Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Kehilangan Kesadaran


__ADS_3

"Semua karena dia, Ayah ... semuanya karena dia!"


Rintihan pedih bercampur dengan pekikan malam itu membuat Anaya benar-benar hancur. Wanita itu merasakan tubuhnya melemah, nafas yang terasa sesak, dan sampai akhirnya kelopak matanya tertutup. Ya, Anaya jatuh di pelukan Ayahnya.


"Anaya!"


Ayah Tendean berteriak dan menahan tubuh Anaya yang jatuh.


"Ana!"


Reyhan pun turut berteriak dan kemudian pria itu mendekat ke arah Anaya dan Ayah Tendean.


"Sebaiknya kamu pergi, Reyhan. Pergi sekarang, jangan pernah mengusik Anaya lagi!"


Di tengah kepanikannya, Ayah Tendean pun meminta Reyhan untuk pergi. Sungguh, tidak menyangka Anaya akan sehisteris ini sampai kehilangan kesadarannya.


"Tapi, Ayah," sahut Reyhan.


Ayah Tendean pun mengangkat tangannya, "Pergi! Sebaiknya kamu pergi!"


Sungguh, Ayah Tendean yang biasanya begitu sabar, kali ini seakan-akan Ayah Tendean kehilangan kesabarannya. Hal ini harus Ayah Tendean lakukan untuk melindungi Anaya. Mau tidak mau, Reyhan pun pergi dari kediaman Ayah Tendean. Pria itu pergi dengan menundukkan wajahnya, tetapi Reyhan berjanji bahwa suatu hari nanti dia akan kembali ke rumah Anaya dan memenangkan hati wanita itu.


Sepeninggal Reyhan, Ayah Tendean pun bergegas untuk membawa Anaya ke Rumah Sakit. Yang Ayah Tendean takutkan kembali terjadi depresi yang pernah dialami Anaya. Enam bulan kondisi mental Anaya begitu stabil, bahkan wanita itu seakan bisa berdamai dengan masa lalunya. Akan tetapi, mengingat kembali hari terpahit dalam hidupnya Anaya kembali terguncang.


"Kita ke Rumah Sakit, Aya ... kita akan ke Rumah Sakit," ucap Ayah Tendean dengan melajukan mobilnya.

__ADS_1


Tidak berselang lama, keduanya tiba di Rumah Sakit dan Anaya pun segera ditangani. Jarum infus atau intravena mulai ditusukkan ke pembuluh darah di tangan Anaya. Kemudian light senter mulai digunakan Dokter untuk melihat kelopak mata Anaya. Merasa bahwa Anaya juga masih belum sadar, saturasi oksigen mulai dipasangkan di tangan Anaya dan oksigen diberikan di hidungnya.


"Kenapa bisa kehilangan kesadaran?" tanya Dokter Gilbert yang terbiasa memeriksa Anaya terkait dengan depresi yang dihadapi Anaya.


"Tadi Anaya bertemu dengan pria yang menggoreskan luka di hidupnya. Puzzle demi puzzle kesedihan itu seakan kembali, Anaya menangis beberapa waktu lamanya, lalu dia berteriak hingga kehilangan kesadarannya," jelas Ayah Tendean.


Dokter Gilbert mencoba memahami kondisi sebenarnya yang dialami pasien. Sebab selama sejauh ini kondisi mental Anaya sangat bagus dan stabil. Terkait obat anti depresan yang sudah lama tidak diminum Anaya pun menjadi bukti bahwa Anaya sudah sembuh. Namun, sekarang Anaya justru sampai pingsan dan tidak sadarkan diri.


"Bagaimana kondisi Anaya, Dokter Gilbert?" tanya Ayah Tendean dengan terlihat panik.


"Terjadi tekanan emosi atau biasanya disebut sinkop psikogenik yang memicu terjadinya kecemasan, histeria panik, dan luka yang kembali datang," jelas Dokter Gilbert secara medis.


Ayah Tendean menghela nafas dengan kasar. Gejala depresi yang mengarah ke sinkop psikogenik rupanya yang membuat Anaya sampai pingsan. Semoga saja, Anaya bisa segera sadar karena Ayah Tendean benar-benar panik sekarang.


“Pasien akan kami tangani lagi Dokter Tendean, silakan tunggu di luar,” ucap Dokter Gilbert.


