Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Suara Hati yang Lirih


__ADS_3

Usai menikmati sarapan, Tama rupanya menyempatkan diri untuk menggendong Citra sebentar sebelum berangkat bekerja. Pria itu tampak memasuki kamar Citra, setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu karena Tama tahu bahwa di dalam kamar bayinya ada Anaya itu sana.


“Permisi … Aya, aku boleh masuk?” tanya Tama dari luar kamar Citra.


Hal itu, Tama ucapkan terlebih dahulu karena tidak ingin sembarangan masuk dan juga melihat Anaya yang sedang memberikan ASI untuk bayinya. Oleh karena itu, lebih baik mengetuk pintu terlebih dahulu. Lagipula, Tama bukanlah pria mesum yang ingin melihat wanita yang bukan mahram-nya sedang memberikan ASI untuk anaknya.


“Sebentar Tam, aku masih memberikan ASI. Lima menit lagi,” teriak Anaya dari dalam kamar.


Tama menghela nafas dan kemudian memilih untuk masuk ke dalam kamarnya terlebih dahulu. Menunggu terlebih dahulu, lebih baik menjauh dari kamar Citra, dan Tama memilih masuk ke dalam kamarnya sendiri. Selang lima menit berlalu, rupanya terdengar Anaya yang mengetuk pintu kamar Tama.


“Tama, ini kalau mau ngajak Citra,” ucapnya dengan mengetuk pintu.


“Ya, sebentar,” balas Tama dengan berjalan keluar dari kamarnya, dan kemudian dia tersenyum melihat Citra yang sudah tenang dan tentunya juga kenyang karena sudah mendapatkan ASI.


“Gendong Papa sebentar yuk Citra … sebelum Papa berangkat ke kantor,” ucapnya.


Pria itu menerima Citra dalam gendongannya, dan kemudian menggendongnya dengan satu tangannya. Tama membawa Citra masuk ke dalam kamarnya, sementara Anaya memilih untuk turun ke bawah, menemui Mama Rina.


“Citra sudah minum ASI? Sehat-sehat yah putrinya Papa … gendong dulu yah, sebelum Papa berangkat ke kantor. Di rumah yang baik yah, sama Nenek dan Onty Aya yah. Nanti sore kalau Papa pulang, Papa akan menggendong Citra lagi,” ucapnya dengan menggendong Citra, menatap wajah bayi itu dengan tatapan yang lembut, dan beberapa kali Tama tampak menciumi kening Citra.


Rupanya, Citra pun seolah berbicara, melakukan babbling, ocehan khas bayi, dan menatap Tama dengan kedua bola matanya yang bening.


“Asalkan Citra tumbuh sehat dan bahagia, Papa sudah sangat bersyukur. Setelah ini, kita turun ke bawah yah … Papa akan bekerja dulu untuk masa depan Citra. Biar Citra bisa mendapatkan layanan kesehatan yang bagus, bisa sekolah sampai tinggi, dan juga membeli mainan buat kamu. Papa sayang banget sama kamu,” ucap Tama dengan dada yang terasa sesak.

__ADS_1


Sesak bukan karena dia harus bekerja keras, tetapi sesak karena dia sendiri yang harus mengasuh Citra, membersamai tumbuh kembang putrinya itu tanpa sosok Cellia di sampingnya. Rasanya begitu pilu, tetapi untuk Citra, Tama akan berusaha bangkit. Jika pun kakinya terasa bergetar pun, Tama akan menguatkan kedua kakinya untuk berdiri dan juga untuk melangkah.


Setelah hampir sepuluh menit menggendong Citra, kini Tama turun dari kamarnya, hendak menyerahkan Citra ke Mama Rina atau Anaya, karena dia harus segera berangkat ke kantor. Rupanya ada Anaya dan Mama Rina yang sedang mengobrol di dapur.


“Mama, aku mau berangkat ke kantor dulu, Ma,” pamit Tama kepada Mamanya.


Kala itu, Mama Rina sedang mengiris bawang merah, bawang putih, dan beberapa cabai. Sehingga tidak mungkin bisa menerima Citra dengan tangan yang kotor dan mungkin saja pedas karena usai memegang semua itu. Oleh karena itulah, Anaya yang berinisiatif untuk menggendong Citra.


“Biar Anaya saja, Tante,” balas Anaya.


Wanita itu segera berjalan mendekat ke arah Tama dan kemudian menerima Citra dari tangan Tama. Anaya lagi-lagi tersenyum dan menatap Citra yang sudah berada di gendongannya.


“Ay, nitip Citra yah … terima kasih banyak,” ucap Tama.


“Iya, sama-sama,” balas Anaya.


Kamu kelihatan banget sayang sama Citra, Tama ….


Kasih sayang dari seorang Papa kepada anaknya ….


Aku terharu melihat pemandangan seperti ini ….


Citra, kamu pun sangat beruntung karena Papa kamu sangat menyayangi kamu ….

__ADS_1


Tidak seperti Ayah kandung bayiku sendiri yang tidak tahu kemana dia sekarang ….


Menyambut bayi bahkan mengebumikannya pun tidak ….


Mungkin, dia pun juga tidak tahu jika bayinya sudah lahir ….


Sekalipun kamu kehilangan Mamamu, tetapi Papamu sangat menyayangi kamu, Citra ….


Kasih sayang yang tidak pernah didapat oleh bayiku ….


Maafkan kami, Dik Bayi … tenanglah di surga sana menjadi Malaikat Kecil Bunda ….


Ya Tuhan, dada Anaya terasa sesak. Sampai matanya berkaca-kaca melihat Tama yang tengah mencium Citra dan mengucapkan kata-kata sayangnya kepada Citra. Suara hatinya yang hanya bisa dia dengar dan ucapkan sendiri, tanpa pernah ada orang lain yang tahu.


“Mama, aku berangkat dulu ya Ma … nitip Citra,” pamit Tama lagi kepada Mamanya. Kemudian pria itu menatap Anaya yang berdiri di hadapannya. “Aku berangkat dulu ya Ay … nitip Citra yah, semoga dia tidak rewel kali ini,” ucap Tama.


Anaya pun tidak bisa menjawab, wanita itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Tentu dia akan mengasuh Citra dan memberikan ASI untuk Citra. Sehingga Tama tidak perlu khawatir dengan Citra. Bagi Anaya sendiri, kehadiran Citra seolah memberikannya angin segar untuk kembali bersemangat. Walau hatinya masih sangat mendung, tetapi melihat Citra, mendengar celotehannya, dan memberikan ASI untuk Citra setidaknya membuat Citra tidak terus-menerus tinggal dalam kesedihan.


“Istirahat saja, Anaya … Tante mau memasak dulu. Anggap rumah sendiri saja, Citra juga sudah mulai mengantuk kan?” tanya Mama Rina.


Rupanya memang bayi Citra beberapa kali menguap, dan matanya juga perlahan-lahan terpejam. Bayi yang hendak tertidur itu terlihat menggemaskan saja. Sampai Anaya tersenyum sendiri melihat betapa lucu dan menggemaskannya Citra.


“Ya sudah … Anaya tidurkan Citra dulu ya Tante … ini sudah mau bobok sih babynya,” ucapnya.

__ADS_1


“Iya … kamu ikut tidur sama Citra tidak apa-apa. Gak usah membantu Tante. Istirahat,” ucap Mama Rina.


Anaya pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum pias, “Baik Tante … makasih. Kalau gitu, Anaya akan menemani Citra ya Tante. Kalau membutuhkan bantuan dari Anaya, bilang saja Tante … Anaya siap membantu Tante.”


__ADS_2