Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Menyemangati Istri Ujian


__ADS_3

Hari Sabtu ini, Anaya akan masuk kuliah dan ada ujian Blok yang harus dia ikuti. Sehingga sejak pagi, ketika menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, Anaya sambil belajar lagi mengulang beberapa materi. Tama yang pagi itu juga sudah bangun berniat turun ke bawah dan mengambil air minum karena dia merasa begitu haus.


Baru menuruni kamar mandi, dia melihat Anaya yang membuat Sup untuk sarapan pagi itu, tampak membaca buku dan sesekali bibirnya komat-kamit. Tama berjalan pelan-pelan, dan tanpa banyak suara yang ditimbulkan, pria itu segera mendekap tubuh istrinya, mencuri satu kecupan di pipi istrinya itu.


Chup!


"Sambil belajar ya Sayangku?" tanya Tama dengan masih mendekap Anaya dari belakang dan dagunya berada di bahu sang istri. Pria itu dengan gemasnya, menggerakkan bahunya itu ke kanan dan kiri.


Anaya yang sedang didekap dari belakang pun tersenyum, "Iya, belajar dulu. Nanti siang kan ujiannya. Deg-degan sudah lama tidak menjadi mahasiswa. Udah lupa juga dengan ujian blok," balas Anaya.


"Jangan hanya dihafal, Sayang ... tapi, juga dipahami. Ada kalanya soal itu kan meminta kita untuk menguraikan dan ada studi kasus juga. Biar nanti bisa mengerjakan," balas Tama.


"Iya, Mas Suami ... aku juga cuma belajar definisi, dan yang teori saja. Setidaknya nanti kalau disuruh studi kasus kan bisa dipecahkan dengan teori itu," balas Anaya.


Tama menganggukkan kepalanya, "Hmm, belajar yang rajin. Apa kamu belajar aja? Biar aku yang masak," sahut Tama.


"Dapur milik istri, Mas," sahut Anaya.


"Itu dulu, Yang ... dulu iya cowok mana mau berada di dapur. Sekarang enggak. Sekarang, semua ruangan di rumah ini punya kita berdua dan kita bisa kerjakan semua pekerjaan rumah tangga bersama-sama. Jadi, dapur ini juga milikku," balas Tama.


Anaya tersenyum, "Kamu bisa saja. Mau ngapain Mas Suami? Teh, kopi, atau apa, biar aku ambilkan," sahut Anaya.


"Mau susu," jawabnya nakal dengan tangan yang memberikan remasan di area dada istrinya itu.


Ya Tuhan, Anaya hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari menahan nafas. Suaminya itu ada kalanya memang begitu nakalnya. Sampai-sampai tangannya juga seolah bergerak dengan sendirinya dan memberi remasan di sana.


"Mas, jangan dong ... masakanku jadi berantakan semuanya loh," balas Anaya.


Tama tersenyum dan menghentikan remasan tangannya, pria itu kemudian kembali mendekap erat tubuh Anaya. "Iya, kalau kamu sudah selesai ujian aja. Semangat My Love ... aku mau minum dulu, soalnya gagal gak boleh minum susu," balasnya Tama dengan tertawa geli.

__ADS_1


"Nanti kalau selesai ujian, diberi hadiah deh ... makasih ya udah menyemangatin," balas Anaya dan wanita itu mengecup pipi suaminya.


Sedikit keromantisan di dapur, walau hari masih pagi, keduanya juga baru bangun dan belum ada yang mandi, tetapi sedikit memberikan semangat dan keromantisan yang pasti akan membuat hari ini akan berjalan dengan lebih baik.


"Hadiahnya apa Yang?" tanya Tama kemudian.


"Mas Suami mau apa?" tanya Anaya.


"Mau kamu, boleh enggak sih?" tanya Tama kemudian.


Anaya terkekeh geli di sana. Sudah pasti yang diminta Tama adalah sesuatu yang tidak jauh dari ranjang. Agaknya memang jika sudah berdua dengan Anaya seperti ini, Tama banyak nakalnya. Sampai kenakalan itu yang membuat Anaya geleng kepala dan sabar dalam menghadapi Tama.


"Beberapa hari yang lalu kan udah, Mas ... yang habis dari notaris itu," balas Anaya.


"Itu sudah empat hari, Yang ... empat hari itu lama. Juga, ini tanggal berapa, mungkin dua atau tiga hari waktunya kamu palang merah juga dan aku libur lagi satu minggu," jawab.


"Sebenarnya enggak mau menghitung sih, cuma otakku dengan sendirinya mengingatnya. Ya sudah, mau bagaimana lagi," balas Tama.


"Ya sudah, nanti gampang. Sekarang aku selesaikan ini dan sambil belajar dulu yah," balas Anaya.


