
Menginap di rumah Ayah Tendean menjadi pengalaman berharga untuk Tama. Salah satu pengalaman itu karena ini menjadi kali pertama Tama melihat kamar Anaya. Sebelumnya, tak pernah Tama memasuki kamar Anaya. Bahkan kala dulu dirinya dan keluarga datang untuk melamar, Tama memilih mengobrol dengan Anaya sejenak di serambi rumah. Serambi rumah menjadi ruangan yang familiar untuk Tama, teringat di kala dia datang dengan membawa Ramen kesukaan Anaya dan menyantapnya bersama di serambi rumah.
"Sana, kalian istirahat dulu saja, tasnya ditaruh di kamar dulu. Citra biar main sama Opa," ucap Ayah Tendean.
Mengangguk, kemudian Anaya dan Tama menaruh tas yang mereka bawa di dalam kamar Anaya terlebih dahulu. Walau sudah satu minggu tidak ditempati, kamar Anaya terlihat begitu bersih dan harum, itu semua karena ada ART yang membersihkan kamar Anaya setiap harinya.
"Masuk Mas ... ini kamar aku," ucapnya.
Tama tampak masuk dan mengamati sisi demi sisi di dalam kamar milik Anaya itu. Tempat tidur berukuran King Size, meja belajar, televisi di dalam kamar, dan beberapa foto yang terdapat di nakas. Ada satu foto yang menarik perhatian Anaya, yaitu foto kala dirinya dulu pernah menjadi pacarnya, foto yang diambil di dalam foto box di dalam salah satu Mall di Jakarta itu, rupanya masih disimpan oleh Anaya.
"Foto kita?" tanya Tama.
"Hmm, iya," balas Anaya.
"Kamu masih ingat enggak, waktu itu kita baru ngapain?" tanyanya.
"Habis jalan-jalan aja kan di Mall. Makan Ramen, walau kamu terlihat ogah-ogahan, dan kemudian kita foto ini dulu sebelum pulang," cerita Anaya.
Tama terkekeh geli, tidak mengira Anaya masih ingat sedetail itu kisah di balik fotobox itu. Jika teringat dengan masa lalu, Tama menjadi geli sendiri. Ya, ingat bagaimana dulu dia begitu ogah-ogahan kepada Anaya. Pacaran yang bertahan hanya beberapa bulan saja, kemudian Anaya yang memilih memutuskan Tama karena merasa bahwa Anaya merasa hanya dirinya saja yang mencintai Tama, sementara Tama tidak.
"Kenapa sih Mas, dulu kamu enggan begitu sama aku? Apa aneh ya kalau wanita yang mengutarakan perasaannya duluan?" tanya Anaya kepada Tama.
"Bukan, hanya saja ... waktu itu aku habis patah hati. Aku pernah menyerah untuk tidak jatuh cinta lagi. Ya, walau pada akhirnya aku jatuh cinta lagi," balas Tama.
Anaya diam, sudah pasti jika pun Tama jatuh cinta lagi itu bukan pada dirinya, melainkan pada sosok mendiang istrinya yang dinikahinya kemudian. Anaya tidak ingin bertanya, karena pastilah seperti itu jawabannya.
__ADS_1
"Kenapa diam? Aku berbicara dengan sungguh-sungguh. Kala itu, aku habis menabrak seseorang, aku beneran patah hati. Aku tidak percaya lagi dengan jatuh cinta. Namun, rupanya aku jatuh cinta lagi," balas Tama.
Anaya menggelengkan kepalanya, "Cuma jatuh cinta lagi itu bukan sama aku," balasnya dengan mencoba menerima semuanya.
Tama menatap wajah Anaya, tidak menunggu waktu lama, Tama pun menggenggam kedua tangan Anaya, "Memang ... hanya saja, usai duka terberat dalam hidupku, jantung berkali-kali berdebar dan itu karenamu," balasnya.
Anaya masih diam, karena Anaya juga tidak tahu harus merespons apa ucapan Tama. Lantas, benarkah bahwa jantung pria itu berkali-kali berdebar karenanya? Apakah itu hanya bualan semata?
"Bohong," balas Anaya.
"Kalau aku berbohong, aku tidak akan menikahi kamu dan melakukan hal gila dengan menahan kepergianmu di Bandara. Aku serius Sayang. Dalam hidup ini, mungkin saja ada orang-orang yang singgah dan menyemai cinta, tetapi aku berharap bahwa kamu akan tinggal di hati dan hidupku untuk waktu yang lama. Dampingilah aku sampai akhir usiaku, aku memintamu," balas Tama.
