Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Bentuk Kecemburuan


__ADS_3

"Jadi kami datang terlambat dong yah ... aku pikir tuh Anaya masih lajang. Makanya, aku ajakin Dicky ke Jakarta biar bisa ketemu sama Anaya. Kan dulu mereka sering bermain bersama waktu kecil," ucap Om Dedy dengan tiba-tiba.


Ya, pada faktanya di kala Om Dedy masih bertugas di Jakarta, Dicky dan Anaya sering kali bermain bersama. Saking akrabnya, dalam hati Om Dedy ingin menjodohkan Dicky dengan Anaya saat mereka sama-sama dewasa kelak.


"Benar ... bahkan waktu kecil dulu, kamu bilang supaya aku menjadi Dokter sama seperti Ayah kamu agar kamu mau menikah denganku," balas Dicky.


Tama yang mendengarkan cerita-cerita lama itu, tidak mau berkomentar. Lebih baik menjadi pendengar saja. Lagipula, dirinyalah yang dicintai Anaya, bukan Dicky.


"Waktu itu kamu berusia 5 tahun, Anaya ... dan kamu pernah bilang kamu ingin menikah dengan seorang Dokter. Oleh karena itulah, aku sekolah dengan sungguh-sungguh dan menjadi seorang Dokter sekarang," lanjut Dicky yang mengulang kenangannya bersama dengan Anaya ketika mereka masih begitu kecil.


"Ya, cuma itu hanya perkataan anak kecil, Dic ... seorang anak yang begitu mengidolakan Ayahnya. Sehingga ya berbicara seperti itu. Namun, setelah dewasa banyak yang berubah," balasnya.


Jawaban yang tepat dari Anaya. Seorang anak begitu mereka masih kecil, orang yang mereka idolakan bahwa Mama dan Papanya. Tak jarang seorang anak berkata ketika besar nanti ingin menjadi sepoerti Mama dan Papanya. Begitu juga Anaya yang begitu mengidolakan Ayahnya, hingga Anaya mengatakan ingin memiliki suami seorang Dokter, sama seperti Ayahnya.


Akan tetapi, Anaya juga tidak mengira bahwa Dicky masih mengingat ucapannya sewaktu dia masih kecil dulu. Pun demikian dengan mimpi dan harapan, begitu seseorang menjadi dewasa, ada mimpi dan harapan yang bergeser. Bahkan ada kalanya hidup pun tidak sejalan dengan apa yang kita mau.


"Benar ... itu hanya perkataan anak kecil yang mengidolakan Ayahnya. Gimana Anaya enggak mengidolakan Ayahnya, kan cuma Ayahnya saja yang bisa dia lihat sejak dia masih kecil," balas Ayah Tendean.


"Iya Ayah ... makanya Anaya ngefans banget sama Ayah," balasnya.


Cukup lama Om Dedy dan Dicky berada di sana. Mungkin sudah hampir jam 21.00 malam. Citra juga sudah tampak menguap, tetapi karena tidak ingin mengganggu Tama, si Papa Muda itu pun memilih menggendong Citra dan membawa masuk Citra ke dalam kamar Anaya di kediaman Ayah Tendean.


"Kelihatannya Citra sudah ngantuk, Tama pamit dulu untuk menidurkan Citra," ucapnya.


Jujur saja, Anaya ingin menyusul Tama dan Citra naik ke kamarnya, tetapi Anaya juga tidak sopan jika meninggalkan Ayahnya seorang diri.


"Serius, dia suamimu Ana?" tanya Dicky lagi kepada Anaya.


"Iya, dia suamiku," balas Anaya.

__ADS_1


"Pekerjaannya apa?"


"Staf IT ... pekerjaan biasa saja," balas Anaya.


"Oh ... orang IT yah ... berarti beneran enggak dapat Dokter yah?" tanya Dicky lagi.


Anaya tersenyum di sana. "Ketika kita dewasa, kita akan lebih realistis, Dicky. Itu hanya sebatas ucapanku saat masih kecil," balas Anaya lagi.


"Aku kira saat itu kamu bersungguh-sungguh. Sehingga aku kuliah kedokteran, dan di usiaku sekarang aku sudah menyelesaikan S2, dan menjadi Dokter Spesialis Saraf sama seperti Ayahmu," balas Dicky.


