Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Hari yang Bahagia


__ADS_3

Tidak terasa, hari yang dinantikan pun tiba. Di kediaman Ayah Tendean sudah siap dengan dekorasi vintage yang indah. Mengedepankan unsur kayu, bunga, dan juga lampu-lampu yang menyulap area taman di kediaman Ayah Tendean itu dengan sangat apik. Sementara itu, untuk katering pun Ayah Tendean memesan dari rumah katering yang cukup terkenal di Ibukota. Mengingat tamu yang datang tidak akan terlalu banyak, maka pesta sore ini akan dilangsungkan dengan konsep standing party, selain itu pengantin tidak akan melulu di pelaminan, tetapi bisa berjalan dan menyapa tamu undangan yang lainnya.


Begitu pula dengan Anaya yang sudah berhias dengan kebaya berwarna peach. Khusus untuk hari ini, Anaya menitipkan kedua anak-anak di dalam pengasuhan Mama Rina dan Papa Budi. Walaupun nanti Mama Rina dan Papa Budi juga akan datang, tetapi mereka bisa diandalkan untuk menjaga dua kiddos di rumah.


"Cantik banget Sayang," ucap Tama begitu melihat istrinya itu tampil memukau dengan Kebaya berwarna peach yang lembut, riasan yang wajah Anaya pun tentunya kian membuat Anaya tampil cantik.


"Pangling ya Mas? Biasanya kamu lihat aku cuma memakai piyama atau setelan rumahan saja sih. Jadi, melihatku pakai kebaya jadi bilang aku cantik deh," balas Anaya dengan melirik suaminya yang juga tampil tampan dengan mengenakan jas.


"Kamu tiap hari cantik Sayang ... paling cantik buat aku," balas Tama.


"Gombal ... padahal biasa aja," balasnya.


"Serius ... kamu itu cantik banget. Gak ada obatnya deh ... cuma kamu tahu kan, kecantikanmu yang luar biasa itu saat apa," balas Tama dengan merangkul bahu istrinya.


Anaya pun menghela nafas dan kemudian menundukkan kepalanya, "Sudah ... jangan dilanjutkan, malu, Mas," balasnya.


Lalu, mereka mengajak serta Citra, yang tampil seras dengan warna peach yang dikenakan oleh Anaya. Gadis kecil berusia hampir 4 tahun itu tampil dengan Flower Crown di kepalanya, terlihat begitu cantik. Selain itu, hari ini Citra akan bersama dengan Arsyilla, putrinya Khaira yang akan menjadi pengiring pengantin untuk kedua mempelai.


Hingga akhirnya, mereka menuju kediaman Tendean, dan bersiap untuk dilangsungkannya akad yang akan dilangsungkan dengan sederhana. Di depan pelaminan sudah tersedia meja, dengan petugas dari Kantor Urusan Agama, serta ada Ayah Tendean yang mengenakan Jas dan Bunda Dianti yang mengenakan Kebaya berwarna putih. Lantaran tidak lagi muda, rambut Bunda Dianti hanya disanggul sederhana dengan menaruh reroncean melati, tanpa mengenakan Paes.


Lantas ada keluarga Tama dan Anaya yang duduk di belakang Ayah Tendean. Sementara di belakang Bunda Dianti ada Khaira dan suaminya, Radit. Kali ini mulailah akad akan dilangsungkan terlihat di sana wali hakim sudah menjabat tangan Ayah Tendean.


"Saudara Tendean bin Ali Soekardi. Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Dianti binti Didi Prasodjo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Tampak Ayah Tendean mengambil nafas sepenuh dada, dan kemudian dia mengucapkan qobul dengan sepenuh hati.

__ADS_1


"Saya menerima nikah dan kawinnya Dianti binti Prasodjo dengan mas kawin seperangkat alat sholat tunai!"


Sah!


Begitu kata Sah terucap, rasanya Ayah Tendean merasa begitu lega. Sementara Anaya dan Khaira tampak meneteskan air matanya. Untuk Anaya sendiri dia merasa akhirnya Ayahnya menemukan dermaga yang akan menjaga sandaran hingga akhir hayatnya. Sehingga para suami tampak menggenggam tangan istrinya masing-masing.


"Sudah, nanti wajah kamu sembab, My Love," ucap Tama dengan mengusapi punggung tangan Anaya.


"Akhirnya ... Ayah mendapatkan pendamping yang tepat, ketika usianya sudah kepala lima," balas Anaya.


"Yuk, ikut lantunkan ayah suci suci, doakan untuk kedua orang tua kita," balas Tama.


Pengantin dan hadirin semua kini tampak menengadahkan tangan dan mengamini setiap doa yang diucapkan saat itu. Kemudian Citra dan Arsyilla berdiri dan menuju ke Oma dan Opa mereka, membawakan cincin yang akan disematkan di jari manis pengantin yang sudah tidak muda lagi.


