
Ada yang berbeda akhir pekan ini di kediaman Tama, itu karena kedua belah pihak keluarga Mama Rina, Papa Budi, dan Ayah Tendean semuanya berkumpul di kediaman Anaya dan Tama. Bukan tanpa sebab, tetapi karena para orang tua ingin mengunjungi cucu mereka dan sekaligus Anaya yang kehamilannya sudah 12 minggu.
Layaknya orang tua yang mengunjungi anaknya, banyak buah tangan yang dibawa Mama Rina, Papa Budi, dan juga Ayah Tendean. Mulai dari Susu untuk Ibu Hamil, Cookies, Buah, camilan untuk Citra, dan juga lauk siap saji.
"Mama, Papa, dan Ayah kok bawa banyak banget sih ... padahal di rumah Susu untuk Ibu Hamil dan Cookies untuk Bumil juga masih banyak. Mas Tama selalu membelikan untuk Anaya kok," ucapnya dengan mengamati Susu dengan berbagai rasa itu.
"Tidak apa-apa, Ay ... kan kasih sayang orang tua kepada anak. Kalau kami memberikan itu diterima, bukti kami selalu sayang kepada anak-anak kami, kepada cucu kami," balas Ayah Tendean.
"Iya, Anaya ... kalian juga kalau mengunjungi kami juga sering membawa oleh-oleh. Sekarang usia kehamilan kamu makin bertambah, biar orang tua saja yang mengunjungi anaknya," balas Papa Budi.
Anaya pun tersenyum, "Terima kasih semuanya ... jadi terharu diperhatiin kayak gini. Ini padahal baru 12 minggu, tetapi kayak sudah hamil 5 bulan ya Yah?" tanya Anaya kepada Ayahnya, karena ketika kehamilan yang pertama dulu Ayahlah yang tahu bagaimana Anaya ketika hamil.
"Iya ... mungkin karena kembar, jadi perut kamu lebih membuncit dibandingkan mereka yang hamil satu janin. Ayah dan kami senang karena nanti langsung memiliki tiga cucu dengan Citra, rumah kamu akan semakin ramai nanti dengan bayi-bayi," ucap Ayah Tendean.
Lantas Mama Rina pun menganggukkan kepalanya, "Cuma, bagaimana bisa mendapatkan keturunan kembar, Anaya? Kamu tahu kan kalau Tama adalah anak tunggal, apa mungkin dari keturunan kamu?" tanya Mama Rina.
Terlihat Ayah Tendean yang berpikir. Mungkin jawabannya belum ditemukan, sampai Anaya yang mulai bercerita.
"Sebenarnya Bunda Desy memiliki kembaran, Ayah," ceritanya.
Ayah Tendean yang mendengarkan ucapan Anaya pun seakan tak percaya. Benarkah mendiang istrinya memiliki saudari kembar.
__ADS_1
"Benar Ayah ... almarhumah Bunda Desy memiliki saudari kembar. Namanya Dokter Indri, Dokter Spesialis Kandungan. Kami mengetahuinya tidak sengaja juga Ayah ... kala itu Anaya mengalami Bligthed Ovum dan kemudian Tama membawanya ke Obgyn, rupanya Dokter tersebut adalah saudari kembar Almarhumah Bunda Desy. Anaya mengenalinya dari foto yang Anaya miliki," cerita Tama kala itu.
"Benarkah?" tanya Ayah Tendean.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Benar ... maaf, Anaya belum bercerita kepada Ayah. Anaya pun baru tahu kala itu. Tante Indri juga mengakui bahwa saudari kembarnya bernama Desy Febryanti. Namun, Tante Indri dari ikut diasuh oleh Tantenya dan dibawa ke Batam. Sehingga mereka tidak pernah bertemu. Sampai sekarang juga tidak pernah bertemu," jelas Anaya.
Ayah Tendean pun menghela nafas dan kemudian menganggukkan kepalanya, "Waktu itu Anaya ... ketika usai kelahiranmu. Keluarga mendiang Bunda itu menyalahkan Ayah. Mereka menyalahkan Ayah karena tidak bisa menjaga putrinya. Bunda kamu meregang nyawa di usia yang masih muda, kala itu keluarga Bunda kamu ingin meminta hak asuh kamu, tetapi Ayah menolaknya. Dalam pemikiran Ayah, walau Bunda kamu tiada, kamu memiliki Ayah yang sehat dan bekerja, walau dibantu babysitter dan Oma kamu, tetapi Ayah bekerja dan bisa merawat dan mengasuh kamu," cerita Ayah Tendean.