Setidaknya Anaya ingin fokus belajar dulu, Hadiah untuk suami bisa melihat situasi dan kondisi nanti. Namun, Anaya juga tidak mengira bahwa suaminya bisa begitu ingat kapan kali terakhir keduanya bercinta. Hari itu, empat hari yang lalu rupanya masih diingat oleh Tama. Rasanya menggelikan, tetapi bukankah dalam berumah tangga, pria selalu memiliki ingatan jitu jika berkaitan dengan hal yang berkaitan dengan ladang batinnya.


***


Siang harinya ....


Anaya berangkat ke kampus dengan diantar oleh Tama. Kali ini di mobil pun Anaya masih mencoba belajar untuk menguasai materi. Tama juga tidak banyak mengganggu dan mengajak mengobrol karena waktunya ujian juga akan segera tiba.


"Ujian mata kuliahnya siapa Yang?" tanya Tama kemudian.

__ADS_1


"Mata kuliahnya Bu Khaira, Mas ... dia waktu ngajar bagus banget. Jadi, aku tidak bisa menerka nanti ujiannya akan seperti apa," balas Anaya.


"Oh, Khaira yah ... mungkin aja soalnya gak jauh dari yang dia jelaskan. Juga, mungkin dia akan selipkan masalah dan mahasiswa diminta untuk menganalisa. Soalnya dulu begitu waktu dia presentasi di kelas," balas Tama. Tama menjawab hanya sebatas mengingat bagaimana dulu Khaira saat kuliah dulu. Dia memang tipe yang suka analisa kasus, sehingga mungkin saja soal yang dia berikan juga akan meminta mahasiswa untuk menganalisa.


Anaya menoleh ke suaminya dan menyipitkan matanya, "Tuh, dia presentasi saja ingat loh," sahutnya.


"Astaga Yang ... cuma cerita, Yang. Cuma ngasih tahu kamu supaya kamu juga siap untuk menganalisa," balas Tama.


Bukan marah, Anaya kemudian tertawa, "Iya-iya, aku enggak marah. Aku yakin kok kisah kalian sudah usai, kalau pun masih menyisakan sedikit kenangan tidak apa-apa. Toh, Bu Khaira juga udah bahagia banget bersama suaminya," balas Anaya.


"Dan ... aku juga bahagia banget bersama kamu, My Love."


Tama menyahut dan menggenggam satu tangan Anaya di sana. "Makasih tidak mempermasalahkan masa laluku yah ... semua hanya kenangan saja, Yang ... tidak akan mempengaruhi apa pun yang terjadi di masa kini. Sebab, pemilik hati dan tubuh aku hanya kamu, hanya Anaya seorang," balas Tama.


Ini adalah jawaban yang sungguh-sungguh dari Tama bahwa sekarang pemilik dan pengendali hati dan tubuhnya adalah Anaya seorang. Istri yang dia percayai untuk memiliki dan mengendalikan hatinya. Masa lalu yang sudah berlalu itu tidak akan mempengaruhi apa pun di masa depan.


"Iya Mas Suami ...."


Anaya menjawab dan kemudian tertawa. Sedikit cooling down sebelum nanti akan mengerjakan soal-soal. Semoga saja, dia memang bisa untuk mengerjakan semuanya dengan sebaik mungkin. Hingga akhirnya, mobil yang dikemudian Tama sampai di kampus. Anaya pun berpamitan dengan suaminya itu.


"Aku kuliah dulu ya Mas ... doakan bisa mengerjakan ujian hari ini dengan lancar," pamitnya.


"Iya Sayang ... aku pasti doakan kamu. Aku yakin kamu bisa mengerjakannya dengan baik. Kalau enggak bisa, ingat aku aja, pasti nanti jadi bisa. Semangat My Love!"


Anaya pun tertawa. Bisa-bisanya suaminya itu mengatakan supaya dia mengingatkan saja supaya bisa mengerjakan nanti. Rasanya menggelikan. Anaya lantas mencium punggung tangan suaminya sebelum turun dari mobil.


"Bye Mas Suami ... kuliah dulu yah. Nanti jemput aku ya Mas," pamitnya dengan melambaikan tangannya.


Sejurus kemudian, ada Khaira yang baru datang juga diantar oleh suaminya. Anaya sedikit melirik ke mobil berwarna abu-abu yang berhenti di belakang mobil Tama. Anaya tersenyum, melihat romansa yang manis dari Dosennya itu dengan suaminya. Terlihat juga jika Bu Khaira juga hanya mencintai suaminya saja, semua itu meyakinkan Anaya bahwa memang dulu suaminya itu hanya memiliki cinta sepihak saja untuk Khaira. Anaya akan berdamai dan menerima masa lalu suaminya, dan akan membuat banyak momen indah bersama dengan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2