Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Saling Memberi Support


__ADS_3

Ketika tamu undangan datang, hanya hanya tiga keluarga saja rasanya membuat kediaman Tama siang itu menjadi ramai. Tama, Radit, dan Dokter Bisma yang sudah saling mengenal sebelumnya kini berkumpul dan layaknya perkumpulan kaum Bapak.


"Sudah lega ya Tam, punya dua baby," kata Radit dengan melihat Tama. Sebab, siapa pun yang melihat akan merasa lega karena memiliki dua baby cewek dan cowok sekaligus.


"Lega, tapi ada sedihnya," balas Tama.


"Sedih kenapa?" tanya Radit.


Tama terdiam sejenak, kemudian menatap Radit dan menghela nafas panjang. Sementara, Dokter Bisma yang sudah tahu menahu mengenai kondisi Tama dan Anaya, lebih memilih mendengarkan saja.


"Ada duka di balik persalinan istri kemarin. Dia mengalami plasenta akreta, kemudian rahimnya di ambil."


Tama bercerita dengan ucapan yang seolah menghapus semua semangatnya. Pun lagipula, beginilah karakter para pria pada umumnya yang bisa kuat di hadapan istri, tetapi dia menyembunyikan kepedihan mendalam dalam hatinya. Tidak setiap saat para pria terlihat kuat, tetapi memang di kala rapuh, mereka akan benar-benar rapuh.


"Yang sabar, Tama," balas Radit.


Rasanya tidak ada kalimat lain yang bisa dia ucapkan selain memberikan support supaya temannya itu bisa lebih sabar. Ada kalanya dalam lika-liku hidup, banyak yang tidak dimengerti oleh manusia, oleh karena itu, manusia perlu menambahkan kesabaran dalam hidupnya.


"Iya, makasih," balas Tama.


Dokter Bisma yang semula diam pun kini turut berbicara, "Yang dikatakan Pak Radit benar. Kita manusia hanya bisa bersabar ketika Allah sedang menguji kita. Akan tetapi, percaya saja bahwa pencobaan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita. Jadi, ketika kita mendapatkan ujian tambahkan kesabaran," ucapnya.


Seolah Dokter Bisma setuju dengan ucapan Radit bahwa mereka memang sebaiknya bersabar. Kesabaran akan menghasilkan tahan uji. Walaupun ketika diuji dan ditempa itu begitu sakit, tetapi dengan kesabaran semuanya bisa dilewati dengan baik.


"Iya Mas ... aku mencoba sabar untuk bisa terus mensupport Anaya. Dia yang membutuhkan lebih banyak support. Dia yang kehilangan," balas Tama.

__ADS_1


"Dia kehilangan, kamu pun juga. Sebab, apa yang dirasakan oleh pasangan kita juga akan kita rasakan. Memang begitulah hidup bersuami istri, ketika yang satu sakit, yang satu juga akan merasakannya. Ketika yang satu bahagia, maka yang satu juga turut merasakannya," balas Radit.


Tama kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya, pasangan yang sehat harusnya bisa saling merasakan satu sama lain," balasnya.


"Juga belajar untuk bangkit bersama, pulih bersama," sahut Radit lagi.


Kali ini, giliran Dokter Bisma yang menganggukkan kepalanya, "Benar sekali ... bahkan kami pernah merasakan duka yang amat sangat saat kami berpisah empat tahun lamanya dari putra kami. Syukurlah, kami sudah menemukan Aksa. Kala itu, dunia kami seakan runtuh, tiada hari yang kami lewati tanpa meneteskan air mata. Semangat hidup yang hilang, dan juga hari-hari yang begitu membelenggu. Namun, semua ada hikmahnya. Aku dan Kanaya harus lebih aware dengan anak-anak kami, bonusnya ada si kecil Rangga yang menyemarakkan kehidupan rumah tangga kami," balas Bisma.


Sekarang Radit yang tidak mengira bahwa Dokter Bisma juga pernah merasakan kehilangan dalam hidup. Empat tahun terpisah dengan anaknya sendiri, itu adalah ujian yang berat.