“Selamat malam Dokter Tendean … kenapa Dokter ada di sini?” tanya seorang pria yang sudah berdiri tidak jauh dari tempat Dokter Tendean.


Dokter Tendean yang sedari tadi menunduk pun perlahan mengangkat wajahnya perlahan, “Dokter Bisma? Di Rumah Sakit malam hari?” tanyanya.


“Iya Dokter … baru selesai untuk praktik hari ini,” jawabnya.


Dokter Bisma mengamati kepada Dokter Tendean terlihat resah, dan juga gestur tubuhnya menunjukkan bahwa ada sesuatu yang terjadi kali ini. Untuk itu, Dokter Bisma pun memberanikan diri untuk bertanya.


“Siapa yang sakit, Dokter?” tanya Bisma.

__ADS_1


“Oh, itu … Anaya yang sakit. Pingsan,” ucap Dokter Tendean.


“Bukannya Anaya baik-baik saja. Sakit apa, Dokter?” tanya Dokter Bisma lagi.


“Tadi, ada sesuatu terjadi … membuat Anaya kembali merasakan gejala depresinya dulu, dan sekarang dia terkena sinkop psikogenik disertai dengan panik, histeris, dan beberapa memori di masa lalu yang kembali lagi,” ucap Ayah Tendean.


Dokter Bisma mencoba memahami apa yang terjadi pada Anaya. Namun, Dokter Bisma juga kasihan melihat Dokter Tendean yang sudah tidak muda lagi harus menjaga di Rumah Sakit. Pria paruh baya yang benar-benar mengambil tanggung jawab untuk mengurus Anaya sendiri. Bahkan, ketika Anaya benar-benar di fase terendahnya, Dokter Tendean juga lah yang terus mensupport Anaya.


“Di dalam ditangani siapa?” tanya Dokter Bisma lagi. Mereka yang berprofesi sebagai Dokter dan bekerja dalam satu Rumah Sakit biasanya juga saling mengenal satu sama lain. Oleh karena itulah, Dokter Bisma pun juga bertanya siapa yang menangani Anaya di dalam.


“Oh, ada Dokter Gilbert … untuk memastikan kondisi Anaya stabil sampai dipasang saturasi oksigen. Semoga tidak ada yang berbahaya, dan semua organnya bisa berfungsi dengan baik,” ucap Dokter Tendean.


Memang ada kalanya pingsan tidak berbahaya, tetapi pingsan pun bisa membuat jantung berdetak tidak menentu dan bahkan bisa mengakibatkan meninggal mendadak. Oleh karena itulah, saturasi oksigen dipasang dan juga selang oksigen yang juga dipasang di hidung Anaya.


“Saya doakan semoga Anaya baik-baik saja,” ucap Dokter Bisma.


Setelahnya Dokter Bisma pun berpamitan dengan Dokter Tendean. Namun, Dokter Bisma tidak diam saja. Dia justru memberitahukan kondisi Anaya yang tidak baik sekarang ini kepada kerabatnya, Tama. Sapa tahu Tama bisa datang dan menemani Anaya. Sebab, Dokter Tendean terlihat begitu letih sekarang. Sehingga jika ada yang menemani berjaga tentu jauh lebih baik.


Sementara di luar, Ayah Tendean masih menunggu bagaimana kabar Anaya di dalam. Di dalam hatinya, Ayah Tendean senantiasa merapalkan doa-doa kebaikan untuk Anaya. Semoga saja Anaya bisa segera menemukan kesadarannya.


“Permisi Dokter Tendean,” sapa Dokter Gilbert yang sudah keluar dari kamar perawatan pasien.


“Ya, bagaimana kondisi Anaya, Dokter?” tanya Ayah Tendean yang seketika berdiri.


“Pasien masih belum sadarkan diri. Jadi, harus dirawat inap. Kami juga harus memantau kondisinya, obat penenang juga sudah disuntikkan melalui intravena jadi semoga segera kondisi pasien segera stabil,” ucap Dokter Gilbert.

__ADS_1


Ayah Tendean benar-benar tidak mengira jika hanya karena masa lalu yang kembali terpercik justru menguak lagi depresi yang pernah dialami Anaya. Enam bulan lalu, Anaya benar-benar hancur. Kehilangan bayinya membuat Anaya seolah kehilangan harapan hidup. Kini, Ayah Tendean berharap bahwa Anaya bisa bertahan dan dalam kondisi yang stabil. Semoga!


__ADS_2