"Serius?" tanya Anaya lagi.
"Iya, serius. Dampingilah aku sampai akhir usiaku, aku berdoa kepada Tuhan semoga Dia mengaruniakan umur panjang kepada kita berdua, supaya kita memiliki waktu untuk merenda kisah kasih kita bersama," balasnya.
"Foto ini masih di sini, apakah selama ini hanya aku pria yang kamu cintai?" tanya Tama.
Sebenarnya tidak perlu ditanya lagi. Sebab, pada kenyataannya memang hanya Tama satu-satunya pria yang Anaya cintai. Tidak pernah Anaya tertarik dengan pria lain, selain Tama.
"Iya, memang kamu," balas Anaya.
Kemudian Anaya menarik laci yang berada di nakas yang terletak di samping tempat tidurnya. Di sana, Anaya mengambil handphone lamanya, dan menghidupkannya. Anaya menunjukkan foto-foto lama mereka dan foto-foto yang dia ambil secara candid untuk memotret Tama.
"Foto-foto kamu. Rasanya menyenangkan sekali menjadi seorang penggemar rahasia. Walau saat itu aku yakin kamu begitu setengah hati padaku," balas Anaya lagi.
__ADS_1
Tama benar-benar tak mengira bahwa Anaya memiliki foto-foto mereka. Bahkan foto dirinya yang serius bekerja pun tak luput dari jepretan handphone Anaya.
"Kamu diam-diam mencuri fotoku? Kamu mirip paparazi saja sih," balasnya.
"Maaf, itu caraku suka sama kamu dulu. Obsesi mungkin," balas Anaya. "Cuma sekarang sudah bukan obsesi lagi, perasaanku ini tulus," lanjut Anaya.
"Iya aku percaya, di sini ada apa lagi selain foto ini?" tanya Tama.
Anaya kemudian mengajak Tama mendekat ke meja belajarnya di sana, kemudian memberikan sebuah buku kepada Tama, "Masih ingat buku ini enggak?" tanya Anaya.
Tama tampak berpikir buku siapa itu? Hingga pria itu bergumam, "Pragmatic Programmer ... kenapa terasa familiar?"
Anaya pun kemudian tersenyum, "Ini buku milikmu yang kamu pinjamkan kepadaku. Katanya aku harus banyak belajar pemrograman komputer dan rekayasi perangkat lunak. Cuma waktu itu, kamu hanya menyuruhku membaca buku ini," cerita Anaya lagi.
Ah, barulah Tama teringat dengan cerita Anaya itu. Sungguh, Tama benar-benar tidak mengira bahwa di kamar Anaya masih tersimpan beberapa hal tentangnya. Terlihat bahwa Anaya memiliki ingatan yang setia dan selalu mengingat kenangan-kenangan tersebut.
"Astaga, kamu masih menyimpannya. Padahal sudah beberapa tahun berlalu. Cuma, sampai beberapa tahun ke depan buku ini akan sangat relevan. Kamu bisa baca berulang-ulang kali, seorang programmer memang harus berani berlatih dan menyiapkan diri dengan perubahan," balas Tama.
"Iya ... karena itu, aku terpikir sekolah lagi untuk memperdalam ilmu IT. Akan tetapi, beberapa bulan ini mimpi itu bergeser dan aku ingin belajar tentang anak-anak. Ya, semoga saja nanti bisa berjalan dengan baik," balas Anaya.
"Gapai mimpi kamu, Sayang. Aku tidak akan menghalanginya. Hanya saja jika bisa kuliah di Jakarta saja, urusan Citra biar aku yang handle. Aku Papa yang bisa melakukan semuanya, bahkan sejak bayi aku sudah mengasuh Citra dengan tanganku sendiri, jadi kamu tidak perlu risau," balas Tama.
"Iya Mas ... makasih untuk supportnya," balas Anaya.
Kini Tama segera memeluk istrinya itu dengan memegang buku Pragmatics Programmer miliknya, "Tidak kusangka, aku menemukan banyak kenangan mengenai hubungan kita dulu. Terima kasih sudah menyimpan semua kenangan ini," balas Tama.
__ADS_1
"Sama-sama Mas ... aku memiliki directory (folder/kotak penyimpanan) tersendiri untuk terus mengingat kisah di antara kita," sahut Anaya.
Berbagai kenangan entah itu manis atau pahit akan selalu tersimpan dalam kotak penyimpanan. Ada kalanya memori mengenai kenangan itu terbuka dan Anaya begitu senang menyimpan hal-hal indah bersama Tama dalam directory miliknya.