
Sementara itu hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat Citra bermain dengan ditemani Oma Dianti dan Opa Tendean, ada keluarga Tama dan Radit yang berkumpul bersama. Tidak mengira juga bahwa mereka akan menjadi saksi bersatunya Ayah Tendean dengan Ibu Dianti. Serta, sudah pasti dua keluarga yang berbahagia itu tampak sangat bahagia.
"Rasanya dunia benar-benar sempit ya Bu Khaira ... tidak menyangka, pertama Bu Khaira itu temannya Mas Tama, lalu ternyata Bu Khaira itu dosennya saya, dan juga kenal dengan Bu Dianti. Semuanya bukan kebetulan kan Bu?" tanyanya.
Tampak Khaira pun tertawa, "Benar yah ... serba kebetulan. Cuma ya bagaimana lagi. biar lebih akrab kali aja, Anaya ... panggil nama saja boleh," balas Khaira kemudian.
"Panggil Kak saja yah ... cuma kalau di kampus, manggilnya kembali ke Ibu Dosen," balas Anaya.
"Iya, boleh-boleh saja," balas Khaira.
"Kok bisa kenal dengan Bu Dianti bagaimana Kak?" tanya Anaya kemudian.
"Oh, itu sudah lama, ketika aku ingin berbagi kasih syukuran atas kelahirannya Arsyilla dulu. Kemudian ketemu dengan beliau di Panti Asuhan Kasih Bunda, ya sudah hampir sebulan satu kali bertemu, akhirnya jadi dekat dan akrab," balas Arsyilla.
"Kakak bisa yah berbaur gitu, padahal Bu Dianti seusia ibunya Kak Khaira yah?" tanya Anaya lagi.
"Hem, enggak tahu juga ... cuma ya aku baik ke semua orang sih. Walau mereka tidak baik sekalipun, aku akan terus berusaha baik," balasnya.
Kemudian Anaya menganggukkan kepalanya perlahan, "Kok bisa ya Kak, padahal biasanya kalau disakiti itu akan membalas dengan menyakiti. Keren deh," balas Anaya kemudian.
"Aku biasa saja, Anaya ... kakiku juga masih berjejak di bumi. Masih banyak salah dan kurangnya," balas Khaira.
Sepenuhnya Khaira juga memahami bahwa dirinya juga banyak salahnya. Sehingga, untuk menjadi pribadi yang benar-benar sempurna pun juga tidak bisa. Lagipula, Khaira hanya berusaha melakukan yang baik saja.
"Kenapa kamu akhirnya mengizinkan Ayah kamu menikah lagi, Anaya? Biasanya anak yang hanya memiliki satu orang tua tunggal akan lebih posesif kepada orang tuanya yang tersisa," tanya Khaira kepada Anaya.
__ADS_1
"Dulu Anaya posesif, Kak ... karena ya itu, aku mengakui bahwa yang aku miliki hanya Ayah. Hanya saja, dengan semakin bertambahnya waktu, dan secara khusus setelah Anaya menikah dan memiliki anak, rasanya Anaya juga ingin Ayah bahagia. Anaya ingin di hari tuanya, ada pendamping hidup, teman yang akan saling mensupport dan menggandeng tangannya ketika dia kian menua," cerita Anaya kemudian.
Sekali lagi inilah proses, bahwa dulu apa yang dirasa hanya menjadi miliknya, akhirnya bisa berbagi. Pun seorang anak yang dulu merasa Ayahnya hanya miliknya saja, akhirnya bisa menyadari bahwa ada kebahagiaan di luar sana yang bisa membuat sang Ayah merasa bahagia. Terlebih sekarang, Anaya merasa sudah memiliki keluarga, ada suami dan anak. Dia juga ingin Ayah bisa kembali bahagia.
"Itu harapan yang baik, Anaya," balas Khaira kemudian.
"Jadi berasa bisa curhat ya Sayang," sahut Tama dengan menggenggam satu tangan istrinya itu.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas ... kapan lagi bisa ngobrol kayak gini. Apalagi aku sudah menjadi Mama tiga orang anak, rasanya bisa ngobrol kayak gini saja sudah seneng banget," balasnya.