"Kami memiliki anak yang sudah seperti anak kami sendiri, beberapa tahun yang lalu, kami kehilangan jejaknya. Lost contact, pihak panti asuhan berkata di sudah bertemu dengan orang tuanya. Kala itu saja, kami sudah sedih, Arsyilla menangis setiap hari," cerita Radit.


"Saking sayangnya yah?" tanya Tama.


"Iya, anak itu sudah dia anggap Kakak. Dia sayang banget sama anak laki-laki itu. Butuh waktu lama untuk kami mengalihkan kesedihan Arsyilla. Syukurlah, setelah punya adik rasanya menggantikan semua duka di hatinya. Lebih bisa bermain dengan adiknya yang masih kecil," balas Radit.


"Tidak menyangka yah, ketika berkumpul gini banyak yang bisa dibicarakan," balas Tama.


Sebenarnya begitulah pria, tidak jauh berbeda dengan para wanita. Begitu sudah bertemu teman yang cocok pastilah semua cerita, semua uneg-uneg yang ada di hati bisa keluar dengan sendirinya.


"Pak Radit ini CEO yah?" tanya Dokter Bisma kemudian.


"Tidak, saya staf auditor di perusahaan Ayah saya. Dulu bekerja di bank, tetapi ritme kerja tidak manusiawi dan juga laporan tahunan itu bisa membuat tidak tidur semalaman. Hanya saja, waktu fresh graduated dulu bekerja di perusahaannya Bu Kanaya, di Jaya Corp. Jadi auditor juga di tim SPI perusahaan," cerita Radit.


"Dunia sempit yah ... ternyata dulu bekerja di Jaya Corp," balas Dokter Bisma.

__ADS_1


"Ya, begitulah ... dan ternyata Tama ini teman kuliahnya Khaira dulu," balas Radit.


Dokter Bisma pun berdehem di sana, "Hem, bukan sekadar teman kan Pak Radit?"


Radit pun tersenyum, "Ya, tanya sendiri saja ... masa lalu. Tidak menyangka kini bisa berteman seperti ini," balas Radit.


Dokter Bisma mengatakan demikian juga karena dia tahu kisah Tama di masa lalu. Bagaimana kerabatnya itu mengaku gagal move on karena suka dengan teman sekampusnya. Memang lucu, dulu Radit dan Tama yang seolah menjadi rival kini justru bisa berteman.


"Semua hanya masa lalu, Mas Bisma ... hidup Tama sudah berubah. Tidak lagi menjadi pemuda galau seperti dulu," balasnya.


Dokter Bisma pun tertawa dan menganggukkan kepalanya. Sepenuhnya dia tahu bahwa kerabatnya itu bukan lagi pemuda galau seperti dulu. Tama yang dia kenal pun sudah banyak berubah dan di mata Bisma, Tama juga lebih dewasa sekarang.


"Lucu yah, kita yang sama-sama terhubung di masa lalu ... mungkinkah akan terhubung juga di masa depan?" tanya Radit.


"Siapa tahu Pak Radit, mungkin saja nanti Arsyilla bisa menjadi menantu saya," balas Dokter Bisma dengan tertawa.


Radit pun terkekeh di sana, "Wah, bisa saja loh Dokter Bisma ini. Namun, jika itu memang terjadi, rasanya akan sangat lucu," balasnya.


"Atau mau besanan sama aku?" tanya Tama.


Radit kemudian menatap Tama, "Tidak jadi dapat Mamanya, ya jadi besannya cukup yah," godanya.


Tama pun tertawa, seolah diingat dengan masa lalunya dulu yang begitu suka dengan Khaira, apa adanya gadis yang dulu disukainya justru sudah dijodohkan. Bahkan ketika Khaira belum lulus kuliah saja, Khaira mengaku bahwa dirinya sudah menikah.


"Lucu juga ... boleh juga," balas Dokter Bisma.

__ADS_1


Para kaum Bapak itu nyatanya justru bisa saling support dan kini terlibat dalam obrolan seru. Pertama kali membagi kesedihan, sekarang ketiganya saling menghibur satu sama lain.


__ADS_2