
Ada pepatah mengatakan bahwa setiap hari memiliki kesukarannya sendiri. Pun demikian dengan hidup manusia yang tidak berjalan mulus setiap saat. Ada kalanya manusia diperhadapkan dengan kesukaran hidup. Begitu juga dengan Tama dan Anaya, yang kali ini harus kembali diperhadapkan dengan permasalahan yang cukup serius. Bahkan permasalahan ini tidak bisa mereka prediksi sebelumnya.
Laksana lautan yang tenang, tetapi justru tiba-tiba terjadi gelombang. Begitulah permasalahan kali ini. Namun, seolah Tama memiliki cara pandang dan solusi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.
Di akhir pekan, Tama mengajak Anaya untuk bermain ke rumah Mama Rina dan Papa Budi. Itu juga karena sebelumnya Mama Rina sudah menelpon dan meminta kepada Anaya dan Tama untuk bisa menginap di rumah. Selain kangen dengan Citra, orang tua pun merasa kangen dengan anak-anaknya.
"Ke rumah Mama ya Sayang ... kita diminta menginap di sana, kamu mau enggak?" tanya Tama kemudian.
"Iya, boleh saja kok Mas. Baju ganti kita dan perlengkapannya Citra juga sudah aku siapkan. Semalam saja kan?" tanya Anaya kemudian.
"Iya, semalam saja. Nanti Minggu siang kita balik ke rumah lagi, kan Seninnya aku sudah harus bekerja, Sayang. Jadi ya, dibagi-bagi waktunya. Lain kali kalau mau menginap di rumah Ayah Tendean juga boleh Sayang. Ganti-gantian," balas Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Oke Mas," jawabnya dengan menyatukan jari telunjuk dengan ibu jarinya membentuk tanda oke.
Hingga siang tiba, keduanya pun berangkat ke rumah Mama Rina. Ada Citra yang kali ini tidak mau duduk di car seat, tetapi malahan inginnya dipangku Mama Anaya. Sehingga Anaya pun memangku Citra.
"Citra kalau kayak gitu kayak koala ya Sayang ... nempel banget," ucap Tama yang geli melihat Citra duduk menghadap Anaya dan menempelkan wajahnya ke dada Mamanya itu.
"Iya, dia memang anak koalaku tersayang," balas Anaya dengan mengusapi kepala Citra.
"Benar. Anak koala kan itu menempel banget sama induknya. Lucu banget sih Citra. Manja banget kalau sama Mama," balas Tama.
"Manja enggak apa-apa ya Nak Cantik, mumpung anaknya baru Citra aja. Nanti kalau sudah ada adik-adiknya, dibagi-bagi ya kasih sayangnya Mama. Cuma, tetap sama besarnya," balas Anaya kemudian.
Tama tersenyum, justru kini tangan Tama sekilas bergerak dan memberikan usapan di puncak kepala Anaya, "Yuk, kapan adiknya Citra dibuat?"
__ADS_1
Anaya kemudian menggelengkan kepalanya, "Tau ah ... jangan bahas begituan. Malu sama Citra," balas Anaya.
Hingga perjalanan mereka pun sudah sampai di kediaman Mama Rina dan Papa Budi. Hanya saja, Tama tampak mengernyitkan keningnya kala mendapati sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari depan rumahnya.
"Apa ada tamu ya Yang? Kok ada mobil di sini?" tanya Tama dengan heran.
"Kurang tahu juga deh, Mas. Nanti kalau kita masuk ke dalam, juga bakalan tahu kok, ini mobilnya siapa," balas Anaya.
Kemudian Anaya masih menggendong Citra untuk turun, sementara Tama membawa tas jinjing yang berisi pakaian ganti dan juga perlengkapan milik Citra. Ketiganya bersama-sama memasuki rumah.
"Permisi," sapa Anaya begitu memasuki rumah.
Akan tetapi, rupanya di ruang tamu ada Mama Rina, Papa Budi, dan dua orang paruh baya yang pernah Anaya lihat berada di sana. Seketika dua orang paruh baya itu berdiri dan hendak meminta Citra dari gendong Anaya.
"Citra, ikut Kakek dan Nenek yuk," ucap Bunda Rini yang tak lain adalah Bunda almarhumah Cellia.
Tama yang memasuki rumah pun kaget dengan kedatangan mantan mertuanya itu. Ada apakah gerangan yang membuat keduanya menginjakkan kaki di rumahnya lagi. Setelah beberapa bulan berlalu, dan kini keduanya kembali lagi ke sini.
"Ayah dan Bunda, untuk apa Ayah dan Bunda kemari?" tanya Tama kemudian dan menatap Bunda Rini dan Ayah Harja satu per satu.