"Itu bagus untuk karirmu Nak Dicky. Bagaimana pun Dokter Saraf sekarang sudah tua-tua. Saatnya yang muda yang bisa bekerja dan melayani masyarakat dengan baik," balas Ayah Tendean.


"Iya Om ... hanya saja, Dicky benar-benar mengira Anaya belum menikah," balasnya.


Ayah Tendean pun tersenyum di sana, "Anaya sudah menikah. Walau tidak menikahi seorang Dokter, tetapi Tama adalah pria yang baik dan paling tepat untuk mendampingi Anaya," balas Ayah Tendean.


"Sana, susul Tama ... kalau Citra sudah tidur, bicarakan dengan baik-baik," nasihat dari sang Ayah.


Tidak perlu menunggu waktu lama, Anaya segera menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya. Begitu Anaya membuka pintu kamarnya yang memang tidak dikunci dari dalam itu, Anaya melihat Tama yang berdiri di depan kaca jendela di kamar Anaya.


Tanpa ragu, Anaya berjalan mendekat dan segera mendekap tubuh suaminya itu dari belakang. Anaya tanpa ragu menyandarkan kepalanya di punggung suaminya itu.


"Mas, maaf yah," ucapnya.


Anaya sepenuhnya sadar, diamnya Tama pasti memiliki makna tersendiri. Lagipula, seorang pria pun bisa menyembunyikan perasaannya. Merasa baik-baik saja, padahalnya di dalam hatinya penuh gejolak membara.


"Buat apa?" tanya Tama kepada Anaya. Tampak Tama yang menghela nafas dan kemudian kembali berbicara, "Jadi, dulu ... kamu pengennya nikah sama Dokter ya?"


"Hanya ucapan anak kecil saja, Mas ... jangan dimasukkan hati," balas Anaya.

__ADS_1


Sepenuhnya Anaya percaya bahwa ucapannya itu hanya sebatas ucapan anak kecil saja. Toh, begitu dewasa Anaya justru tidak pernah jatuh hati pada seorang Dokter.


"Mungkin Dicky saja yang menganggap ucapan anak berusia 5 tahun sebagai ucapan yang serius. Jadinya begitu deh, seperti yang kamu dengar tadi," balas Anaya.


"Menikahi duda beranak satu apa berat?" tanya Tama kemudian.


Dengan cepat Anaya menggelengkan kepalanya, "Tidak ... bagiku tidak berat sama sekali. Justru aku bersyukur menikahi kamu dan mendapatkan Citra," balasnya.


Anaya masih menyandarkan kepalanya di punggung Tama, dan kedua tangan melingkari tubuh suaminya itu. "Maaf ya Mas ... jangan marah. Aku juga tidak tahu jika Dicky datang ke mari. Padahal kami sudah lama banget enggak bertemu. Terakhir bertemu saat kami SMP waktu dulu," tegas Anaya lagi.


"Hmm," jawab Tama dengan singkat.


Anaya lantas mengurai dekapannya sesaat, dan dia berdiri di samping suaminya, mencoba menatap wajah suaminya itu. "Pasti marah deh kalau seperti ini. Jangan marah," balas Anaya kemudian.


"Gimana enggak sebel, Yang ... ada pria yang datang dan ingin menikahi istriku," balasnya dengan menghela nafas kasar.


"Itu karena dia tidak tahu saja, Mas," balas Anaya. "Marah?" tanyanya.


"Enggak ... lebih tepatnya sebel," balas Tama.


"Kamu cemburu Mas?" tanya Anaya lagi.


"Menurutmu?" sahut Tama dengan cepat.


Tidak menjawab, nyatanya Anaya kembali mundur satu langkah, dan wanita itu kembali mendekap tubuh suaminya di sana. Anaya bahkan memejamkan matanya sesaat kala menyandarkan kepalanya di punggung suaminya itu.


"Cemburu boleh ... cemburu kan tanda cinta. Cuma, kamu harus percaya sama aku. Aku gak perlu menikah sama Dokter, aku sudah bahagia memiliki Programmer ini di hidupku. Jangan terlalu lama marahnya," ucap Anaya yang berusaha menenangkan Tama.


Walau di depannya Dokter, atau profesi yang lain, tidak akan menggoyahkan Anaya. Baginya, pria yang dia cintai hanya Tama. Tidak akan berpaling dari Tama.

__ADS_1


__ADS_2