Cerita ini pun seolah mengingatkan Tama dengan peliknya pihak keluarga dari Cellia. Hingga berakhir dengan meminta harta gono-gini, menyalahkan Tama yang pada akhirnya menikah lagi padahal Cellia baru berpulang satu tahun. Untung Tama pun memiliki prinsip seperti Ayah Tendean, bahwa dirinya sehat secara fisik dan mental, Tama bisa bekerja untuk terus merawat dan membesarkan Citra.
"Jadi Ayah tidak tahu jika Bunda memiliki kembaran?" tanya Anaya lagi.
"Ayah lupa Anaya ... sepeninggal Bunda, Ayah fokus untuk memperbesarkan kamu, sampai banyak hal yang Ayah lewatkan," jawab Ayah Tendean.
"Jadi, sekarang kami sudah tahu dari mana asal-usul genetik kembar ini bisa terwujud. Selamat Anaya ... Mama dan Papa sangat senang, tahun depan kami akan mendapatkan dua cucu sekaligus dari kalian," ucap Mama Rina lagi.
Kemudian Ayah Tendean mengobrol dengan Tama, menanyakan perihal kehamilan Anaya. Sebab, Ayah Tendean juga khawatir dulu Anaya mengalami morning sickness parah dan teler. Sampai beberapa kali bedrest. Apakah sekarang Anaya juga mengalami hal yang sama?
"Morning sickness enggak Anaya-nya, Tam?" tanya Ayah Tendean.
"Anaya sehat, Ayah ... sangat sehat malahan. Cuma, Tama yang teler," balasnya dengan tertawa.
__ADS_1
Ayah Tendean pun mengernyitkan keningnya,"Jadi Anaya tidak morning sickness? Padahal dulu, Anaya itu selalu morning sickness, teler, beberapa kali dia harus bedrest karena mabok parah."
"Sekarang justru Tama yang teler, Ayah ... mungkin baru sembuh satu-dua pekan ini," jawab Tama.
"Gimana rasanya? Enakkan? Dulu juga Ayah yang morning sickness sewaktu almarhumah Bunda kamu mengandung Anaya," ceritanya dengan tersenyum.
Rupanya Ayah Tendean pun juga yang mengalami Couvade Syndrom ketika mendiang istrinya hamil Anaya dulu. Mungkinkah para Bapak sudah ditetapkan untuk mengalami Couvade Syndrom di keluarga besarnya.
"Mual dan muntahnya yang tidak enak, Ayah ... cuma selalu dibawain obat yang mujarab sama Anaya kok Anaya. Jadi, bisa cepet enakan," balas Tama.
"Obatnya apa?" tanya Ayah Tendean lagi.
"Parfumnya Anaya ... hirupin parfumnya, rasanya jadi seger lagi. Ya, walaupun ketika bekerja di kantor Tama juga menggunakan masker setiap hari. Ada kalanya dengan bau tertentu rasanya tidak enak," akunya.
Ayah Tendean pun kembali tertawa, "Kalau dulu, Ayah selalu bawa sapu tangannya Bunda kamu. Entah sapu tangannya, atau bau pewangi di sapu tangan itu. Intinya kalau pusing dan bawa sapu tangan itu, hirup-hirup sedikit, udah lega lagi. Mungkin lebih kepada sugesti yah, cuma bagaimana lagi kalau bisa lega dengan cara itu," balas Ayah Tendean.
Tama pun menganggukkan kepalanya, "Iya Ayah ... lebih sugesti kalau menghirup parfumnya Anaya jadi seger dan peningnya hilang. Cuma ya itu, cara sembuhnya lewat cara itu ya sudah, dilakukan saja," jawabnya dengan tertawa.
"Dijaga baik-baik yah Anaya dan bayinya. Kamu sekarang bukan hanya menjaga Anaya dan Citra, tetapi dua bayi di dalam rahim Anaya. Jadi, Ayah titip ... semuanya dijaga dengan baik-baik," ucap Ayah Tendean lagi.
Tama yang merasa diberi mandat oleh Ayah mertuanya pun segera menganggukkan kepalanya, "Iya Ayah ... Tama akan selalu menjaga mereka. Keluarga Tama, sumber kebahagiaan Tama," balasnya.
__ADS_1
"Ayah seneng ... kali ini Anaya tidak teler waktu hamil. Dia juga ceria dan sangat menikmati waktu kehamilannya. Ayah sangat yakin bahwa itu semua adalah karena kamu. Makasih, Tama," ucap Ayah Tendean dengan menepuk bahu menantunya itu.
Sebagai seorang Ayah bisa terlihat bahwa putrinya bahagia dan ceria. Semua ini jauh berbeda dengan masa hampir tiga tahun dulu, di mana Anaya tidak ceria kala hamil bahkan sering sakit-sakitan. Sekarang Anaya bisa menikmati kehamilannya, Ayah Tendean sangat paham itu semua pasti karena sosok Tama yang memperlakukan dan menjaga putri satu-satunya itu dengan sangat baik.