Tidak bisakah ditunda?" tanya Tama kemudian.


Jujur, melihat wajah Tama dan melihat mata bening Citra membuat Anaya benar-benar sakit. Anaya terlanjur menyayangi Citra, tetapi memang dia harus pergi. Cara untuk memenangkan perkara dari Reyhan, memang Anaya dalam sepekan ini sudah mengurus untuk pergi ke Amerika Serikat dan di sana dia akan melanjutkan S2 di Amerika Serikat.


"Tidak bisa Tama. Jadi, maafkan aku yah ... mungkin ini akan menjadi hari terakhirku untuk memberikan ASI dan juga mengasuh Citra," ucap Anaya.


Bagi Tama sendiri, rasanya juga begitu berat. Dia ingin mempertahankan Anaya untuk berada di sampingnya dan mengasuh anaknya. Akan tetapi, Tama pun tahu bahwa Anaya adalah orang yang keras kepala dan memiliki kemauan yang keras. Sejak dulu, Anaya selalu melakukan apa yang dia mau.


"Ay, Citra pasti akan merindukanmu," balas Tama.


Sungguh, hati Tama sangat sakit saat mengatakan itu. Raut wajahnya pun terlihat sendu. Tidak mudah bagi seorang bayi berpisah dengan pengasuhnya yang baik. Terlebih menurut Tama sendiri seolah sudah ada ikatan batin antara Citra dengan Anaya. Bahkan keduanya terlihat saling menyayangi.

__ADS_1


"Maaf ... maafkan aku, Tam," balas Anaya.


Anaya sendiri yang mendengarkan suara Tama dan juga melihat Citra yang merangkak sendiri dari tempat Tama dan menuju ke arahnya dan meminta peluk dari Anaya, sontak saja Anaya merasa sedih dan menangis kala membukakan tangannya dan memeluk Citra.


"Maafkan Onty ya Nak Cantik ... cuma Onty mau pergi. Onty mau sekolah dulu biar pinter kayak Papanya Citra. Nanti di lain waktu kalau Onty pulang ke Indonesia, Onty akan mengunjungi Citra yah," balas Anaya yang sudah menangis.


Anaya tak kuasa untuk menahan air matanya. Hanya saja, memang dia harus pergi. Namun, memang Anaya akan kembali dan mengunjungi Citra di lain kesempatan.


"Begitu ya Tama ... carilah Ibu Susu yang baru untuk Citra. Kalau bisa berikan ASI sampai Citra berusia 2 tahun," pinta Anaya.


"Apakah ada Ibu Susu sebaik kamu, Ay?" balas Tama.


Lagi-lagi Anaya merasa sedih dan bersalah karenanya. Ucapan Tama yang menyiratkan makna yang sangat dalam di hatinya. Seolah Tama tengah mengakui bahwa Anaya telah menjadi Ibu Susu terbaik untuk Citra.


"Pasti ada, Tam ...."


Anaya menjawabnya dengan berlinangan air mata. Pun Tama pun yang hanya bisa menenangkan hati dan dirinya sendiri. Sudah mendapatkan Ibu Susu yang baik dan begitu sayang kepada Citra, tetapi kali ini Tama harus merelakan Anaya untuk pergi. Rasanya begitu sakit, bahkan sekarang Citra yang berada di pangkuan Anaya pun ikut menangis. Mungkin saja bayi kecil itu juga merasakan kehilangan.


"Ssstttss ... kok nangis sih Sayang? Onty gendong yah. Citra pintar kok, cantik, sehat-sehat selalu yah," ucap Anaya dengan berdiri dan menggendong Citra.


Tama yang turut berdiri hanya bisa memandang Anaya yang sedang menggendong Citra itu, kemudian perlahan Tama kembali bersuara, "Kamu akan berangkat kapan ke bandara Ay? Biar aku antar," balas Tama.


"Eh, enggak usah Tama ... aku sama Ayah kok. Kamu di rumah saja sama Citra," balas Anaya.


"Kali ini please jangan menghindar, Ay ... biarkan aku yang mengantarmu ke bandara," pinta Tama.


"Besok Tama ... jam 19.00 dari rumah, Tam," balas Anaya.

__ADS_1


Dengan cepat, Tama pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah ... besok aku akan ke rumahmu. Jangan pergi mendahuluiku, tunggulah aku," pinta Tama.


__ADS_2