
Masih di hari yang sama, agak siang mungkin karena terlalu kecapekan bermain, Citra memilih untuk tidur, dan si Kembar yang berada di dalam stroller bayi juga tertidur. Sehingga hanya orang dewasa saja yang terjaga dan seru mengobrol bersama. Namun, obrolan itu terjeda, ketika Ayah Tendean hendak berbicara.
"Mohon waktu sebentar," ucap Ayah Tendean yang kemudian mengalihkan semua atensi ke arahnya.
"Ya, Ayah ... ada apa?" tanya Anaya kepada Ayahnya itu.
"Di hadapan Dianti, Anaya sebagai putriku, dan keluarga Khaira yang sudah dianggap layaknya anak sendiri oleh Dianti, aku ingin mengatakan dengan serius, bahwa usai melamar Dianti hari ini, aku berpikir untuk segera menikahinya. Mengingat usia kami yang sudah tidak lagi muda, kami juga sudah mengenal lama, dan juga semakin cepatnya hari-hari akan berganti. Jadi, Dianti ... apakah kamu mau menikah denganku?"
Rupanya kali ini Ayah Tendean ingin bergerak cepat. Pertimbangan dengan semakin bertambahnya usia, dan mungkin kesehatan yang juga akan semakin menurun di masa senja, juga cepatnya waktu berlalu menjadi pertimbangan bahwa dia ingin segera menikahi Dianti.
Anaya yang mendengarkannya menganggukkan kepala. Dia setuju dengan pertimbangan dari Ayahnya. Toh, juga akan jauh lebih baik jika ada pasangan yang menanti di rumah, menemaninya beraktivitas, menghapus hari-hari yang selama ini dijalani hanya dalam kesendirian.
"Secepat ini Mas Dean?" tanya Dianti kemudian.
"Paling cepat satu bulan lagi, karena aku harus mengurus surat-suratnya terlebih dahulu," balas Ayah Tendean.
"Apa kamu sudah benar-benar yakin Mas? Dan tidak merasa semuanya terlalu cepat?" tanya Dianti kemudian.
"Menurutku tidak terlalu cepat, Di ... jauh lebih lama dengan masa mendudaku yang lebih dari setengah abad. Aku ingin menyegerakan niat baik ini. Apakah kamu mau?" tanya Ayah Tendean kemudian.
Tampak Bu Dianti menghela nafasnya dan kemudian memberitahukan sesuatu kepada Ayah Tendean terlebih dahulu, "Mas ... sebelum menikahiku. Dengarkanlah, ceritaku ini dulu ... sebelumnya aku adalah pekerja sosial di Panti Asuhan dan aku dengan Khaira memiliki Taman Baca. Anak-anak yang kurang beruntung itu ada dalam hatiku, dan dalam beberapa hari sekali dalam satu minggu, aku akan selalu mengunjungi anak-anak itu. Ketika menikah denganku, apakah Mas Dean bisa menerima anak-anak itu juga? Meluangkan waktu bersamaku untuk mengunjungi anak-anak itu?" tanya Dianti.
Setidaknya memang Bu Dianti hanya berusaha untuk memberitahukan aktivitas dan kedekatan hatinya. Dia adalah pekerja sosial dan di dalam hatinya ada tempat untuk anak-anak yang kurang beruntung itu. Pernikahan tidak hanya menyatukan dua hati, tetapi dua kepribadian berbeda dengan perbedaan latar belakang dan juga aktivitas mereka. Memulai semuanya dengan keterbukaan supaya tidak menjadi pemicu perselisihan di masa depan.
__ADS_1
"Iya, Di ... aku menerimanya," balas Ayah Tendean.
Tampak Anaya, Tama, Khaira, dan Radit menganggukkan kepalanya. Ada rasa lega ketika Ayah Tendean bisa juga untuk menerima anak-anak itu dan turut mengunjungi anak-anak itu. Sebab, keduanya juga harus mengetahui aktivitas harian keduanya.
"Syukurlah ... aku memang berharap demikian. Tidak mudah jika pada akhirnya harus meninggalkan sesuatu yang sudah dekat dengan hatiku," balas Bu Dianti dengan merasa lega.
"Apakah ada syarat yang lain?" tanya Ayah Tendean kemudian.
"Tidak, itu saja, Mas ... itu sudah cukup," balasnya.
Tampak Ayah Tendean menganggukkan kepalanya, "Jadi, pinanganku diterima?" tanyanya.
"Hmm, iya," jawabnya.
"Oh, lupa ... satu lagi," ucap Bu Dianti kemudian.
"Ya, apa Di? Sampaikan saja ... kita bisa saling terbuka dengan disaksikan anak-anak kita bukan?" balas Ayah Tendean.
"Anaya, kamu bersedia menerima Ibu sebagai Ibu kamu kan?" tanya Bu Dianti sekarang kepada Anaya.
"Iya, Ibu ... mau," balas Anaya seraya menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, maukah kamu memanggil Ibu menjadi Bunda? Sama seperti Khaira dan anak-anak yang lain?"
__ADS_1
Tampak Anaya tersenyum dan menitikkan air matanya di sana, "Ii ... iya, Bunda," jawabnya.
Tama pun merangkul istrinya yang sedang dalam mode mellow itu. Tidak mudah untuk kembali memanggil seseorang dengan panggilan Bunda. Sebab, kata itu juga memiliki arti yang dalam bagi Anaya.
Ibu Dianti pun berdiri dan membuka tangannya, memeluk Anaya di sana, "Bunda sayang kamu, Anaya," ucap Bunda Dianti begitu sudah memeluk Anaya.
Anaya menangis. Setelah 26 tahun hidupnya, akhirnya ada sosok yang akan dia panggil Bunda. Sosok yang akan menemani Ayahnya, menua bersama. Pun adalah sosok yang akan menjadi anggota keluarga baru untuknya, Bunda Dianti. Dalam tangisannya, Anaya seolah membayangkan bahwa Citra saat dewasa seusianya akan menangis seperti ini ketika dulu Tama meminangnya.
"Bunda," ucap Anaya dengan bibir yang bergetar.
"Terima kasih sudah menerima Bunda, Nak Anaya," ucap Bunda Dianti yang turut menangis.
Anaya dan Bunda Dianti mengurai pelukannya dan Anaya mengajak Ayahnya untuk berpelukan bersama. Tama memberikan respons sebuah anggukkan dan menepuk kaki ayah mertuanya itu. "Bergabunglah Ayah," ucap Tama.
Ayah Tendean berdiri dan kemudian bergabung dengan memeluk Bunda Dianti dan Anaya di sana, hatinya merasa begitu senang karena wanita yang dia cintai juga adalah Bunda yang baik untuk Anaya. Dalam syarat pernikahan yang akan dijalin, Dianti meminta kepada Anaya untuk bisa memanggilnya Bunda.
Khaira yang memang mellow sampai turun meneteskan air matanya, dan ada suaminya yang menyeka air mata bahagia itu. "Kamu ini, mellownya gak pernah berubah," ucap Radit dengan menyeka air mata di wajah istrinya.
"Haru banget ... bahagia banget," balasnya.
"Semoga Bunda Dianti akan berbahagia ya Sayang," ucap Radit kemudian.
"Iya, itu adalah doaku. Akhirnya Bunda Dianti memiliki keluarga baru," balas Khaira yang merasa sangat senang dan mendoakan yang terbaik untuk Bunda Dianti.
__ADS_1