
Hari demi hari pun berlalu, hingga kini tidak terasa sudah satu bulan berjalan sejak Anaya dan Tama pulang dari Malang. Menjalani kehidupan rumah tangga seperti biasa. Di hari Senin sampai Jumat, Tama akan bekerja. Sementara di hari Sabtu, Anaya akan mengambil kuliah.
Selain itu, Citra yang akan berusia 2 tahun juga kian menguasai beberapa kosakata sederhana, walaupun pelafalannya masih belepotan. Akan tetapi, Anaya tetap berusaha untuk menstimulasi kemampuan Citra untuk berbicara.
Akhir pekan ini adalah jadwal Anaya untuk kuliah, tetapi rasanya Anaya begitu malas dan rasanya begitu mengantuk. Ya, ada hari di mana rasa kantuk yang dia cerita justru kian menjadi-jadi rasanya.
"Ayo, kuliah Sayangku. Nanti terlambat loh," ucap Tama kepada istrinya itu.
Anaya pun menguap dan menyeka setitik air mata yang membasahi pipinya lantaran mengantuk, "Aku kok ngantuk banget ya Mas … pengen tidur, tapi kok kuliah. Padahal semalam aku jam 21.00 sudah tidur loh, kok jam segini aku udah ngantuk banget sih," keluh Anaya kepada suaminya itu.
"Iya, semalam aja kamu boboknya pules banget. Aku godain tengah malam, kamu enggak bangun loh Sayang," balas Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Apa kadar gulaku naik atau kenapa yah? Kok ngantuk banget belakangan ini," tanya Anaya kemudian.
"Mau cek gula darah? Nanti pulang kuliah, aku anterin," balas Tama.
Terlihat Anaya menggelengkan kepalanya, "Enggak, aku sebenarnya takut jarum, Mas," balasnya dengan menatap sang suami.
"Masak? Padahal kamu kelihatan pemberani loh Sayang," sahut Tama.
__ADS_1
"Sok berani aja, Mas. Padahal nyaliku ciut. Ya kayak kita ke Batu Night itu, aku sok berani aja. Padahal naik wahana permainan aku ketakutan," balasnya dengan tertawa.
"Jadi mau kuliah enggak?" tanya Tama sekarang ini kepada istrinya.
Anaya menganggukkan kepalanya, "Iya ... mau kuliah dong. Apalagi Dosennya kesukaan aku, enggak masuk di mata kuliahnya Bu Khaira itu rugi banget sih Mas. Apalagi sekarang baru membahas perkembangan anak Balita, jadi aku kan sekalian belajar. Biar bisa memahami Citra nanti dengan baik," balasnya.
Anaya kemudian menyiapkan tasnya, dengan memasukkan laptop, buku, dan pena di sana. Kemudian dia menggendong Citra untuk turun ke bawah dan akan menitipkan Citra di rumah Mama Rina terlebih dahulu, kemudian barulah dia akan berangkat ke kampus.
"Kamu kalau kuliah gitu, masih ada anak muda loh Sayang," celetuk Tama dengan tiba-tiba.
"Masak sih? Belum kelihatan Ibu-Ibu yah?" balas Anaya.
Anaya pun menggelengkan kepalanya, "Enggak ada. Aku enggak tertarik sama cowok mana pun, cuma suka sama kamu aja, Mas. Kok bisa yah, setelah kenal kamu dan dulu nembak suka sama kamu, rasanya aku tidak tertarik sama pria mana pun."
Itu adalah pengakuan yang jujur dari Anaya. Dulu, kala pertama kali bertemu Tama dan menembak Tama karena Anaya yang mengutarakan perasaannya terlebih dahulu, Anaya hanya menyukai satu cowok dan itu adalah Tama. Usai putus pun rasanya Anaya masih menyimpan cinta dalam untuk Tama.
"Sedih yah jadi aku ... nembak juga diterima dengan terpaksa, putus pun malahan diikhlaskan begitu saja. Sudah putus, aku masih cinta kamu, mengagumi kamu tanpa memiliki kamu," ucapnya dengan menghela nafas di sana.
Tama tersenyum, pria itu lantas menggenggam tangan Anaya. Mendekatkan punggung tangan Anaya ke bibirnya dan mendaratkan kecupan di punggung tangan Anaya itu.
__ADS_1
Chup!
"Maaf untuk masa lalu kita yah ... andai sejak dulu aku sudah membuka hatiku secara penuh, pasti hatiku ini akan berlabuh padamu. Maaf aku dulu yang jahat sama kamu. Sekarang tidak lagi Sayang ... aku akan menjadi pria yang hebat dan baik untuk kamu. Ya, walau bagi dunia aku hanya pria biasa-biasa saja, tetapi untuk kamu aku akan melakukan apa pun yang aku bisa," ucap Tama dengan kembali mengecup punggung tangan Anaya di sana.
Anaya lantas tersenyum, "Konon, penyair hebat berkata cinta itu lebih indah dengan air mata. Agaknya itu adalah ungkapan yang tepat buat aku, aku kini bisa merasakan perasaan cintaku untuk kamu lebih indah, setelah banyak air mata yang aku keluarkan untukmu. Dulu, sih ... aku merasa bodoh, merasa hanya kamu terima setengah hati, banyak air mata yang ku keluarkan. Cuma, gimana lagi kalau cinta. Setelah badai hidupku, rasa kehilangan yang dalam, dan aku bertemu lagi denganmu dalam suasana yang berbeda. Kalau pun aku akan banyak mengeluarkan air mata tidak apa-apa, hanya saja semoga ada air mata bahagia di sana," balas Anaya.
"Pasti Sayang ... aku akan berusaha membahagiakanmu, menjaga kamu," balas Tama dengan sungguh-sungguh.
Hingga tidak terasa, sekarang keduanya sudah sampai di Fakultas dan Anaya akan mulai kuliah hari ini. Tama pun menghentikan mobilnya di sana.
"Sudah sampai ... kuliah yang rajin ya Sayangku. Nanti aku jemput," balasnya.
Anaya menganggukkan kepalanya, "Mas, nanti pulang anterin aku mau?" tanya Anaya kepada suaminya.
"Ke mana Sayang? Pasti aku anterin istriku yang cantik dan sexy ini kok," balas Tama dengan mengedipkan satu matanya.
"Ke Benhil, pengen jajanan di sana. Mau enggak? Tiba-tiba pengen deh Mas," sahut Anaya.
Tama tersenyum, "Oke deh ... untuk My Loveku ini boleh deh. Nanti yah, kuliah dulu," balasnya.
__ADS_1
Bagi Tama juga itu tumben istrinya mengajaknya untuk membeli jajanan di daerah Benhil. Padahal biasanya Anaya tidak pernah melakukannya, mungkinkah akan ada kabar baik setelah ini? Semoga saja!