"Iya yah ... kalau sudah menjadi ibu rumah tangga itu, yang dipikiran anak, rumah tangga, dan suami. Udah selain itu, tidak ada ya Anaya ... bisa ketemu teman dan ngobrol gitu saja sudah seneng banget," balasnya.
"Bener kan Kak ... jadi ketemu orang lain dan bisa mengobrol itu sudah seneng banget," balas Anaya.
"Kalau kamu di perusahaan kan sudah ketemu dengan banyak orang, Mas ... jadi enggak kesepian," ucap Anaya kepada suaminya.
"Sama, dulu waktu menjadi auditor juga begitu kok," balas Radit.
"Lihatan tabel dan laporan keuangan yah?" tanya Tama kemudian.
"Iya, lalu jurnal keuangan juga. Kalau mengharuskan untuk mendapatkan temuan mata bisa seolah-olah nempel ke layar komputer," balas Radit.
Kemudian Tama bertanya kepada Radit, "Dulu waktu Khaira masih kuliah S1 itu, yang aku ketemu Khaira di depan fakultas sama kamu itu kalian sudah nikah apa belum sih?" tanya Tama kemudian.
"Sudah ... waktu itu kami sudah menikah," balas Radit.
__ADS_1
Tama menganggukkan kepalanya perlahan, "Jadi nikah usia berapa?" tanya Tama kemudian.
"Usia 22 tahun kalau Khaira, aku 26 tahun," balas Radit.
"Ya ampun masih muda banget ... masih kuliah dong yah?" tanya Anaya kemudian.
"Iya, masih semester tujuh kalau tidak salah. Kami dijodohkan dulu, Anaya ... Ayah dan Bunda kami adalah sahabat dari lama, terus kami berdua dijodohkan. Jadi, ya sudah ... menikah muda," balas Khaira.
"Waktu itu cinta enggak Kak?" tanya Anaya lagi.
Khaira pun tersenyum tipis dan menatap suaminya terlebih dahulu, "Enggak ... awalnya gak cinta, sebel malahan," jawabnya dengan jujur.
"Ya ampun ... terus bisa akhirnya bisa saling sayang dan jatuh cinta yah? Luar biasa, semua momen dalam rumah tangga itu indah sih," balas Anaya.
"Ya, ada air matanya juga. Cuma, ada keikhlasan untuk melupakan masa lalu dan kemudian memulai semuanya dengan pasangan. Menerima kekurangannya, ketika pasangan merasa selalu kurang, tutupi dengan kelebihannya," balas Khaira.
Anaya tampak menganggukkan kepalanya, "Itu yang harus berproses setiap hari ya Kak ... aku masih perlu banyak belajar," balasnya.
"Aku juga masih banyak belajar, Anaya ... kadang aku juga banyak salah juga kepada Mas Radit. Maafkan istrimu ini ya Mas," ucap Khaira dengan menepuk paha suaminya. Dia pun tak segan meminta maaf.
"Tidak salah, Sayang ... justru aku yang banyak salah. Ya, kita sama-sama mengingatkan satu sama lain," balasnya.
Tama pun tersenyum, "Udah, jangan di depan kami ... nanti ada yang baper," celetuk Tama.
"Enggak lah ... aku enggak baper. Sama kamu kadang seperti itu kan Mas," balas Anaya.
__ADS_1
"Ya, pernikahan seperti ini ... ada sisi-sisi ketidaksempurnaannya, tapi bagaimana caranya bisa menutupi yang tidak sempurna, bisa menjadi sempurna," balas Radit.
Tama pun tersenyum, dia sepenuhnya setuju dengan apa yang baru saja Radit katakan. Dalam pernikahan memang demikian, ada sisi-sisi yang membuat tidak sempurna, tetapi bisa saling bekerja sama dan juga melakun penerimaan masing-masing untuk terus mengisi tangki air cinta.