"Untuk yang bawa cincin adalah cucu-cucu tercinta," ucap MC yang tentunya merasa senang dan ini adalah yang unik.


"Terima kasih sayangnya Opa," balas Opa Tendean.


Kemudian Opa Tendean mengambil cincin itu, dan menyematkannya di jari manis Oma Dianti. Kemudian giliran Arsyilla yang usianya lebih besar Citra, memberikan kotak cincin untuk Oma Dianti.


"Untuk Oma," ucapnya manis.


"Makasih Syilla," balas Oma Dianti.


Kemudian Oma Dianti mengambil cincin, dan menyematkannya di jari manis Opa Tendean. Kini keduanya sudah sah dalam mengarungi rumah tangga. Dilanjutkan dengan Oma Dianti yang mencium tangan suaminya sebagai bentuk rasa hormat dan ketaatan seorang istri kepada suaminya. Dibalas dengan kecupan manis dari Opa Tendean di kening Oma Dianti, sebagai tanda bahwa Opa Tendean akan selalu menyayangi istrinya itu.

__ADS_1


Begitu prosesi akad telah usai, kemudian dilanjutkan dengan pesta sederhana. Tidak ada momen sungkeman karena kedua mempelai sudah sama-sama tidak memiliki orang tua. Sehingga, acara bisa dilanjutkan ke perayaan.


Berjalan menuju pelaminan, di depan kedua pengantin ada Arsyilla, Arshaka, dan Citra yang menjadi little bridesmaid. Diikuti dibelakangnya adalah pasangan Anaya dan Tama, serta Khaira dan Radit. Anaya yang masih terharu beberapa kali masih meneteskan air matanya. Namun, sepenuhnya Anaya yakin bahwa itu adalah air mata bahagia.


Kini di pelaminan, pengantin yang berbahagia di dampingi dengan anak-anak mereka, dan tiga cucu kecil yang menggemaskan.


Di momen itu juga, Anaya sebagai anak kandung dari Ayah Tendean diminta untuk menyampaikan pesannya untuk sang Ayah. Bahkan MC sudah memberikan microfon kepada Anaya. Sebagai permintaan dari Anaya, dia meminta Tama untuk berdiri mendampinginya.


"Untuk Ayah Tendean tercinta,


Terima kasih sudah membesarkan Anaya selama 26 tahun ini. Ayah berjuang untuk menjadi seorang Ayah tunggal untuk Anaya. Mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, dan juga kasih sayang untuk Anaya. Meneladankan kebaikan untuk Anaya. Sekarang ... Ayah sudah berbahagia dengan pilihan hati Ayah. Anaya berharap bahwa ini adalah jodoh terakhir untuk Ayah. Semoga Ayah dan Bunda, bisa saling bergandengan tangan, mengasihi dan mengisi hari tua bersama. Di dalam setiap doa yang Anaya panjatkan, selalu Anaya selipkan doa dan harapan yang indah untuk Ayah dan Bunda. Selamat menempuh hidup baru untuk Ayah Tendean dan Bunda Dianti. Dari Anakmu dan cucumu, Anaya, Tama, Citra, Charel, dan Charla. Kami selalu menyayangimu."


Ucapan yang haru dan juga membuat Ayah Tendean meneteskan air matanya. Ayah Tendean melirik ke Bunda Dianti, dan direspons dengan anggukan dari Bunda Dianti. Lantas, Ayah Tendean berjalan menuju Anaya dan Tama dan segera memeluk anak dan menantunya itu.


"Terima kasih Anaya ... Ayah selalu sayang kamu," ucap Ayah Tendean.


"Anaya, Mas Tama, dan tiga cucunya Ayah juga selalu sayang sama Ayah. Berbahagia bersama Bunda ya Ayah," balas Anaya.


Ayah Tendean mengurai pelukannya sesaat dan mengajak Bunda Dianti untuk bergabung. Mereka pun berpelukan bersama.


Begitu haru. Ini adalah pernikahan yang bukan hanya menyatukan dua insan. Melainkan menyatukan keluarga. Bunda Dianti bisa menerima Ayah Tendean dengan putrinya, menantunya, dan ketiga cucunya.


"Dampingilah Ayah ya Bunda," ucap Anaya dengan sesegukan.


"Terima kasih Anaya," balas Bunda Dianti dengan memeluk Anaya sekali lagi.

__ADS_1


 "Pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua insan, melainkan menyatukan dua keluarga. Cinta perlu dijaga dan dipupuk. Dan lahan terbaik untuk menjaga dan memupuknya adalah pernikahan."


Happy Reading^^


__ADS_2