"Kami kemari mau mengajak Citra, Tama. Bukankah Citra juga cucu kami, kami juga Kakek dan Neneknya. Jadi, wajar dong kalau kami juga ingin mengajak Citra. Hak asuhnya Citra bukan jatuh sepenuhnya kepada kamu," balas Bunda Rini.
Tama kemudian tersenyum di sana, "Hak asuh Citra sepenuhnya ada di tangan Tama, Bunda. Sejak dia lahir, Tama yang mengasuh dan membesarkannya," balas Tama.
Setidaknya dalam benak Tama bahwa Citra lahir dengan kondisi Mama kandungnya telah tiada. Bukan perpisahan karena perceraian, di mana hak asuh seorang anak dijatuhkan oleh putusan pengadilan. Tama mengatakan demikian karena memang sejak Citra lahir, Tama lah yang mengasuh dan membesarkannya.
__ADS_1
"Hanya saja, kamu tidak bisa melakukannya. Berbagi peran dengan keluarga almarhumah juga penting," sahut Ayah Harja kali ini.
Sungguh, Tama tidak tahu kenapa mantan mertuanya itu kembali datang dan kembali mengusik hak asuh Citra. Tama sungguh geram rasanya. Sebab, memang dulu ketika Cellia tiada, mantan mertuanya itu sama sekali tidak berkontribusi untuk mengasuh Citra. Mereka datang hanya kala pengajian saja. Bunda Rini pun mencarikan ibu susu yang justru bersikap buruk kepada Citra. Lantas, kenapa sekarang mereka ingin dilibatkan untuk pengasuhan Citra.
"Langsung saja Ayah dan Bunda. Apa sebenarnya tujuan Anda ke mari?" tanya Tama kemudian.
Seolah Tama juga mencium ketidakberesan di sini. Mau terlibat dalam pengasuhan Citra hanya sebuah alibi saja. Padahal mereka datang dengan motif tersendiri.
Bunda Rini dan Ayah Harja saling pandang dan kemudian akan berbicara apa tujuan mereka datang ke mari. Walaupun terlihat jelas raut wajah tidak suka Mama Rina dan Ayah Budi di sana.
"Begini Tama, langsung saja ... kami dengar kamu menjual rumah pernikahanmu dengan mendiang Cellia dulu. Kamu khawatir jika kamu menggunakan semuanya hanya untuk istri mudanya dan tidak mengingat Citra sebagai anak kandungmu. Jadi, kami minta bagian penjualan rumah itu. Untuk Citra, biar kami kelola," ucap Ayah Harja.
"Astaga, kenapa Ayah berpikir seperti itu. Tidak mungkin Tama abai dengan Citra. Lihat saja Ayah, Citra tumbuh sehat dan sangat baik dalam pengasuhan kami berdua," balas Tama.
"Cuma kan ada harta gono-gini, yang harus dibagi dengan adil. Kami meminta hak Cellia di sana," balas Ayah Harja kini.
Tama menggelengkan kepalanya, benar-benar tidak tahu dengan jalan pikiran keluarga mendiang Cellia. Kenapa mereka bahkan dengan santainya meminta harta gono-gini atas putri mereka yang sudah tiada.
"Ayah dan Bunda meminta semua ini apakah tidak memperhitungkan perasaan mendiang Cellia? Jika dia masih ada, setujukah mereka dengan tindakan Ayah dan Bunda?" tanya Tama.
Anaya yang berdiri di belakang Tama juga tidak mengira ada mantan mertua yang datang dan meminta harta gono-gini untuk putrinya yang sudah tiada. Kenapa masalah ini begitu pelik dan sekali lagi mereka menunjukkan bahwa Tama akan lalai atau menghabiskan hartanya untuk istri mudanya. Padahal, selama ini Anaya bahkan tidak pernah meminta-minta kepada Tama.
"Tentu saja setuju, anak akan selalu setuju dengan orang tuanya," balas Ayah Harja.
"Jika kamu tidak setuju, kami akan meminta Citra. Sehingga kamu bisa bersenang-senang dengan istri mudamu itu," sahut Bunda Rini dan menatap sinis kepada Anaya.
__ADS_1
"Bunda, mohon jika berbicara yang sopan. Tidak perlu menyudutkan dan menyakiti perasaan orang lain," sahut Tama kali ini.
Satu yang tidak Tama sukai karena mantan mertuanya itu selalu menyudutkan Anaya. Dulu mereka datang dan mengatakan bahwa ibu tiri adalah sosok yang kejam, dan sekarang mereka mengatakan Anaya sebagai istri muda. Sungguh, Tama tidak suka dengan sarkasme yang mereka tujukan kepada Anaya.